Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
GANIS VS DAMAR, RAJA


__ADS_3

Don't judge the book from the cover, rupanya itu selalu berlaku untuk siapapun termasuk Ganis.


Jika orang-orang mulai bertanya, apa yang Wira sukai dari Ganis selain karena wajahnya yang cantik, apa karena gadis itu galak, judes, usil atau menyebalkan? Tentunya semua itu bukanlah jawaban.


"Paket paintball sama rafting dong bang!" Ganis memohon dengan memandang penuh sorot mata memelas kaya kucing minta ikan asin, kalau bisa ia akan duduk selonjoran di bawah kaya anak kecil lagi ngamuk pada Wira agar keinginannya dikabulkan.


"Janganlah Nis, nanti kena tembak nangis lagi!" tawa Raja penuh cibiran.


"Mau taruhan apa kalo Ganis bisa kalahin kamu?" tantang Ganis, ngga tau aja si Raja kalo Ganis itu dewi Athena! Si dewi perang.


"Oooo...seneng nih kalo udah kaya gini," seru Malik menggosok-gosok kedua telapak tangannya.


"Yuk lah main! Seru kayanya! Itung-itung belajar nembak laki kalo dia selingkuh!" timpal Rindu ikut berjingkrak di depan pintu masuk sebuah wana wisata.


"Si be*go," dengus Damar menjitak kepala Rindu hingga membuat gadis itu menepis tangan hitam Damar.


"Ya kan kali aja," jawabnya membela diri.


Wira membuang nafas tenang, "kalo rafting nanti basah ay, ngga bekel baju. Paket outbond sama paint ball aja gimana?" usul Wira baru saja melepas helmnya. Mereka ceritanya lagi ngedate rame-rame sambil refresh otak sebelum memulai kembali aktifitas berat esok hari.


"Oke deh!" balas Ganis.


Ke 8 orang itu masuk dan membayar tiket masuk, udaranya sejuk, cocok buat otak yang mumet bin ngebul, jiwa yang hampir ngga waras, dan hati yang galau apalagi sambil gelar tikar terus rebahan biar dikira diusir orang rumah.


Ke 8 muda-mudi ini masuk, berhubung ini hari weekend jadi tempatnya ramai, ada yang datang sendiri ada juga yang sampai satu rt dan satu pleton digusur kemari, namanya juga wana wisata iye kan? Lengan Ganis tak lepas dari memeluk lengan Wira, sementara Rindu dan Damar sibuk menunjuk-nunjuk sudut yang menurut mereka penting untuk di perdebatkan kaya orang yang ngga pernah main ke tempat wisata, Malik dan Luki malah sibuk nyari cewek cantik mirip nyari anak ilang, keduanya ngecengin cewek-cewek cantik dipikir ini tempat biro jodoh! Lalu Rere lebih memilih mengatur kameranya, aktivitas selfie dan foto-foto memang selalu jadi hal yang wajib jika jalan-jalan.


"Ja, fotoin aku disitu!" tunjuk Rere, si-al sekali Raja, niat pengen bisa manja-manjaan di tengah udara dingin Lembang, malah jadi tukang foto gratisnya Rere.


"Ra, ngopi-ngopi dulu lah!" Luki mengusulkan.


"Ngopi mulu, baru juga tadi makan di rumah Nata."


"Kan ngga afdol Nis, kalo baru nyampe maen eksekusi aja. Nikmatin dulu suasananya lah. Sayang kan kalo cuma dianggurin anugrah Allah nih!"


"Huuu, gaya lu!" dorong Malik di kepala Luki.


"Ya udah boleh deh, rokok'an dulu biar ngga panik," seloroh Wira mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, bagi lelaki yang sudah terbiasa merokok, mungkin hal ini sangat penting, apalagi setelah makan.


Jadinya ke 8 orang ini melangkahkan kakinya ke arah cafe yang ada di dalam wana wisata. Sementara ketiga ciwi-ciwi ini berfoto ria bergantian, para wowo asik ngopi santai plus rokok'an sambil buka forum ghibah ala mereka, dunia memang sudah jungkir balik. Sesekali mereka terlibat haha hihi kamvrett entah apa yang mereka bicarakan, obrolan lelaki yang sudah pasti Ganis tak akan mengerti.


