
"Sekarang aku tanya, kasih alasan kenapa kamu nolak aku?" jelas jika ditanya seperti itu ada begitu banyak alasan untuk tak menerima Wira, bahkan saking banyaknya alasan, tuh si alasan sampe tumpah-tumpah ke jalanan kaya air banjir. Ganis sampe bingung harus darimana bikin pemuda ini ngaca.
"Banyak, saking banyaknya aku capek buat sebutin satu-satu!" jawab Ganis duduk di kursi lainnya.
"Ga perlu banyak-banyak, cukup sebutin satu aja alasan paling masuk akal!" Wira berujar.
"Kamu berandal sekolah," tukas Ganis.
"Kayaknya itu bukan alesan kamu, bukannya dari dulu kamu tau aku berandal sekolah. Tapi kamu tetep mau deket-deket sama aku? Kamu bilang sama Olip kalo semua jauhin aku terus siapa yang mau nyadarin aku biar ngga terjerumus makin jauh?" alis Ganis terangkat sebelah, darimana Wira tau perkataannya pada Olip secara disana tak ada siapapun yang mendengar obrolan mereka.
"Sadarkan aku jika aku mulai salah seperti waktu itu, ingatkan aku jika aku sudah mulai berbelok arah dari jalan yang seharusnya, omelin aku kalo kamu merasa aku sudah mulai lelah menjalani hari," Wira membawa tangan hangat Ganis dalam genggamannya.
Tak dapat dipungkiri, Wira merindukan sosok cerewet Ganis, sosok manja dan galaknya Ganis yang selalu membuatnya risih. Mata bening itu masih menelisik mencari kesungguhan di mata Wira, kali aja kan nemu duit juga disana.
"Tapi Ganis ngga suka cowok," jawabnya ngasal.
"Pfft, itu alasan lain kamu nolak aku?" tanya Wira mengulum bibirnya.
Ganis mengangguk, "iya,"
"Ya udah, ngga apa-apa anggap aja aku cewek!"
Bukk!
Kepalan tangannya mendarat di lengan Wira, "masa cewek ada jakunnya!"
"Ga usah ngaco! Mau sampai kapan kamu menghindar Rengganis," Wira mengacak rambut basah Ganis
"Ganis ngga ngehindar ih!" ia menepis tangan Wira.
Dan malam itu, menjadi awal sejarah keduanya menjalani hubungan sepasang kekasih, meskipun awalnya di warnai drama pemaksaan.
Gemilang selalu disibukkan dengan tugas kuliahnya, hingga terkadang melupakan tugasnya menjaga sang adik.
"Abang pulang telat, Ganis pesen ojol aja." Ganis hanya mengangguk saja, karena ia memiliki ojek pribadi.
"Iya," jawabnya santai, tak sewot seperti biasanya.
"Jangan pulang telat, pulang sekolah langsung pulang! Enin sakit, kasian kalo di rumah cuma sama bi Asih," Ganis mengangguk kembali, masalah iya atau tidaknya biar jadi urusan nanti, toh Gem tak akan tau.
...----------------...
"Nata!"
Greppp!
Ganis langsung melompat ke arah punggung Wira yang atletis sambil ketawa-tiwi.
"Hay baby!"
__ADS_1
"Kamu suntuk banget, pasti abis begadang," decak Ganis, tanpa malu gadis ini menciumi bau aroma badan Wira, memastikan jika kekasihnya ini terbebas dari aroma neraka alias alkohol.
"Kamu minum?!" Ganis menurunkan tangannya dari leher Wira, dengan wajah keruh.
"Engga,"
"Bokis banget! Aku tau ya Nat," ia bersidekap memanyunkan bibirnya.
"Dikit honey, nemenin anak-anak sambil kerjain project," alasannya.
"Ga usah banyak alesan, kamu kan yang biasa nyediain buat anak-anak Vulcan?"
"Dah ah males!" Ganis berjalan duluan meninggalkan Wira, Wira sengaja meminta Ganis berangkat sendiri ke sekolah, karena ia berangkat langsung dari distro, semalam ia tak pulang karena sedang mengerjakan project tender lumayan besar.
"Nis, sorry.." ia meraih tangan Ganis.
"Sorry..sorry...tapi udah gitu diulangin lagi!" sengaknya kesal.
"Iya..iya..maaf, engga lagi-lagi!"
"Pulang sekolah jalan yu! Mau?!" ia menunjukkan kedua jarinya sebagai tanda menyesal.
"Sekalian main ke rumah yuk, ada yang mau kenalan sama kamu!"
"Siapa?" Wira mengulas senyuman tipisnya pada Ganis.
Ganis memang mudah memaafkan dan bukan tipe gadis pendendam, memudahkan Wira untuk membujuknya. Ia adalah gadis judes dan gampang ngambek tapi tak susah juga memaafkan.
