Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
GANIS YANG TETOT


__ADS_3

Ganis tak kehilangan sinarnya meski ini sudah terlalu larut untuk seorang Rengganis, ia bagai Sirius, bintang yang paling terang di langit malam, Ganis terus berpendar di lautan gelapnya manusia malam ini.


Gadis itu memang beruntung, tak tau mungkin keberuntungan memang selalu memayunginya kalo kata om Hao sih jenis-jenis manusia yang bagus feng shui-nya.


Ia turun dari panggung sambil berjingkrak-jingkrak senang. Matanya mengedar mencari Rindu kaya anak ayam nyari induknya.


"Ndu!!!" panggil Ganis dengan melambaikan tangan pada Rindu, tapi yang datang malah se-kawanan meerkat tak berbapak yang bermandikan peluh.


"Nis!!!" mereka berjalan, dengan Reza dan Luki yang dibantu karena sudah setengah tepar.


"Ha-ha-ha! Pinter amat nih bocah!" Damar menepuk-nepuk keras punggung Ganis layaknya nepok kasur kapuk.


"Ini kenapa?!" alis Ganis bertaut menunjuk kedua kawannya sudah k.o, tinggal di jorokin ke sel okan juga hanyut kayanya.


"Udah tepar!" jawab Raja mengusap hidung, dengan kondisi hampir sama namun tak terlalu buruk. Ganis menggelengkan kepalanya kesal, "Ini udah jam 12 oy, si mamah bisi marah lah!" adu Rindu melirik jam tangan, dimana kedua jarumnya menunjuk ke atas. Acara belum selesai, di panggung sana masih terdengar suara irama keras musik cadas lainnya.


"Kalo gitu mau duluan Ndu? Ganis juga kayanya sama Bang Nat," tanya Ganis.


"Nis, mintain tanda tangan lah buat gua!" Malik dan Raja kini mendesak Ganis.


"Nah kan, tadi siapa yang ngetawain Ganis?" pelototnya, sementara Raja dan Malik nyengir.


"Bawa deh nih manusia dua duduk dulu di luar dulu sebelum balik, nyari angin! Siapa tau sadar ntar. Nyusahin lu!" sengak Ganis marah-marah pada Reza dan Luki yang dijawab kekehan gila nan lebar oleh keduanya.


"Ngga waras!" decak Ganis.


"Rengganis?" seorang perempuan dari management SHA menghampiri Ganis.


Ganis dan anak-anak itu membalikkan badannya ke arah perempuan dengan kaos berlogo SHA dan name tag official.


"Iya,"


"Jadi ngga mau tanda tangan sama foto-nya?" tanya nya ramah.


Wajah Ganis berbinar, "oh jadi!"


"Teh, saya boleh ikut engga?" tanya Raja.


"Maaf ya, tapi SHA kebetulan lagi istirahat, ngga bisa diganggu sama banyak orang, ini cuma Rengganis aja yang bisa masuk," jelasnya, membuat wajah Raja merengut kecewa.


"Teh, maaf tapi kalo di depan ruang SHA nya aja boleh engga? Soalnya biar saya ada temen?!" desak Ganis menunjukkan mata membesar yang berlinang-nya si lebah kecil Hatchi.


"Oh, ya udah kalo gitu!" ia berjalan duluan, dan Ganis mengekor.


Raja semangat mengumpulkan kesadaran yang hanya tersisa remahannya saja. Dan dengan tega mendorong tubuh Reza yang sudah hampir tak sadarkan diri pada Tomi.


"Nih, pek tah mere!" ucapnya, (Noh tuh ngasih!)


"Eh--" Tomi yang tak siap, sedikit kepayahan menerima badan Reza, yang di dorong begitu saja seperti bang kay kucing oleh Raja.


Raja merapikan penampilan semrawutnya, sudah dekil, lusuh, berminyak pula, lengkap sudah tampilan udik gelandangannya. Maklum lah mereka berg umul dengan lautan manusia sambil berdesakan dalam euforia.


Begitupun Ganis, gadis itu berjalan sambil merapikan diri, melepas atribut k-pop si kuping kelincinya.


"Nis, gua bau engga?" Tak sungkan, pemuda itu membuka ketiak lebar-lebar menempelkannya tepat di depan muka Ganis.


Sontak gadis itu mendorong Raja hingga terhuyung ke arah tembok samping, "kimvritt ih! Bau Raja!!!" Galak Ganis. Raja tertawa, melihat ekspresi Ganis.

