Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
3G


__ADS_3

"Sini neng, tante Sha udah potongin...udah jadi mahasiswi aja ponakan gue! Perasaan kemaren masih pipis di celana!" ujar Shania, wanita ini semakin bertambah usia malah semakin somplak.


"Kapan? Waktu bayi?" tanya Ganis duduk melantai bersama para tantenya ini.


"Gimana kabarnya neng?" Shania mendorong se-pisin dodol khas betawi yang ia bawa sebagai oleh-oleh ke depan Ganis.


"Alhamdulillah pangesto! Tante gimana?"


"Baik, alhamdulillah."


"Tante, si ganteng kalem kembaran om Arka mana?" tanya Ganis celingak-celinguk mencari Andro, dulu saat kecil jika Andro dan Gale ke Bandung, Ganis selalu mengikrarkan diri sebagai pacar Andro, padahal arti pacar pun ia tak mengerti, maklum lah Andro memang tampan sedari kecil.


"Ada, tadi lagi sholat ashar!"


"Ahhh! Ini anak sekarang sombong! Satu kota aja jarang maen ke rumah!" cebik Yeni diangguki Nengsih.


"Jangankan ke rumah Yeni, atuh! Pulang aja jarang. Udah ngga inget punya rumah!" omel mama Reni menghakimi anaknya.


"Idih, kan Ganis udah punya suami atuh. Masa iya harus ditinggal terus, kasian.."


"Eh, iya mana suami kamu. Tante pengen liat, cocok ngga buat ponakan manja tante Sha? Urang ospek heula!" ujar Shania bangkit dari duduknya, hendak menuju ke depan. (Kita ospek dulu)


"Tante ih, jangan!" larangnya preventif, Ganis yang baru saja duduk dan melahap dodol betawi langsung ikut mengekor, takut jika Wira diusili tante absurdnya itu. Bukannya menolong atau melarang, Reni ibu mertua Wira, Yeni dan Nengsih malah mendukung.


"Ospek aja Sha, biar nih anak mewek!" ucap Nengsih.


Melihat momynya dikejar Ganis seperti ibu-ibu yang belum bayar sayur, Gale ikut heboh.


"Mii, mau kemana?" ia dan Fatur sedang memomong si kembar, dengan berbagai mainan edukasi berwarna-warni tergelar di karpet.


"Mau liat suaminya Ganis!" ujar Shania berbisik.


"Gale ikut ah! Bang, Gale ke depan dulu!"


"Ahhhhh! Kacau ini mah!" rengek Ganis mendumel. Jika sudah kedua ibu dan anak ini beraksi dengn keusilannya maka dunia akan ikut berguling-guling.


"Bang Fat, bantuin Ganis ih!" pintanya memelas. Fatur hanya bisa mengulum bibirnya sambil menggelengkan kepala, "udah pasrah aja Nis, kalo momy sama Gale udah turun mah, hujan badai!"


"Eh, ada new member euy!" seru Shania muncul dari pintu, sontak para member the cool brother.


"Anjayyyy! Bisaan si kosim nyari suami, ganteng lah rawwrrr!" aku Gale memeluk ibunya dari belakang dan menumpukan dagu di pundak Shania.


"Maulah jadi pelakor!" seloroh Gale tertawa.


"Ha-ha-ha, sableng!" Shania mendorong jidat Gale.


Ganis ikut muncul dari belakang Gale dengan menggigit bibir bawahnya.


"Ini tante Shania Nat, harap dimaklum resep heureuyyy!" kekeh papa memperkenalkan Wira pada Shania dan Gale.


"Oh. Iya tante, saya Nata suaminya Ganis," ia salim takzim pada Shania.


"Alahhh! Suaranya meni dalem.." goda Shania.


"Sedalem sumur bor di rumah Gale mii, Gale langsung merinding," tambah Gale.


"Dikira grandong! Langsung merinding," omel Ganis.


"Aku Galexia, sepupu si bocil doyan mewek ini!" tunjuk Gale pada Ganis.


"Ha-ha-ha, dulu kamu juga doyan mewek Le," ujar a Rudi, suami Nengsih.


"Waktu bocah om,"


"Nata," angguk Wira pada Gale.


Shania mendudukkan dirinya begitu saja di lengan kursi Arka, membuat Arka memegangi pinggangnya.


"Baru pulang kuliah?" tanya Shania.


"Iya tan,"


"Jangan tante lah, neng juga boleh!"


"Aduhhh...aduhh.. mas ih!" saat pinggangnya dicubit Arka sepaket tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Cubit aja om ginjalnya! Tante Sha mah ih!" sewot Ganis.


"Ha-ha-ha! Yang kira-kira aja dipanggil neng setua ini," kritik Gale tertawa.


"Umur tua tapi jiwa muda ya Sha," sahut papa Yudi.


"Iya tan," Wira terkekeh. Ternyata Ganis bisa absurd begitu memang ada sebab musababnya.


"Ganis gimana bang Nat, suka nyusahin ngga? Masih suka nangis sama ngamuk-ngamuk kalo kepengennya ngga keturut?" tanya Gale.


Wira hanya mengulas senyum sementara Ganis mendumel, "engga lah! Sejak kapan Ganis suka ngamuk-ngamuk? Dikira banteng,"


"Kandangin atuh," seloroh a Ridwan suami Yeni santai menyeruput kopinya.


"Cocok lah! Yang satu cute-cute yang satu cool, harus banyakin sabar ya Nat sama Ganis mah. Kasih aja pop it kalo dia cranky mah!" imbuh Shania.


"Dih, dikira Ganis bocah!"


Dari gerbang terdengar suara motor lain, ternyata Gemilang baru saja datang.


"Tuh si gemblung!"


