Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
KEPINGAN SETIAP SENJA


__ADS_3

Gale keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega.


"Nis, kamu masih nunggu Gale disini?" tengoknya ke arah meja makan, dimana Ganis duduk sambil berfikir.


"Ganis lagi ngitung Le,"


"Kapan terakhir kamu haid?" Gale menggeser kursi dan duduk di samping Ganis.


"Lupa, tapi kayanya udah lama juga." Jawab Ganis, perasaannya campur aduk, kaya adukan semen.


"Gimana atuh Le?" paniknya.


"Kok gimana, ya di cek lah!" kerutan di kening Gale menandakan ia tak habis pikir dengan jumlah angka di hasil print out IQ Ganis, jangan-jangan sepupunya ini nyogok tukang print-an biar hasil IQ nya diatas rata-rata.


"Takut!" seketika wajah manis itu merengut.


"Dih, aneh! Ngapain takut, kan ada bapaknya, waktu bikinnya ngga takut kan?" sontak ia menghadiahi Gale dengan tamparan di lengannya, "ya enggaklah! Enak bikinnya mah!"


"Hahaha, kacau!"


"Beli deh tespeck," Ganis mengangguk lalu ia melangkahkan kakinya hendak masuk ke arah dalam rumah.


"Mau kemana?" tanya Gale.


"Ngambil dompet, katanya tadi suruh beli tespeck," jawabnya polos.


"Terus baso cuanki loe apa kabar?! Makan dulu deh!" ajak Gale, kan sayang udah capek-capek ngeracik bumbu sampai sambal si akangnya ludes masa harus kebuang.


"Ganis udah ngga nav su Le, mual!" jawabnya dengan gampang.


"Biar aja nanti bang Nat yang abisin," solusinya yang belum tentu sang suami mau.


"Itu baso kamu seabrek-abrek emang suami kamu bisa ngabisin? Mana punya kamu pedesnya kaya omongan tetangga,"


"Pasti mau, dia kalo makan kaya orang abis macul 7 hektar!" jawab Ganis enteng.


Kedua sepupu ini keluar dari dapur yang langsung menuju teras samping, lalu ikut duduk bergabung di teras depan bersama keluarga lainnya.


"Tadi apa bang, manggil-manggil?" tanya Gale pada Fatur.


Tatapan pria itu mengikuti gerakan Gale duduk, "ga usah ganjen," dumelnya berdecak.


"Ganjen apa ih," Gale terbengong-bengong bingung, daripada menanggapi suaminya yang ga jelas, ia lebih memilih duduk dan menikmati cuanki yang tadi tertunda karena mendadak mules.


"Kenapa lama? Lagi muji-muji si akang cuanki? Ngga ada! Dia udah pergi!" desis Wira, membuat Ganis mengerutkan dahinya, "apa sih?"


Ganis menarik mangkuk miliknya, Gale melirik-lirik sepupunya itu seolah keduanya kini sedang saling bertanya. Gemilang yang tau duduk permasalahan tergelak puas, adik dan adik sepupunya itu kena apesnya.


"Salah sasaran ini mah," kekehnya.


"Ka, sok dimakan biar Aliyah sama Afifah, momy yang jaga," Shania mengambil alih si kembar menghentikkan tatap menatap Gale dan Ganis. Belum sempat Ganis memasukkan suapan itu ke dalam mulutnya, ia sudah kembali berlari ke dalam.


"Eh! Kunaon?" sontak saja mama Reni terkejut, begitupun tante-tantenya yang lain.


Wira pun ikut mengekor, mendengar Ganis yang muntah-muntah ia jadi khawatir, seketika mengingatkannya pada Ganis yang dulu mabuk karena morning sickness. Ia memijit tengkuk Ganis, membantunya mengeluarkan rasa mual yang dirasakan.


"Bang Nat, Ganis pengen pulang. Pengen tiduran," pintanya lemah, kini ia benar-benar sudah pucat.


"Kamu sakit ay," tangan Wira terulur menyentuh kening, dan leher Ganis, tapi ia mengerutkan dahinya saat tak menemukan tanda-tanda demam.

__ADS_1


"Engga," jawab Ganis menggeleng.


"Nat, Ganis kenapa? Sakit?" mama Reni datang menghampiri keduanya dengan membawa mangkok kosong.


"Engga tau ma, tadi masih ngga apa-apa,"


Naluri ibu mama Reni menyuruhnya untuk menyentuh kening Ganis.


"Engga panas tapinya, masuk angin?" tanya mama.


"Ma, Ganis mau pulang aja deh. Ini juga udah mau magrib, Ganis sama abang masih harus kuliah besok," ijin Ganis.


"Iya udah atuh, sok ati-ati di jalan. Pamit dulu sama yang lain," Ganis mengangguk, Wira dengan telaten membantunya memakai jaket dan mengambil tas keduanya.


"Nis," papa ikut masuk.


"Pa, Ganis sama bang Nat mau pulang duluan deh."


