Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
PIR


__ADS_3

Seorang lelaki itu yang dipegang adalah ucapannya, dan Wira pantang mengingkari. Seminggu setelah obrolannya dengan papa Ganis dan ibu, Wira membuktikan ucapannya dengan bertanggung jawab atas kesalahan yang lalu, meskipun kesalahan tetaplah menjadi sebuah kesalahan, ia menghalalkan Ganis untuknya dan menjadi calon ayah yang bertanggung jawab.


Tak ada pesta resepsi besar-besaran ala anak konglomerat ataupun bak putri dongeng disana.


Wira datang bersama ibu, Indi dan beberapa teman dekatnya termasuk Ibro si asisten. Hanya dengan kemeja putih dan celana sopan dilengkapi jas hitamnya Wira mengucap janji setia di depan Tuhan dan keluarga, mengubah statusnya dan Ganis. Berbekal mahar, dan cincin kawin ia membuktikan janjinya pada Ganis seminggu yang lalu.


Gadis itu tampak cantik dengan kebaya putihnya, wajah pucatnya dipolesi make up tipis oleh mama agar terlihat segar.


"Cantik," gumam Wira.


Sebuah cincin pengikat tersemat di jari manis Ganis, dengan itu pula lah kini statusnya sudah berubah baik dimata agama maupun negara.


Ketidakhadiran Gemilang disana membuat Ganis menatap nyalang pada Wira, "ngga apa-apa, mungkin Gemilang masih butuh waktu sendiri."


"Ma, pa..bang Gem gimana?" tanya Ganis, mama mengulas senyumannya.


"Ngga apa-apa biar itu jadi urusan mama sama papa, Ganis sekarang udah jadi istrinya Nata. Ikut kemanapun Nata pergi," angguk mama.


"Salam buat bang Gem, ma, pa, nin.."


Wira membawa Ganis tinggal bersamanya, tak mungkin ia membiarkan Ganis tinggal bersama enin dan Gemilang sementara mama dan papanya masih mengurus rumah di Jakarta, kabar perusahaan kertas mereka bangkrut pun sudah sampai di telinga Ganis.


Ganis menyeret koper besarnya dari rumah, berpamitan dengan mama, papa, dan enin. Beberapa kali mata bulat itu menatap nyalang ke luar pagar, berharap jika sang kaka akan pulang, tapi nyatanya sudah 2 hari Gemilang tak pulang ke rumah.


"Nanti kita coba temuin Gemilang," usapan di pundak Ganis membuatnya memasukkan koper ke dalam taksi yang dipesan Wira.


"Ma, pa..enin..Ganis pamit ya!" Ganis memeluk setiap anggota keluarganya.


"Sering-sering main ke sini neng," ucap enin.


"Mama sama papa juga ada rencana buat pindah ke Bandung, baik-baik ya," Ganis mengangguk.


"Nata, titip Ganis. Dijaga baik-baik!" pesan papa.


Wira mengangguk, "iya pa."


Wira sudah memasukkan koper Ganis ke dalam bagasi mobil, dan menuntun Ganis untuk masuk. Tetap saja hatinya meminta Ganis melihat ke sisi belakang taksi, dengan harapan Gemilang akan pulang. Tangannya kini berada di dalam genggaman Wira, dikecupnya tangan Ganis menyalurkan rasa sayang dan tenang untuk Ganis.


"Everything is gonna be oke baby,"


"Semoga aja, bang Gem baik-baik dimanapun dia," jawab Ganis.


Flashback off


Potongan moment dimana ia dan Wira bermanja-manja ria, dan bermesraan kembali mampir dan singgah di otak Ganis.


"Kamu inget kan Nis, waktu kamu sering ngabisin waktu bareng Indi, atau sekedar minta Indi anterin kamu ke Vulcan karena aku telat pulang?" tanya Wira menatap Ganis penuh harap dengan tangan menggenggam kuat tangan Ganis.


