
Mereka sudah selesai dengan permainan, menyisakkan taruhan yang harus dijalankan oleh Damar dan Raja.
Ganis tertawa penuh kemenangan, tawa seperti pahlawan bertopeng di series crayon sinchan.
"Ganti ya Nis, da geulis!" rayu Raja dan Damar. (da cantik)
"Enggak!" tegasnya mantap tak berperasaan, Ganis memang tak mudah ter-rayu. "Ganis emang cantik, ngga usah kalian sebutin juga semua orang tau!" balasnya menyebalkan, membuat Rindu tertawa terbahak melihat wajah mengenaskan Damar dan Raja, "masa tega sama papa, nak?!" tanya Damar.
"Kalo lagi kaya begini ngga ada papa anak, tadi aja lu ngga berperasaan mau malak Ganis! Mana ada papa malak anaknya," jawab Ganis, gadis ini selalu punya jawaban untuk membalas.
"Ayolah Nis, gua traktir deh seminggu?!" oh ayolah, dimana harga diri berandal jika harus memamerkan pa ha berbulu mereka layaknya kingkong.
"An_jirrrr, ko gue ngakak ya bayangin mereka berdua pake rok!" tawa Luki ditertawai pula oleh Rere dan Malik.
"Gua tambahin deh, traktir beli pernak-pernik cewek gitu Nis, pensil bulu domba apa bulu ketek duda gimana?!" penawaran Raja sudah benar-benar merayu habis-habisan seperti pedagang di pasar gembrong.
"No!" geleng Ganis, "duit gua masih banyak, punya atm berjalan!" tambahnya jumawa.
"Ah!" dengus Raja dan Damar frustasi.
"Makanya, kalo taruhan di pikir-pikir dulu, maen iya-iya aja!" Rindu menepuk-nepuk pundak Damar sambil terkekeh, geli juga membayangkan Damar pake rok mini, dan khusus untuk hari esok ia tak mau mengakui Damar sebagai pacarnya.
"Besok gua ngga akan masuk lah!" tukas Raja mencebik.
"Oh ngga bisa, gua seret dari rumah lu biar masuk!" bela Malik.
"Hey, cowok tuh yang dipegang omongannya!" ujar Ganis berkacak pinggang kemudian melanjutkan membuka semua perintilan sisa perang tadi.
"Ra," akhirnya rayuan si duo racun ini mengarah pada Wira meminta bantuan sebagai usaha terakhir.
"Gue ngga ikutan, itu lu berdua kan yang nyanggupin?" balas Wira, Ganis tertawa puas, lagipun jika Wira melarangnya maka Ganis juga punya senjata tak kalah manjur, ngga ada bobo bareng lagi.
Wira hanya mengulas senyum melihat perdebatan panjang dan rayuan manis tiada henti dari Damar dan Raja pada Ganis, semanis rayuan pulau kelapa.
"Enaknya diapain si Ganis, Ja?" tanya Damar membuat Ganis menyipitkan mata.
"Lelepin ke bak mandi Mar, biar bebas dari taruhan!" tawa Raja.
"Sebelum Ganis yang kalian lelepin, lu berdua yang disikat Nata!" jawab Ganis tak gentar melawan 2 orang sekaligus. Mau satu kompi pun gadis ini tak akan mundur.
Mereka sudah keluar dari arena paintball dan berlanjut menghabiskan hari dengan menjajal outbond, jangan sebut ia Rengganis Kamania jika outbond begini tak ia lahap seperti nyemil kacang. Damar dibuat menganga melihat betapa berani dan cepatnya Ganis melakukan panjat tebing. Wajah selembut itu mainannya ngga kaleng-kaleng. Jika biasanya cewek manis muka barbie takut kalau kulit putihnya item, atau tubuhnya tergores beda dengan Ganis.
"Mual gua euy!" ujar Luki dengan wajah kacau dan pucat saat turun dari wahana flying fox.
"Huwokkkk!" ia malah muntah.
