
Gadis kecil berusia sekitar 3 tahun, giginya ompong 2 di bagian atas depan dan berkepang satu, berbanding terbalik dengan ayahnya yang memakai baju hitam-hitam mirip mbah dukun, anak itu lebih mirip elsa dengan dress biru balonnya.
"Kaka lucu deh, makan sambil ngomel-ngomel! Itu belepotan makannya kaya ayam," tunjuk jemari mungil itu ke arah mulut Ganis, disertai kul uman bibir pria di sampingnya. Mata Ganis melotot bukan main disebut mirip ayam, nih anak kecil-kecil mulutnya minta di colekin sambel geprek.
"Eh, maaf--maaf." Ujarnya pada Ganis dengan turbo menelan makanan di mulut dan mengelap sekitaran bibir dengan tissue.
"Caca, ngga boleh gitu! Ayo minta maaf sama kakaknya." Pinta si ayah, bukannya menurut Caca malah menggidikan bahunya, "engga ah! Emang bener kok ayah," Ganis semakin dibuat meradang karenanya.
"Asem, Ganis dibilang kaya ayam!" gumamnya pelan.
"Maaf ya dek," ucapnya.
"Adek?" Sejak kapan bang Gem nikah sama sesama, dan punya anak mulutnya nyinyir bin nyelekit, tapi kalo mulut sih 11, 12. Ganis menangkup wajahnya sendiri, apakah mukanya mirip adek ketemu gede?
"Ga apa-apa," jawab singkat Ganis sedikit ketus, Ganis melanjutkan acara makan besarnya dengan tak mempedulikan gangguan di sekitar. Marah membuat perutnya jadi lapar, entah karena energi yang dikeluarkan atau memang ia nya saja yang doyan makan.
Sebuah tangan mungil mengulurkan tissue di depan Ganis, "kakak itu masih belepotan!" tunjuknya pada noda bumbu di area mulut Ganis.
Hati yang semula panas terbakar kini padam dan sejuk oleh perlakuan si bocah.
"Oh, makasih!"
Duhhh! Lucu banget ya ampun...ga jadi deh cekek bapaknya!
Ganis menerima tissue dari bocah perempuan itu,
"Ca, sini! Ngga boleh ganggu kakaknya," ujar si lelaki melambaikan tangan pada anak itu, sementara gadis kecil itu masih diam berdiri di depan Ganis seolah kepengen dipersilahkan duduk di dekat Ganis, dikasih hati minta paru-paru.
"Mau duduk disini?" tanya Ganis, sebenarnya ia tak terlalu suka anak kecil, baginya anak kecil layaknya monster. Jika melihat di sekitarnya apalagi saat lebaran kumpul-kumpul keluarga ataupun acara-acara ibu dan anak di tv, anak kecil identik dengan super aktif, berantakan, stress, capek, ngeselin, pokoknya semua berbau risih ada padanya meskipun tak dipungkiri mereka lucu. Dulu saat mengandung pir pun ia sempat kepikiran jika nanti akan meminta ibu saja yang mengurusnya, entah karena Ganis tak pernah memiliki interaksi dengan anak kecil, di dalam keluarga Ganis tak ada anak kecil, berhubung Ganis anak bungsu.
Gadis kecil itu mengangguk,"boleh kan?"
"Boleh, asal jangan ganggu ya!" jawab Ganis.
"Ca!" tegur ayahnya, kedua gadis beda generasi ini menoleh.
"Ayah, Caca mau disini sama plincess bunga!" Ganis sampai tersedak kuah zupa-zupa mendengar sebutan itu.
"Princess bunga?" kerutan alis Ganis.
Ini anak kejedot beton apa gimana? Hari gini ngga ada tuh yang namanya princess bunga, cinderrela ataupun snow white, itu cuma ada di film-film dongeng aja.
