Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
PINTERNYA PARTNER ABANG NAT


__ADS_3

Ganis mengantarkan tamunya hingga pintu depan. Matanya menatap nyalang ke arah depan, di luar sana Wira sedang bekerja keras, lalu pantaskah ia menunda-nunda untuk belajar menjadi istri yang baik. Setidaknya dapat diandalkan menjadi partner yang tepat dan Wira tak menyesal telah menikahinya, maka disinilah ia akan memulainya. Ngomong-ngomong soal menikah, kapan Wira akan mengulang ijab kabul mereka?


Ia membereskan buku dan merapikan meja tamu ke bentuknya semula, mencuci gelas bekas Arbi dilanjut duduk di samping ibu yang sedang berada di teras belakang dekat pintu dapur, usianya sudah tak muda lagi, tapi ibu masih sering menerima pesanan kue-kue basah, dengan catatan hanya jika ada yang memesan. Kalau dulu ibu sering menitipkannya ke warung-warung atau toko kelontong, lain halnya sekarang.


"Bu," Ganis duduk berbasa-basi sambil mencomot biji wijen yang sedang ibu tumpahkan di dalam wadah plastik. Emang mantu ga tau diri, bukannya bantuin malah bantu ngabisin!


"Ibu mau bikin apa?"


"Onde-onde," wajah tua ibu menggambarkan keramahan dan kehangatan, kerutan di sudut matanya menyiratkan pengalaman hidup mengajarkannya arti menjadi manusia kuat.


"Ibu ngga capek apa, masih bikinin pesenan orang, emang bang Nata ngga pernah kasih ibu uang? Kalo abang lupa, biar Ganis yang ingetin," tanya nya hati-hati.


Ibu tersenyum, "Nata anak laki-laki bertanggung jawab neng, ngga mungkin ngga kasih ibu sama Indi uang. Tapi bukan berarti ibu harus ongkang-ongkang kaki kan? Cuma andelin uang dari anak, ibu tau tanggung jawab Nata bukan cuma buat ibu atau Indi, ada yang lebih berhak, kamu sama nanti anak-anak kalian," colek ibu di hidung Ganis.


"Indi masih butuh biaya sekolah. Ibu tau beban hidup Indi bukan sepenuhnya kewajiban Aa, tapi tanggungan ibu sebagai orangtua yang masih hidup..." lanjutnya, matanya seketika menyipit karena senyuman hangat.


"Yahhh, itung-itung nyalurin hobby, neng. Daripada cuma diem aja di rumah, ngga ngapa-ngapain, ngga biasa! Malah bikin badan pegel-pegel...mumpung badan masih sehat, karena memang harus selalu sehat, makanya harus banyak gerak." Jelas ibu dengan nada tulus, tanpa embel-embel menyindir ataupun berbohong.


Ganis tersenyum getir, "ibu..." rengek Ganis memeluk mertuanya dari samping, terharu dengan pemikiran dan perjuangan ibu mertuanya ini. Dibalasnya pelukan Ganis dan diusapnya punggung kecil itu penuh sayang, layaknya pada Indi.


"Dulu sebelum ayahnya a Nata sama Indi berpulang, ibu udah kaya gini. Bikin kue-kue basah terus dititip di warung-warung, kadang toko-toko kue kecil sama toko kelontong. Bukan karena ayahnya anak-anak ngga mampu buat kasih nafkah, tapi ibu lebih ke...emhhh," ia menjeda ucapannya sambil memutar mata ke atas tengah berfikir, kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan alasannya.


"Memanfaatkan kemampuan yang ada, kalo bisa kenapa ngga diberdayakan, lumayan kan buat uang jajan sendiri, perempuan itu jangan terlalu bergantung sama laki-laki meskipun kodratnya tanggungan kepala keluarga, kalau pahitnya ditinggal-- kaya ibu begini, ditinggal meninggal...kita ngga terlalu bingung buat jalani hidup ke depan, ada anak yang harus kita hidupi."


"Ayah meninggal kenapa bu?" tanya Ganis.


"Diabetes sama darah tinggi," jawab ibu.