"Njirrr lu muntah bro? Haduhhhh, malu atuh sama tittle preman!" tepuk Raja di tengkuknya membantu Luki memuntahkan cemilan dan kopinya tadi.
Wira terkekeh pelan melihat teman-temannya kepayahan, tittle berandal dan anak begundal yang tersemat di belakang nama mereka gugur seketika menghadapi outbond. Sementara Ganis yang mereka anggap manja, cengeng justru paling gentle, gadis itu malah sedang bersorak kegirangan karena seru.
__ADS_1
"Aduhhh, ampun ini mah!" Wira memberi teman-temannya minum.
"Ha-ha-ha, malu-maluin anjayyy!" Rindu memijit pelipis Damar yang sama-sama meringis karena capek.
"Nemu dimana cewek utan gitu Ra? Mukanya mah rapunzel tapi hobbynya astagfirullah!" ujar Raja.
"Ga nyangka lah, seorang Ganis kirain maenannya boneka-bonekaan!" tambah Malik ikut mendudukkan diri di kursi cafe, mereka sengaja memilih tempat untuk beristirahat dan makan siang.
Ganis dan Rere baru saja datang menghampiri.
"Udah?" tanya Wira menyodorkan segelas jus strawberry favorit Ganis.
"Makasih,"
"Ini 2 anak manusia kenapa cemberut kaya lagi dagang tutut?" tunjuk Ganis sambil tertawa pada Damar dan Raja.
"Biasa lah merajuk!" jawab Rindu, belum juga eksekusi dilakukan tapi mereka sudah ketawa tiwi geli membayangkan hari esok.
"Nis," panggil Raja penuh gerutuan.
"Da bageur," (da baik) lanjutnya, Ganis tertawa renyah, "biar jadi pelajaran aa Raja, ga boleh meremehkan orang lain, don't judge the book from the cover alright?!" Ganis mencondongkan badannya lalu menyeruput jus miliknya.
"Ga apa-apa atuh, sekali-kali sedekah, ciwi-ciwi di sekolah pengen tau keseksian seorang Raja yang banyak digandrungi kaum hawa!" ujar Ganis.
"Digandrungi apa, laki lu tuh si Wira yang banyak digandrungi, fan base nya aja isinya cewek-cewek haus akan kasih sayang!" sungutnya ketus.
"Maksudnya?"
Rindu langsung membekap mulutnya, sementara Ganis berpura-pura sibuk menyedot jus strawberrynya dengan sruputan tenaga kuda.
"Mamposss!" gerakan mulut Malik.
"Cimvrit si Rindu," gumam Raja, sementara yang lain cengengesan.
"Engga Re. Dasar aja si Rindu mulutnya lemes!" tukas Raja cepat menggenggam tangan Rere.
"Re, nih minum nih, aus kan...takut dehidrasi karena tadi main flying fox, yup dehidrasi..." basa-basi belekok Ganis menyerahkan es teh lemon milik Rere, agar gadis itu tak lagi membahas obralan pa ha. (basa-basi spontan yang tak penting)
"Ah iya, sampe lupa minum Nis," senyum Rere. Ponsel Ganis bergetar, gadis itu menatap nomor asing yang ada di layar pipih miliknya, dahinya mengernyit, "siapa sih?!" ia menggeser tombol hijau.
"Hallo?!"
(..)
Kerutan di kening Ganis semakin terlihat, kini alisnya semakin menukik.
"Siapa?" tanya Wira.
"Aduh sorry bang, Ganis lagi di luar sama Nata. Sampein maaf Ganis sama Caca ya,"
__ADS_1
(..)
"Pulangnya?" Ganis menatap Wira takut-takut sambil menggigit kuku jarinya karena mata Wira menatap tajam pada Ganis. Wira merebut ponsel Ganis bak jambret, lalu mendengarkan lawan bicaranya berbicara dengan alis yang tetap menukik tajam sambil mencermati setiap perkataan penuh bujuk rayu dan gombalan dari lelaki di sebrang sana.