"Iya," anak itu mengangguk, "baju kakak kaya plincess di film yg seling Caca tonton, jepitan rambut kakak ada bunga gedenya, kakak juga cantik milip plincess. Caca udah milip elsa belum?" tanya nya so kenal so akrab pada Ganis, gadis itu merasa di awang-awang karena dipuji meskipun oleh bocil ia sampai mengulum bibirnya, kalau memungkinkan Ganis akan tertawa jumawa dan ngucapin makasih sambil ngasih permen se-truk pada si bocil, ia menatap Caca dari ujung rambut sampai ujung sepatu, kalau mirip jelas tidak karena di film si elsa kan udah dewasa udah ngalamin yang namanya puber, Ganis adalah tipe gadis yang melihat dunia dari sisi rasional dan realita meskipun penampilannya bak makhluk negri dongeng. Tapi daripada nanti si bocil mewek karena jawaban singkat Ganis terus ia yang disalahkan dan harus bujuk-bujuk bocil maka Ganis iyakan sajalah.
"Mirip, mirip banget!" Ganis tak pandai menjilat orang terlebih itu orang asing, tapi demi keselamatannya sendiri karena bahagia itu sederhana dan berpahala maka ia amini ekspektasi si bocil.
__ADS_1
"Berarti kakak boong!" Ganis melotot seketika. Jauh dari harapan, si bocil malah menuduh ia pembohong, emang bener-bener minta digantung bareng bakakak ayam nih anak, tuh kan!!!! Bang Nat, Ganis ngga mau punya anak! Baru saja merasa senang di angkat ke awan biru, Ganis sudah dihempaskan lagi ke bumi oleh seorang bocil. Raut wajahnya kembali masam.
"Dih, ngeselin!" sewot Ganis, tapi pelototannya ia redupkan kembali mengingat disana ada ayahnya.
"Untung bapak lu ganteng cil! Kalo engga udah Ganis cincang juga nih," gumamnya dalam hati.
"Terus maunya apa?" tanya Ganis memegang erat sendok plastik yang hampir saja ia patahkan.
"Kalo elsa di film kan udah gede, udah ibu-ibu! Caca kan masih kecil," jawabannya.
Bo*do amat! Mau udah nenek juga ga ngurusin! Ganis memanyunkan bibirnya.
"Terus mau Ganis jawab apa, mirip si olaf gitu?" sengaknya, justru membuat Caca tertawa-tawa. Rupanya bukan Wira saja yang senang melihat kekesalan Ganis tapi Caca juga.
"Eh, maaf-maaf ya, sekali lagi maaf." Ujarnya tak enak menghampiri Caca dan Ganis dengan wajah masamnya.
"Ayah, Caca mau baju yang kaya kakak ini, rambutnya juga!" tunjuknya pada sang ayah, sontak Ganis melihat ke arah dirinya, memang bagaimana baju dan rambutnya, rasanya ia memakai dress biasa saja.
"Eh, iya--iya nanti ayah beliin. Tapi jangan ganggu kakaknya ya," jawab si ayah. Interaksi ayah dan anak ini terlihat sangat manis meskipun sepertinya permintaan si anak itu tak masuk ke dalam daftar favorit si ayah. Ganis tersenyum, apakah nanti jika suatu hari ia dan Wira memiliki anak, Wira akan sama seperti itu.
"Caca ngga ganggu kaka ini kok,"
Alis Ganis terangkat sebelah, "bisa banget nih bocah!" bisiknya mencebik.
Tuh sana, hushh! Hushh! benak Ganis, sangat ingin ia, anak itu pergi dari dekatnya.
"Emh, tapi makannya disini ya sama kakak cantik ini," tunjuknya.
"Kasian soalnya kakak cantik jomblo, sendilian ngga punya temen," pintanya menggoyang-goyangkan kakinya yang memang menggantung di kursi.
Ganis menggertakan giginya, "What! Jomblo! Lagian Ganis udah gede! Ngga perlu ditemenin, mati aja sendiri! Ngeselin banget sih nih anak,"
Lelaki ini meringis merasa tak enak hati melihat wajah Ganis yang sudah seperti bapau kukus.
"Kakak ngga jomblo! Liat ngga itu cowok cakep yang disana itu! Itu tuh suami aku," tunjuk Ganis pada Wira yang tengah rapat, merosot sudah derajat hidup seorang Rengganis Kamania harus berantem bareng bocil.
Mata Caca dan lelaki itu mengarah ke kumpulan Wira, "yang lambutnya kaya gulali?" tawa Caca, tepat pada teman Wira.
"Ck, bukan lah! itu yang disebelahnya!" seru Ganis, ia benar-benar sudah tak waras bersitegang dengan bocah.