"Kamu ngasih nama bayi kita di dalem sana dengan sebutan 'pir' karena kata kamu bentuk perut kamu jadi lebih mirip buah pear, waktu masih ada dia disana?" Ganis memegang perutnya yang jelas-jelas tak ada apapun di dalam sana selain dari organ-organ penting tubuhnya.


"Besok, ada yang ingin aku tunjukkin sama kamu, aku mau kenalin kamu sama seseorang!" pintanya.


Ganis mendongak, "siapa?" Wira mengulas senyuman tipis.


Mungkin ini adalah hal terakhir yang perlu Wira lakukan, untuk selebihnya semua keputusan ia serahkan pada Ganis.


***********


Ganis mengernyitkan dahinya melihat bangunan di depan, "kamu bawa aku ke rumah kamu lagi, kan aku udah kenal ibu sama Indi?" tanya Ganis.


"Ada seseorang yang belum kamu ingat," jawabnya mengajak Ganis masuk.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


"Eh, Ganis!" ibu mendongak di sela-sela kegiatan menyapu teras depannya.


Ganis mengecup punggung tangan ibu, "ibu."

__ADS_1


"Loh, Indi belum pulang bu?" tanya Ganis.


"Belum, masih les kayanya soalnya kan Indi udah mau ujian juga," jawab ibu, dan Ganis beroh singkat.


"Udah makan neng?" tanya ibu.


Ganis mengangguk pertanda ia sudah makan, bagaimana tidak Wira begitu cerewet mengingatkannya untuk makan, suara adzan saja kalah sering dengan pesan Wira untuknya.


"Udah dong bu, kan punya alarm! Nih!" Ganis nyengir ke arah Wira, akhir-akhir ini hubungan keduanya semakin dekat, Ganis pun sudah tak canggung lagi pada Wira si berandal antipati sekolahnya ini, yang dua bulan lalu ia takuti karena lebih mirip seorang psycho ketimbang suami idaman.


"Alhamdulillah kalo Nata bisa jaga Ganis baik-baik," kekeh ibu.


"Harus dong bu, nanti istri selucu Ganis kabur!" tawanya berkelakar.


"Nis," Wira mengangguk dari arah kamar, ia membuka pintu kamarnya meminta Ganis masuk.


"Aku?! Masuk? Idih, kamu mah ini masih siang!"kernyitan dahi Ganis dan nada bicara sewotnya membuat Wira berdecak.


"Yang mau ngajak kamu buat hubungan badan siapa!" ibu sampai mengulum bibirnya mendengar keduanya.


"Idih ngomongnya bisa di sensor engga! Ada ibu juga nih ga tau malu banget!" Ganis melangkah mendekat sambil mendelik sinis, matanya lalu menyipit penuh curiga pada pemuda satu ini, pasalnya terakhir kali ia disuruh masuk ujung-ujungnya Ganis sampai ngompol di celana.


"Ini engga diusilin lagi kan?!" tuduh Ganis.


"Engga," Wira sedikit membungkukkan badannya menyamakan tinggi dengan Ganis dan mencubit pipinya.


Ganis menyentuh daun pintu berikut handlenya, ia memejamkan mata mengingat untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam sini, merasai tekstur dan aroma yang sama.


"Masih sama," bisiknya pelan, didorongnya pelan hingga pintu terbuka lebar. Pemandangan pertama yang ditangkapnya adalah dinding yang hampir keseluruhan ada potret dirinya beserta Wira, di dekat meja belajar dan ranjang.


Ganis ingat, ialah yang menyusun semua lembaran foto hasil cetakan Wira, Ganis melangkah lebih ke dalam masuk, mengedarkan pandangannya ke segala sudut kamar, barang-barang yang mulai ingat satu persatu miliknya, Wira tak pernah membuang atau memindahkannya.


Sepasang tangan kekar menelusup melingkar dari belakang memeluk Ganis, "aku ngga pernah mindahin apapun dari tempatnya, masih sama seperti saat kamu terakhir ninggalin mereka," bisiknya lirih.


