Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
BERJALAN BERSAMA


__ADS_3

Bukannya punya baby bakalan nambah pengeluaran ya?


Hal itu yang menjadi pertanyaan besar di benak Ganis sampai saat ini.


"Ya udah, Ganis ngga nolak kalo bang Nat mau punya anak, segimana dikasih sama Allah aja."


Kayanya otak si abang mesti Ganis pukul deh pake palu.


Senyum Wira terkembang untuk itu, sebenarnya setelah obrolan dengan papa tadi pagi, membuat Wira berfikir keras untuk mempertimbangkan kuliah. Belum lagi usaha Ganis yang sampai sebegitunya menginginkan Wira untuk melanjutkan pendidikan, ia tak menampik ia pun kadang tergiur melihat para mahasiswa yang keluar masuk kampus. Terbayang jika Ganis menyabet gelar sarjana nanti, orang-orang akan memandangnya apa, jika tak dapat menyamakan gelar sang istri. Masih pantaskah ia bersanding dengan Ganis? Maka perbedaan strata sosial akan semakin terbentang lagi seperti dulu. Dan penawaran Ganis kali ini ia anggap itu adalah bonus.


"Ngga usah khawatir masalah biaya, biar itu jadi urusan aku, ay. Aku kepala keluarga,"


"Makasih my metal husband!" Ganis menghambur memeluk Wira.


Wira dan Ganis masih sama-sama muda, namun mereka berusaha sekeras mungkin menyamakan visi, misi hidup, menyamakan satu pandangan dan menjadikan perbedaan mereka adalah suatu keunikan dalam hubungan keduanya, karena hubungan mereka begitu spesial dan istimewa.


Berkat Ganis, ia berhasil keluar dari keterpurukan hidup, dengan Ganis ia menjalani warna-warni kehidupan, naik dan jatuhnya roda kehidupan, bersamanya pula ia berjuang. Semua pasang-surut, asam-manisnya telah ia lakoni. Berkat tekad kuatnya kini Wira dan Ganis sama-sama mendapatkan apa yang mereka cita-citakan. Masa lalu buruk dan kesalahan besar mereka anggap itu adalah suatu kejutan, jadi sebuah pembelajaran. Tak menyurutkan langkah Ganis dan Wira untuk memperbaiki masa depan.


Ibu sampai menangis haru, putra pertama yang selalu menjadi beban pikirannya selama ini ternyata mampu untuk berubah. Sering terlintas di pikirannya, akan jadi apa tonggak keluarganya itu nanti? Apakah hanya jadi seorang pecundang yang tak mampu menaklukan dunia dan hanya akan jadi sampah masyarakat saja.


Jas almamater berwarna biru dan merah tergantung rapi di handle pintu lemari, berdampingan seperti sepasang sepatu. Sementara si empunya masih terlelap di atas ranjang, memang tak mudah menjalani kuliah sambil bekerja.


Kertas hvs, jilid, penggaris, pulpen dan pensil masih bergeletakan tak karuan di atas lantai kamar, gelas kosong bekas kopi dan susu juga setia menemani mereka. Dimana keduanya menghabiskan waktu bergadang untuk mengerjakan tugas bersama. Prodi mereka jelas berbeda jauh, tapi itulah meet time mereka dikala hari-hari sibuk keduanya, apalagi Wira ia jarang berada di rumah dari pagi hingga petang. Hanya di waktu malam saja ia ada.


"Bang Nat, alarmnya matiin! Berisik!" suara parau itu terdengar jelas di telinga Wira.


Tangan Wira terulur ke atas meja samping ranjang, meraba-raba mencari jam weker berwarna ungu dengan mata yang masih terpejam.


Tak kunjung tersentuh, ia malah menyapu seluruh barang yang ada di atas meja dengan sekali kibasan tangan.


Pluk!


Brak!!


Membuat Ganis tersentak dan kaget, "abang ih! Malah dijatohin semua! Itu jam weker Ganis dari jaman orok, malah jadi berceceran batrenya!"


"Biar gampang matiinnya," balas Wira datar, bukannya senyap kini Wira malah dapat omelan pedas dari Ganis, pagi-pagi sudah dikasih yang pedes...mules atuh neng!


Mau tak mau, meski mata masih sepet kaya buah kesemek, akhirnya Wira bangkit jua.


"Mau ayang dulu atau aku dulu yang masuk kamar mandi?"

__ADS_1


"Bang Nat dulu, Ganis mau beresin kamar sama siapin baju," jawabnya, tak peduli belek atau iler masih nempel, keduanya kini turun dari kasur dengan tujuan berbeda.


"Maaf ay, itu desain aku tolong masukin ke tas tabung!" suruhnya seraya menyambar handuk, Ganis mengangguk.


"Yang ini?" ia mengangkat sebuah kertas putih dengan gambaran di atasnya.


"Iya," ia keluar dari kamar.