Anak siapa sih ini, nyebelin banget! Amit-amit deh! Ganis mengusap-usap perutnya.
"Kakak lagi hamil? Ko pelutnya dielusin?" tanya Caca pada Ganis.
Ganis sontak menoleh, "Caca!"
__ADS_1
Bukan Ganis yang membentak, tapi ayahnya, Ganis dapat melihat wajah seram dan tajam lelaki itu, Caca langsung terdiam dengan mata berkaca-kaca dibentak begitu oleh sang ayah, rasa kesal Ganis memang masih menempel dalam benaknya, tapi melihat moment itu membuat hatinya terenyuh dan tak tega.
Setau Ganis, anak seusia Caca memang sedang masa-masanya selalu ingin tau, dan mengeksplore. Ia sempat tau dari saudara-saudaranya jika sedang berkumpul, obrolan emak-emak dikala Ganis dan Gale sering terjebak diantara para ibu saat kumpul keluarga.
"Mas, eh...abang, kakak, aa.." sela Ganis diantara kekesalan dan peringatan lelaki ini.
"Saya Nugraha," tatapannya masih menyiratkan peringatan pada si anak, "ngga boleh gitu!! Ayah ngga suka!"
"I..iya bang Nugraha," jangankan Caca, Ganis saja merasa seram melihat Nugraha marah begitu, lebih mirip reog ponorogo.
"Ngga apa-apa bang, namanya juga anak kecil. Jangan dimarahin ya," semarah-marah dan sekesal-kesalnya Ganis sungguh ia tak tega jika melihat anak kecil dimarahi begitu, bukankah satu kali nada bentakan bisa mematikan ribuan sel otak si anak? Itu yang Ganis tau dari mama dan tante-tantenya. Ia memang selalu ditinggal oleh kedua orangtuanya, tapi tak pernah sekalipun Ganis dibentak ataupun dikasari, ia justru terlalu dimanja.
Mata Nugraha melunak, begitupun Caca yang menarik-narik baju ayahnya lemah bermaksud meminta maaf.
"Maapin Caca ayah," cicitnya, mata bulatnya sudah tergenang cairan bening. Tak tau karena naluri perempuan, atau naluri anak manjanya yang bekerja, Ganis bangkit dari kursinya lalu berjongkok di depan Caca, tangannya mengambil tissue dari tas dan mengusapnya di ekor mata Caca.
"It's oke...Caca ya namanya, namanya bagus banget! Kenalin namaku Rengganis, panggil aja Ganis," ujar Ganis, anak itu mengerjapkan matanya mencoba menjernihkan mata yang buram karena lelehan air mata.
"Nama Caca, Malisa..."
"Maafin Caca ya kak," ucapnya bergetar.
"Ngga apa-apa sayang, tapi lain kali jangan gitu sama orang lain ya. Soalnya takut dimarahin nanti Caca-nya, kaya barusan, mau beli es krim ngga di gerai sana?" bujuk Ganis mengusap pipi kenyal Caca, anak itu mengangguk.
"Mau!!" seru Caca, gampang banget bujuk bocah, kasih es krim langsung lupa kalo dia lagi nangis.
"Maafin Caca ya Ganis," ucap Nugraha ikut mengusap dari kepala sampai pundak anaknya.
"Oh ngga apa-apa bang," Ganis kembali duduk.
"Tadi kamu bilang punya suami? Maaf saya kira masih..."
"Ah, engga apa-apa bang, udah biasa kok. Bukan cuma abang aja," jawab Ganis mengambil tas selempangnya di meja, ia menjanjikan es krim untuk Caca, dan anak itu kini sudah turun dari kursinya.
"Istri saya juga disitu!" tunjuk Nugraha, pupil mata Ganis mengikuti arah telunjuk Nugraha dan berhenti di sosok wanita yang batu saja ia kenal.
"Ivana?" gumam Ganis tak percaya.
"Iya, kenal?" tanya nya balik.
Ganis mengangguk lemah, "baru tadi,"
Tau gitu ngga akan ditawarin beli es krim! ia menghela nafas.
"Ayo kak, katanya mau beli es krim!" ajak Caca, kini bahkan tangan kecilnya sudah memegang jemari Ganis dan memggoyang-goyangkannya.
__ADS_1