"Ya udah istirahat aja atuh, kalo sakit ijin dulu ngampusnya," pesan papa, terkadang rasa memanjakan Ganis masih melekat hingga kini dari sosok papa Yudi.


"Iya,"


"Nat, kalo masih mual, makin sakit. Bawa aja ke dokter!"


"Iya ma,"


Ganis keluar dari rumah bersama Wira, ia pamit dan menyalami tante dan om-nya yang lain.


"Yahhh, padahal tante masih kangen sama Ganis," Shania menarik dan memeluk Ganis.


"Jangan lupa minum vitamin ya, sama di cek...positif apa negatif?" bisiknya.


Ganis sempat terkejut, tapi kemudian pandangannya beralih pada sepupunya Galexia, menatap penuh curiga, "apa?" balas Gale tanpa suara.


"Bang Nat!" panggil Gale.


"Saran Gale nih bang, jangan mau dikibulin nih bocah satu! Ngidam itu cuma mitos, jadi kalo dia minta yang aneh-aneh ngga usah dikabulin, ngga usah takut nanti anaknya ileran, di bumi masih banyak tissue kok!" tawa Gale.


"Gale ih!" gerutu Ganis kesal.


"Haduhhh, ngga kerasa mau incuan lagi! Ini bujang satu kita gimana nih?" tepuk Ridwan pada Gemilang.


"Belum kepikiran om," jawab Gemilang mengehkeh.


"Ntar kalo udah sukses, baru nikah! Mau punya anak satu kesebelasan pun silahkan!" ucap papa Yudi.


"Dikira kucing, si papa!" omel mama Reni.


"Ati-ati bawa motornya Nat," pesan Yeni.


"Makin manja deh nih, kalo hamil!" cibir Nengsih meledek keponakan manjanya satu ini.


"Besok kesini lagi engga nih, Gale disini cuma 4 hari loh Nis?!" seru Gale, saat Ganis selesai salim dan memakai helm.


"Gimana besok deh, pokoknya ntar kalo Gale mau balik calling-calling aja! Oh iya, jadi ngga mau maen ke ITB, katanya mau ketemu temen?"


"Oh, iya! Gale mau ketemu Irvan," jawab Gale.


Shania keluar dari dapur membawakan sebuah paper bag, "buat di rumah," ia menyerahkannya pada Ganis.

__ADS_1


"Makasih tante."


"Ati-ati di jalan Nat," Wira mengangguk dan mereka pun pergi.


Tangannya memeluk erat saling menghangatkan di udara Bandung yang mulai mendingin sore ini, meskipun bias ke orange-an senja masih menyisakan rasa hangat di langit sana.


Senja ini membawa kembali ingatan Ganis dan Wira pada sepasang insan dimabuk cinta. Meski kini kondisinya sudah berbeda namun perasaan yang sama. Sepasang anak SMA dengan hati berdebar buah dari kesalahan yang diperbuat. Kepingan demi kepingan masa lalu menjadi akhir yang manis nan indah, seindah jingga-nya senja.


Motor berhenti sejenak di sebuah apotik, apotik sama yang mereka datangi malam itu.


"Teh, beli tespeck!"


Si perempuan mendongak dan mengerutkan dahi, rasa-rasanya ia tak asing dengan wajah ini.


...----------------...


Tas tergeletak begitu saja di lantai kamar, begitu pun isian paper bag yang kini sedang di tata ibu di meja ruang tengah.


Mereka lebih memilih berada di ruangan paling belakang rumah.


"Gimana?"


Tangan Ganis terangkat tepat di depan Wira, memegang satu benda pipih dengan panjang mungkin seukuran telunjuknya.


Senyum mengembang jelas dari wajah semanis madu itu, seakan berisyarat bahwa ia tengah di ambang batas bahagia.


Wira merangkul dan mengangkat tubuh Ganis, "ngga akan pernah kubiarkan dia pergi lagi dari kita!" mata Ganis memanas karena terharu.


"Bakalan Ganis jaga baik-baik," bibirnya berucap di antara pelukannya bersama Wira.


"Jangan pernah bosen jagain Ganis, Nata..."


"Never," gelengnya memejamkan mata.


Tergambar di pikiran mereka setiap potongan moment, dimana keduanya harus berjuang satu sama lain, saat awal Ganis dan Wira bertemu.


"Lu yang freak!"


"Bau badan!"


"Baju lu jelek kaya lap kompor!"


"Ngga ganteng!"


"Lehernya dirantein kaya anj%@$!$#&!"


"Kelakuan minus!"


"Udah ngehina-hinanya? Sana pergi ke alam lu!"


Tapi kemudian Tuhan menurunkan hujan sebagai peredam pertengakaran itu, meluruhkan emosi dan memperlihatkan kuasanya jika sang tulang punggung telah bertemu tulang rusuknya.


"Gua anter pulang, ambil sepatu lu!"


.


.


Note :

__ADS_1


* Incuan : punya cucu


*Kunaon : kenapa


__ADS_2