
Masih flashback ya gengs....
Bu, gimana Ganis? masih muntah?
"Masih a, barusan masuk toilet sambil mandi mau sekolah!"
(..)
"Iya baik-baik disana,"
Kaki beralaskan sendal jepit itu diam mematung di gawang pintu kamar mandi, sekilas mendengarkan ibu tengah menerima panggilan di dekat pintu dapur.
Itu pasti bang Nat, matanya memejam sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya kembali.
"Neng, minum dulu atuh. Kalo udah muntah lidahnya pasti pait," Ganis menggeser kursi di ruang makan menerima secangkir teh manis hangat dari ibu.
"Makasih bu,"
Tak lupa ibu memotong tipis lemon, dan menyerahkannya pada Ganis, "kata aa, neng Ganis kalo minum teh manis pagi-pagi abis muntah sukanya pake potongan lemon," wanita yang sudah melahirkan Wira ini tak pernah kehilangan senyuman ramah dan hangat untuk Ganis, tangan Ganis terulur dengan penuh tatapan nanar pada sepotong lemon di tangan ibu.
"Makasih," suaranya tercekat.
"Bu, Indi kemana?" tanya Ganis mengalihkan topik pembicaraan, bentar lagi nih air mata rembes kalo ngga buru-buru dibendung pake bendungan katulampa, bisa-bisa Bandung balik lagi jadi danau purbakala gara-gara bumil mewek bak air bah.
"Ada di kamar, kayanya masih pake baju. Neng Ganis pake dulu seragam, nanti gabung sarapan sama Indi, ada telor mata sapi ada ayam goreng, ada roti gandum juga favorit neng Ganis," ujar ibu menyuruh Ganis.
"Iya bu," ia menyeruput teh miliknya yang sudah dibubuhi potongan lemon, gadia itu mulai merasakan tenang juga manis bercampur asam segar di lidahnya.
"Nanti di sekolah, pir jangan nakal ya, jangan bikin bunda mual." Gumam Ganis mengusap perutnya sayang memberikan pesan pada di janin, siapa tau dia yang ada di dalem udah ngerti kalo Ganis sedang meminta pengertiannya, beberapa usapan ia daratkan di perut yang masih belum kentara perbedaannya.
Tak sengaja matanya jatuh pada deretan foto yang dipasang Ganis di dinding, ia selalu memaksa Wira untuk berselfie kapanpun dan dimanapun. Lelaki ini sering menolak tapi tak urung menyanggupi karena Ganis memaksa.
Ting!
Ponselnya bersuara, notifikasi dari bank memberitahu jika rekeningnya sudah tak kering lagi macam Bengawan Solo di kala kemarau, seseorang nan jauh disana sudah mengirimkan sejumlah saldo. Ganis mengingat-ingat tanggal berapa hari ini.
"Ahhh, iya pantes aja semalem mau top up buat saldo ngga bisa. Uang Ganis di atm abis,"
"Teh! ojol-nya udah di depan!" teriak Indi menggelegar seperti suara sound hajatan.
"Ojol? Kapan Ganis pesen ojol?" gadis itu segera keluar setelah bersiap dengan tas dan jaketnya, sepaket sepatu yang sudah terpasang rapi di kedua kaki.
"Ojol apa Ndi?" kerutan di dahinya mungkin berjumlah 5 lipatan saking mengkerut kebingungan.
"Kata si aa gr_ab nya nanyain Rengganis, ngga mungkin kan mau nagih utang?!" gidik Indi acuh, seraya menarik sepasang sepatu warrior hitam putih dari bawah kursi.
Gadis itu celingukan ke arah luar rumah mirip garong tv demi kepoin seseorang di depan, "aa mau jemput siapa?!" tanya Ganis berlari kecil menuju pagar besi di halaman rumah.
"Ini, teh Rengganis? Saya dipesan ke alamat ini atas nama Nata Prawira, katanya jemput teteh ke SMA Gemilang 103 Bandung," jelas si mamang sambil mengecek pesanannya.
"Udah dibayar?"
"Udah lewat aplikasi," jawabnya ramah. Gadis itu mengangguk dan naik ke belakang dengan memakai helm hijau khas ojol.
Ganis berjalan lurus tanpa menoleh pada siapapun seolah lehernya kaku seperti tapir, ia tau jika saat ini di gazzebo dekat parkiran sekolah, Wira dan teman-temannya sedang berkumpul, memang disitulah tempat mereka biasa berkumpul.
