
Pasukan kepo rupanya terbentuk juga disini, jangan harap anteng, adem ayem bak air danau yang tak ada ikannya. Jika di luar sedang terjadi obrolan santai mengenai pekerjaan, maka di dalam beda adanya, Indi dan Ganis lagi masang daun telinga lebar-lebar buat dengerin obrolan Wira di depan sambil grasak-grusuk nyari posisi pas, selain dari natapin tampilan kedua orang yang Wira sebut teman, ia dan Indi sampai menggelengkan kepalanya saat kedua pasang mata itu menatap mereka lekat-lekat dari atas hingga bawah.
"Kok bisa bang Nat temenan sama yang begituan?!" bisik Ganis pada Indi seolah tak percaya jika suaminya berteman dengan sebangsa hantu durian, Ganis dan Indi duduk bersampingan di kursi ruang tamu.
"Indi emang tau teh, a Nata anak metal, tapi seumur-umur baru tau bentukan anak punk tuh kaya gitu," Ganis meledakkan tawanya lalu sontak membekap mulutnya yang tak terkontrol, ia sering melihat film fantasi lord of the ring, ia tak percaya dengan adanya makhluk mitologi ataupun dongeng seperti dwarf ataupun elf. Tapi baru kali ini ia yakin jika ternyata orc itu ada dan nyangkut di rumahnya 2, yang lebih parahnya diakui sebagai teman suaminya, apa jangan-jangan benar jika Wira pangeran kegelapan, kalau begitu ia tau alasannya kenapa ratu pelangi masih betah menjomblo sampai para peri hutan menikah dan punya anak cucu, karena ternyata si ratu pelangi tekdung duluan sama pangeran kegelapan lalu terdampar di Bandung diantara orc.
Jujur jika melihat keduanya pengen rasanya Ganis gosokin pake sikat toilet terus makein baju yang bener bukan lap kompor begitu.
"Itu rambutnya astaga Ndi, dipakein apa ya bisa berdiri gitu. Kasian ngga pegel apa ya?!" Indi tertawa mendengar pertanyaan Ganis, "teteh mau dikaya gituin juga?"
Ganis menggidik, "ngga lah, nanti yang ada disuruh nemenin Monas!" jawab Ganis.
...****************...
"Abang ambil kerjaan event tadi yang ditawarin temen-temen bang Nat?" tanya Ganis merebahkan badan di ranjang dengan kaki menggantung di tepian ranjang, gadis itu memainkan kuku-kuku jarinya, entah ada kotoran atau bekas ngupil barusan.
"Iya, mulai besok abang pulang telat terus. Acaranya bulan depan, tapi udah harus di urusin dari sekarang, pihak promotor malah udah rancang acara dari beberapa bulan yang lalu, ternyata mereka kekurangan orang." Wira menyugar rambutnya bercermin memasang sesuatu di lidahnya.
"Bang Nat mau kemana?" tanya Ganis lagi, menatap Wira yang sudah bersiap seperti akan pergi, meski selalu identik dengan stelan hitam-hitamnya menandakan jika kehadiran Ganis tak banyak membawa pengaruh pada kesukaan dan jalur hidup Wira.
Ia berbalik, kini terlihat oleh Ganis kalau Wira memakai sesuatu di lidahnya, barbel perak berbentuk bulatan kecil sebesar biji tasbih.
"Mau ke Vulcan dulu sebentar, terus ketemu sama promotor lain. Ikut yuk sekalian pacaran?!" ajaknya.
"Beneran?!"
"Sekarang kan sabtu sore, masa ngga ngapel!" alis Wira naik turun.
"Pantesan kerenan dikit!" ceplosnya, Ganis segera bangkit dan membuka lemari pakaian, setengah mengingat-ingat letak baju-baju dressnya.
"Bukan bilang dari tadi ih! Ngajakin pacaran dadakan gini kaya ngajakin beli permen di warung! Ganis belum siap-siap ih, belum dandan dulu!" omelnya nyeroscos sambil mencari-cari baju di lemari yang menurutnya pas.
Ganis keluar dari kamar, "yuk!" ajaknya, Wira berdiri dari duduknya menunggu sang istri, setelah 3 kali puasa 3 kali lebaran, akhirnya Ganis keluar. milih baju dan dandan yang masih gitu-gitu aja butuh waktu sampai satu jam lebih lamanya, tak tau apa yang ia lakukan selama itu di dalam kamar.
Keduanya keluar bersama dari pintu rumah, menyisakan Indi yang menganga melihat sepasang suami istri beda jurusan ini, yang satu ke langit yang satu ke bawah tanah tapi ketemu juga nanti waktu saling membutuhkan kasih sayang, "wedan lah ini kupu-kupu bisa akur sama kumbang wereng gini!" tawa Indi meledak bersama ibu. Terang saja, Ganis yang unyu-unyu dengan aksesoris pita pink digandeng Wira yang hitam-hitam seperti black panther.
__ADS_1
"Bukan Ndi, piyo-piyo pacarannya sama ayam cemani!"
Ibu sampai tersedak mendengar perumpamaan yang Ganis dan Indi sebutkan.
