
Tok--tok--tok!
"Itu tukang cuanki bukan Nis?" tanya Gale membungkam mulut Fatur yang sedang mengobrol dengan Wira dan sebelah tangan lainnya menempelkan telunjuk di depan bibir, agar mereka diam.
"Heem, Ganis mau beli ah!" serunya, saliva Ganis bahkan terasa berlimpah ruah membayangkan kuah pedas cuanki bersama siomay dan tahu putih.
"Ma! Minta mangkok dong!" teriak Ganis beranjak dari duduknya.
"Gale juga ah!" busui satu ini memang jagonya makan dan nyemil, apalagi kondisinya sekarang sedang meng'ASIhi.
"Bang, mau ngga?" tanya Gale.
"Boleh, jangan terlalu pedes." Jawab Fatur.
"Oke!"
"Peakkk, kalo mau beli tuh si akang nya dulu berentiin! Malah pada ngambil mangkok dulu," ujar Gemilang.
"Eh, iya! Ganis be*go ih!" tuduh Gale.
"Kok Ganis ih, sejak kapan sih Ganis jadi kambing item? Perasaan Ganis ras unggulan deh!" balas gadis itu berteriak tak terima dari dapur.
"Abang Nat mau ngga?" tanya Ganis dari balik tembok, dapat Wira simpulkan wanita di keluarga ini memiliki pita suara yang lebih nyaring dan lantang dari wanita pada umumnya, karena kerjaannya teriak-teriak sepanjang waktu, tak mau repot-repot menghampiri, biar hemat waktu.
"Terserah ay," jawab Wira, kayaknya engga dikasih pun ia terima-terima saja, toh bisa nyomot waktu Ganis lagi makan.
"Gua ngga ada yang nawarin gitu?" tanya Gemilang memelas kaya si anak itik buruk rupa, memang sedih nasib jomblo, apa-apa harus dilakoni sendiri, sampai karir pun harus bersolo di kamar mandi. Ganis dan Gale terkekeh, "bang Gem mah nanti kuahnya aja!"
"Ngga apa-apa, gua mah orang paling sabar sedunia! Di zolimin juga ngga apa-apa,"
Andro yang sudah kembali terkekeh, "sabar apa subur bang? Tuh badan makin semox aja,"
"Senang kali Ndro," Wira bersuara.
"Olahraga bang," saran Fatur.
"Momy, minta tolong berentiin si akang cuanki ih, buru! Gale mau ambil mangkok dulu," pinta Gale berlari ke depan, dimana momy nya masih saja rusuhin member cool brother.
Sontak Shania dan para bapak-bapak itu menoleh, "yang itu!" tunjuk papa Ganis.
"Kang! Hey!" panggil Ridwan dengan menepuk tangannya, tapi rupanya si akang tak mendengar, begitupun suitan Rudi.
"Ck," Shania berdecak.
"Kang, cuanki!!! Kasep!!!!" teriak Shania, ajaibnya si akang mendengar dan menoleh, Shania melambaikan tangannya meminta si akang masuk ke dalam halaman rumah, seluas lapangan futsal itu.
"Anjay dong!" Ganis tak habis pikir ketika keluar membawa beberapa mangkok bersih.
Gale hanya bisa tertawa, "edyaaannn, ada saatnya suara lelaki hanya jadi kacang bawang, dan suara wanita cantiklah yang di dengar!" celetuk Gale ber-opini. Shania mengehkeh, dan membantu Ganis membawa mangkok.
"Sok, cung! Siapa aja yang mau cuanki?!" para ibu tak mau ketinggalan dari arah pintu dapur yang langsung tersambung dengan teras samping menuju teras depan.
"Aku!"
Mungkin rejeki si akang cuanki, langsung digarap habis oleh keluarga Ganis. Pantas saja matanya kedutan, rupanya rejeki datang menghampirinya sore ini.
"Bang Nat mau pake apa aja?" tanya Ganis.
"Samain ayang aja," ia keluar dari rumah dengan menggendong Aliyah, di susul Fatur yang menggendong Afifah si kakak. Di luar ekspektasi bayi gemoy itu anteng pada lelaki gondrong nan dingin ini. Apa karena dingin-dinginnya mirip olaf si boneka salju, jadinya anak-anak suka. Atau memang tipe-tipe gadis dari klan Mahesa senangnya yang dingin-dingin.