"Ekhem! Acie..cie..! Yang udah punya yayank, sahabat sendiri berasa jadi orang paling sengsara dikacangin gini," Ganis senyam senyum anjay kaya minta disiram.
"Punya pacar gih! Biar ngga sirik!" jawabnya menyebalkan, memangnya mencari pacar semudah membeli permen di warung.
...----------------...
"Pake helm," pinta Wira menyerahkan helm pink, warna kesukaan Ganis. Jangankan Olip, teman-teman Wira saja seperti Maulana dan Bobi sampai melongo dibuatnya, Wira bisa jadi sepinky itu bersama Ganis, lihatlah gadis itu dengan cardigan pink, tas pink, dan kini helm pink udah mirip tumbler si mei-mei. Sementara si pengendara hitam-hitam, rupanya disinilah asal muasal black pink berdiri.
"Busettt! Itu Rambo sama hello kitty bisa nyatu gitu ya!" ujar Maulana ditertawai Bobi.
Motor meluncur menembus keramaian jalanan.
"Liat ngga itu pohon beringin disitu!" tunjuk Ganis menaruh dagunya di pundak Wira dengam tangan yang melingkar di perut pemuda itu.
"Liat lah, aku ngga buta." Ganis tertawa lalu mendorong helm Wira.
"Bukan gitu maksudnya oon ih! Ganis belum selesai," Wira malah cekikikan.
"Kata anak-anak di kelas itu ada hantunya, lagi viral pada ngomongin itu," lanjutnya bersemangat mirip presenter gosip.
Wira menggidikkan bahunya, "ngga tau, ngga penting,"
__ADS_1
"Kamu mah ih, bener-bener antipatinya teh! (tuh) hidup tuh jangan cuma numpang makan, minum, ee', sama mabok doang atuh!" omel Ganis.
"Ya engga ada kerjaan banget atuh merhatiin pohon, nunggu hantunya keluar," jawab Wira.
"Emang susah ngomong sama orang yang kadar simpatinya rendah mah, ga tau kabar berita yang lagi hot, bawaannya emosi pengen nyabut golok dari sarungnya!" decak Ganis. Ya beginilah pacaran ala mereka, meributkan hal-hal kecil dan bawaannya berdebat terus.
"Mau diapain goloknya?" tanya Wira mengernyit.
"Mau dipake ngupas bawang! Mau dipake nebas leher kamu!!!" sarkas Ganis cemberut, sementara Wira sudah tertawa tanpa suara.
"Masa ngupas bawang pake golok, kebesaran atuh!" godanya lagi, ia selalu ingin mendengar jawaban nyeletuk dari Ganis yang menurut Wira adalah hiburan tersendiri.
"Ga apa-apa lah, suka-suka Ganis. Ngupas bawang terus di cincangnya diatas kepala kamuu!"
Motor sampai di depan sebuah rumah, dengan dua pohon pinus dan serumpun tanaman mawar merah.
"Ini," Ganis turun dari motor menyapu keseluruhan penampakan rumah yang ada di hadapannya.
"Rumahku, yu masuk!" ajak Wira.
"Ngga apa-apa gitu?" wajah Ganis terlihat gugup, takut jika keluarga Wira tak suka padanya atau malah sama modelannya kaya Wira.
"Ngga apa-apa, mereka udah berenti makanin orang kok!" jawab Wira usil, sontak saja Ganis menepuk lengan Wira dengan satu tangan lainnya.
"Ih! Canda aja,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam!" Ganis menampilkan senyuman lebarnya, hingga si lesung pipinya terlihat jelas.
"Bu, Indi ini Rengganis,"
"Oh, ini pacar aa? Cantik a!" seru Indi.
"Teh Rengganis! Kenalin aku Indira putri Adiwangsa, anak ceweknya ayah Adiwangsa yang paling cantik, humble, kece badai, dan sholeha!" ucap Indi membuat Ganis tertawa renyah, menepiskan segala rasa gugupnya.
"Ganis, panggil aja Ganis.."
"Ibu, saya Rengganis!" Ganis meraih punggung tangan ibu Wira dan menyalaminya takzim.
"Teh Ganis lucu ih, ada kempotnya kalo lagi senyum!" ternyata Indira adalah gadis yang teliti, sampai hal sedetail ini ia perhatikan.
"Kebanyakan ditusuk pake cabe kayanya Ndi, waktu bayi!" jawab Ganis, ibu ikut tertawa mendengar jawaban Ganis, tak butuh waktu lama bagi Ganis mengakrabkan diri dengan Indi, hal yang jarang terjadi bahkan Ivana sekalipun. Ganis mampu membuat Ibu dan Indi nyaman dengan kehadirannya karena celoteh dan sikap akrab juga sopannya.
.
.
.
__ADS_1