
"Bang Nat ampun bang!!" Ganis berlari menghindari bapak tirinya singa yang mengamuk subuh-subuh karena ulah Ganis, ia sampai naik ke atas kursi ruang tamu demi menghindar sambil bawa-bawa kaleng dan centong.
"Kamu tuh!" geram Wira tertahan, ingin menangkap Ganis.
"Ya abisnya abang dibangunin ngga bangun-bangun. Ngga liat ini udah pagi, rejeki kita dipatok lovebird tetangga nanti!" cercanya sambil sesekali memukul kaleng itu dengan centong, "Kotrek!"
"Nis, itu berisik!" greget Wira geram seraya menyumbat lubang telinganya dengan jari, teramat geram sampai-sampai ia ingin melahap Ganis bersama lalapan dan sambal, kepalanya terasa nyut-nyutan karena ulah istri usilnya ini, ia sedang bermimpi indah akhirnya harus kepeleset ke jurang dan nginjek ta_i ayam karena suara nyaring kaleng yang sepertinya memihak sang istri pagi ini, kaleng itu bersuara sangat nyaring sekali seperti sengaja di beri pengeras suara di dalamnya, Wira berjanji setelah ini akan membantai habis semua kaleng di rumah ini.
"Tau, makanya Ganis pake ini. Daripada Ganis siram pake air. Bikin basah kasur, Ganis juga yang harus jemur!" jawabnya memasang wajah bayi baru lahir, tanpa dosa.
"Pinter kan Ganis?! Istri bang Nata!!!" alisnya naik turun berucap junawa dengan mencolek hidungnya sendiri, ia sendiri tak tahan ingin meledakkan tawanya, meskipun tak tega melihat Nata tapi ia ingin menanamkan kebiasaan baik untuk Wira.
"Yok mandi yok! Apa mau Ganis mandiin?" memang wedan seorang Rengganis, jika umumnya lelaki lah yang minta mandi bareng, ia malah menjadikan Wira objeknya untuk belajar jadi seorang ibu. Hanya saja bayi yang ini, ck--ck---- berbulu.
Indi dan ibu sudah tertawa sejak tadi, melihat drama pagi hari yang jauh dari kata harmonis seperti keluarga cemara, Ganis dan Wira lebih cocok disebut jelmaan keluarga the simpson. Dirasa sudah jinak, Ganis turun perlahan dari kursi.
"Udah, ngga usah marah pagi-pagi sayangnya akuhhh, maafin istrimu yang cantiknya kebangetan ini ya, janji deh besok-besok Ganis banguninnya ngga pake kaleng lagi, tapi sekalian bawa gerobak sound sistemnya dangdut jalanan sambil nyawer," kekeh Ganis, tapi rupanya diamnya Wira memang disengaja untuk memancing Ganis turun, dendam? Oh jelas! sebelum rasa nyut-nyutan itu tuntas Wira tak akan melepaskan istrinya.
"Sasaran mendekat, roger!" bidik Wira dalam hati. Tapi rupanya gerakan Wira sudah dibaca Ganis, dengan sigap gadis itu berlari melewati Wira, masuk ke ruangan pinh dekat, yaitu kamar Indi yang pintu kamarnya terbuka lalu dengan cepat menutup pintunya, hingga Wira hanya bisa menangkap angin.
Bammm!
"Astagfirullahaldzim, ini kelakuan pasangan suami istri udah kaya kucing sama curut," ibu menggeleng kembali melihat masakannya, setiap hari begini bisa-bisa ibu sawan dan semaput.
"Kalo udah nyatu gini nih, riweuh! (hectic) Subuh aja udah rame," ada senyum tercipta di wajah wanita paruh baya yang sudah melahirkan si bang Nat-natnya Ganis ini.
"Ay, buka pintunya!" Wira mengetuk pintu kamar Indi kepalanya tepat menempel di pintu kayu itu.
"Terus abang tangkep Ganis gitu, oh tidak bisa!" jawabnya dari dalam sama-sama menempel di balik pintu.
"Aduhh, ini kenapa jadi kamar Indi yang jadi korbannya! Awas ya a, jangan dobrak pintu kamar Indi," Indi mewanti-wanti.
"Iya ah, bawel!" desis Wira menggaruk kepalanya, tak tau ada ketombe yang numbuh satu hektar apa memang gatal karena kelakuan Ganis.
"Ay, sayangggggg....kamu ngga bisa lari dari aku! Aku bisa masuk lewat jendela kamar Indi!"
