
"Ini gimana sih Nis?" tanya Rindu.
Ganis memasukkan peluru cat miliknya ke dalam hopper, memegang senjata oleh kedua tangannya dengan sebelah memegang pelatuk, lalu mengangkat dan membidik target di depan papan target latihan.
"Bidik yang bagus tuh bagian leher, bahu, perut, bidiknya sedikit lebih di depan target bergerak soalnya peluru cenderung lebih lambat. Bidik pake perasaan, awas ntar suka!" Ganis terkekeh, matanya menyipit dalam sekali tarikan pelatuk.
"Ha-ha-ha kimvrittt," balas Rindu.
Dorrr!!!
Crattt!
"Wohoooo! Bravooo!" Rere bertepuk tangan heboh, cat pecah kena sasaran.
"Ganis keren! Leader gua nih, siap-siap lu berdua pake rok!" tawa Malik dan Luki meledek Damar dan Raja, dimana keduanya sudah mulai dilanda rasa tak nyaman.
"Ah, kalo cuma Ganis yang jago mah ngga ngaruh!" tepis Raja di udara.
"Kita liat aja entar," jawab Ganis melangkah masuk ke arena duluan.
"Ra, Ganis kalo kaya gitu lebih mirip sniper, ngeri!" bisik Damar diangguki Raja.
"Keren ihhh!" jingkrak Rere mengikuti ke dalam sementara Damar dan Raja menelan saliva berat, seakan ini hari terakhir mereka bermartabat, dan esok harga diri mereka akan diobral.
"Nis! Ganti deh ganti taruhannya ya neng, da geulis!" teriak Damar.
"Tak nak!!!" balas Ganis tak kalah berteriak.
"My baby," gumam Wira menyunggingkan senyumannya.
Instruktur memberikan peraturan permainan mereka dan aturan bermain paintball.
Mereka langsung terpecah sesuai kelompok masing-masing, menyusun rencana agar dapat melumpuhkan pihak lawan dan merebut bendera dari masing-masing markas.
"Senjatanya jangan dibalikin takut nanti jadi macet, jangan kebanyakan nembak soalnya pelurunya terbatas. Sebisa mungkin bidik dalam jarak ga terlalu jauh tapi aman dan tepat sasaran. Kalo bang Nata itu tipe penembak jarak jauh, dia suka ngga berani keluar dulu kalo musuh belum ada yang hit! Dia juga pasti cari Ganis dulu, ntar yang ambil bendera Luki aja sama Rindu! Tapi kita jalan barengan, kalo Ganis hit duluan..pake plan b!"
"Oke," mereka manggut-manggut kayak boneka dashboard.
"Siap liat Raja sama Damar rok besok?!"
"Ready dong!"
Di sisi lain,
"Ganis itu bisa diliat kan tadi pas nembak 75% tepat sasaran, dia bisa atur strategi cepet tapi ngga bisa lari cepet dan lebih suka jalan barengan. Ada kemungkinan bukan dia yang ambil bendera, dia cuma lindungin. Cari orang yang keliatan di tempat paling aman dari jangkauan tembak, berarti itu si perebut bendera...ada kemungkinan Luki atau Malik," ucap Wira selalu tau bagaimana Ganis.
"Oke--oke! Demi makan gratis!!!" teriak Raja mengacungkan senjata.
"Merdeka!!!!" jerit Damar membuat tim Ganis mengernyit.
"Meni bawa-bawa merdeka segala,"
Mereka bersiap di tempat masing-masing. Di balik arena perang yang sudah di rancang sedemikian rupa hingga menyerupai tkp aslinya medan perang.
Ganis memutar jari di udara memberikan isyarat pada teman-temannya agar maju dan berputar, selalu.. tak boleh diam di satu tempat.
Mulai terlihat pergerakan musuh dari depan, karena gemas dan antusias Rindu menarik pelatuknya.
Krek, jedorrr!
"Mereka disana!" ucap Wira pada rekan se-timnya.
"Duh, maaf Nis!" keluhnya, membuat tim lawan mengetahui keberadaan mereka, kontak senjata berbalas dari tim Wira tak terelakkan.
"Ngga apa-apa, jadi kita tau mereka juga ada dimana!" jawab Ganis.
Dorrr!
