Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
LET'S START BEGIN


__ADS_3

Untuk kali ini jika Ganis harus kembali marah padanya, Wira tak akan membiarkan Ganis mengusirnya lagi dari rumah, kalau perlu ia akan gelar tikar dan buat tenda di depan rumah. Dulu ia pergi dari rumah dan sekolah menyebabkan Ganis kecelakaan, dan itu benar-benar menakutkan.


"Ay," Wira memegang pundak Ganis, lalu ia mengangkat kepala Ganis. Rasa takutnya berubah menjadi ku luman bibir. Istrinya ini, harus ia sebut apa Ganis, kocak, konyol atau aneh bin unik. Hatinya bahkan sudah meleleh bagai mentega panas dan bercucuran habis terserap tanah, bisa-bisanya Ganis malah sedang tertidur sambil berjongkok.


Wira tertawa renyah, ia mendudukkan pan tatnya di bawah, tak mengindahkan jika tempat yang ia duduki itu kotor.


Kelopak mata Ganis begitu berat seberat beban hutang negara, terbuka perlahan karena suara berisik Wira.


"Bang Nat malah ketawa ih. Buruan Ganis udah ngantuk tau! Semalem Ganis bergadang, masa sekarang bergadang lagi. Besok-besok mau ngelamar jadi vampir lah!" omelnya diantara rasa kantuk.


Hebat! Istrinya bang Nat meskipun sedang mengantuk tapi mulutnya bisa ngomel-ngomel absurd, menandakan jika Ganis itu gadis cerdas, selain kecerdasan intelektual ia juga memiliki kecerdasan linguistik, mulutnya kaya punya otak sendiri, Wira kembali terkekeh.


"Iya-iya ay, aku ambil dulu motornya,"


"Buru! Ganis itung sampe 3, kalo ngga siap Ganis tinggal!" sungutnya.


"Yang bener aja atuh, motor abang disana ay, dikira suaminya superman?" balas Wira tak terima, yang benar saja istrinya ini, jarak keduanya menuju motor Wira itu sekitar 20 meteran, belum lagi ia harus memasukkan kunci dan menstater lalu jalan berbeloknya, mutilasi saja ia detik ini juga. Lagipula mau ditinggal kemana, yang ada Ganis yang ia ditinggal!


"Ya bo*do amat! Mau abang terbang terus motornya abang gendong kek atau abang lari terus motornya abang lempar kaya frisbee biar cepet nyampe, Ganis ngga peduli. Itu hukuman buat bang Nat, udah berduaan sama mantan!" matanya kini terbuka dua-duanya, gara-gara Wira malah ngajakin debat.


Wira semakin kebingungan dengan ucapan Ganis, tak tau ia yang sudah capek dan hari yang semakin larut atau memang Ganis yang ngaco.


"Itu ngga disengaja Nis, dia datengnya sama Desti. Tapi berhubung Desti ke kamar mandi jadinya yang bangun cuma berdua, lagian kan disana ada kamu, ada ito, ada juga yang lain."


"Tapi kan kita lagi tidur! Itu artinya kalian berduaan, awas ya jangan kaya gitu lagi!" Ganis menjewer telinga Wira membuat lelaki ini sedikit terkejut.


"Terserah kamu lah ay, ini jadi ngga kita mau pulang? Atau mau debat sampe pagi, cuma buat ributin Ivana?"


"Ya pulang lah, orang itungannya udah masuk ke angka 2 kok!" Wira hanya bisa berdecak, tak menggubris gerutuan Ganis, ia anggap Ganis sedang mengigau.


"Abang buru ih, 2!!! 2 seperempat! 2 sepertiga! 2 setengah! hampir 3 nih!" teriaknya di tengah malam tak tau malu.


"Bang Nata buru ih!"

__ADS_1


Suara motor Wira mendekati Ganis, gadis yang tengah berusaha menahan kantuknya itu tersentak kaget, saat Wira mendaratkan bibirnya di bibir manis Ganis.


Cup!


"Berisik! Abang sumpel pake mulut!"


"Ck! Dari dulu sampe sekarang mesumnya ngga ilang-ilang!" ketus Ganis naik ke jok belakang.


"Jangan tidur di motor, nanti celaka."


"Iya," ia melingkarkan tangan di perut Wira.


