
Suara motor satu peleton anak-anak slebor sampai di halaman rumah Wira. Baru Ganis tau jika mereka sudah acap kali berkumpul di rumah Wira untuk sekedar main dan nongkrong-nongkrong. Sudah dapat dipastikan jika mereka bukan mau kerja kelompok atau sekedar arisan wajan all in one.
"Ini mereka sering main kesini?" tanya Ganis, Wira mengangguk, "sering."
"Idih, ngapain disini?" keningnya berkerut, mengikuti Wira yang mengambil t shirt dari dalam lemari.
"Mainlah, kadang ngerjain tugas sekolah juga! Lebih seringnya sih si Raja yang ditumbalin!" Wira cengengesan mengganti seragam yang belum sempat ia ganti tadi.
"Mabok?" tembak Ganis, karena tak mungkin anak-anak slebor main atau nongkrong tanpa minuman haram satu itu sebagai teman pelengkap.
"Aku beli makanan dulu keluar buat mereka, ngga enak ada tamu ngga ada makanan." Wira mengacak rambut Ganis.
"Ganis ikut!" pintanya, segera Ganis mengekori Wira di belakangnya. Apapun yang terjadi Wira tak boleh sampai membeli lagi barang haram itu, Ganis tak suka.
Wajah katrok nan berisik anak-anak slebor seketika terkejut melihat Ganis ikut keluar dari dalam rumah Wira, Raja bahkan sampai membulatkan matanya sebesar biji duren manakala melihat si manis pujaan hati Wira ada disana.
"Eh ada Ganis, lagi main ke sini juga Nis?!" tanya Raja yang duduk di kursi paling pinggir dekat dengan ambang pintu masuk.
"Hm, lagi main!" jawabnya, baik Wira maupun Ganis sengaja menutup rapat-rapat rahasia pernikahan keduanya dari sebagian orang, agar kejadian yang lalu tak terulang kembali, semakin sedikit orang yang tau lebih baik untuk saat ini, setidaknya sampai kelulusan nanti.
"Gua keluar dulu beli cemilan," ujar Wira ijin pada teman-temannya, tangannya memutar-mutar kunci motor, bersiap untuk meluncur ke jalanan.
"Sip! Jangan lupa pelengkapnya Ra!" teriak Malik.
Tak lama, Damar juga sampai disana, ia terlambat karena mengantarkan Rindu terlebih dahulu sebelumnya.
"Assalamualaikum!" pekiknya terlambat datang. Melihat sahabat karibnya datang, memberikan jalan bagi Ganis agar Wira tak sampai membeli barang tujuannya.
"Bang, cemilan biar Ganis aja yang beli sama Damar, masa tuan rumahnya pergi sih. Ga enak juga, di rumah ada Indi sama ibu! Masa ditinggalin bareng pemuda ngga jelas gini," cecar Ganis mencoba meyakinkan Wira dengan wajah malaikatnya.
"Kan ada kamu tuan rumahnya," balas Wira mencolek hidung Ganis.
"Ya masa Ganis, bang! Yang nemenin mereka! Engga ah, bang Nat aja," gidik Ganis melihat ke arah anak-anak slebor.
"Tapi mereka udah biasa ditinggal, lagian ada sesuatu yang harus aku beli buat mereka, masa mau nyuruh kamu yang beli!"
"Ya jangan dibiasain kalo sekarang, gimana kalo mereka lagi khilaf macem-macem sama Ganis sama Indi? Ganis sama Damar perginya," tunjuk Ganis pada Damar, pokoknya Wira harus berhasil ia bujuk.
"Mungkin Damar lebih tau! Ngga apa-apa, bang Nat mendingan duduk disini bareng mereka biar urusan cemilan, Ganis yang beli!" ujarnya memaksa melebarkan senyuman selebar pintu hidayah.
"Mar, jangan masuk dulu! Diem disitu anter Ganis beli cemilan!" teriak Ganis menahan Damar yang masih berada di luar pagar.
"Ok, oke!" balasnya teriak.
"Kamu yakin ay, ini masalahnya belinya ke warung jamu?" tanya Wira tak yakin, tak wajar rasanya jika ia membiarkan Ganis membeli minuman beralkohol.
"Yakin! Masa disuruh ke pasar aja bisa, giliran beli cemilan sama minuman doang ngga bisa! Ntar ada Damar yang ikut beli," Ganis menengadahkan telapak tangannya pada Wira meminta uang untuk membeli cemilan, "udah buruan! Ntar makin lama lagi, Ganis mau mandi!"
Wira nampak tak yakin, meskipun Ganis tau minuman apa yang dimaksud, tapi melihat roman-romannya ia tak percaya istri usilnya ini.
"Udah abang aja yang beli," Wira kembali memasukkan uang ke dalam saku.