"Hemmm, datang lagi satu penghuni RSJ," gumam Gale.


"Assalamualaikum!" ia turun dari motor dan langsung bergabung.


"Tante Sha, Lele!" sapanya menyalami.


"Nat, wahhh adek ipar gua ada disini juga. Belum ketularan sableng kan sama Ganis sama Gale, apalagi sama tante Sha!"


"Kamvrettt, lu aja yang sableng!" desis Gale dan Ganis.


"Hehehe, belum lah masih proses!" jawab Shania. Wira layaknya Arka hanya senyum-senyum sebagai jawabannya.


"Darimana Gem?"


"Biasalah om, abis diskusi sambil nge-review jurnal buat tugas!"


"Oh, calon-calon pengacara?" tanya Ridwan.


"Do'ain aja om!"


"Di dalem,"


Gale dan Ganis masih berdiri di ambang pintu karena kursi penuh oleh para lelaki ini.


"Awas minggir! Pengacara mau lewat!" usir Gem pada keduanya.


"Pengacara, pengangguran banyak acara maksud lu bang?" tanya Gale.


"Idih, si anjayyy. Lu berdua ngalangin pintu dipikir indah aja nih body, gua jiwir juga nih idung lu berdua!"


"Le, mana suami kamu? Belum sempet kenalan lah waktu itu?"


"Ada di ruang tengah bareng anak-anak," jawab Gale.


"Kenalan dulu lah! Siapa tau kenalan sambil disalimin amplop, iye kan! muehehehe," balas Gemilang.


"Oh, iya! Bang Nat juga belum kenal kan sama bang Fatur!" seru Ganis baru ingat.


"Bang Nat, kenalan dulu sama suaminya Gale. Dia dokter yang waktu itu bantuin Ganis buat dirujuk ke Jakarta!"


Ajakan Ganis bagai penyelamat Wira dari obrolan berat bapak-bapak di depan tentang dunia bisnis dan kriminal.


"Iya boleh,"


"Yuk ke dalem! Disini ada tante Sha, nanti kamu di ajakin affair lagi jadi brondongnya!" seloroh Ganis.


"Ganis tau aja, tante lagi pengen yang beda!" balas Shania, kembali dicubit Arka.


Mereka berempat masuk memasuki ruang tengah, dimana Fatur masih bergu mul dengan kedua anaknya.


"Wahhh! Suami idaman ini mah," seru Gemilang.


"Bang, ada member bujang lapuk nih mau kenalan!" ucap Gale duduk melantai dengan Fatur di karpet yang ternyata sudah ada Andro juga disana.

__ADS_1


"Si*@lan!" desis Gemilang.


"Wah, ini si twin A! Asep, Atep bukan namanya teh?"


"Ha-ha-ha, saravvv! Afifah, Aliyah! Emang minta ditabok teflon nih orang!" omel Gale.


"Suka ngadi-ngadi nih manusia, masa iya cewek namanya Asep," gerutu Ganis.


"Ndro, apa kabar?"


"Baik bang Gem!" Gemilang dan Wira menyalami Fatur dan Andro, setidaknya disini anak muda semua tidak seperti di depan.


"Ini..." tunjuk Andro.


"Ini Nata suami Ganis," jawab Ganis.


"Oh," Andro berohria.


"Dulu sempet ketemu di rumah sakit di Jakarta kan?" telunjuk Fatur terarah, ia lupa-lupa ingat.


"Iya bang, makasih buat bantuannya." Jawab Wira tulus.


"Sama-sama, sudah tugas saya sebagai dokter dan suami Gale."


"Ndro!" panggil Arka masuk, mereka semua mendongak.


"Beliin air mineral cup dulu satu karton di toko depan. Pake motor tante Yeni," pintanya, Andro berdiri dan menghampiri ayahnya.


"Gue tinggal dulu bang Gem, semua." Mereka mengangguk,


"Kuliah, kerja?" tanya Fatur.


"Kuliah sambil kerja bang," balas Wira.


"Ini loh bang, yang punya Vulcan's project!" seru Gale, karena belakangan ini Gale sering diminta Ganis untuk mempromokan produk Vulcan.


"Oh iya--iya. Saya suka sama produk-produk Vulcan, epic!" pujinya.


"Thanks bang, abang juga keren lah, salut saya sama perjuangannya,"


"Kalo megang project konser, bisa lah info-info buat tiket!" kelakar Fatur.


"Oh bang Fatur juga suka musik cadas, sip lah nanti saya infokan. Suka musik apa bang?"


Gale, Ganis maupun Gemilang sejenak terdiam menjadi penonton diantara obrolan para lelaki pendiam ini.


"Ini mereka ternyata rempong juga!" bisik Gale diangguki Ganis.


"Ko gue ngerasa jadi kacang disini?" ujar Gemilang.


"Ini kita bertiga ada disini, dianggap ngga sih. Kok rasanya jadi kaya orang ketiga?!" bisik Gale lagi, dengan tangan yang sibuk memencet not piano bersuara kambing agar si twin A anteng.


"Kayanya mereka bentar lagi tukeran nomor whatsapp deh!" tebak Ganis menyusun balok plastik membentuk rumah bersama Afifah.


"Coba deh minta nomor kamu Nat," pinta Fatur.


"Tuh kan!!!" seru Ganis dan Gale, Gemilang tertawa.


"Lu berdua mirip-mirip pelakor! Dikacangin saat ada yang baru!"


.


.


Note :


* Pisin: piring kecil.


* Pangesto: selamat, sehat.


*Resep heureuy: suka bercanda.


*Preventif: mencegah.


*Affair: selingkuh.

__ADS_1


*Cranky: rewel.


*Epic: hebat, baik sekali, bagus sekali.


__ADS_2