"Idih abang, liat Aliyah nyaman banget sama kamu ih!" Ganis mengulas senyuman senang, ada kebahagiaan dan kehangatan tersendiri di hatinya melihat suami metal dengan tampang garang begitu menggendong seorang bayi lucu.
"Iya dong! Bayi aja nyaman apalagi kamu," kekeh Wira.
"Eh, incu momy meni tau aja yang ganteng! Anteng banget sama om Nata ya?!" seru Shania saat kembali membawa cuanki milik Andro.
Ganis segera bergabung dengan para emak dan Gale, demi mengerubungi tukang cuanki sambil tertawa cekikikan.
"Bun! Punyaku jangan pake tahu putih!" teriak Rudi pada Nengsih diokei istrinya itu.
"Kang, jualan begini suka bawa uang berapa?" tanya Gale sambil menuangkan sambal di mangkok miliknya.
__ADS_1
"Ah teh, ngga tentu...kadang 150 ribu kadang sampe 250 ribu.." jawabnya seraya melayani pelanggannya.
"Oh, net-nya itu teh?"
Si akang mengangguk, "muhun teh,"
"Mau ngapain Le, nanya-nanya. Mau beralih cita-cita?" tanya Ganis.
"Kepo aja si Gale!" jawab Yeni.
"Engga apa-apa pengen tau aja. Kali aja gajinya lebih gede dari dokter!" jawab Gale.
"Ngaco!" jawab Nengsih berlalu ke teras.
"Nis punya papa sama Gem nanti bawain," pinta mamanya.
"Suruh aja bang Gem kesini ma!" ketusnya.
"Gem!" teriak mama Reni, undur diri bersama Nengsih membawa serta mangkuk berisi baso cuanki yang masih ngebul, tersisa Gale dan Ganis, Shania kembali menghampiri karena miliknya dan Arka belum dibuat.
"Kang umur berapa?" tanya Ganis so kenal so akrab.
"Kepo! Mau ngapain nanya umur kaya petugas sensus!" ujar Gale.
"Nanya doang! Kali aja lebih muda dari Ganis, soalnya mukanya keliatan masih muda!" pemdapat Ganis membuat Gale, dan Shania jadi ikut meneliti wajah si akang, kalo dipikir-pikir kaya orang kurang kerjaan.
"Kayanya 20-an ya kang?" tebak Shania.
"Muhun bu,"
"Kenapa ngga coba lamar kerjaan lain?" tanya Shania, kini ketiga perempuan amsyong ini masih berjongkok mengelilingi roda cuanki. Gemilang datang bergabung, ikut berjongkok.
"Lu berdua kaya orang lagi bok3r jongkok disini, tuh udah dikerubungi lalat!"
"Enak aja! Lu sendiri ngapain ikutan jongkok berjamaah?!" tanya Gale.
"Nungguin baso cuanki lah!"
"Udah bu, tapi nyari kerjaan sekarang susah,"
"Saravvv, njir! Nih anak ngga ada akhlak," tunjuk Gale dengan sendok.
"Abisnya kasian, padahal akangnya ganteng loh! Masih muda lagi, tapi ngga malu dagang cuanki,"
"Ngapain harus malu da pake baju atuh,"
"Berapa semuanya kang?" tanya Shania.
"225 ribu bu,"
"Nih!" Shania menyerahkan uang 300 ribu pada si akang.
"Ambil aja kembaliannya,"
"Badasssss momy!!"
"Uhuy!!! Gem mau lah jadi sugar baby nya tante Sha," ujar Gemilang.
"Si anjiiirrr, keselek Ganis ih!" Ganis tersesak kuah cuanki saat mencoba milik Gale.
"Tapi tante yang ngga mau! Masih cinta si om," jawab Shania. Si akang itu hanya terkekeh-kekeh mendengar obrolan absurd mereka.
"Ihh, si akang ada kempotnya! Meni manis ih, kaya gula!" tunjuk Gale.
"Auhhh! Momy mah seneng liat cowok yang ada lesung pipinya gini teh, berasa pengen nyubit!" goda Shania, Gemilang tertawa, "kalian bertiga perempuan tangguh, berani menantang maut!" puji Gemilang mengacungi jempolnya di udara.
"Tuh suami-suaminya ada disana, tapi nekat godain akang cuanki," tandas Gem menunjuk ke arah teras diamana Arka, Fatur dan Wira ada disana bersama yang lain.