"Engga, engga! Abang ngga percaya banget sih sama Ganis! pernikahan itu harus dilandasi kepercayaan, iya kan?"
Matanya tak lepas memandang Ganis yang tersenyum lebar seakan menimbang-nimbang kepercayaannya.
"Mar! Damar!"
"Ya?!"
Wira menghampiri Damar dan membisikkan sesuatu, lebih tepatnya bisikan setan di depan Ganis.
__ADS_1
"Apa sih bisik-bisik?! Ngga baik tau bisik-bisik berdua kalo ada orang ketiga!" manyun Ganis.
"Gilakk! Wira ngajak selingkuh Nis?!" tawa Damar sontak dihadiahi pukulan Wira di bahunya.
"Nih uangnya, nanti pas di warung jamu, kasih uang yang 150 ke Damar, dia tau apa yang harus dibeli!" pesan Wira pada Ganis.
"Oke, Ganis beli coklat juga ya bareng Indi?!" Wira mengangguk dan memberikan beberapa lembar uang merah pada Ganis.
Damar membalikkan motornya kembali mengarah ke jalanan, dan Ganis langsung duduk di jok belakang motor Damar.
"Kenapa Rindu ngga diajak kesini sih!"
"Lagian aku mana tau kalo kamu lagi di rumah Wira, tadi cuma dikasih tau Raja suruh ngikut kesini aja, katanya mau ngopi-ngopi cantik!" kekeh Damar, lumayan lah dimana ada cemilan gratis disitu pejuang makanan gratisan berada.
Tak butuh waktu lama, karena rumah Wira tak jauh-jauh amat dari jalan besar. Ganis masuk ke dalam minimarket dan memilih beberapa snack, keripik, dan juga kacang berkulit, tak lupa ia mengambil dua batang coklat untuknya dan Indi.
"Kamu lagi nginep apa gimana Nis?" tanya Damar telah bersiap kembali diatas motornya di parkiran IndoMei.
"Iya,"
"Udah inget nih sama masa lalu?" tanya nya penasaran.
"Udah, tapi Mar...keep aja masalah ini ya, jangan sampe bocor ke yang lain. Biarlah yang lain taunya aku sama Wira cuma sebatas pacar," pinta Ganis.
"Sip! Tapi nih ya Nis, kalo kata emak gua, ada baiknya lu sama Wira ijab kabul lagi deh, biar lebih afdol lagi halalnya!" suara Damar beradu dengan deru angin kota Bandung di siang hari.
"Itu biar jadi urusan papa sama Nata aja Mar, lagian dia juga janji ngga akan nyentuh gue dulu sampe lulus!" jawab Ganis.
"Ah, percaya sama gua, cowok mah lain hari ini lain besok, nempel sama cewek ya bablas!" balas Damar membuat Ganis sejenak ikut berfikir apa yang dikatakan Damar memang ada benarnya juga, terlebih ia sudah sah dimata agama dan hukum untuk Wira.
"Mar, tadi Nata nyuruh beli apaan sih? Pasti minuman ga bener deh?!" Damar mengangguk, dan menghentikan laju sepeda motornya ketika sampai di depan sebuah warung jamu berukuran tak lebih besar dari warung slebor, "kaya ngga tau aja anak-anak slebor, ngga akan maju kalo ngga ada yang begituan!"
"Jangan disamain dong, Damar mah anak baik!" selorohnya tertawa.
Botol-botol jamu berjejer memenuhi etalase utama dari berbagai merk yang menjadi pemandangan pertama warung ini. Begitupun rencengan obat-obat herbal dari bermacam-macam jenis yang menggantung sampai menutupi celah antara muka penjual dan pembeli.
"Mana duitnya Nis?" Damar turun dari motornya, ada rasa tak ikhlas dari Ganis menyerahkan uang Wira hanya untuk dipakai berbuat dosa. Sudah saatnya anak-anak itu berubah, tidak menutup kemungkinan Wira pun akan ikut merasakan.
"Gue aja yang beli!" tanpa persetujuan Damar, Ganis melangkahkan kakinya.
"Tapi Nis, ntar gue yang kena amuk Wira," Damar mulai tak enak hati.
"Gua yang tanggung jawab Mar," Ganis menghampiri si penjual warung jamu. Damar penasaran dengan apa yang dibeli Ganis ikut menghampiri. Seketika tawanya meledak, melihat botol minuman dimasukkan si penjual ke dalam keresek hitam.
"Nis, kalo laki lu ngamuk gue ngga tanggung jawab ya!"
"Ngga akan! Yang mau ngambek sini adepin Ganis!" jawab Ganis jumawa dengan santainya membayar, lumayan juga lebihnya bisa ia pakai jajan cilok sampe gumoh.
Damar tak hentinya tertawa, "ampun lah! Lakinya preman sejati, bininya..."