"Bu,"


"Sok atuh mumpung kosong kamar mandinya," ibu menggeser-geser piring berisi lauk di atas meja makan, sarapan disini memang tak pernah mewah, hanya sekedar telor ceplok atau di dadar, goreng tahu, atau sosis dan ayam goreng saja serta sambal dadakan. Sebagai asupan energi para penghuninya.


"Indi?"


"Indi udah berangkat,"


"Kok pagi pisan?" tanya Wira menyalakan sebatang rokok.


"Indi ikutan OSIS jadinya ngurusin yang MOS dulu katanya," Wira mengangguk-angguk dan mengepulkan asap putih di udara lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Setahun sejak Ganis meminta Wira berkuliah, semuanya telah berjalan sesuai irama...Indi yang masuk ke SMA 3 Bandung, Ganis yang masuk ITB, dan Wira masuk ke universitas Telekomunikasi Indonesia. Support Ganis tak lepas sampai disitu saja, sejak itu pula ia di daulat sebagai admin Vulcan, ia giat mempromosikan Vulcan's project di sosial media miliknya dan teman-teman kampus, Ganis juga tak segan-segan mengajak relasi Gemilang, papa, teman-teman mama dan kerabatnya untuk menggaet Vulcan dalam beberapa event juga bazzar. Produk Vulcan juga tak hanya mencakup baju, jaket dan topi saja melainkan semua aksesoris dan pernak pernik, dengan kemampuan Wira yang semakin berkembang di bidang desain, mereka merambah tradisional desain seperti membubuhkan motif batik, songket dan beberapa corak khas daerah di Indonesia memadukannya dengan konsep metal holic dan underground.


"Abang buruan Ganis ngga kuat pengen pipis ih!" ketukan yang sudah ke berapa kali nya, lama-lama pintu kamar mandi bisa bolong jika Ganis terus saja memukulnya.


"Kebiasaan da ih! Kalo cowok ke kamar mandi suka bawa rokok!" dumelnya.


"Sing sabar neng, sini atuh duduk dulu!" pinta ibu terkekeh, jika ada Indi sudah pasti mereka akan berebut kamar mandi bertiga.


"Bu, nanti Ganis sama bang Nat pulangnya malem ya, soalnya ada sodara dari Jakarta mau ke Bandung."


"Oh iya, nanti bawa aja kunci serep. Takut ibu atau Indi udah tidur."


"Iya."


"Sama neng aja atuh, aa mah suka lupa," saran ibu.


"Iya bu,"


Setelah arisan 7 kocokan, purnama 7 kali putaran, akhirnya Wira keluar dari kamar mandi dengan bertelan jang dada, polosan dengan tatto yang masih setia menempel di punggung.


"A, meni jabrig gitu. Dicukur atuh!" ujar ibu merasa risih dengan tampilan gondrong Wira. (A, gondrong gituh)

__ADS_1


"Kaya apa bu?" tanya Ganis.


"Siga si buta dari goa hantu!" jawab ibu menggidikkan bahunya, Ganis tertawa terbahak mendengar suaminya disebut mirip tokoh si buta yang sering bawa-bawa mon yet oleh ibunya sendiri.


"Justru keren bu, apalagi jurusan seni gini mah, beuhhh! Cewek-cewek pada ngantri!" jawab Wira.


Ganis langsung memancarkan aura peperangan, tangannya terulur menjambak rambut gondrong Wira yang mirip personel slank.


"Aww! Aww ayang,"


"Makan tuh cewek!" sarkas Ganis masuk ke dalam kamar mandi.


Gaya Wira memang tampil slengean, hanya yang membedakan sekarang adalah adanya kemeja kotak-kotak biru navy yang sering jadi pelapis baju hitamnya, sepaket dengan rambut yang ia kuncir berantakan dan tas tabung tersampir di pundak terkesan cool dan rawrrrr!


"Kapan mau potong rambut, Ganis temenin!" peluknya di perut Wira.


"Nanti aja! Katanya kamu, aku keren kalo rambutnya kaya gini?"


"Tapi Ganis ngga suka kalo abang dikecengin perempuan lain!"


"Abang juga ngga suka Ganis dikecengin laki-laki lain," balasnya tak mau kalah.


"Balik lagi kaya dulu aja deh! Sebelum rambutnya gondrong, segitu metalnya aja.. cewek-cewek masih pada suka ngintilin abang. Meresahkan!" keluhnya, Wira terkekeh dan meraih salah satu tangan Ganis, membawanya ke depan bibir lalu mengecupnya.


"Nanti pulangnya ku jemput, biar ke rumah tante Sha-nya bareng." Ganis mengangguk, ia tak sabar bertemu dengan sepupunya Galexia, yang katanya sudah memiliki abak kembar berusia 2 tahun, semoga sifat mereka tak seperti ibunya yang amsyong.


"Ale udah punya anak kembar bang, cewek dua-duanya. Kita kapan ya?"


.


.


.


Note :


* Siga : kaya, mirip.


*pisan : banget.


* serep : cadangan.

__ADS_1


__ADS_2