"Ekhem! Biasanya nempel sama si abang," lirihnya setengah meledek. Tapi gadis ini seakan berpura-pura tuli tak menanggapi ucapan Bobi.
__ADS_1
Hatinya sangat ingin menengok untuk melihat wajah Wira, tapi ego dan rasa berdenyut itu masih bersarang. Ganis benar-benar tak memandang mereka ada disana sampai masuk ke dalam kelas.
"Ra, itu cewek lu kenapa?" tanya Maulana heran, biasanya pagi-pagi matanya akan disuguhkan dengan pemandangan bak sepasang sepatu, selalu bersama dan berdampingan antara Wira-Ganis, sikap manja nan usil Ganis sambil cekikikan. Tapi hari ini langit serasa ikut runtuh dan mendung saat keduanya datang sendiri-sendiri.
Jangankan Wira, teman-temannya saja merasa ada yang hilang saat Ganis mengatupkan bibir dan lebih memilih menguncinya rapat-rapat.
"Nis! Hayu atuh ikutan!" ajak Olip, dimana teman-teman perempuan sekelasnya sedang joget-joget bikin video tik-tok.
Ganis menggeleng malas, "engga ah! Ganis lagi males lip!" ia memilih menenggelamkan kepalanya dan memejamkan mata.
"Si Ganis kunaon?" tanya teman lain. (kenapa)
Olip menggidikkan bahu, "ngga tau." Sebagai sahabat ia tau jika gadis manis ini sedang ada masalah.
"Nis, ada apa?" Olip mengurungkan niatannya ikut dalam pengambilan video kelas itu dan duduk di samping Ganis.
Sentuhan Olip justru semakin meruntuhkan benteng kuat yang sudah Ganis bangun untuk membenci Wira.
"Lip," ia menghambur memeluk gadis berkuncir satu ini sambil menangis tergugu.
"Eh,"
"Kamu berantem sama Wira?" tanya Olip tepat sasaran, ia mengusap lembut punggung Ganis.
"Kan biasanya juga kalian mah suka berantem, kapan sih akurnya, bisa diitung pake jari!" kekeh Olip mengingat hubungan unik sahabatnya.
"Yang ini beda,"
"Apanya?"
"Masalahnya,"
"So? Dari awal kamu kan udah tau gimana pergaulan Wira, kamu tau juga kalo Wira emang brenk sek. Tapi selama ini kamu ngga mempermasalahkan? Katanya semua orang punya masa lalu,"
Ganis mengurai pelukan dan menghapus air matanya, "tapi kok rasanya sakit ya Lip?" Ganis memegang dadanya, mengulum bibirnya karena air mata kini sudah landing diatas bibir atasnya.
"Sakitan tau dari orangnya langsung atau tau dari orang lain?" baliknya bertanya.
"Aku bukan bermaksud mau menyudutkan kamu Nis, tapi coba inget-inget deh berapa banyak orang yang ngingetin kamu kalau Wira memang seperti itu, lingkungannya, pergaulannya, teman-temannya, tapi justru kamu yang ngeyel kan?"
Ganis mengangguk sangat paham, "bang Gem ampunin Ganis!"
******
Seminggu sudah Ganis dan Wira tak saling bicara, rindu dalam hati kian lama kian terasa memberati tubuh.
Ganis sudah mengganti seragam putih abunya dengan olahraga, berulang kali ia berdecak kesal. Ukuran perutnya sedikit banyak membuat Ganis risih, takut-takut kalau orang lain curiga.
Ia keluar dengan mendekap seragam, bibirnya kunyam-kunyem menahan rasa asam yang tiba-tiba muncul memenuhi rongga mulut.
"Nis ayok!" ajak Olip dan Vera.
"Iya!" Ganis tergesa memasukkan seragam ke dalam tas, ia berjalan keluar kelas sambil membuka bungkusan permen demi mengusir rasa tak enak di mulut. Baru saja di depan koridor kelas, ia membekap mulut sambil berlari kencang, tak tahan lagi ia memuntahkan isian perutnya ke arah selo kan kecil samping kelas yang ia lewati.
"Huwekkkk!" Seseorang dengan tangan besarnya memijit tengkuk Ganis.
"Obatnya ngga kamu minum?" Ganis memejamkan matanya, sangat rindu dengan suara itu, tapi kembali bayangan Wira tidur dengan sang mantan menyeruak membuat dada sesak, matanya memicing.
__ADS_1
"Ga usah! Ganis ngga butuh kamu!"
"Jangan pernah liatin muka kamu di depan Ganis lagi. Ganis belum mau ketemu kamu!" tepisnya dan pergi menuju lapang meninggalkan Wira.
