
Hati ibu mana yang tak mencelos sedih melihat putrinya begini, mama memijit tengkuk Ganis dan mengusapnya sampai ke punggung.
Bagaimana pun di dalam diri Ganis sekarang sudah tumbuh janin yang tak berdosa. Wajahnya pucat, selain dari kulit putih Ganis tapi memang terlihat jelas jika Ganis sakit.
"Ya Allah, kamu panas Nis!" ucap mama khawatir, membantu Ganis bangun, Ganis mencoba bangun tapi badannya terlalu lemas tak bertenaga, semalaman menangis dan belum memakan apapun sampai detik ini, bahkan ia belum minum.
"Mama sama papa yang minta maaf sama Ganis, terlalu sibuk sampe lupain Ganis, ngebiarin Ganis sendirian," mama menyeka sudut matanya yang berkaca-kaca.
Mama membawa Ganis untuk duduk tepian ranjang, "makan dulu yuk!"
Ganis menggeleng, "Ganis mual mah..." kembali Ganis memuntahkan isian perut padahal perutnya belum diisi apapun sejak semalam, alhasil yang keluar hanya cairan kuning dari perutnya dan itu pahit.
"Ya Allah, kita ke dokter sekarang yuk. Ini badan kamu udah dingin gini, pucet."
...----------------...
Wira sudah sampai bersama ibunya di kediaman Ganis. Ibu menatap sejenak putranya saat melihat bangunan cukup besar di depan mereka.
"Ini rumah Ganis bu," berulang kali ibu menghela nafasnya, ia akui dari keseharian Ganis, gadis itu memang bukan dari keluarga biasa-biasa saja. Wira melihat ada sebuah mobil di halaman rumah, itu tandanya kedua orangtua Ganis sudah hadir dan kemungkinan besar sudah tau masalahnya. Tangannya terulur membuka pagar,
"A, jangan main buka pintu pager orang!" tepis tangan ibu.
Wira menoleh, "ngga apa-apa bu, memang udah biasa disini, soalnya jarang orang. Asistennya cuma satu itupun cuma datang dari pagi sampe sore. Lagian kalo salamnya dari sini ngga akan kedengeran!" Wira menuntun ibunya memasuki pagar dan mendorong motornya masuk.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam,"
Seorang asisten rumah tangga membuka pintu rumah.
"A Nata," bi Asih memang sudah mengenali Wira meskipun wajah Wira masih penuh luka bekas semalam.
"Bi,"
"Sebentar bibi panggilin dulu bapak, soalnya tadi pada riweuh (sibuk, hectic) ke atas, neng Ganis mau dibawa ke rumah sakit!" sontak Wira dan ibu terkejut.
"Ganis kenapa bi?" tanya nya khawatir.
"Neng Ganis kan muntah-muntah terus, badannya panas."
__ADS_1
Bi Asih masuk ke dalam rumah dan memanggil tuannya.
"Pa, bu ada tamu!" bisik bi Asih.
"Siapa bi? Wira?! Masih berani datang kesini!" Gemilang kembali emosi mengingat nama Wira.
"Gem!" tegur papa.
"Bawa adik kamu ke rumah sakit bareng mama, biar papa yang temuin!" lanjut papa tegas, papa turun dari lantai atas.
"Loh, bi..kok ada tamu ngga disuruh masuk?!" Wira dan ibu langsung berdiri dari duduknya di kursi teras saat mendengar suara papa Ganis. Inilah kali pertama Wira bertemu dengan papa Ganis.
"Ya Allah, maaf--maaf ibu, Wira silahkan masuk!" ucapnya ramah, seorang pria paruh baya masih terlihat berwibawa meskipun usianya sudah tak lagi muda. Perawakan yang sama seperti Gemilang.
"Bi Asih, tolong bikinin minum ya buat tamu saya." Pinta papa pada bi Asih yang langsung melakukannya, bukan hanya papa tapi ada enin juga disitu. Sejak perbincangan ini dimulai Wira nampak tak tenang, ia mengkhawatirkan kondisi Ganis, bagaimana Ganis sekarang, sekali saja ia ingin melihat Ganis saat ini.
Gemilang tampak dengan wajah tak bersahabatnya menuruni tangga, "gimana Gem?"
"Mama bilang nyuruh manggil dokter kesini aja, kalo ke rumah sakit takut ngantri, Ganis ampir-ampiran pingsan pa, ga masuk makanan," Gemilang menyambar ponsel miliknya dan melakukan panggilan.
