Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
KETAKUTAN GANIS


__ADS_3

Sesorean Ganis dan Wira menemani Caca, lebih tepatnya Ganis yang menemani Caca bermain di sebuah pusat perbelanjaan di Bandung. Dan Wira menatap permusuhan pada Nugraha, yang sepertinya memilih duduk sendiri di area foodcourt ketimbang harus dihantam Wira. Niat hati ingin mengajak Ganis jalan dengan Caca yang jadi alasan, tapi malah ketauan empunya, sudah kepalang tanggung akhirnya ia datang bersama Caca yang sudah diberitahu akan jalan-jalan dengan Ganis.


"Caca suka buku engga?" tanya Ganis mencolek hidung pesek bocah perempuan kecil yang tengah riang gembira di sampingnya, berjalan saling menggenggam tangan layaknya sahabat sambil digoyang-goyangkan.


"Emhh, ngga telalu. Buat apa baca buku, sekalang kan ada hape, belajal sambil main game!" jawab Caca menunjukkan deretan gigi susu yang ompong.


"Tapi kalo bacanya di buku ngga bikin mata sakit loh! Masa kecil-kecil nanti Caca udah pake kacamata, matanya kena gangguan!" balas Ganis, kini ketiganya sedang duduk di meja gerai es krim, jajanan yang menyatukan Caca dan Ganis.


"Masa?" tanya mulut mungil yang belepotan es krim ini.


Ganis mendengus, "ih! Ko makannya belepotan sih," dengan sabar meskipun sedikit risih ia mengelapi sekitaran mulut Caca dengan tissue, capeknya punya anak! Tapi kok asik ya!


Saat kedua gadis ini asik mendebatkan buku dan ponsel, Wira hanya menjadi pendengar setia saja, tak tau harus melerai atau membela salah satunya, ia tak paham caranya.


"Udah lah berisik! Bawa aja ke Grame dia ay," akhirnya ia bersuara.


"Yuk! Ke toko buku yuk!" ajak Ganis pada Caca.


"Jauh?" tanya Caca.


"Deket kok," jawab Ganis. Poin tambahan yang membuat Ganis iba pada Caca, "emangnya bunda sama ayah ngga pernah bacain buku cerita buat Caca gitu? Atau beliin Caca buku?" tanya Ganis dengan mata redup, gadis itu menggeleng acuh hingga membuat poninya ikut bergoyang kaya gorden.


Tanpa sadar Ganis mengusap kepala Caca lembut, sentuhan yang membuat Caca merasakan disayang.


"Kalo gitu Caca mau ikut ke toko buku?" tanya Ganis.


"Sama om-om galak ini?!" tanya Caca, Ganis tertawa sedangkan Wira menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya, untung masih kecil kalau sudah besar mungkin Wira piting lehernya.


"Iya, tapi om ini ngga galak kok! Coba deh, Caca bujuk pasti luluh. Om ini suka sama yang baik-baik sama manis. Kaya bundaaaanya Caca!" ledek Ganis menyikut Wira, tapi lelaki ini tak bergeming.


Caca tertawa mengikik, "om ganteng mau ikut juga ke toko buku?" tanya nya menggemaskan, hati mana yang tak luluh melihat wajah bening tanpa dosa dan imut ini, bahkan seorang diktator saja akan bergetar hatinya.


"Cieee! Om ganteng!" colek Ganis di dagu Wira.


"Mau lah! Istri om dibawa-bawa Caca," jawabnya kedua gadis itu tertawa bersama, ada hati yang hangat melihatnya.


"Om ini sayaaaanggg banget kak Ganis loh Ca, makanya kemana-mana kak Ganis pergi, dia pasti ikut!"


"Kalo kak Ganis mau ee'?"


"Ikut!" jawab Ganis terkekeh, Caca bergidik jijik, "ih jijik! Bunda aja kalo Caca ee' suka malah-malah, katanya ee' telus. Jadinya Caca seling dicebokin nenek, bunda lebih milih kelja!"


Ganis menoleh dengan wajah sedih pada Wira seakan meratapi kehidupan Caca.


"Ya udah, nanti tokonya keburu tutup. Yuk capcus cinnn!" ajak Ganis membawa Caca berlari, sampai gadis kecil itu tertawa-tawa. Toko buku ini besar, hingga tak sulit menemukannya.


Mata Caca mengerjap kagum, apalagi saat Ganis membawanya ke deretan rak buku mewarnai dan cerita fabel.

__ADS_1


"Wah, ada si kancil!" tunjuk Caca gembira langsung ke arah cerita dengan sampul bergambar kancil dan harimau sumatra.


"Eh iya, kancil tuh kecil, cerdik, imut kaya Caca..." ucap Ganis meraih buku cerita itu mendeskripsikan kancil.


"Kalo harimau galak, serem kaya..."


"Om Wila!" Ganis menoleh dengan tatapan ngeri, takut jika harimau Bandung ini akan menerkam Caca.


"Kaya om Wira ya?" alis Wira terangkat satu, "aummm! Harimaunya mau makan Caca," Wira menggelitiki Caca, membuat bocah itu tertawa terbahak.


Akhirnya Caca mendapatkan oleh-oleh 2 buah buku, yang satu buku cerita dan satu lagi buku mewarnai, dilengkapi dengan satu set pensil warna berisi 24.


"Bilang apa sama kak Ganis, sama om Wira?" tanya Nugraha.


"Makasih kak, om..."


"Nu, bisa ngomong sebentar?!" Ganis menoleh pada Wira, apa yang harus dituntaskan, Wira akan tuntaskan hari ini, agar ia bisa lega kedepannya menjalani pekerjaan tanpa khawatir Ganis akan diganggu oleh Nugraha.