Mata Ganis jatuh tertumbuk pada satu buah foto berukuran dompet, foto 2 dimensi berwarna dominan hitam tertempel diatas komputer Wira.


"Pir," jawabnya. Ganis menoleh hingga wajah keduanya tak berjarak.


"Pir..."


"Pir, tepat sehari sebelum dia ngga ada, Allah rupanya lebih sayang pir-nya kita..." lanjut Wira. Ganis menunduk melihat ke arah perutnya. Ia mencoba meraih foto usg itu,


Nama : Ny. Rengganis Kamania


Age : 17 years old


HPL : 18 Jun, 202X


16 week 3 days


Sebuah bulatan kecil buram yang tak ia mengerti, "dia pir kita," ujar Wira.


Ganis memegang kepalanya, merasakan denyutan yang membuat sakit hebat.suara takbir, istigfar dan dua kalimat syahadat memenuhi otak dan pikirannya, seketika kamar Wira berubah jadi suasana bus.


"Nis," Wira mengurai pelukannya.


"Ganis!!!"


"Olip!"


Keduanya melompat kegirangan beberapa jam sebelum kecelakaan. Langit mulai menampakkan bias sore, Ganis melirik jam di tangannya.


"Jam setengah 4," ia mengetik pesan pada Wira jika rombongannya sudah akan kembali ke sekolah.


"Nis, Bobi nembak aku! Terima jangan ya kira-kira?!" tanya Olip.


"Bobi? Aku tanya dulu Nata deh, Bobi itu baik apa engga buat temen aku ini!" jawab Ganis, langit sore di Pangalengan cukup cerah dan indah. Mata Ganis jatuh di hamparan kebun teh di balik jendela bus, kapan-kapan ia akan menghabiskan waktunya bersama Wira kesini berdua sebelum melahirkan.


"Astagfirullah, mata saya ngantuk banget!" si supir berulang kali menggelengkan kepala dan menguap.

__ADS_1


Suasana riuh anak-anak yang bernyanyi, bermain gitar memenuhi bus. Laju mobil bus yang mereka tumpangi tak terkendali, terkesan seperti ugal-ugalan dan ngebut.


"Ini kok, kenceng banget jalannya?!" Ganis berpegangan di sisi jok, sampai-sampai beberapa teman-temannya terantuk-antuk kaca jendela bus.


Dughh


Aww!


"Pak, bisa pelanin sedikit ngga jalaninnya?"


"Pak awas!!!"


Brakkk!


Mobil menyerempet sisi kendaraan lain.


"Ya Allah, remnya blong!" teriak panik si supir.


"Apa?!" jalanan menurun dan berkelok ditambah laju bus yang tak terkendali membuat para penumpang terkesiap dan menjerit.


"Allahuakbar!!"


"Ibu, takut!!!"


"Sabar anak-anak, tenang-tenang!" pak Ruli mencoba menenangkan siswa di dalam bus, Ganis dan Olip saling pandang dengan raut wajah ketakutan.


Pluk!


"Eh, hape gue!" Ganis ingin mengambil ponsel miliknya yang terjatuh, tapi posisi mobil yang ugal-ugalan tak memungkinkan.


"Pegangan anak-anak!!!"


"Aaaaa!!"


"Subahanallah!"


"Astagfirullah!!"


Dughhh!


"Awww," Ganis mengusap-usap kepalanya.


"Ganis, aku takut!"


Bukan hanya Ganis yang menangis di tengah-tengah usaha mereka menyelematkan diri.


Bahkan bus rombongan lainnya mulai menyadari keganjilan bus rombongan Ganis.


Takbir dan dua kalimat syahadat melantun kuat disana.


"Abang tolongin Ganis sama pir!" Ganis memegang perutnya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, bahkan pir saja seperti tak mau diam memperlihatkan kegelisahannya di dalam sana.


"Ya Allah!!!"


"Aaaaaaa!!!!!"


Brakkkk!!!!


Ckitttt!


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2