
Ganis meratapi kartu atm nya yang kini hanya tersisa bubuk-bubuk kejayaan seorang Rengganis, ini akhir bulan dan Caca memilih es krim dengan banyak topping, tentu saja dompet Ganis langsung berlubang, hanya tersisa buat beli permen karet doang.
"Huwaa! Ga mau tau abang Nat harus ganti, double! Anak mantannya nih, bikin dompet Ganis masuk UGD!" matanya menatap setiap detik, kartu pipih itu memuntahkan isinya secara online disana,mungkin saat ini uang-uangnya beterbangan bebas layaknya burung merpati dari brangkas Ganis.
"Bocil tau aja kalo gratisan, milihnya yang mahal!" dumelnya saat mengantre di kasir untuk membayar pesanan anak mantan suaminya, bahkan mbak-mbak kasir saja sampai menahan tawanya yang siap-siap meledak mendengar dumelan Ganis, miris bener mbak nasibnya, dititip anak mantan suami, mungkin pendapat si mbak-nya.
Mimpi apa Ganis semalam bisa sesial ini, "ini debitnya kaka, terimakasih!" ia mengatupkan kedua tangan di dada pada Ganis sambil tersenyum sambil memberikan paper bag berisi 2 cup es krim pesanan Ganis. Jika dilihat-lihat pesanan Ganis dan Caca tak beda jauh mungkin bisa dibilang sama, sama-sama rasa strawberry campur coklat hanya beda topping saja.
"Gimana ngga makasih, orang gratis!" omelnya. Yang minta siapa yang disalahin siapa, Ganis mendadak kejam. Sepaket mulut manyunnya ia kemudian berjalan menghampiri Caca dan membawanya kembali menyebrang jalanan ke arah cafe semula, karena letak cafe dan gerai es krim yang bersebrangan.
Ganis menggandeng tangan Caca, dengan tangan satu melambai menyebrang sambil membawa paper bag es krim.
Caca berjingkrak kegirangan mendapatkan es krim dengan topping sampai tumpah-tumpah sementara Ganis misuh-misuh dalam hati.
Sabar Ganis! Sedekah akhir bulan, mujarab!
Tapi kan dia bukan anak yatim piatu, Ganis menunduk kesal tak berhasil menenangkan hatinya sendiri.
"Ya ampun Caca," Nugraha sampai terkejut melihat Caca melahap es krim cup besar dengan topping no kaleng-kalengnya.
Ia mengeluarkan dompet dari saku belakangnya demi mengganti uang Ganis, tapi memang dasarnya gadis ini memiliki sejuta gengsi, ditambah ia tak ingin menjilat kembali apa yang sudah ia sedekahkan menurutnya, maka dengan berat hati ia berkata, "ngga apa-apa bang. Ngga usah diganti, Ganis emang udah niat kasih buat Caca. Ganis pake uang..."
Jajan!!
"Bang Nata kok, tenang aja bang Nat ngga akan marah, baik dia mah orangnya,"
Abis Ganis disikat bang Nat udah ini kalo minta duit lagi, mana akhir bulan. Masa cuma jajan permen karet doang di kantin!
Nugraha memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku.
Mata Ganis mengerjap dengan tatapan prihatin, "duit Ganis..."
Ketiganya berada di meja dekat dengan kumpulan yang masih saja belum selesai rapat, entah apa yang mereka bicarakan selama ini sambil haha-hihi. Rasanya sudah 7 purnama Ganis menunggu.
Karena bosan, Ganis hanya melihat-lihat sosial media miliknya sambil nyemilin es krim tadi.
Tapi tatapannya jatuh pada sosok Caca di sampingnya yang makan dengan khidmat sampai-sampai es krimnya belepotan di sekitaran mulut. Ganis terkekeh tipis melihatnya, lalu ia kembali fokus pada es krim dan ponsel miliknya.
"Wah! Kak Ganis main tok--tok?" Ganis menoleh ke sampingnya, ia melongokkan kepala kecilnya kepo, mungkin ayahnya tak asik diajak mengobrol atau sekedar bercanda, sampai anak ini kembali mengganggu Ganis.
