Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
MENYESAL TIADA GUNA


__ADS_3

Di luaran sana Wira tak akan pernah membiarkan siapapun lawannya menyentuh wajah ataupun anggota tubuh lainnya jika sedang berkelahi, tapi malam ini ia biarkan badannya menjadi sasaran amukan Gemilang sampai remuk redam. Wajahnya sudah hampir tak berbentuk lagi dihajar habis-habisan.


Tapi bukan itu yang membuat hatinya sakit. Melainkan diatas sana, dibalik jendela sana Ganis sedang menangis histeris melihatnya di hajar Gemilang.


"Jangan nangis, aku ngga apa-apa," ucapnya dengan gerakan bibir meskipun mulutnya sudah terbatuk-batuk membuang air saliva bercampur darah.


Untung saja Arbi, sahabat Gemilang datang tepat pada waktunya.


Pemuda itu membuka pagar besi dan mendapati sahabatnya masih menghajar Wira yang sudah terkapar tak berdaya tanpa perlawanan.


"Astaga Gem!" ia langsung berlari dan menahan Gemilang.


"Gem, Udah! Tuh anak orang bisa mati ntar!" ia menjauhkan Gemilang dari Wira.


"Lawan gua se tan!" teriak Gemilang. Bahkan sang nenek yang sedang sakit saja sampai keluar demi mendengar cucunya berteriak dan berkelahi.


"Astagfirullah Gem!" ia langsung mendekat berusaha menggapai Gemilang.


"Nih bank sadh emang pantesnya mati Bi!"


"Nin... dia udah hamilin Ganis!" tunjuk Gemilang berapi-api. Arbi terlihat terkejut tapi ia cepat-cepat menetralkan suasana.


"Ya Allah gusti," gumam enin.


"Tapi semua bisa diomongin baik-baik, udah...udah!" jawab neneknya, berulangkali berucap kata istigfar. Arbi mendorong Gemilang untuk duduk di kursi yang langsung ditahan sang nenek, lalu ia mengangkat Wira yang sudah terkapar, "lu ngga apa-apa?" Wira menggeleng, "engga."


"Sebentar biar enin ambilin air anget sama obat merah," dengan kepayahan neneknya beranjak, tapi belum sempat ia masuk,


"Nin, ngga usah diobatin penjahat kaya dia!" desis Gemilang.


"Nin, ijinin saya ketemu mama papa Ganis, saya bakal tanggung jawab nikahin Ganis, saya sayang sama Ganis," ucap Wira diantara rasa pening dan nyerinya.


"Kalo lu sayang sama adek gua lu 'ga bakalan rusak dia!" Gemilang sudah kembali maju dan hendak menyerang Wira lagi, untungnya ditahan Arbi.


"Gem..Gem..sabar!" tahan Arbi.


"Ganis dimana Gem?" tanya enin bersikap netral. Terlihat dari wajah tuanya rasa kecewa dan sedih yang mendalam dengan peristiwa ini, setidaknya ia ikut andil dalam pengasuhan Ganis, untung saja ia tak memiliki riwayat penyakit jantung.


"Di kamar, Gem kunci dia!" jawab Gemilang, enin menghembuskan nafasnya lelah, usia renta dan kondisi kesehatan yang semakin menurun membuatnya mudah merasakan pusing.


"Saha namina ncep?" tanya enin melihat miris wajah Wira, wajah tampan yang kini dipenuhi luka oleh Gemilang. (siapa namanya ncep?)


"Nata Prawira, nin..."


"Oh, jadi ini yang namanya Nata, yang sering Ganis ceritain," enin sedikit mengulas senyuman tipisnya, Ganis sering menceritakan sosok pemuda ini padanya.


"Nin, mendingan enin masuk udah malem. Nanti drop lagi," pinta Gemilang.


"Maafin Gem, yang gagal jagain Ganis nin," Gemilang meraih tangan neneknya, sementara Wira sendiri masih menunduk tanpa berani berkata-kata lagi.


"Semua sudah kejadian Gem, tinggal ke depannya harus dipertanggung jawabkan, di perut Ganis sekarang sudah ada makhluk tak berdosa. Enin yang bakal ngomong sama mama papamu!" jawab enin.

__ADS_1


"Nata, kedua orangtua kamu sudah tau?" Wira menggeleng.


"Beritahu dulu orangtua kamu masalah ini, lalu datang kembali kesini. Sekarang sudah malam, waktunya istirahat, jangan sampai membangunkan tetangga karena keributan, enin mau liat Ganis," lanjut enin berdiri dan meninggalkan mereka bermaksud melihat Ganis.


"Seumur-umur gua ngga akan pernah sudi punya adik ipar kaya lu, jangan harap mama papa bisa terima lu!" Gemilang masuk ke dalam.


"Bi, gua lagi ga mood buat pergi. Lu balik aja," Arbi mengangguk.


...----------------...


Wira pulang dalam keadaan yang mengkhawatirkan.


