
And then, disinilah kini Ganis berada. Stadion kebanggan warga Bandung dengan kapasitas 38 ribu orang. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam ketika mereka menyusuri jalanan disekitar stadion. Mengeratkan cengkramannya di tali paper bag, ia sengaja membawa sekotak makan malam untuk Wira dengan menu yang baru saja ia pelajari dari ibu, khawatir jika suaminya ini tak mengindahkan rasa lapar.
"Njisss! Meni udah rame gini," decak Raja menggelengkan kepalanya.
"Kayanya mereka datang dari subuh!" sahut Luki. Mereka bersamaan berangkat dengan mengendarai motor berboncengan.
Euforia konser begitu kental terasa, dari ujung ke ujung banyak stand merchandise yang menjajakan pernak-pernik band kesayangan, terutama baju dan topi. Banyak pula pihak yang diuntungkan selain pihak promotor tentunya. Tak hanya satu atau dua para pedagang merchandise yang menggelar dagangannya mulai dari yang kw seratus hingga yang original sekalipun gelar la_pak disini, mereka berderet rapi teratur di sisi kiri stadion.
Banner, spanduk dan gate dengan nuansa hitam arang bertuliskan tajuk konser terpampang jelas dengan aksen font smackdead dan dead crow, membuat Ganis berdecak, udah kaya mau masuk ke lembah kematian, saat baru saja ia melewati gerbangnya.
Lautan manusia dengan beragam bentuk berkumpul jadi satu disini. Ada yang rambutnya spike-spike sapu ijuk, mohawk-mohawk jalan kutu, kepala plontos minta disiram bumbu kacang, ataupun rambut gondrong tak terurus, mungkin saja di dalamnya sudah dibangun rusun buat kutu, laba-laba atau serangga lainnya, tapi tak jarang juga yang bertampilan manusia normal. Beberapa dari mereka juga ber-tatto, dengan tatto lidah menjulur atau nama band kesayangan mereka, bahkan tatto murni karena panuan juga ada. Ber-anting di telinga, hidung dan tindikan di area-area tertentu kaya pendeta di serial si chandragupta, Ganis memang sudah tak aneh lagi dengan penampakan pasukan si Sauron begini, tapi baru kali ini ia melihat ribuan manusia berbaju hitam seantero GBLA dengan tampilan keren versi mereka itu, "berasa mau ikutan nyerang shire buat nyari cincin!" Rindu terkikik mendengar gumaman Ganis, " frodo---mana frodo!"
"Ja, deketan aja parkirnya biar nanti baliknya bisa barengan lagi!" teriak Tomi.
"Oke!" angguk Raja. Ganis menjejakkan kakinya di sana, kehadiran Ganis bagai gonjang-ganjing di dunia perkemahan para goblin, di antara hamparan semut hitam ada salah satu penghuni dunia tralala yang nyangkut, beberapa calon penonton yang mungkin kelilipan warna kostum berbeda mulai kesirep memandangi secara intens gadis cantik satu ini. Mungkin pikir mereka, gadis ini nyasar, Neng pabrik susu kpbs bukan di gedebage tapi di Pangalengan...
Srupuuut! Meni manis gini, jadi pengen mimi cucu.
Mereka menjatuhkan netranya pada gadis ini penuh damba namun juga mencibir. Jangan sampai nanti nangis dan semaput di dalam karena telinganya berdarah akibat suara yang pasti akan memekakkan pendengaran dan kakinya terinjak-injak.
Ganis segera merogoh ponselnya, sambil menunggu para pengendara memarkirkan motornya masing-masing bersama Rindu dan Malik. Jangan sampai terpisah! Itu yang mereka lakukan.
Puas memandangi calon-calon penghuni dunia astral, Ganis merogoh ponsel di dalam tas selempangnya, mungkin hanya benda ini saja yang berwarna hitam diantara semua yang Ganis kenakan.
Ia mencoba menghubungi Wira, beberapa kali ia menghubungi namun panggilan tak diangkat, ia memakluminya... Wira pasti sibuk. Akhirnya Ganis lebih memilih berpesan saja.
"Ngga diangkat Nis?" tanya Rindu, Gania menggeleng, "kayanya bang Nat sibuk banget, ngga apa-apalah langsung masuk aja!"
Bang Nat, Ganis udah di depan.
Ganis memasukkan kembali ponselnya, matanya mengedar ke sekeliling memastikan jika ia saja yang memakai baju lain daripada yang lain, matanya tertumbuk pada segerombolan anak tanggung seumuran dirinya tengah cekikikan sambil berbagi kudapan sajen sebelum konser.
"Ngga ngerti deh, kenapa cobak kalo konser kaya begini mesti makanin dulu yang gituan!" tunjuk Ganis menggunakan dagunya pada Rindu, gadis itu melihat ke arah petunjuk Ganis.
