Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
NGGAK MAU BOBO BARENG


__ADS_3

Tak hilang akal, Wira kembali mengganggu Ganis agar gadis itu bangun.


"Ay," Wira menyusuri cuping telinga dan sekitaran tengkuk Ganis dengan bibir hangatnya, begitu wangi dan lembut.


Tapi Ganis hanya menggumam kata yang tak dimengerti oleh alien mars sekalipun, "Wzsgahkgdhxklahgd," semacam itu, Wira tertawa jika urusan tidur Ganis memang jagonya.


"Astaga ay, kamu kalo di telan jangin orang ga akan sadar!" ucap Wira, kembali pemuda itu mengganggu dengan mengecupi pipi Ganis dan mencapit hidungnya, entah Ganis bermimpi apa gadis itu bergerak kecil sambil menggaruk kupingnya pelan, "nyemnyemnyem..."


Wira kembali meledakkan tawanya, seharusnya ia rekam kejadian ini biar besok kalo Ganis macam-macam ia memiliki senjata untuk membungkam mulut cerewet Ganis.


"Ay, bikin anak yuk!" bisik Wira di telinga Ganis seraya tangannya menggerayangi Ganis, kali ini tindakan Wira sukses membuat mata Ganis langsung terbuka lebar, gadis itu menoleh cepat pada Wira yang menempel di badannya. Ia refleks mendorong Wira sampai badannya terdorong beberapa centi.


"Bang Nat ih!" Ganis menjauhkan dirinya dengan memajukan posisinya dan menghalangkan guling diantara keduanya.


"Abisnya kamu dibangunin dari tadi ngga bangun-bangun. Udah sore Nis," jawab Wira mendekati Ganis, memangkas jarak diantara keduanya.


"Jangan nempel-nempel gini atuh, Ganis gerah ah!" tolaknya menutupi jika ternyata wajahnya memang sudah memerah.


Aneh rasanya, untuk pertama kalinya lagi mereka tidur seranjang Ganis terasa malu-malu kucing.


"Nempel gimana, kamunya jauhan terus!" Wira kembali memajukan posisinya, memindahkan guling dari tengah mereka.


"Abang, nanti malem tidur dimana?" tanya Ganis tak lagi menjauh, ia menyerah karena sedikit lagi ia bergerak mundur maka badannya akan mendarat di lantai kamar. Wira menangkap badan Ganis, tangannya melingkar di pinggang Ganis posesif.


"Disinilah," jawabnya santai.


Alis Ganis bertaut, "terus Ganis dimana?"


"Ya disini juga bareng abang, masa sama Indi!" jawabnya, lebay saja jika harus pisah ranjang kaya pengantin kontrak saja yang mesti pisah-pisah ranjang bahkan kamar.


Ganis berdecih, "idih! Satu ranjang? Enak di bang Nat ngga enak di Ganis?!" wajahnya terpundur beberapa inci tapi tak cukup jauh dari deruan nafas Wira.


"Ya sama-sama enaklah, abang peluk kamu, kamu dipeluk abang!" cukup adil kan?! Wira tersenyum.


"Itu mah sama aja atuh Juki! Abang menang banyak," Ganis mengusap kasar wajah Wira.


"Takut bang Nat nanti khilaf," jedanya, "bang, Ganis kepikiran kata Damar, kita ngga ijab kabul lagi ya?"


"Biar apa? Biar dikasih mahar lagi?" alis Wira saling bersentuhan.

__ADS_1


"Biar lebih afdol lagi halalnya bang," jawab Ganis, tangannya tak mau diam awalnya ia menyentuh rambut panjang berantakan Wira lalu menjambak pelan dan menyugarnya ke arah belakang hingga terlihat kening bersih Wira tanpa jerawat kaya anak SMA tanggung yang lagi masa-masanya dipenuhi komedo dan jerawat kecil.


"Bang Nat cukuran kek! Biar ngga dirazia guru lagi, doyan banget dihukum guru!"


Wira tersenyum walau dengan mata terpejam, "ngga apa-apa, BK sepi kalo aku cukuran!"


"Ck! Bilang aja seneng jadi pusat perhatian," dumel Ganis.


"Salah satunya! Biar bisa liat dan diliat kamu kalo lagi dihukum," lanjutnya, ternyata selama ini itulah alasan Wira selalu melanggar aturan sekolah, agar bisa melihat dan dilihat Ganis.