"Iya,"
"Caca juga punya loh kak kaya gitu, eh..kak bikin vidio yuk!"
"Ayokkk!" paksanya penuh rengekan mengguncang-guncang lengan putih Ganis.
"Caca!" kembali sentak ayahnya, Ganis sungguh tak suka dengan bentakan itu, membuat pribadi seseorang langsung mati apalagi sekarang Nugraha tengah merokok di dekat keduanya, ingin rasanya ia merebut batang tembakau beracun itu dan menginjaknya hingga hancur berserakan.
"Yuk! Ngga apa-apa bang," Ganis dapat menilai jika wajah ramah seperti Nugraha tak menjamin seseorang memiliki hati lembut.
Memang benar orang bilang, punya anak membuat seseorang capek secapek-capeknya, itu kenapa menikah membutuhkan mental dan fisik yang matang. Jadi terfikir olehnya, apa nanti jika Wira meminta haknya ia harus menunda kehamilan dengan ber-kb? Apakah Wira akan setuju?
Caca langsung turun dengan gerakan cepat dan berlari ke arah Ivana, meminta ponsel milik ibunya.
Anak seumur Caca, sudah pintar memainkan ponsel beserta password smartphone, Ganis menggeleng iba, apakah kedua orangtuanya terlalu sibuk dan memberi ponsel sebagai makanan sehari-hari Caca? Anak itu kembali mencoba duduk di samping Ganis, ia kesulitan menjangkau kursi yang cukup tinggi.
"Pinda yuk! Cari tempat yang ngga silau!" alibi Ganis, padahal ia inhin menjauhi Nugraha yang tengah merokok.
Ganis membantu Caca duduk dan mengatur kursi bocah ini, ia jadi merasa kasihan pada Caca, melihat dengan mudahnya Ivana memberikan ponsel dan mengusir Caca agar tak mengganggu urusannya, ditambah Nugraha pun seakan tak memperdulikan kesehatan juga mental Caca. Ia tarik kembali anggapan jika Nugraha pria idaman dan manis. Terlintas di ingatannya tentang obrolan Wira saat ia dan Ganis harap-harap cemas di depan apotik, jika Wira menginginkan Ganis fokus jadi ibu rumah tangga yang mengurusnya dan anak mereka kelak, mungkin ini salah satu alasannya.
Anak itu men-tap icon t di ponsel ibunya.
"Mau lagu apa kak?" tanya Caca.
__ADS_1
"Apa aja terserah Caca, kak Ganis ikut aja!" jawab Ganis merapikan penampilannya, jika urusan tok--tokan begini ia ahlinya, apalagi menyangkut hal-hal yang berbau dance.
Caca men-tap lagu yang sedang viral, "kak Ganis, sambil joget yuk!" ajaknya.
Ganis mengangkat kedua alisnya, masalahnya ini di tempat umum dan ia tak senekat itu hanya karena ingin menyenangkan orang lain.
"Ngga usah lah Ca, duduk aja ya?! Malu kalo joget-joget ngga jelas. Ini deh, kakak punya lagu yang enak bisa sambil duduk?!" usul Ganis memberikan solusi pada Caca, gadis kecil itu tak kalah senangnya.
"Mau kak, mau!" serunya. Ganis kembali mengangkat tubub kecil Caca, dan mengetik judul lagu lama namun cocok menurutnya.
"Caca ikutin ka Ganis ya!" pinta Ganis, Caca mengangguk. Ganis mengatur posisi kamera agar mendapat angle yang cocok bagi keduanya.
Ganis mengajarkan Caca mengikuti koreo ala-ala miliknya dan Gale. Gadis kecil itu terlihat senang dan cekikikan, memancing perhatian sekitar karena interaksi keduanya.
"Oke rapat saya tutup, mohon kerja samanya ya wan kawan!" tapi sedetik kemudian perhatian mereka beralih pada sepasang gadis lintas generasi yang menggemaskan sedang bertok-tok ria begitu kompak dan penuh tawa terutama Caca.