"Itu doppingan Nis, ah! Gitu aja ngga ngerti, emang lu ga tau kalo mau nonton konser Wira juga sering minum doppingan?!" tanya Malik, anak lainnya mulai bergabung.
"Tau, biar apa cobak minum kaya gituan, ngga guna!" debat Ganis bibirnya sudah menyungging sebal, mode emak-emaknya mulai keluar.
"Ya biar fly atuh, biar otak bebas...pikiran mumet, suntuk apapun jadi ilang. Cocok pokoknya sama musik," jelas Reza asal nyambung kaya kabel wifi, ia bahkan melalukan hal yang sama dengan mereka.
"Mana atuh Za, buru!" desak Luki meminta.
Ganis menghela nafas berat, "Za," tangan putihnya terulur dan menyentuh lengan Reza yang tak putih, Ganis menggeleng pertanda ia tak setuju jika teman-temannya melakukan itu.
"Janganlah, buat apa sih. Nonton mah ya nonton aja atuh! Ntar kalo kalian keinjek gimana, lu tuh dah mau married loh! Yang kaya begini tuh malah micu emosi tau ngga, Ganis ngga mau ntar rusuh di dalem!" alisnya menukik bak tikungan tajam.
"Enggak Nis, ngga bakal. Justru kalo ngga gini tuh, ngga berasa euforianya," kekehnya gila. Reza membagikan 2 strip obat dan satu plastik obat bening, tapi yang membuat alis gadis ini mengkerut ada obat anti mabok perjalanan yang dibawa Reza dalam jumlah banyak.
"Ha?! ANTI MabOk?!" Ganis tertawa, jangan sampai ia ikutan gila diantara para penghuni panti anti waras ini.
"Biar ngga mabuk perjalanan Nis, perjalanan menghadap sang illahi!" tambah Rindu.
"Sembarangan!" Damar mendorong kepala Rindu.
"Modal minim Nis, maklum lah donatur ngga ada!" kekeh Reza.
__ADS_1
"Kalo gitu ngga usah maksain," cercanya.
"Yang penting mah bisa fly atuh Nis," cengir Tomi, Ganis menggelengkan kepalanya tak habis pikir, memandang mereka dengan sorot mata menyesalkan. Reza membaginya pada Raja, Malik, dan Tomi, sementara Damar mengurungkan niatannya menerima obat itu karena mendapatkan serangan pelototan dan cubitan dari Rindu.
Tak tanggung-tanggung, butiran-butiran obat kecil itu mereka telan bersama air dan tak hanya satu atau dua saja, tapi belasan.
"Eh, awas OD ih! Ganis ngga mau jadi saksi kematian gegara overdosis massal!" pipinya menggembung marah, benar-benar menggemaskan.
Raja tertawa, "moal Nis moal, palingan digentayangin!" selorohnya.
"Hayuk atuh mau masuk sekarang? Ngumpulnya di dalem aja, mumpung pintu masuk ngga penuh," ajak Luki.
"Boleh!" jawab Rindu, melingkarkan tangannya di lengan Ganis agar tak kehilangan satu sama lain, sementara tangan lainnya digenggam Damar.
Baru saja beberapa langkah dari pintu masuk, seseorang berlari dari arah dalam dengan kaos hitam bertuliskan tajuk konser dan name tag yang menggantung di leher.
"Ra, wehhhh keren lah!" mereka saling bertos ria.
"Babang tamvan jadi official lah, mantap!"
"Ra, mintain tanda tangan lah ntar," pinta Malik dan Tomi.
"Kalo bisa dan keburu," jawab Wira singkat. Ia bukan tipe fans yang menggilai sampai mengejar idola cuma buat tanda tangan, meskipun mudah untuknya melakukan itu. Ia beralih pada gadis berkaos pink yang sejak pagi ia rindukan. Matanya bahkan memicing geli melihat sekitaran leher Ganis, mungkin Ganis sengaja menutupinya dengan plester juga untaian kepangan rambut agar tak terlihat orang, buah dari ulahnya semalam.
"Maaf tadi ngga diangkat," Wira mengusap kepala Ganis dan turun ke pipi lembutnya.
"Emmmmh! Kalo udah kaya gini kita mah kacang!" seru Raja mencibir cemburu.
"Makanya cari pacar yang bener, Ja, jangan cuma celap-celup, kecap-kecup!" jawab Damar sewot.
"Lagi otewe lah, mau rayu dulu bodyguardnya." Alis Raja naik turun melihat Ganis dan Wira. Jika Wira tak mengerti lain halnya dengan Ganis yang mengepalkan tangannya sepaket dengan sorot mata pembunuh seolah berkata, langkahin dulu mayat Ganis! Raja tergelak.
"Itu kamu, bawa apa?" dagunya menunjuk pada paper bag di tangan Ganis.
"Makan bang Nat, abang udah makan belum? Jangan lupain makan atuh. Nanti sakit,"
"Barusan jajan dulu baso tahu, di dalem juga tadi siang disediain nasi kotak," jawab Wira menjabarkan asupan perutnya hari ini.