"Teh, titip es krim durian sama jasuke!" pekik Indi saat Ganis dan Wira sudah keluar.
"Oke! Nanti aku bawain, tenang aja pacar aku baik kok," balas Ganis memeluk lengan Wira dan bersandar disana, Indi cekikikan dari dalam. Sementara Wira menggelengkan kepalanya, Ganis dan Indi memang satu frekuensi.
"Baiknya cowok pasti ada maunya loh ay," matanya menatap Ganis dimana gadis itu anteng saja menempel di lengannya.
Ganis mendongak, "terus bang Nat maunya apa?" akhirnya si gadis manis ini masuk ke perangkapnya, Wira menyeringai puas.
"Mau kamu,"
"Ambil bang! Sama upil-upilnya sekalian!"
"Bener?! Sama bulu idungnya juga?!" tanya Wira, setelah sekian purnama akhirnya bisa berseloroh.
"Ambil!" Ganis memakai helmnya.
Motor melaju masuk ke jalan Cihampelas, melewati pertokoan pakaian berbagai jenis terutama berbahan jeans.
Jalanan layang yang digunakan sebagai food and fashion street menjadi ciri khas tersendiri kawasan ini.
Berdiri megah sebuah mall yang selalu jadi tempat nongkrong asik buat warga Bandung, hingga motor berhenti di sebuah parkiran toko bernuansa hitam dengan tulisan Vulcan project, dinding kaca memajang produk dari distro ini begitu bersih mengkilat, dari luar saja terlihat distro seperti tak pernah sepi pengunjung.
Ganis mengingat bangunan ini, tempat yang sering ia datangi di kala hatinya risau saat Wira telat pulang ke rumah. Karena dari sinilah suaminya mengais rejeki halal untuknya dan keluarga.
Ganis masuk ke dalam toko, "masih sama," gumamnya, mungkin hanya tata letak manequinnya saja yang berubah sedikit.
Para karyawan menoleh ke arah pintu masuk, mereka sempat terkejut sebelum akhirnya menyambut Ganis,
"Neng Ganis!"
"Teteh!" mereka memeluk Ganis, begitupun Ibro yang baru saja keluar dari ruang pegawai.
__ADS_1
"Aa bro, akhirnya udah ngga stress lagi ya mikirin istri!" seru Dian, salah satu pegawai disini.
"Ha-ha-ha, ga akan liat aa saban hari minum anggur bari nanggey tarang deui!" tawa Opie.
(sambil nopang jidat lagi)
Lama mereka bercengkrama, malah sampai Ganis ikut jajan cuanki bareng anak-anak Vulcan project, bukan di sebuah resto atau cafe samping distro, melainkan duduk di tembok pembatas parkiran depan distro berteman debu jalanan dan suara bising kendaraaan, tapi yang bikin suasana hidup adalah candaan receh anak-anak Vulcan.
"Pi! Pelanggan tuh, layanin dulu!" seru Ibro pada Opie. Gadis berambut pendek itu langsung masuk menemani temannya yang berjaga di dalam.
"Kenyang ngga?" tanya Wira, sebelah tangannya masih memegang mangkuk cap ayam kosong dan tangan kanannya merapikan anak rambut Ganis ke belakang telinga gadis itu, mengusap keringat karena pedasnya cuanki yang ia makan.
"Banget! Tapi Ganis mau es krim bang," rengeknya menaruh mangkuk itu di tanggungan dagangan si mamang.
"Boleh, tapi nanti pulangnya. Sekarang mau ikut abang ketemu dulu promotor yang lain ngga?" tanya Wira.
"Mau," Ganis tersenyum mengembang, Wira terkenal dengan sebutan playboy, cassanova tapi kenyataannya ia tidak seperti itu, dengan senang hati ia mengajak Ganis kemanapun ia pergi. Membuat kepercayaan Ganis semakin tumbuh subur.
Keduanya sampai di sebuah cafe, tepatnya seperti warung nongkrong sederhana di kawasan Dago Pojok.
"Heyyy! Bosquhhh!" ternyata benar, disinilah sarangnya para makhluk sejenis Acuy dan Mulder, Ganis sampai spechless dibuatnya mungkin tepatnya syok lahir batin, ia bahkan melongo kaya lagi kemasukan jin be*go.
"Hay Ra!" sapa seorang perempuan lumayan manis, berkaos hitam dan celana jeans, rambutnya hitam panjang di cat merah di beberapa bagiannya terlihat dewasa namun tetap saja satu golongan dengan para punkrocker, dan anak metal disini.
Wira hanya mengangguk sebagai jawaban, tangannya masih merangkul Ganis seolah sedang menunjukkan jika Ganis adalah nyawanya.
"Weheyyy, sama bu negara?!" seru Acuy dan Mulder, bukan hanya satu tapi separuh dari orang yang ada disana seakan menampakkan wajah terkejutnya melihat Ganis termasuk perempuan barusan.
"Ay, ini..."
"Gua Ivana," perempuan itu mengulurkan tangannya pada Ganis.
.
.
__ADS_1
.