"Nata sudah terlalu sering kecewa. Ditinggal ayah, ditipu temen sendiri, dimanfaatin...pacar," lirik ibu pada Ganis dan menyetop ucapannya demi melihat reaksi Ganis.


"Dimanfaatin pacar?" tanya nya baru tau.


"Ah, sudah--itu sudah kejadian lama, lagipula Nata juga ikhlas, katanya itung-itung sedekah!" kekeh ibu.


"Kemudian ditinggal--kamu sama calon bayi kalian," lirihnya, suara ibu bergetar pertanda jika kejadian itu sedikit banyak mempengaruhinya. Ibu meloloskan helaan nafas berat, berat sekali...baginya seumur bersama putra sulungnya itu, dari mengandung, meng'ASI hi sampai sekarang, tidak pernah ia melihat putra tangguhnya begitu hancur selain saat Ganis kecelakaan dan keguguran, bahkan saat ayahnya sendiri meninggal.


"Ibu ngga mungkin menambah lagi bebannya aa, cuma bisa jadi penyemangat, orang pertama yang mendukung apapun yang ia lakukan, dan tempat pertama saat ia butuh sandaran. A Nata sudah susah dari kecil, ditinggal ayah waktu usia SMP mengharuskan dia jadi tumpuan dan tiang keluarga."


"Buuu," Ganis semakin erat memeluk ibu.


"Makasih Ganis sudah mau menerima Nata apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya." Ucapan ini tulus ungkapan terimakasih dari seorang ibu.


"Kalau ibu pergi dari dunia ini, ibu cuma titip Nata. Jangan biarkan dia sendirian, karena ibu yakin cuma Ganis yang bisa bikin anak ibu nyaman dan bahagia."

__ADS_1


Ganis mengusap ekor matanya, "ibu jangan ngomong kaya gitu. Sehat-sehat, semoga ibu panjang umur," ucap Ganis.


"Aamiin."


"Bu, kapan kita belajar masak?" tanya Ganis.


"Mau kapan aja, ibu siap. Atau ngga waktu ibu masak, neng Ganis ikut ke dapur?!" usul ibu.


"Mau bu, boleh!" serunya.


......................


Padatnya pekerjaan mengharuskan Wira meninggalkan rumah dalam waktu lama, ia harus bersyukur ini rejeki untuknya menghidupi Ganis. Segarnya guyuran air menjadi obat untuknya seharian ini mondar-mandir mengurus pekerjaan. Diliriknya jam dinding yang dari tadi terus berdetak seiring bergulirnya waktu. Ganis sudah terlelap sejak tadi, mungkin saat ini ia sudah sampai di Paris bantuin ngelapin menara eiffel, atau mungkin mimpiin borong produk Hermes, Chanel, Louis Vuitton, dan barang branded lainnya dengan sekali jentikan jari kaya punya jin di lampu wasiat.


Senyum terukir di wajah lelahnya, menatap muka menggemaskan Ganis yang tertidur. Kalo lagi tidur kalemnya bukan main, tapi kalo sudah bangun, usilnya bisa bikin mumi Fir'aun bangun lagi. Jangan harap Ganis akan langsung bangun ketika Wira ikut membaringkan badannya di samping gadis itu, karena nyatanya tidur Ganis sama sekali tak terganggu. Memudahkan Wira untuk mengecup dan meng uloem bibir Ganis barang satu, dua hisapan sebagai bekal untuknya hampir setengah hari merindukan Ganis.


Hanya ada pergerakan berpindah saja dari Ganis tanda jika ia tak nyaman. Wira terlupa, ia belum makan, pantas saja perutnya menabuh gendang perkusi sejak tadi. Sederet pesan istri cerewetnya ini memenuhi sepertiga isi chat whatsappnya yang baru ia buka, mengingatkan Wira untuk makan.


Wira bangun dari posisinya hendak masuk ke dapur yang menyatu dengan ruang makan, tapi matanya tertumbuk pada sebuah buku note pink di meja belajar yang tergeletak tak tertutup, heran...biasanya Ganis akan selalu paling rapi membereskan alat tempurnya di bidang pendidikan.


Tangan besarnya meraih buku note itu, membaca apa yang ada di depannya.