"Sebelumnya atas nama putra saya Nata Prawira dan keluarga besar dengan segala kerendahan hati ingin meminta maaf sebesar-besarnya pada bapak sekeluarga, saya menyesali perbuatan putra-putri kita yang sudah diluar batas kewajaran. Tapi dibalik itu semua ada hikmah yang bisa dipetik khususnya saya pribadi, dan untuk mempertanggung jawabkannya, kami memiliki niatan baik melamar Rengganis untuk putra saya, Nata Prawira.." ibu mengawali obrolan serius ini dengan papa Ganis.
"Tidak usah terlalu formal bu, bukan hanya Wira saja yang salah, putri kami pun sama salahnya."
"Ibu benar, selalu ada hikmahnya di balik semua kejadian termasuk kejadian hari ini. Saya dan istri selaku orangtua terlalu sibuk dan menelantarkan Ganis sampai-sampai kecolongan seperti ini. Tapi yang berlalu biarlah berlalu, tinggal bagaimana memperbaiki ke depannya."
Ibu tersenyum, ternyata papa Ganis tak se angkuh kelihatannya, ia malah terkesan sangat ramah dan hangat. Ngaler ngidul mereka membicarakan rencana ke depannya, sampai seorang dokter datang untuk memeriksa Ganis.
Mata Wira selalu mengarah ke arah dalam rumah, penasaran dengan keadaan Ganis. Dokter perempuan itu keluar bersama mama dari dalam.
"Maaf bu, apa Ganis baik-baik aja?" akhirnya Wira buka suara juga menanyakan Ganis.
Mama tersenyum melihat Wira," Ganis demam, baru diperiksa.."
"Ganis kalo demam sukanya sayur sop bu," ucap Wira. Mama dan papa Ganis saling memandang, bahkan Wira sama taunya dengan mereka.
"Iya, mau jenguk? Dari tadi Ganis nanyain Nata," tawar mama Reni.
Bagai mendapatkan rejeki nomplok yang tak akan ditukar dengan apapun, wajah Wira langsung cerah.
__ADS_1
"Yuk," Wira memandang ibu terlebih dahulu untuk meminta ijin lalu mengekor mama Ganis ke lantai atas. Sorot mata Gemilang dari arah sofa tengah belum menunjukkan jika ia mau menerima Wira, tapi Wira nampak berjalan lurus saja, bukan ia tak peduli hanya saja ia teramat ingin bertemu Ganis-nya saat ini.
Langkah demi langkahnya semakin mendekatkan ia dengan Ganis, hingga sampai ia di depan sebuah pintu putih yang dibuka mama Ganis.
Ceklek
"Nis," mama langsung masuk dan duduk di tepian ranjang, mengusap lengan Ganis yang berbaring menyamping.
"Ada Nata," Ganis langsung mendongak melihat seseorang yang ia rindukan dan ingin dipeluknya sejak semalam di balik tubuh mama. Wajah yang masih dipenuhi luka amukan Gemilang meskipun sudah sedikit diobati tampak sedikit cerah hari ini.
"Mama nunggu di luar ya, pintunya di bukain.." mama memberikan privasi untuk keduanya bicara.
Wira mendekat pada Ganis yang hanya terdiam menatap penuh kesedihan.
"Hey," Wira duduk di samping Ganis yang kini duduk di ranjang.
"Maafin bang Gem ya, kamu ngga apa-apa kan?" Ganis kembali menitikkan air matanya.
"Suutt, jangan nangis. Udah dibilang kan aku ngga apa-apa." Wira menangkup wajah Ganis.
"Kamu pucet gini, badan kamu panas, udah makan? Kasian anak kita nanti," tanya Wira khawatir, Ganis mengangguk cepat, "udah."
"Aku udah bilang sama kamu, semuanya bakalan baik-baik aja, aku bakal dateng buat tanggung jawab. Aku bakalan nikahin kamu Nis," Ganis kembali menganggukkan kepalanya.
"Aku percaya,"
"Tapi bang Gem," kembali wajah Ganis terlihat khawatir mengingat Gemilang.
"Dengan atau tanpa restu Gem, minggu depan aku nikahin kamu. Barusan aku udah omongin ini sama papa kamu,"
"Kamu bakalan ada di samping aku setiap hari, Nis..." Wira membawa tangan Ganis dalam genggamannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya guys akhir-akhir ini updatean nya cuma satu bab sehari, mengingat kesehatan mimin sedang tidak baik, insyaallah jika kondisi kesehatan mimin sudah membaik mimin tambah lagi updatenya.