"Aku kasih opsi ya, opsi pertama kamu menyerahkan diri baik-baik terus kita damai bersyarat atau aku paksa kamu keluar dengan semua hukuman yang nunggu kamu termasuk uang jajan?!" wajah Ganis menganga tak terima lalu berdecih dan menggerutu dengan semua sumpah serapah, sumpah pemuda dan sumpah palapa.
"Nggak! Sebutin dulu syaratnya apa?!" teriak Ganis tak ingin menyerah begitu saja, sudah seperti tero ris dan pihak berwajib yang sedang negosiasi.
"Ini mereka lagi main apa-apaan sih?" kening Indi berkerut.
"Polisi-polisian Ndi," jawab ibu menimpali si bungsu sambil menaruh telur dadar lengkap dengan daun bawang dan kornet di atas meja makan.
"Oo," mulut Indi membulat lalu tertawa, "masa kecil kurang bahagia,"
"Sayaaa--nggggg!" bujuk Wira.
"Kalo gitu kamu ngga akan ikut aku sama anak-anak ke Lembang? Ada Rindu juga sama Damar,"
Tak sampai 5 detik, pintu langsung terbuka menampakkan gadis dengan mata berbinar, "kemana bang?"
"Kena kamu!" ujar Wira menyeret Ganis ke dalam kamar, merasa ada perlawanan dari tersangka Wira mengangkat Ganis dan menggendongnya kembali ke dalam kamar.
"Abang ihhhh!" jeritnya.
"Yah, si teteh malah keluar!" decak Indi menyayangkan drama polisi-polisiannya harus berakhir secepat ini karena tersangka tergiur dengan tawaran.
Blugh!
Dengan sekali tendangan madun, pintu kamar Wira tertutup, dan disensor untuk umum.
Tubuh Ganis terhempas di atas ranjang, dengan rambut yang masih basah karena lilitan handuk sudah terlepas.
__ADS_1
"Abang ih curang ah!" lawan Ganis.
"Apapun halal dilakukan asal ngga bikin kamu celaka," usapnya di garis wajah Ganis, posisinya kini Wira setengah meni ndih istrinya.
"Geli ih! Nanti Ganis pipis di kasur!!" serunya kesal.
"Biarin," jawab Wira menyebalkan.
"Abang ih, Ganis udah mandi! Udah deh, ngga usah macem-macem ah! Abang ngga seru mainannya ranjang terus!"
"Terus mau dimana? Abang mah dimana aja ayok asal sama kamu," balas Wira semakin membuat Ganis kegelian karena kini sentuhan dan gelitikan itu turun ke leher dan sekitaran pinggang.
"Yang bener aja! Abangggg!!!"
"Apa sayang,"
"Stop!" Ganis menggelin jang seperti cacing kepanasan, Wira tau Ganis tipe gadis yang geli-an. Melihat Ganis yang sudah kepayahan, Wira menghentikkannya dan bangkit.
"Cepet siap-siap. Abang mandi dulu, nanti kalo yang lain udah kesini suruh pada masuk aja," pesan Wira.
"Hah?!" kini Ganis yang mendadak kaya orang bloon.
"Abang serius waktu bilang kita mau ke Lembang, ay!" mata Ganis dipenuhi kilauan permata, ia kembali bersemangat, "beneran?! Asikkk! Main dong," Ganis turun dan memeluk Wira dari belakang, kemudian laki-laki itu membalikkan badannya, "apa sih yang engga buat kamu, sebelum nanti abang sibuk. Abang bisa sampe ngga pulang ay, kamu harus baik-baik aja selama abang ngga pulang, ngga boleh keluar selain ke sekolah atau ke rumah mama, abang udah koordinasiin sama Gem," alis Ganis menukik, otaknya berfikir.
"Kok gitu?" ia mengurai pelukannya.
"Kalo waktu konsernya udah mepet, harus GR, belum lagi mematangkan, semuanya harus bener-bener terencana matang dan terlaksana lancar, do'ain abang ya." Wira mengecup kedua punggung tangan Ganis.
"Sebisa mungkin abang pulang setiap hari," tambahnya.
"Tapi ini udah mau ujian bang, masa bolos-bolos masuknya? Nanti jadi bahan pertimbangan lagi, masa mau ngga naik lagi?" ada raut kecewa di wajah Ganis, dulu pun kejadiannya seperti ini, Wira hanya menomor 2 kan sekolah.
Ganis menarik tangannya kasar, "kita harus lulus sama-sama. Kuliah pun sama-sama kalaupun nantinya beda kampus!" nada bicara Ganis mulai meninggi kembali.