"Ini demi kebaikan, sama kan...cap orangtua judulnya! Coba gue tanya Mar, tadi Nata nyuruh loe beli apa?" tanya Ganis.
"Cap orangtua kan?" lanjutnya Ganis membela diri.
"Iya tapi amer Nis, bukan itu..."
"Bo*do! Biar kapok sekalian! Lagian ini bikin sehat, ngga sayang tubuh apa! Kan sama rasanya, sama-sama pait, sama-sama beli di warung jamu! Yang beda ya khasiatnya!" alibi Ganis kekeh.
"Harusnya gue ajak Rindu kesini barusan, baru kali ini anak slebor diobrak-abrik gini !" tawa Damar.
Keduanya sudah sampai kembali di rumah Wira. Dan disana, anak-anak slebor sudah berada di posisi paling enak menurut mereka masing-masing, ditengah cuaca panas, angin bertiup sepoi-sepoi melambai dan memanjakan mata. Reza dan Luki sudah rebahan di kursi,Raja bermain gitar milik Wira meskipun alunannya tak seenak jika Wira yang bermain, sementara Malik mengobrol sembari duduk manis sambil ongkang-ongkang kaki bersama yang lain.
__ADS_1
"Wihh! Tuh, asupan nutrisi udah dateng oy!" pekik Luki gembira melihat Ganis datang membawa dua kresek bersama Damar.
Damar berulang kali harus melipat bibirnya menahan tawa yang siap meledak, melihat wajah sumringah teman-temannya yang siap berubah masam bahkan mungkin termuntah-muntah.
"Nih tuh!"
"Ini peje!!" Ganis menaruh sekresek cemilan dan kresek lainnya berisi 2 botol cap orangtua.
"Mau diambilin gelasnya ngga?" tanya Ganis, Wira terheran melihat wajah sumringah Ganis menaruh belanjaannya. Gadis itu adalah orang yang paling menentang keras saat teman-teman meminta minuman beralkohol pada Wira, tapi lihatlah sekarang betapa ia mendukung mereka.
"Abang juga ikut minum!" titah Ganis.
"Biar abang yang bawa gelasnya," jawab Wira masuk ke dalam, membawa beberapa gelas berbeda ukuran.
Wajah-wajah pemuda ini sudah sangat antusias dan senang melihat barang yang mereka inginkan sudah ada di hadapan, siap diteguk dan menggoyang lidah juga kepala, biar bisa fly bersama kupu-kupu dan para bidadari.
"Kapan lagi kan, minum kaya begini ditemenin cewek cantik pula! Kecuali sama Suci cs iya kan?!" tanya Ganis menaik turunkan alisnya, seolah dengan rela menjadi pelayan mereka menuangkan minuman ke dalam gelas.
"Ko warnanya gini Nis, kamu ngga salah beli kan?" tanya Wira menautkan alisnya melihat minuman yang dibeli Ganis.
"Oh engga-engga. Kata Damar cap orangtua kan?" tanya Ganis.
"Udah lah sikat aja bruhhh, haus euy!" Reza mengambil gelas paling banyak isinya dan meneguknya.
"Gleuk..."
"Byurrrr!" Reza menyemburkan minuman yang baru saja ia telan.
"Puihhh!"
"Apaan nih?!"
Bwahahahahah!
Damar yang tak tahan lagi, akhirnya meledakkan tawanya.
"Enak kan?!" tanya Ganis.
"Nah minum deh! Ini tuh bagus buat kesehatan, tadinya Damar bilang amer, tapi berhubung Ganis yang beli tuh amer mendadak pada ngumpet dari pasaran! Jadi Ganis ganti pake kunyit asam sama beras kencur! Bagus buat lambung!" Ganis membalikkan botol yang menunjukkan jenis minuman.
KUNYIT ASAM cap OrangTua.
BERAS KENCUR cap OrangTua.
"Anjriittttt! Ra, " umpat Reza, Raja, Malik dan Luki tertawa kencang sampai memegang perutnya.
"Karena Ganis yang punya duit, suka-suka Ganis mau kasih peje apaan! Nih, peje hubungan Ganis sama Wira! Diminum ya wan kawan, jangan disisain!" Ganis beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam.
"Abang juga minum! Lain kali ngga ada itu amer-amer an atau tuak, atau arak! Ganis pites kalian!" pelototnya sebelum benar-benar masuk, wajah Ganis lebih horor daripada sadako jika sedang begini.
"Diganti kunyit asam," Raja kembali meledakkan tawanya.
"Hah! Ancur dunia persilatan kaya gini mah! Sejak kapan preman mabok beras kencur!"
Indi yang mengintip keriuhan dari luar ikut tertawa terpingkal-pingkal.
.
.
.
__ADS_1