"Jangan kaya gitu lagi, harus sekolah yang bener biar lulus bareng-bareng. Kuliah juga bareng," Wira membuka matanya perlahan dan menatap gadisnya.


"Kamu mau kuliah?" tanyanya.


"Ya iya atuh, kalo dibiayain sih! Kalo engga, Ganis mau minta ijin sama bang Nat buat kerja cari uang buat kuliah," jelas Wira tak setuju dengan ide itu.


"Engga! Abang biayain kamu kuliah," jawabnya, Ganis tau lelakinya ini teramat posesif padanya tapi ia terima itu.


"Kok cuma aku, emang abang ngga mau kuliah gitu?" kembali Ganis bertanya, Wira hanya menggidik acuh, "ngga tau atuh, gimana ntar aja! Kewajiban aku kerja, nafkahin kamu sama anak-anak kita nanti!" jelasnya logis.


Ganis menggeleng tak setuju, "kuliah bukan pasal dapet gelar atau gaya-gayaan bang, pendidikan itu penting bukan cuma buat nambah wawasan. Semakin tinggi pendidikan semakin tinggi kualitas si personal itu sendiri. Meskipun ngga berpengaruh secara signifikan buat akhlak dan perilaku, tapi setidaknya dari cara berfikir, pengetahuan dan cara orang lain memandang kita jelas akan berbeda."


"Iya ay, nanti abang pikirin."


Wira memejamkan mata menerima setiap sentuhan Ganis, ia sangat merindukan itu.


"Kalo kamu mau kita nikah ulang nanti abang ijab kabul lagi!" tambahnya.


"Iya, ngga usah mahar mahal-mahal bang, yang penting halal aja!"


"Oke, kalo cuma dimaharin sendal jepit mau dong ya?!" Wira mengangguk-angguk seakan benar-benar ingin menghargai Ganis seharga sendal jepit yang biasa dijual di toko kelontong buat dipake ke kamar mandi.


"Ganis kok murah banget, seharga sendal jepit?!" manyunnya.


"Katanya ga usah yang mahal-mahal?"


"Ya engga sendal jepit juga atuh bang, jahat ih!" Wira cengengesan melihat wajah cemberut Ganis.


Lama Ganis memperhatikan wajah Wira, mulai dari alis tebalnya yang selalu menukik tajam memandang lawan bicara dnegan tatapan menusuk dan dingin, kelopak mata sayunya dan hidung bangir milik lelakinya ini yang selalu menjadi pujaan kaum hawa. Di tengah aksinya menjejaki setiap jarinya di wajah Wira tiba-tiba tubuhnya tertutup selimut sampai tenggelam di dalamnya.

__ADS_1


"Abang ih! Gelap, gerah. Apa-apaan sih?!" Wira tertawa, "saung-saungan Nis!" tapi sedetik kemudian ia merasa lehernya seperti disengat lebah.


"Aww!"


"Bang Nat modus!!!" jeritnya.


"Ngga mau bobo bareng bang Nat lah, mau sama Indi aja!" tambahnya memukul-mukul Wira di balik selimut.


"Dikit doang Nis," jawabnya di dalam sana. Ganis berusaha keluar dari dalam selimut, yang kaya begini nih musuh dalam selimut.


"Awas ah, Ganis mau ke kamar mandi!" Ganis menyingkabkan selimut dan turun dari ranjang.


Ia meninggalkan Wira yang tersenyum penuh kemenangan dan keluar dari kamar.


"Teh, jalan-jalan sore yuk ke depan sambil cari tukang bandrek!" ajak Indi saat Ganis keliar dari dalam kamar.


"Boleh, bentar deh Ganis ke kamar mandi dulu!"


"Ya udah Indi tunggu di depan teh," jawab Indi melengos ke arah depan rumah.


"Bang Nat, Ganis keluar sama Indi ya!" teriaknya, Wira keluar dari kamarnya, membawa sebuah jaket.


"Pake ini, nanti kamu yang malu sendiri!" Wira memakaikan jaket miliknya dan merapikan rambut Ganis.


"Apa sih, malu kenapa?" tanya Ganis.


"Ngaca deh!" Wira dengan santainya meninggalkan Ganis ke arah belakang.


"Kenapa?" alisnya bertaut. Penasaran, Ganis lalu kembali ke kamar untuk melihat apa yang salah dengan dirinya. Ia meneliti satu persatu inci tubuhnya sampai matanya memicing di bagian leher.


"Abang Nat ih!!!!"


"Besok Ganis sekolah gimana?!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2