"Si Reza masih suka tidur di bubat?" tanya Wira.


"Masih, semalem dia di sana lagi. Betah sama nyamuk. Ngga mau balik!" jawab Malik, Wira mengangguk mengerti.


"Hey bapak-bapak! Buru lah! Ngga usah kebanyakan ngopi sama ngerokok, lama! Masa mau maen aja harus nungguin satu bungkus abis dulu," Ganis yang sudah kesana kemari dengan Rindu dan Rere akhirnya jengkel juga menunggu para ras pria ini selesai dari acara nikmatin alamnya, apalagi Wira malah memesankan cemilannya tambah saja mereka duduk anteng persis mon yet lagi ngemil.


"Kuy lah! Kalo kalah jangan mewek Nis," ujar Damar, Ganis menyunggingkan senyumnya.


"Lu, lu...Ganis tandain." tunjuk Ganis tepat ke arah Damar dan Raja.


"Kalo sampe kalah sama Ganis pake rok ya di sekolah?! Gimana deal?!"


"Kalo lu yang kalah, traktir kita seminggu?!"

__ADS_1


"Nis," Rindu mengisyaratkan untuk tak mengiyakan. Semua disini tau, bahkan semut yang baru aja lewat sambil gendong telornya juga bisa nilai kalo Ganis adalah gadis manja bin lembut jadi kalo masalah main perang-perangan gini kemungkinan besar Raja dan Damarlah pemenangnya.


Wira awalnya ingin mengeluarkan suara agar Damar dan Raja mengurungkan niatannya menantang Ganis, tapi rupanya kedua temannya ini kebelet makan gratis, mereka keburu menjabat tangan sang istri.


"Deal!" keduanya menjabat tangan Ganis dengan riang hati, apalah seorang Ganis yang manja dan senang merengek.


"Berarti kita musuh ya?" tanya Raja.


"Oke deal!" jawab Ganis.


"Hompimpa deh sisanya!" pinta Ganis.


Wira dan yang lain hanya pasrah jadi pemeran pembantu saja, mengikuti permainan ketiganya yang penting bisa happy-happy, menghabiskan sisa waktu liburnya.


Wira, Rere, Rindu, Malik dan Luki hompimpa. Mungkin di otak meteka sekarang menginginkan satu kubu dengan duo racun Damar dan Raja, namun lain halnya dengan Wira yang sudah tau Ganis sejak dulu.


Malik, Luki dan Rindu satu frekuensi telapak tangan. Itu artinya yang jumlahnya 3 bersatu dengan Ganis.


"Yesssss! Makin komplit ada Wira, komandan perang!" tawa Damar dan Raja memeluk Wira sambil berseru kaya orang dapet lotre.


"Dih, biasa aja kali! Abang ngga terlalu jago juga!" gumam Ganis mendelik, kan wajah garang bukan jaminan kalo dia juga jago perang, alm. Tata dado aja wajah garang tapi ngga bisa diajak perang ke Palestin.


"Ra, pisah dulu ya dari belahan hati! Biarkan kami menguras dompet pacar lu buat seminggu ke depan," bahagia Raja.


Wira menggelengkan kepalanya, "lepasin saravvv, dikira gua ngga sehat apa pelukan sama cowok gini?!" jawab Wira.


"Makan tuh abang! Tertawalah kalian sebelum ditertawakan," ucap Ganis.


"Waduh, gua ngga mudeng (ngga ngerti) Nis maen kaya ginian. Kalo perang-perangan pake pistol dari bambu yang pletak pletok gua bisa!" ujar Luki.


Lihatlah Damar dan Raja yang masih ketawa-tiwi. Seakan label kemenangan sudah di tangan, oh tidak semudah itu Marpu'ah!


Mereka memasuki arena paintball, sudah terdengar dari arah dalam bunyi tembakan senjata paintball itu tandanya di dalam pun tengah berlangsung permainan itu.


"Mas, pingin main dong!" ucap Ganis pada karyawan disana di lubang tiket masuk.


"Boleh kakak, mau yang mana," Ganis dan Wira sedang memesan tiket masuk main disini.


"Aing teu ngarti bray maenna!"