"Tuh da kamu mah gitu wae! Teu resep lah!" Ganis mengalihkan pandangan dan badannya, pura-pura sibuk membereskan ranjang yang berantakannya melebihi kandang beruang pas lagi masa kawin. Padahal matanya sudah berembun.
(Tuh kamu mah gitu terus, ga suka lah!)
"Iya," tukas Wira, ia tak mau berdebat 7 purnama lagi dengan istrinya ini. Tak ingin mendengar ceramah membangun, sepanjang lokomotif kereta api yang menarik 100 gerbong.
"Diusahain selalu masuk sekolah, nanti aku belajar dari catatan kamu. Kapan jadwal les kamu sama Arbi dimulai?"
"Lusa, bang Arbi baru nyanggupin buat kesini." Jawab Ganis mengusap mata basahnya dengan suara yang nyaris bergetar, kesal tepatnya karena Wira tak pernah mementingkan pendidikan.
"Ya udah, aku mandi dulu!" Wira menyambar handuk, Ganis menahan tangan Wira sebelum lelaki itu benar-benar meninggalkan kamar.
"Bang, kamu tuh kepala keluarga. Derajat kamu lebih dan memang harusnya lebih tinggi," Wira paham dengan ucapan Ganis.
"Iya," senyumnya tipis, "siap-siap gih!" Wira berlalu keluar kamar membawa handuk dan pakaian ganti.
Ganis berganti pakaian dan memoleskan make up tipisnya.
"Assalamualaikum!"
"Sampurasun!"
Itu dia kawan-kawannya, datang bergerombol lebih mirip disebut gerombolan baboon, karena datang sambil teriak-teriak.
"Waalaikumsalam!" teriak Ganis.
"Pagi bu negara!" sapa Rindu.
"Pagi juga rakyat jelata!" balas Ganis.
__ADS_1
"Cih, si*@lan," masam Rindu, Damar terkekeh. Hanya ada Damar, Rindu, Raja, Malik, Luki, dan seorang gadis manis yang digandeng Raja, bukan Aneu ataupun Yola.
"Neng Ganis, udah disini aja pagi-pagi?" sapa Raja pada tuan rumah.
"Tunggu bentar, Nata-nya lagi mandi dulu!"
"Ini?!" tunjuk Ganis.
"Rere, anak MIPA 1 Nis," jawab Rindu.
"Ohhh," jawab Ganis.
"Tau gitu gua bawa pasangan juga. Malah sama si kamvreett!" dumel Malik pada Luki.
"Suruh siapa jomblo?!" teriak Raja, Rindu dan Damar.
"Sue, njimmm!" Luki tertawa puas.
"Ngga apa-apa a, gender dedek bisa menyesuaikan kok!" jawab Luki merendahkan suaranya dan mencolek dagu Malik.
"Jijay!" Malik bergidik dan menepis tangan Luki.
Hari ini Ganis memakai celana skinny jeans dongker, dan t shirt polos putih di lapisi jaket parka hijau army, karena tau mereka akan pergi ke tempat wisata.
Wira sudah keluar dari kamar, saat Ganis menemani kawanan meerkat ini mengobrol.
"Pada makan dulu atuh!" ucap ibu keluar dari ruang tengah menyapa teman-teman.
"Wah kebetulan banget belum sarapan!" jawab Damar, sontak Rindu menyikut perutnya keras, "ck!"
"Engga usah bu, makasih. Ngerepotin,"
"Eh engga apa-apa, kebetulan Wira sama Ganis juga mau sarapan dulu, daripada nunggu?!"
"Udah lah sikat aja, daripada kelaparan di jalan! Kan lumayan," bisik Raja diangguki Malik dan Luki.
"Yuk!" ajak ibu.
"Nasinya cukup engga bu, nanti tagih aja pas baliknya!" sahut Ganis.
"Jiahhh, ini emak warteg. Belum juga makan udah main ditagih aja," seloroh Damar.
"Ndi, yakin ngga mau ikut?" tanya Ganis.
Indi menggeleng, "engga, Indi ada janji sama temen juga. Emang teteh sama aa doang yang mau hangout!" ujar gadis ini pun sudah bersiap-siap.
"Ibu ditinggal sendiri dong?" tanya Ganis.
"Ngga apa-apa. Ibu juga ada arisan tuh di rumah sebelah!" tunjuk ibu ke arah kanan.
"Ndi, hati-hati!" sela Wira diantara kunyahannya.
"Siap bos!"
.
.
.
Noted :
Sampurasun : kalimat sapa, permisi dalam bahasa sunda.
__ADS_1