Wira tersenyum-senyum melihatnya, Ganis mungkin sudah cocok memiliki pengganti pir untuk teman hidupnya menunggu Wira pulang bekerja. Gadis manja, pemarah dan keras kepalanya semakin hari semakin menunjukkan sisi kedewasaan.
"Ekhem,"
"Udah cocok jadi ibu, boss!" bisik Acuy pada Wira.
Beda dengan pandangan Ivana sang ibu, ia tertunduk lesu sedikit merasa iri dengan moment itu, karena kenyataannya ia dan Caca tak sedekat itu. Ia menghela nafasnya, Caca memang anak pada umumnya tak bisa dipaksakan harus ikut menyukai apa yang disukai kedua orangtuanya. Buktinya Caca membelot dari ia dan suami. Ya jelas lah, wajar saja...Caca kan anak kecil, perempuan pula! Mana ada suka tengkorak dan suara-suara orang nyanyi kaya kerasukan jin ivritts.
Ivana mengedarkan perhatiannya pada Wira yang tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Ganis sambil tersenyum dan terkekeh sendiri. Ia sungguh salah, bukan ia yang paling terindah di hati Wira, tapi masih ada Ganis, gadis itu menggeser posisinya menjadi yang terbaik di hati Wira sampai kini, malah dari kabar yang kencang berhembus di kalangan anak-anak metal, Wira sampai mati-matian mengejar Ganis, menunggunya sadar kembali dari koma meskipun ia tak tau hubungan Wira dan Ganis yang sebenarnya karena anak-anak hanya bilang mereka berpacaran. Jujur Ivana menyesal melepas Wira waktu itu, dan malah mengejar Nugraha. Wira pun terlihat sudah memiliki kebahagiaannya sendiri, bahkan mungkin lebih bahagia ketimbang bersama dengannya dulu, pasalnya Wira tak pernah sampai tersenyum-senyum kaya orang gila begini dulu saat bersamanya, lebih banyak bertengkarnya, lebih banyak mabuk dan ngobatnya. Wajah Wira lebih cerah sekarang, itu tandanya kehadiran Ganis membawa aura tersendiri untuk laki-laki ini.
"Na, tuh cewek punya aura khusus kali ya, anak lu bisa langsung nempel gitu, Lu sering gitu juga di rumah sama Caca?" tanya Rexi, pertanyaan Rexi barusan seakan menjadi tamparan bagi Ivana, matanya menyiratkan rasa penyesalan dan malu.
"Gua balik dulu deh Re, takut keburu malem kasian Caca!" ujarnya langsung beranjak.
Sudah dapat ditebak, Caca merengut dan manyun harus berpisah dari teman barunya. Apalagi di rumah, ia seperti tak punya teman untuk bercanda seperti saat bersama Ganis.
"Ngga mau pulang!!!" tolak Caca sudah akan mengeliarkan senjata andalannya, menangis.
"Mau sama kak Ganis, bunda..." cicitnya bergetar seraya wajah memelas. Ivana memandang Ganis dan Wira bergantian.
"Cacaaa, nanti kalo bunda Caca ada ketemuan sama tante-tante, sama om-om ini, Caca ikut deh! Nanti kak Ganis juga ikut sama om Nata ya? Caca kan udah follow akunnya kak Ganis, Caca juga bisa minta tolong bunda buat telfon kak Ganis, kalo Caca mau ketemu tinggal hubungi," bujuk Ganis.
"Janji?" ia menyodorkan kelingkingnya.
Ganis menoleh pada Wira sekilas, lelaki itu mengangguk di tengah pamitan teman-temannya pada Wira, "janji!" Ganis menautkan kelingking keduanya.
"Ganis makasih ya, sampe dijajanin es krim. Caca juga bikin kamu risih, dan ganggu kamu," ujar Nugraha mengerling.