"Kartu ujian abang udah Ganis ambilin, jadi mau ngga mau abang belajarnya harus sistem kebut! Ganis bantu! Bang Arbi juga sore ke rumah," jelas Ganis.


"Iya," jawab Wira.


"Bang,"


"Hm,"


Ada saja ucapan juga tingkah Ganis yang selalu bikin Wira mengulum bibir, tapi setidaknya hal ini dapat membuatnya terjaga sampai rumah.


"Iya ay,"


"Ganis mau ambil fakultas bisnis dan management, kalo ngga kewirausahaan, ya management. Lucu kali ya kalo nanti abang dapet hidayah buat kuliah jurusannya seni rupa atau engga fashion desain. Nanti kita sama-sama kembangin Vulcan, Ganis juga pengen se sukses papa dulu, biar bang Nat ngga usah ngabisin waktu kerja seharian di luar buat kita." Sungguh impian sederhana yang indah jika terwujud, tapi tentu saja bukan dengan kemudahan hal itu akan terwujud.


"Oh, mau jadi ibu CEO ini teh ceritanya?" tanya Wira terkekeh.


"Ganis mau di masa tua nanti, kita ngga melulu ngejar uang, uang akan datang dengan sendirinya dan ngalir ke brangkas meski abang ngga usah sampe tidur geletakan kaya sarden bareng anak crew, atau seharian turun ke lapangan bareng anak Vulcan."


"Waktu bang Nat cuma buat Ganis,"


"Iya ay, aamiin."

__ADS_1


...----------------...


Setibanya di rumah, keduanya benar-benar menggunakan sisa waktu yang tinggal mepet-mepet untuk tidur.


"Bangunin aku jam 9 ay, mau ke Vulcan abis itu ke cafe Rockstar," Ganis mengangguk padahal ia pun sama ngantuknya.


Ganis memasang alarm di jam 9 agar ia tak ikut kebablasan.


Ibu tersenyum melihat kekompakkan anak dan menantunya, selalu terselip dalam do'anya kesehatan dan kelanggengan keduanya.


Bagi seorang Wira ijazah hanyalah selembar kertas yang tak lebih penting dari bungkus gorengan. Entah karena bagi dirinya uang adalah segalanya, untuk ukuran dirinya yang bukan siapa-siapa banteran kerja menggunakan ijazah SMA pun bisa jadi apa, seberapa besar penghasilannya. Yang jelas baginya sekarang adalah memajukan Vulcan dan ambil sampingan dengan penghasilan lumayan untuk uang kuliah Ganis.


"Bang ih! Ini salah, harusnya dikali ini dulu baru dipindah kesini. Makanya jangan meleng kalo bang Arbi lagi nerangin! Abang tuh pinter cuma males aja," mulutnya berdecak kesal, jika Wira muridnya mungkin ia sudah menyiapkan panci besar untuk merebus lelaki ini. Sepertinya lebih galakan teman les ketimbang gurunya sendiri.


"Iya ini kesini dulu kan, baru dipindah emang aku ngerjainnya barusan gimana?" debatnya.


"Abang tuh ke bilangan setelahnya dulu baru ini, ck! Ganis kalo punya murid begini udah Ganis cincang tau ngga, udah salah nyolot!" Arbi sampai melongo melihat perdebatan keduanya. Tak terbayang bagaimana Ganis bisa sampai hamil jika sedang berdua saja mereka selalu bertengkar begini.


"Kamu yang aku kunyah duluan!" balas Wira datar dengan mata yang masih menatap buku.


Ganis begitu cerewet, ini saja ia bisa mengikuti bimbingan Arbi karena gadis itu menelfonnya sampai ratusan kali memintanya pulang saat masih di Rockstar.


...HARAP TENANG, UJIAN SEDANG BERLANGSUNG!...


Ganis memandang mantap layar komputer di depannya.


"Oke! Disini awal mimpi Ganis dimulai!"


.


.


Note :

__ADS_1


*Kecerdasan intelektual (IQ): kemampuan seseorang dalam menalar, merencanakan, memecahkan suatu masalah, berpikir abstrak, memahami suatu gagasan.


*Kecerdasan linguistik: kemampuan seseorang dalam mengolah serta menggunakan kata dengan sangat baik, baik itu secara lisan maupun tulisan.


__ADS_2