__ADS_1


Bau neraka, dan bau sejuta ketek mungkin menempel di baju Raja, meski masih ada jejak-jejak sejarah parfum maskulin milik pemuda itu.


"Ha-ha-ha!" tawa Raja.


"Si*@lan!" desis Ganis manyun. Keduanya masih mengikuti perempuan tadi. Si teteh official hanya bisa mesem-mesem tersenyum melihat kelakuan Raja dan Ganis, gadis manis sodaranya barbie yang baru saja berhasil memancing perhatian dunia atas aksinya.


Langkah mereka berjalan menyusuri setiap tenda dan ruangan perlengkapan, mulai dari sound, lighting, ruang artis, ruang panitia dan promotor. Hingga saat melewati ruang panitia mereka berpapasan dengan Wira yang sedang berjalan bersama kru lain.


Mata mereka bertemu, "Bang Nat!" teriak Ganis berlari langsung menghambur dan memeluk Wira, tak peduli dengan keadaan sekelilingnya, ia anggap mereka semua hanya cicak, semut dan kawan-kawannya.


"Loh, kenal?" tanya perempuan itu.


"Ganis istrinya Wira teh," jawab Raja berbisik.


"Nah ketemu juga sama Ganis! Gimana rasanya Nis ketemu artis?" tanya Acuy.


"Hm, rasanya gurih-gurih asin!" canda Ganis.


Ganis melepaskan pelukannya, "bang Nat liat aku ngga tadi?" tanya Ganis antusias, ingin mendengar tanggapan Wira bagaimana dirinya tadi di atas panggung, apakah keren, sangat keren, ataukah keren banget? Tapi jawaban Wira membuat senyum selebar karet celana yang udah longgar itu memudar.


"Oh, yang tadi kamu minta nyubit a Mbenk? Yang katanya a Mbenk ganteng, terus kamu keliatan seneng banget itu?" tanya Wira balik.


Glek!


"Mamposss!"


"Sokorrr!" tawa Raja, sementara teman-teman Wira dan perempuan itu terkekeh tanpa suara, bahkan kini mulut mereka rasanya pegal menahan tawa yang ingin meledak.


"Atuh bang itu mah gimmick hungkul ih! Namanya juga cowok masa mau Ganis sebut a Mbenk cantik banget! Kan ngga mungkin, abang mau gitu Ganis nanti ditendang sama a Mbenk ke bawah panggung?" belanya beralibi, okehhh jika sudah bersilat lidah Ganis memang tak ada lawan.


"Ya udah kalo gitu. Nanti ngomong lagi! Ganis mau minta dulu foto sama tanda tangan buat Indi, Ganis jihad dulu ya ketemu artis?! Do'ain...biar nanti Ganis ngga kepincut artis!" selorohnya memancing-mancing di air keruh, ia segera menyudahi pembicaraan itu sebelum Wira ngamuk-ngamuk, bisa-bisa nanti panggung di acak-acak olehnya, terus lampunya dijadiin cemilan.


"Kenapa? Ada yang ilang, kamu kecopetan?" tanya Wira khawatir.


"Ganis belum touch-up dong bang! Masa mau ketemu artis kuleuheu gini!" katanya membuat ekspresi berbeda dari orang sekitarnya. Memang benar Ganis dekil, lecek, dan aga-aga berminyak pas buat pake goreng ikan, tapi itu tak menghilangkan aura cantik nan menggemaskan gadis ini, apalagi dengan mulut nyablak dan cerewetnya.


Bisakah ia menggantung istrinya ini di Monumen saja, bisanya bikin ia terbakar saja di dalam sana.


"Ngga perlu!!" jawab Wira tegas, menahan tangan Ganis.


"Malahan lebih jelek lagi lebih bagus!" Wira mengambil tas selempang Ganis dimana ada bedak dan liptin juga parfum miliknya.


"Eh!"


"Nih! Ini aja bawa!" Wira menyerahkan ponsel Ganis dan beberapa kaos di dalam paper bag ke tangan gadis itu, selebihnya semua barang ia sita.


"Ih!" wajahnya memandang Wira kesal, matanya melotot, alisnya menukik, pipinya menggembung, dan bibirnya manyun.


"Kalo udah selesai telfon, nanti abang jemput. Barang kamu biar abang simpen!" balas Wira tegas tanpa menunggu jawaban Ganis lagi, dan pergi.


"Laki sadis," gumam Acuy terkekeh, saat melewati Ganis bersama Mulder dan Ayor.