"Astagfirullahaladzim!!!"


"Aa kenapa? Berantem?! Teh Ganis udah pulang?!" tanya Indi syok memberondongnya dengan pertanyaan.


"Bu," Wira tiba-tiba bersimpuh di kaki ibunya yang masih terkejut dan hendak mengambil kotak p3k, sontak saja ibunya dibuat kebingungan.


"Ya Allah, a kenapa?!" ibu meraih pundak tegap putranya yang mulai lesu.


"Nata minta ampun sama ibu, ngga mikir panjang sebelumnya." ia menunduk.


"Kenapa?" ibu makin penasaran dibuatnya, pasalnya Wira adalah anak tangguh yang tak pernah sampai mengemis-ngemis ampun dan bersimpuh meskipun ia sampai pulang dengan keadaan tepar karena mabuk atau babak belur gara-gara berkelahi.


"Sini duduk dulu disini, ibu obatin! Kamu abis berantem? Ganis udah pulang ke rumahnya kan?" tanyanya khawatir.


"Indi ambilin air anget sama handuk kecil! Sekalian kotak p3k!" titah ibunya, Indi berlari kecil segera mengambil apa yang dipinta ibu.


"Bu," Wira menatap ibunya yang masih penasaran dengan jawabannya.


Wira meraih kedua tangan ibu, "temenin Nata buat lamar Ganis," kening ibu sontak berkerut dibuatnya.


"Ganis hamil anak Nata,"


"Astagfirullahaladzim ya Allah!" ibu menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kalian..." Wira menunduk, tanpa menjawabnya pun ibunya pasti sudah paham.


"Ya Allah," ibu memegang dadanya yang mendadak sesak.


"Ternyata sampai seliar itu kamu berani merusak anak gadis orang Nata," ucap ibu bergetar.


"Gusti, ampuni hamba.." gumam ibu pelan berkali-kali mengucap istigfar.


"Maaf," cicit Wira.


"Bu, ini..." Indi dibuat lebih bingung lagi kali ini, melihat ibu yang menangis begitupun Wira menunduk.


"Ini ada apa sih?" ia menaruh baskom air hangat dan kotak p3k di meja.


"Ibu ngga pernah larang kamu buat bergaul dengan siapapun, tapi ibu ngga nyangka kamu berani menggauli anak gadis orang sampai hamil, Nata."

__ADS_1


Indi membulatkan matanya dan menganga, "teh Ganis hamil, astaga!" ia menutup mulutnya.


"Kapan, kok bisa?!" gumamnya pelan.


"Bisalah, kakakmu ini yang hamilin!" balas ibu menatap Indi nyalang.


"Ini jadi pelajaran buatmu Indi, jangan kebablasan dalam bergaul apalagi dengan lawan jenis!"


"Orangtua Ganis tau? Apa ini gara-gara itu?" tanya ibu menunjuk wajah Wira, semarah-marahnya seorang ibu ia tetap tak bisa membiarkan anaknya dalam keadaan mengenaskan, hatinya merintih. Tangannya meraih handuk kecil nan hangat dan membasuh luka-luka Wira.


"Baru kakak sama eninnya, rencananya orangtua Ganis bakal segera tau," jawab Wira tak mengaduh, rasa sakit ini tak sebanding jika melihat Ganis menangis tadi.


"Besok luangkan waktu dari pekerjaanmu, jangan buat Ganis sama keluarganya menunggu," ibu membubuhkan obat merah di luka-luka Wira.


Malam itu, enin langsung menghubungi kedua orangtua Ganis di Jakarta, menceritakan semua kejadian itu.


"Reni sama a Yudi pulang mah!"


...----------------...


"Ganis,"


Sejak semalam gadis itu hanya meringkuk saja di ranjang masih dengan seragam kemarin tanpa mau turun ataupun bicara sedikit pun.


Terdengar suara kunci di putar, dan pintu terbuka, mama dan papa sudah pulang sejak tadi subuh.


Sempat mengobrol dahulu bersama Gemilang dan enin di ruang tengah, lalu mama naik kamar Ganis, terlihat matanya yang sudah sembab.


Ia membawa sepiring nasi dan minum di nampan dan menaruhnya di meja kecil dekat ranjang.


"Ganis," tangannya terulur mengusap kepala Ganis, hingga berdiam lama di kening, alisnya berkerut.


"Mama," Ganis mendongak dan bangun.


"Ya Allah, kamu sakit neng?!" tanya mama khawatir.


"Mama, maafin Ganis ma, Ganis salah...Ganis udah bikin malu keluarga, Ganis ngga bisa jaga nama baik keluarga," cicitnya lemah sambil menangis dengan wajah pucat dan sembab, rambutnya sudah semrawut.


"Hukum Ganis ma, marahin Ganis..." lanjutnya.


"Sutttt, udah..yang udah biarin berlalu. Badan kamu panas Nis,"


Ganis langsung melompat dari ranjang menuju kamar mandi.


"Huweekkkk!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2