"Ya udah ini nanti buat makan malem aja,"
Blughhh!
Brakkk!
Mereka semua menoleh ke arah teriakan beberapa orang dan kericuhan di dekat pintu masuk. Ada sekelompok fan base salah satu band yang memaksa masuk namun tak memiliki tiket.
"Aing fans Bur*******!" jawabnya sarkas sambil ngamuk-ngamuk ngga jelas dan menendang kursi.
"Tapi sorry lu ngga punya tiket ngga bisa masuk!" ujar bagian keamanan dan beberapa panitia acara.
"Yang bener aja atuh! Masa nyediain tiket terbatas! Jadinya ngga kebagian, pokoknya ga mau tau kita harus bisa masuk dan nonton!" sungutnya penuh hardikan seraya tangannya membawa-bawa spanduk nama band kesayangan.
Keadaan semakin memburuk tatkala salah satu dari mereka tak bisa mengontrol emosi dan ingin menghantam pihak keamanan.
"Oy--oy, Ra rusuh tuh penonton yang ngga kebagian tiket!" ucap Reza heboh celingukan ke arah luar pintu masuk.
__ADS_1
Tangan Ganis mencengkram lengan Wira smakin erat. Wira pun menarik Ganis ke rangkulannya.
"Ra!" teriak salah satu panitia dengan menepukkan tangan meminta bantuan Wira.
"Bang Nat jangan ih!" tahan Ganis di tangan Wira, ia menggeleng.
"Ngga apa-apa, kamu langsung masuk aja tunggu di dalem!" titah Wira melepaskan tangan Ganis.
"Tapi ih!" tolak Ganis dengan nada khawatir.
"Ja, Mar..ke dalem aja. Ndu, titip Ganis nanti kabarin aja di tribun sebelah mana-nya?!" pinta Wira. Ganis tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari sosok suami yang berlari mencoba mengamankan kerusuhan, sambil berbicara dari walkie talkie pada panitia dan promotor lainnya.
"Hayu Nis, ngga apa-apa Wira udah biasa kaya gitu! Tenang aja, banyak backingannya," tandas Raja penuh ketenangan. Mereka masuk bersama para penonton lainnya.
"Hm," balasan Ganis terus berjalan, gadis itu kembali membalikkan kepalanya ke arah luar yang semakin mengecil dan tak terlihat karena lengannya di tarik Rindu bersama teman-temannya, semua pekerjaan memiliki resiko, sekecil apapun pekerjaan itu. Ganis sampai terlupa dengan barang bawaannya selain bekal makan Wira.
"Eh tunggu!" tahannya hingga langkah mereka terhenti di tengah-tengah menuju tribun.
"Kenapa?"
"Ganis lupa pake sesuatu!" gadis itu mengeluarkan barang miliknya dari paper bag.
Betapa terkejutnya anak-anak slebor dan Rindu.
"Nis, yang bener aja?!" tanya Malik sungguh tak percaya, se-edan itu gadis gula-gula ini. Apa perlu ia benturkan kepalanya itu ke tembok?
"Beneran kok," kalemnya.
"Kalian mah beda jalur kan? Jadi Ganis sama Rindu berarti ke sana!" tunjuk Ganis mengarah gate lain, Rindu tertawa menggeleng tak percaya.
"Untung ngga satu tribun gusti! Bisa malu 7 turunan, astagfirullah! Bisa-bisa besok gua insyaf!" Raja mengelus dadanya prihatin, prihatin dengan nasib Wira memiliki Ganis yang harus dibilang apa...absurd kah? Anti mainstream, memang gadis itu beda dari yang lain. Tak ia pungkiri ada hidayahnya mengenal Ganis, ia dan kawan-kawan banyak mengucap kata istighfar dan dzikir meski masih dalam taraf refleks.
Malik, Reza bahkan Damar tertawa tergelak. "Ampun Nis--Nis! Ini bukan mau nonton drama musikal si kancil, Nis!" Damar menepuk jidatnya sementara Rindu menahan perutnya.
"Tau, Ganis engga buta! Lagian kenapa sih, suka-suka gua lah! Mau dateng pake mukena sekalipun, ngga minta dibawain juga sama lu!" cebiknya pede memakai bando kuping kelinci dan membawa sticklight.
"Hayu Ndi!" tariknya di lengan Rindu.
"Hayukk---hayuk!" tawa Rindu.
"Allahu, tobat gua besok Mar!" gumam Raja diiringi gelak tawa lainnya.
"Sama!"
.
.
Noted:
*Sauron : The Dark Lord, peran antagonis berbahaya di film Lord Of The Rings.
*Frodo : Hobbit yang membawa cincin menuju gunung berapi di gilm Lord Of The Rings.
*Shire : Kampung halaman Frodo, dengan rumah-rumah Hobbit.
__ADS_1
*Moal : Nggak akan
*Aing : Saya (kasar) dalam bahasa sunda.