"Oh ngga apa-apa bang," jawab Ganis sedikit jijik. Sayangnya Wira tak melihat hal itu, karena salah satu temannya yang pamit mengajak bicara.
"Makasih Ganis," ucap Ivana.
"Sama-sama,"
Ganis mencoba mengusir rasa tak nyaman tatapan Nugraha padanya, semoga saja ia tak bertemu lagi dengan Nugraha,"kita kan bestie, iya kan Ca?!" Caca tertawa, "iya atuh bestie!" gadis kecil itu memeluk leher Ganis yang tengah membungkuk demi menyesuaikan tinggi dengan Caca.
"Makasih kak," terlihat sangat jika Caca akan sangat merindukan Ganis.
Mereka berdadah ria saat keluar dari parkiran. Otaknya sempat berfikir, apa seharusnya ia bilanh saja kejadian barusan pada Wira, tentang perasaan anehnya terhadap suami Ivana ini, tapi Ganis mengurungkannya, takut dikira kepedean atau malah jadi ia yang dituduh macam-macam. Selama masih wajar, Ganis akan membiarkannya.
Ganis memakai helm miliknya, "udah siap nih?"
"Siap!" jawab Ganis pasti.
"Kayanya abang mesti percepat ijab kabul ulangnya kalo gitu," balas Wira.
Alis Ganis mengerut, "ko ijab kabul? Maksudnya siap apa?"
__ADS_1
"Siap bikin pengganti pir dong, kamu udah jago tuh ngasuh anak!" tunjuk Wira dengan dagu ke arah menghilangnya Ivana dan Caca seraya memundurkan motornya.
"Hah?!"
"Engga bisa ditunda dulu bang, ini kan cuma beberapa jam aja, kalo harus berhari-hari, bertahun-tahun Ganis ngga bisa jamin!" tolaknya hati-hati.
"Bisaaaa--pasti bisa!" balas Wira.
"Pikir-pikir dulu deh," Ganis naik ke jok belakang. Melintas di pikirannya tentang es krim tadi.
"Bang Nat,"
"Hm,"
"Abang harus ganti uang jajan Ganis, tadi dibeliin es krim jajanin Caca."
Alis Wira berkerut, "kok minta ganti abang?"
"Iyalah! Itu anak mantan abang, ganti double!!" sewotnya tak ingin rugi, kalo bisa tolong tagihin sama Ivana.
"Boleh, triple juga boleh," mata Ganis langsung berbinar, "seriously?"
"Yup!" angguk Wira.
"Tapi...." sebelah alisnya terangkat.
"Ada upahnya dong,"
"Apa?" tanya Ganis.
Wira menyeringai, "bikin anak yuk!" Ganis langsung memundurkan wajahnya dan menatap jalanan yang seakan bergerak karena terlewati, memilih tak menjawab pertanyaan Wira.
"Ke bioskop yuk bang! Ada film horor, rame!" alihnya.
"Mendingan di kamar aja ay, lebih seru!" jawabnya.
Pukkk!
"Ngga usah mesum gini kenapa sih! Panas muka aku!" tepuk Ganis di punggung Wira sekerasnya.
"Makanya aku dinginin ay," bujuk rayu si begundal ini.
"Ay,"
"Apa?!" tanya Ganis sengak.
"Kalo ada nomor ngga dikenal jangan kamu layanin, cepet lapor sama aku! Kalo suami Ivana ngajak kamu ketemu dengan alasan Caca, jangan pergi tanpa aku. Apapun itu harus seijin dan setauku!"
"Kenapa? Abang juga sering deket-deket sama cewek tanpa setau Ganis?!" balas Ganis.
"Pokoknya apa yang barusan aku bilang kamu ngerti kan?! Ngga ada tapi, ataupun lupa!" mata Wira menatap nyalang jalanan, ia bukan tak melihat apa yang dilakukan Nugraha pada Ganis, hanya saja ia tak mau mencari ribut dan digusur security cafe, lagipula ada Caca disana barusan.
"Iya ngerti," jawabnya pelan.
.
.
.
.
.
__ADS_1