"Njisss, sadis..Wira kalo cemburu nyeremin, merinding gua!" bisik Rindu pada Damar yang diangguki lelaki itu dengan mulut yang tak henti-hentinya mengunyah makanan.
"Untung gua ngga di abisin di arena tadi!" bisik Luki pada Malik yang terkikik mendengarnya.
"Lu udah ngga makan berapa lama sih Mar?" tegur Luki.
"Sebulan!!" sengaknya.
"Hallo, udah selesai gombalnya, perlu gua sampein sama bini gua ngga? Bawa aja Caca ke BIP..nanti gua sama Ganis ke sana. Cuma hari ini, karena kalo gua lagi kerja, gua ngga ijinin Ganis pergi kemanapun atau siapapun tanpa seijin gua. Gua kabarin kalo dah balik dari Lembang," ucap Wira dingin, bahkan saking dinginnya para pemuda itu sampai menggigil karena berada di dekat Wira. Tak lama ia menutup telfonnya.
"Saha Ra? Wawanianan," senyum Raja miring. (Siapa Ra? Berani-beraninya,)
Tapi Wira tak menjawab pertanyaan itu, hanya memalingkan wajahnya ke lain arah.
Damar menelan kentang gorengnya dengan sulit, sampai-sampai ia mendorongnya dengan es teh. Bahkan Rere sampai berdehem dan melirik Raja, rupanya benar kata anak-anak Wira memang bikin jantung mau copot kalo lagi marah, pantes aja anak-anak di sekolah sampe pada takut, baru cemburu doang bulu kuduk Rere sudah dibuat berdiri. Bagaimana kalau ia jadi Ganis, bisa-bisa mati mendadak kaya ayam kena flu burung. Ganteng-ganteng tapi nyeremin.
"Blokir nomornya, kirim ke nomor abang. Biar nanti abang yang chat!" suruh Wira menaruh kasar ponsel Ganis.
"Iya bang," Ganis segera meraup ponselnya yang dilempar kasar Wira di meja dan memblokir nomor Nugraha, memang jika sedang marah Wira ya begini ngamuknya, Ganis saja tak berani mendebat lebih lagi saat emosi Wira berada di awang-awang bersama awan mendung, takutnya jadi petir yang menyambar bumi.
Sejenak mereka terdiam, tak ada yang berani memulai obrolan kecuali Rindu dan Damar yang berebut kentang goreng.
"Bang Nat," Ganis menyentuh dan mengusap lengan Wira demi meredam kekesalan Wira.
"Dia itu cowok br3nk sek ay, jangan pernah kamu deket-deket. Abang kecolongan kemarin! Kirain abang, dia udah punya Ivana sama Caca, terus ngga akan berani ganggu kamu."
"Mungkin aja niatnya emang baik karena Caca, jangan negatif thinking dulu sama orang," jawab pelan nan lembut Ganis, disinilah kelebihan Ganis, disaat Wira yang tak terkontrol ia yang akan meredam sang suami metalnya bukan sama-sama keras. Kebiasaannya yang hidup bersama kakak laki-laki dengan watak yang hampir sama dengan Wira menjadikan Ganis paham bagaimana menghadapi Wira.
"Bukan negatif thinking, tapi tau! Abang cuma waspada," Ganis tak mau lagi mendebat Wira, ia tau Wira sedang merapatkan celah agar tak ada orang ketiga di hubungan mereka, maka ia pun akan melakukan hal yang sama, bukan perdebatan yang ingin Wira lakukan saat ini, tapi kepatuhan Ganis.
"Oke, Ganis ngerti. Ya udah jangan dibawa-bawa marahnya,"
Karena hari sudah beranjak melewati waktu dzuhur, mereka memutuskan untuk pulang.
"Kalo langsung ketemu Caca, capek engga?" tanya Wira karena sudah dipastikan bocah kecil itu akan membuat Ganis kecapean dengan semua permintaannya, Ganis yang menumpukan dagunya di pundak Wira menggeleng.
.
.
.
.
.
__ADS_1