(gua ngga ngerti bray, mainnya!)


"Alah paling kaya perang-perangan cuma tinggal tembak doang!" jawab Raja rupanya tak terlalu mengerti juga.


"Mas, pengen pake spyder sonic ada ngga disini?" tanya Ganis menanyakan jenis senjata paintball.


"Ada kakak,"


"Oke," senyum manis sejuta watt Ganis, tak tau saja si mas-masnya sudah deg-degan disenyumin macam itu.


"Boleh siap-siap dulu," antar seorang karyawan lainnya disana saat Wira sudah menyelesaikan pembayaran.


Mereka masuk lebih ke dalam lagi untuk bersiap memakai alat-alat sewaan seperti baju pelindung, masker wajah dan hopper.

__ADS_1


"Anggap aja lagi latihan perang lawan pemberontak! Siapa tau ntar jadi tentara," ucap Malik saat menyusuri lorong menuju arena permainan.


"Nis, Nis...yakin kita bisa ngalahin mereka? Damar, Raja sama Wira loh!" bisik Rindu penuh kecemasan.


"Ck, tenang aja Ndu, liat nanti! Abang tuh bisanya cuma main di ps aja. Kalo realnya kaya gini mah masih kalah sama gue!" jawab Ganis.


"Ah masa!" bahkan Rindu pun 100% tak percaya jika sahabatnya si anak mamih ini bisa.


"Liat aja ntar!"


Sudah seperti pasukan tentara yang akan perang, mereka tengah bersiap dan memasang alat pelindung dan mengecek senjata, begitupun Ganis.


"Ieu teh kumaha?" tanya Luki. (ini teh gimana?)


Ganis mengarahkan layaknya instruktur, "gini loh Ki,"


"Lepas pengamannya, coba deh nanti disana latihan tembak dulu barang sekali dua kali." Ganis memakai sarung tangannya.


"Ja, ko gua curiga si Ganis emang beneran bisa?!" bisik Damar mulai dilanda kecemasan.


"Nah kan, hayokk! Salah pilih lawan!" timpal Rere berbisik.


"Cewek yang lu berdua tantang itu pernah ikut liga paintball di salah satu wana wisata yang di gelar di Malang, terus dapet juara runner up!" pungkas Wira membuat kepercayaan diri Damar dan Raja seketika anjlok kaya harga hape dapet nyolong, mereka menoleh cepat sambil melotot tak percaya, syok? Jelas! Lahir dan batin.


"Ah! Yang bener?!" mereka malah meng-gibahi Ganis di dekat orangnya yang tengah sibuk memasang peralatan keamanan sambil memberi Luki arahan, Rindu dan Rere tertawa tertahan.


"Mamposss kan lu, siap-siap pake rok, besok!" bisik Malik.


Ganis tak sadar sampai memegang tangan Luki untuk mengajarkannya, "Ini dibidik dulu sasarannya, pelatuknya jangan ditarik dulu, kalo udah pas..."


"Oh, oke--oke.." Luki manggut-manggut paham.


"Ay," Wira menarik lengan Ganis hingga Ganis menabrak dadanya, "elah lu ketimbang gini ngga bisa! Kaya lu kalo main ps Ki, ga jauh !" desis Wira dengan suara beratnya.


"Bidik lawan, terus lu tembak. Gitu aja susah!" sewot Wira geram.


Tak ada yang tak melihat moment jealous itu, "abis ini lu target utama Wira, Ki!" tukas Damar tertawa bersama yang lain.


"Abang ih, orang Luki ngga ngerti pakenya..." bela Ganis tak peka malah memukul lengan Wira.


"Biar nanti diajarin Raja," jawab Wira kaku.


"Tolong pasangin ini," pinta Wira menarik tangan Ganis ke arah dadanya, dengan maksud mencari-cari perhatian.


"Pfftt, bisa juga kulkas sharp cembokur!" cibir Rindu.


"Pasang apa?!" alis Ganis mengernyit.


"Ini udah kepasang kok dari tadi!" Ganis melihat baju pelindung Wira yang sudah terpasang rapi, sontak saja wajah kaku itu menatap penuh ancaman pada yang lain, seolah berkata jangan pada ketawa, atau gua tembak jidat lu!


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2