Netra hitam itu menatap Ganis nyalang.
Ganis masuk ke dalam barisan melakukan pemanasan bersama kelasnya, sampai.....
"Eh! Itu ada polisi ke sekolah!"
"Ada apa ya, tumben!"
Ganis melihat ke arah telunjuk teman-temannya. Benar saja beberapa pria berseragam coklat dan kaos biru bertuliskan polisi datang memasuki kantor ruang kepala sekolah. Hanya selang waktu 15 menit saja, guru kesiswaan masuk ke dalam beberapa kelas dan keluar bersama sejumlah siswa. Ada Wira diantaranya.
"Tunggu! Itu Wira kan Nis?" tanya Olip.
Hatinya mulai goyah. "Eh tau ngga sih?! Kata Nuno kelas XI IPS 4 si Maulana dipanggil kesiswaan, kemaren malem tim Prabu nangkap Raksa lagi pesta sa bu di jalan Supratman, nah dari penangkapan Raksa polisi akhirnya meluaskan pencarian ke sekolah kita, karena belum dapet pengedarnya yang kata si Raksa temennya juga," Firli si akun gosip sekolah membuka warung gosipnya saat guru olahraga tengah ke toilet.
"Jadi maksudnya, anak-anak berandal yang sering ngumpul bareng si Raksa ikut ditangkep juga gitu?" tanya Olip.
Firli mengangguk, "hooh!"
"Nah kan kena kan! Biar tau rasa tuh anak-anak yang suka mabok!" ujar Vera.
"Sukur! Emang udah lama juga sih guru-guru udah gedek banget sama anak-anak itu, udah lama pengen nge-DO tuh anak-anak, bikin resah!" setuju Ginanjar.
"Ada yang bilang sih, emang anak-anak itu mau di keluarin. Cuma nunggu bikin satu kesalahan lagi aja,"
Olip dan Ganis saling pandang, apa semalam Nata??? Rasa marahnya memang mendominasi, Ganis memang merasakan kecewa dan sakit terhadap Wira, tapi lebih sakit saat mendengar orang-orang menjudge dan malah mencibir juga menyumpahi Wira seperti itu. Hukum sosial memang kejam, lidah manusia memang tak bertulang, tapi ngga harus selentur itu juga melemparkan kata cacian, toh Wira ngga bikin rugi siapapun disini.
Ganis berlari menuju ruangan kepala sekolah mencari tau.
"Nis!!!" teriak Olip. Mereka menoleh ke arah sosok Ganis yang semakin menjauh, lupa kalau Ganis adalah pacar salah satu dari anak-anak berandal yang sedang mereka bicarakan.
"Ups! Gua lupa, kalo Ganis pacarnya Wira," Firli mengatupkan bibirnya.
"Iya sama, aduhhh! Jadi ngga enak!"
"Lu semua sih, mulutnya! Ampun-ampunan deh kalo udah nyinyir," ketus Olip.
Cukup lama Ganis menunggu dengan gelisah, ia duduk di bangku panjang dekat dengan ruangan kepala sekolah, lalu ia berdiri dan berjalan mondar mandir, ingin mendekat tapi tak mungkin demi melihat ruangan itu kini dijaga oleh satpam sekolah. Lumayan lama Ganis disana, bahkan kini pelajaran olahraga sudah selesai, dan sekolah sudah pulang, tapi belum satupun penghuni di dalam keluar ruangan.
"Nis?!" Olip membawakan tas milik Ganis.
"Thanks Lip," balasnya menerima tas, Olip memang teman yang pengertian. Kini sorot matanya nampak sangat khawatir dan takut. Olip merangkul bahu kurus Ganis, "sabar ya Nis, mau pulang apa nunggu?"
"Ganis mau nunggu aja, kamu kalo mau pulang, pulang aja duluan."
Olip sekali lagi memeluk Ganis, "ya udah aku duluan. Kalo ada apa-apa telfon!" Ganis mengangguk.
"Jangan nangis atuh," Olip tersenyum menghapus air mata yang siap menganak sungai.
"Takut Nata dikeluarin," suaranya bergetar.
.
.
__ADS_1
.
Halo hola bo-iboe, dek-adek, akak-akak kaum rebahan maupun non rebahan 😙 Bang Nat-nat yang nakal sama Neng Ganis yang manjahhh udah memasuki konflik puncak nih! Itu artinya hanya butuh beberapa bab lagi kita ending, jangan lupa terus pantengin si anak-anak baong (nakal) mimin ya!