Akhirnya Ganis masuk ke dalam ruangan SHA, dimana ketiga personel band beraliran pop punk itu tengah beristirahat sambil bercengkrama, ruangannya cukup dingin dan nyaman ber-ac.


"Eh, yang barusan..." mereka menyambut Ganis ramah, gadis itu masuk dan mengangguk.


"Rengganis, a.." jawabnya malu malu pengen ditabok, kan biasanya juga malu-maluin.

__ADS_1


"Ya..iya..Rengganis. Namanya bagus, secantik orangnya!" jawab manager mereka, Ganis berusaha menampilkan senyuman manis bikin diabetesnya, padahal jika lelaki itu temannya di sekolah mungkin Ganis sudah mendaratkan bogemannya. Ganis duduk anggun di kursi, macam kursi yang ada di hajatan.


Nervous? Engga tuh! Ganis biasa-biasa saja. Lebih nervous saat Wira menyentuhnya. Ck! Bisa-bisanya Ganis membayangkan itu sekarang, atau mungkin keinget hal semalem di jam segini?!


Ia menggelengkan kepalanya kuat karena otaknya sudah mulai oleng, melirik jam di tangan yang sudah pukul setengah satu dini hari. Pantas saja! Sudah sangat melewati jam tidurnya, makanya kaya mimpi.


"Oke, Rengganis! Makasih sudah jadi FOSHA, ngga nyangka euy! Dapet FOSHA cantik, imut kaya permen gini!" tawa Chio memuji.


"Sama-sama a, kebetulan suka aja sama lagunya! Ternyata aa-aa'nya juga baik-baik! Sesama orang Bandung!" jawab Ganis diplomatis.


"Mau tanda tangan dimana nih?" tanya Ocan to the point.


"Disini!" Ganis menaikkan paper bagnya di atas meja, mengeluarkan beberapa kaos milik Wira dan terakhir ia membentangkan ujung kaos yang ia pakai.


Satu persatu dari mereka menorehkan tanda tangan dengan spidol hitam. Ganis juga meminta berfoto bersama mereka.


"A, kan nanti mau Ganis upload ke Ig, jadi bergaya ya, A!" pinta Ganis, membuat alis para personel SHA mengerut tak mengerti. Sementara para management mengulum bibirnya.


"Oke lah!" jawab Mbenk, mungkin biar cepet.


"Teh, maaf!" Ganis menyerahkan ponselnya.


"Gaya topang dagu dulu A!" pinta Ganis memperagakan menopang dagunya dengan tangan, mereka tertawa, ada-ada saja gadis ini, seumur-umur anak punk begini mana pernah gaya alay ala-ala anak Citayem. Tapi sebagai publik figur mereka menurut demi fans.


"Gini?" tanya Mbenk ikut meniru Ganis gemas-gemas jijik.


"Ha-ha-ha!" tim management tertawa meledak. Malam-malam dapat hiburan karena gadis manis ini.


Cekrek!


"Yang kedua tunjuk bintang!" mereka kembali menurut dan kembali pecah tawa mereka.


"Yang terakhir gaya ketumpahan cendol!" Ganis memperagakan seolah-olah terkejut karena mangkuk cendol jatuh. Mereka sampai menahan perutnya melihat kelakuan Ganis.


"Udah?"


Ganis melihat hasil jepretannya, ia mengangguk senang dan puas. "Makasih banyak! Ngga salah emang kalian jadi idola! Ramah banget, baik," aku Ganis.


"Alhamdulillah!"


"Oh ya, nanti tur keliling kita. Rengganis ada nonton ngga?" Ganis terkejut mendengarnya, mana ia tau bahwa SHA akan melakukan tur keliling, kan tetot!


Ia menelan salivanya sulit, "oh--insyaallah kalo Allah mengijinkan!" jawabnya cari aman.


"Biar nanti koordinasi sama kordinator FOSHA aja, biar ngga pisah-pisah. Takut digangguin orang," ucap Mbenk, perhatiannya sebagai seorang idola.


"Ah iya, gampang itu mah!" Ganis terkekeh garing, mana ia tau juga siapa koordinator FOSHA, seumur-umur ia belum pernah mengenal atau mencari tau, yang ia kenal Ceu Engkar tukang serabi deket rumahnya.


.


.


.


Noted :


*Hungkul : saja.

__ADS_1


*Kuleuheu : dekil, kumel.


*Gimmick : adegan kreatif yang diciptakan untuk menarik perhatian audiens.


__ADS_2