"Ay, tunggu sebentar sama Caca ya. Abang mau ngomong sebentar sama dia," pintanya.


"Iya," mata Ganis tak lepas dari langkah Wira dan Nugraha, jangan sampai ada baku hantam disana.


"Kak, kalo aja bunda kaya kak Ganis. Caca pasti seneng, Caca janji ngga akan bandel!" pernyataan itu sukses membuat Ganis terenyuh, sebegitu merindukan kasih sayangnya kah Caca?


"Kok gitu, semua orang itu beda-beda Ca. Mungkin bunda cari uang biar bisa ajak Caca main ke tempat bagus, biar Caca bisa sekolah, biar Caca bisa jajan es krim!" balas Ganis, tenggorokannya tercekat hampir saja suaranya bergetar.


"Nanti Caca belajar baca sama nenek, bunda atau sama ayah ya...biar nanti Caca pinter baca. Kak Ganis janji deh beliin buku lagi?!"


Matanya berbinar dan ia berseru, "bener ya kak?!" Ganis mengangguk.


Ganis resah saat matanya menangkap gerakan tangan Wira memeta di udara, seakan meluapkan kekesalan dan ancaman pada Nugraha, 15 menit mereka bicara lalu kembali menemui Ganis dan Caca.


Tak ada obrolan selepas mereka pamit, sampai Ganis memulainya duluan.


"Abang ngomong apa sama ayahnya Caca?" tanya Ganis.


"Masalah laki-laki. Cuma bilang jangan ganggu kamu," jawabnya singkat.


"Hm," Ganis membalasnya dengan gumaman.


*********


Ganis sudah memakai pakaiannya dengan kaos dan celana pendek bersiap tidur selepas mandi, dihempaskannya badan pegal-pegal di ranjang, begitupun Wira. Keduanya sama-sama terlen tang menghadap langit tertutup atap rumah.


"Bang, Ganis kasian sama Caca! Punya anak itu harus siap mental dan fisik. Bikinnya sih gampang, tapi ngurusnya yang susah...Kalo udah kaya gitu kan jadi kasian, masa sampe Caca bilang pengen bundanya kaya Ganis," lelehan air bening akhirnya tumpah dari ekor mata Ganis.


"Makanya abang ngga mau kamu kerja, minta kamu fokus di rumah aja. Takut ngga bisa fokus urus anak nantinya," jawab Wira, Ganis menoleh cepat dengan tatapan sulit diartikan.

__ADS_1


"Ganis belum siap bang," ada raut kekecewaan dari Wira, "kenapa?"


"Ganis takut, takut nanti kalo hamil Ganis ngga bisa jaga lagi kaya pir. Takut kalo nanti Ganis kaya Ivana, atau justru Ganis yang ga mampu nanggung beban jadi ibu ujungnya Ganis jadi stress, abang mau punya istri stress?!"


Wira membuang nafas kasar, dulu saja cepat punya anak. Giliran sudah sah malah susahnya kebangetan, ia tau harus pelan-pelan. Mungkin Ganis masih trauma pasca kehilangan pir.


"Masa stress, ya jangan atuh. Nanti ngga cantik lagi,"


"Oh!" bukannya merasa tersanjung dengan gombalan Wira, Ganis malah bangun dan terduduk.


"Jadi bang Nat sayang sama Ganis karena cantik doang gitu. Terus kalo Ganis udah tua atau lagi dekil abang bakalan cari lagi? Apalagi kalo udah lahiran yang kata orang badannya melar?! Jahat ih, ngga suka lah!"


Tembak saja dirinya! Wira lebih baik baku hantam dengan pria kekar sekalian daripada harus menghadapi amukan Ganis yang bikin dia jadi serba salah begini.


"Kamu kenapa?"


Ganis memperlihatkan wajah terkejut dan tak bersahabatnya, "kok Ganis yang kenapa, abang yang kenapa !!" wajah Wira semakin dilanda kebingungan, kejadian ini rasanya sering terjadi saat......Ganis akan pms.


"Heran deh, punya suami ngga pekaan. Udah gitu raja tega, mana galaknya ngga ketulungan!" omelnya turun dari kasur berjalan ke arah....


"Eh, abang tadi Ganis niat mau kemana ya?" tanya nya membalikkan badan.


"Mana abang tau!" jawab Wira.


"Gara-gara abang sih!" omelnya lagi keluar dari kamar menuju kamar mandi.


Ternyata feeling Wira sekuat feeling emak-emak, kuat. Tak lama Ganis dari kamar mandi ia berbisik, padahal Wira baru saja akan memejamkan matanya.


"Abang..." bisiknya seperti bisikan roh halus, apakah malaikat kematian sudah akan menjemputnya sekarang?


Wira membuka matanya, "apa? Kalo masih mau marah-marah lagi besok aja marahnya, aku capek!"


Bibirnya keriting mendapati jawaban Wira, "abang ih denger dulu, iya maafin Ganis udah marah-marah. Ganis dapet bang, ngga punya pembalut! Anterin Ganis beli pembalut dong," kerlingan mata Ganis manis.


"Hhh---" helaan nafas lelah lolos dari mulutnya, "baru juga mulai lagi udah harus libur,"


"Apanya?" tanya Ganis kini tengah memakai jaket.


Wira bangkit, "engga, jaketnya sletingin! Takut angin malam colek kamu!" jawabnya memakai hoddie kasar.


"Oohhhh," gadis itu berohria.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2