...😋 Sayur bayem 😋...


~>Jagung manis semanis Ganis, mau dipipilin atau sama bonggolnya juga ngga apa-apa yang penting ngga sama bungkusnya 1 atau 2 bonggol.


~> Penyedap rasa, rasa sayang, rasa cinta rasa-rasa yang membuncah di dalam dada, secukupnya..dirasain dulu.


~> bawang-bawangan 2 siung, asal jangan anak bawang juga dimasukkin.


~> Merica, mau bubuk mau yang biji ditumbuk dulu ngga apa-apa yang penting jangan sama pohonnya.


...****************...


Wira tertawa tanpa suara, ia bahkan sudah menaruh kepalan tangan menempel di mulutnya melihat catatan yang ternyata resep setiap masakan, Wira tebak itu pasti hasil dapet interogasi Ganis terhadap ibu. Ada saja, kelakuan nyeleneh bin ajaib Ganis yang bikin hari-hari Wira penuh tawa.


"Ay, kamu astaga!" Wira menggelengkan kepalanya dan menyimpan kembali note itu, ingin rasanya ia melanjutkan membaca keseluruhan resep Ganis, tapi waktu yang tak memungkinkan.


*******


Ganis tersenyum lebar, selebar bahu Wira untuknya bersandar, pemandangan yang dilihatnya pertama kali saat membuka mata adalah lelakinya sepaket dengan wajah lelah yang terlelap.


"Capek ya bang," senyuman itu berubah getir melihat air muka lelah Wira.

__ADS_1


"Semoga lelahmu jadi ibadah bang Nat-nat," Ganis terkekeh sendiri, geli sendiri ia so-so an ng'ustadz biar dikata anak kekinian.


Ia terbangun lebih dulu tanpa berniat membangunkan Wira, berniat bikin sarapan bareng ibu, biar cuma telor ceplok di kecapin pake taburan rendang juga ngga apa-apa.


"Bu," sapa Ganis.


"Udah bangun?" tanya ibu, Ganis mengiyakan.


Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi itu tandanya ia kalah cepat oleh adik iparnya, Ganis terpaksa duduk di kursi meja makan terlebih dahulu sambil ngerasain nikmat dunia, panggilan alam di pagi hari ditambah rasa mulas datang bulan di hari kedua masih ada serr-serrannya sedikit.


Dari sudut pandangnya, terlihat ibu yang gesit dan cekatan di dapur mulai dari cuci beras duluan dan dimasak.


"Harus masak nasi duluan ya bu?" tanya Ganis. Iyalah Ganis lu pikir bisa enak makan lalapan sambel pake roti.


"Iya, kalo temennya kan ngga lama, lagian kalo nasi bisa disambil, bisa ditungguin sambil masak lauknya." Jawab ibu.


"Oh, coba dong bu! Airnya segimana?" Ganis mendekat.


"Pake jari, satu garis buku jari." Gadis itu berohria, ia mencobanya hingga saat tiba bagiannya masuk ke dalam kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mungkin hanya waktu pagi hari saja mereka dapat bertemu, untuk saat ini. Biarlah ada jauh-jauhnya dulu biar kerasa rindunya.


"Ay, cepet!" ajak Wira setengah memaksa.


"Iya bentar, masukkin dulu ini!" Ganis memasukkan beberapa barang random ke dalam tasnya lalu bergegas menghampiri Wira di depan.


Ganis naik ke atas kuda besi si pangeran lalu mereka tancap gas menuju sekolah.


Pertanyaan-pertanyaan biasa mewarnai perjalanan mereka, hingga motor sudah menjejakkan kulit bannya di parkiran warung slebor.


"Ini ada apa sih ribut-ribut?!" Ganis yang baru saja turun dikejutkan dengan suara ribut dari dalam warung seperti orang-orang yang lagi berantem.


Wira bergidik acuh melepaskan helmnya, "ngga tau."


Awalnya gadis itu akan beranjak pergi dari sana menuju sekolah, tapi sayang rasanya kalo ada orang lagi berantem terus ngga ditonton atau dikomporin.... Hati usilnya kini mendominasi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2