"Ah namanya juga bercanda ya kang, ngga usah dianggap serius lah hidup mah bisi gelo!" Gale meminta pendapat si akang, ia mengangguk sambil mesem-mesem. Kan lumayan sudah dapat rejeki nomplok digodain cewek-cewek cantik pula.
"Coba kang senyum lagi, meni bergetar ini mah jiwa dan raga Gale!" kelakar Gale tak ada takutnya padahal Fatur sudah menatap meneliti penuh waspada di teras sana.
__ADS_1
"Langsung runtuh pertahanan Ganis ini mah aduh!!!" tambahnya mengaduk-aduk kuah agar saos dan sambal bercampur padu.
"Auto pengen nikah lagi ini mah aduhhh!" seru Shania, mematikan gombalan kedua junior dalam gombal menggombal ini.
"Uhukkk--uhuuukkk!"
"Njirrr!"
"Hahahaha!" mereka bertiga tertawa tergelak mendengar kelakar Shania. Memang tak ada duanya Shania ini, meski usia sudah tak lagi muda, tapi somplak dan keabsurdannya tak kalah oleh yang muda-muda.
"Ayah nih momy nakal!!!" teriak Gale.
"Ah, ngga kuat Ganis pengen pipis!" Ganis menahan bagian bawahnya sambil membawa mangkuk milik Wira dahulu ke teras lalu ia berlari ke dalam.
"Ngga kuat njirr ih, pengen kentut!" sahut Gale. Sementara Shania santai saja dengan wajah tanpa dosa, merasai cuanki miliknya, dan Gemilang sudah guling-guling, "Ampun gua mah ya allah, cewek-cewek di rumah isinya begini semua! Maaf ya kang, biasalah tukang heureuy!"
"Termasuk kamu Gem!" Shania melenggang santai membawa mangkok miliknya dan Arka.
"Mass, nih!" ucap Shania menyerahkan mangkok.
"Itu kamu pada ngobrolin apa sampai pada ambyar ketawa-ketawa gitu, Ganis sama Gale sampai ngacir?" tanya Arka, sudah pasti istrinya ini biang keroknya.
"Itu tadi Gale sama Ganis gombalin si akang cuanki!" tuduhnya.
"Masa?" tanya Fatur dan Wira bersamaan langsung menoleh.
"Iya, pake bilang pengen nikah lagi!"
"Punya nyawa berapa si akang?" tanya Wira dingin menatap si akang cuanki yang masih mengobrol dengan Gemilang.
"Sayang!" panggil Fatur ke arah dalam rumah.
"Apa?! Gale mau ke aer ih!" balas Gale sayup-sayup dari dalam.
"Nis! Buru ih! Gale pengen bok3r!" ketokan Gale di pintu kamar mandi.
"Bentar Le," Ganis buru-buru menyiram bekas muntahannya. Ia membasuh mulut lalu menghirup udara sebentar. Mengingat-ingat rasanya tak ada makanan aneh apapun hari ini yang ia makan, atau mungkin ia sedang masuk angin?
Ganis keluar dengan wajah pucatnya.
"Nis, kamu kenapa?" tanya Gale memegang bahu dan melihat wajah Ganis.
"Ngga tau, tiba-tiba ngerasa mual aja Le," keluhnya.
"Salah makan? Atau telat makan, asam lambung naik apa gimana?" Ganis menggeleng.
"Engga, Ganis ngga pernah telat makan. Ganis juga ngga ngerasa makan yang aneh-aneh! Cuman pas tadi lewatin meja makan nyium bau sambel, langsung mual!"
"Ya udah deh bentar, ngga kuat ih Gale pengen buang dulu..."
"Buang apa?" tanya Ganis sepaket alis berkerutnya.
"Buang sampah!" ia masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
Note :
* Buruk muka cermin dibelah : tidak mau mengakui kesalahan lalu menyalahkan orang lain, padahal dirinya sendiri yang melakukan itu.
*Muhun : Iya, benar.
* Incu : Cucu.
* Gelo : Gila.
*Poor akang cuanki : Malangnya akang cuanki.
__ADS_1
* Kasep : Ganteng.
* Net: singkatan dari Netto yaitu nilai bersih, jumlah penghasilan setelah memperhitungkan semua bahan atau modal yang dikeluarkan.