Malik ikut membalas, "Lik, Malik jangan dibales! Hemat pelurunya, biarin aja mereka tembak asal kitanya menghindar, toh jarak jauh begini seringnya meleset."
__ADS_1
"Oke, oke lupa gua! Kalo jaraknya deket baru ditembak," balas Malik mengangguk.
Tim Ganis dan tim Wira, berpindah kesana kemari layaknya tentara sedang perang, terkadang mereka menunduk terkadang berdiri sikap sempurna menyerupai tempat mereka berlindung.
"Serang oy! Si Malik keliatan!" pekik Raja.
Dorr!
Malik terlibat baku tembak dengan tim Wira, begitupun Ganis, Rindu dan Luki.
Dorr!
Jedorrr!
"Kimvritt!" tawa mereka senang.
Ganis mencecar Rere, Dorr!
"Kena!" cat biru pecah tepat di perut Rere.
"Yahhh! Gua kena!" Rere berdecak lalu maju sambil mengangkat senjata.
"Si Rere kena Ra,"
Wira mencari dimana pujaan hatinya bersembunyi, ia menemukan pergerakan dan membidiknya, dorr!
Cratt!
Cat merah pecah tepat di bahu dekat dada Luki.
"Ha-ha-ha! Mamposs lu!" tawa Damar.
"Ngga bisa jadi!" Rindu maju seraya mengendap-ngendap, targetnya Damar, keduanya terlibat baku tembak.
"Lu ngga akan bisa tembak gua yank!" pekik Damar.
Sekali shot, Rindu dapat menembak Damar, tapi sayang hanya mengenai tangan dan itu tak sah.
"Wk-wk-wk, udah nyerah aja yank!"
"Nis, peluru aku tinggal satu!" ucap Rindu berbisik.
"Oke, kalo gitu pake plan b. Malik mana?"
"Pake buat jaga-jaga, jarak udah makin deket. Abang pasti bakalan makin gencar, Ganis tebak mungkin peluru mereka juga ngga beda jauh sama kita. Malahan dari tadi mereka nembak terus. Tapi abang tuh teliti, dia baru nembak sekitar 2 atau 3 kali, jadi masih banyak peluru dia!"
"Nis, peluru gua tinggal dua!" Malik menghampiri mereka dengan nafas terengah dan tiarap.
"Oke ngga apa-apa. Jarak udah makin deket, biar Ganis yang bidik. Musuh juga masih 3, peluru Ganis masih lumayan. Kalian aja yang ngambil bendera, pake peluru buat jaga-jaga, kalo memungkinkan bakalan kena target, tembak!" Keduanya mengangguk.
"Oke, maju!" Ganis memerintahkan mereka untuk maju dengan telunjuk.
"Ayo Raja!" teriak Rere dari pinggiran arena.
"Sutt, berisik!" ujar Luki yang sama-sama sudah keluar.
"Greget gua, rame juga tau ngga main kaya ginian! Ganis keren ih!"
"Bingo!" Ganis menyipitkan matanya sebelah dan membidik Damar, Dorrr!
"Anjritttttt!" seru Damar, dengan berat hati ia mengangkat senjata.
"Ha! Rasain lu!" tapi seiring dengan lumpuhnya Damar, Raja dan Wira menembaki Malik.
Malik mengangkat senjata dan keluar.
"Yahhh! Malik kena," gumam Ganis tanpa suara.
"Peluru aku abis Nis," gerakan isyarat Rindu.
__ADS_1
"Oke, kecoh mereka biar ngabisin peluru!" angguk Ganis.
Ganis dan Rindu sengaja memperlihatkan diri kemudian bersembunyi lagi, disinilah kesabaran diuji, ternyata Raja tak dapat menahan untuk tak menembaki dan alhasil pelurunya, begitupun Wira.
"Babyyyy ! Come on muncul," ucapnya mendayu sayang. Ganis menggelengkan kepalanya di balik tumpukan keranjang kayu dan drum, "si oon!"
Dorrr!
Jedorrr!
Peluru Wira hanya tinggal satu, "si-al peluru tinggal hiji!" Raja apalagi, pelurunya sudah habis...
"Ra, peluru abis!"
"Kalo gitu lu lari ambil bendera mereka, gua yang lindungin!" ucap Wira, Raja mengangguk. Keduanya maju dengan mengendap-endap.
"Nis, kayanya peluru si Raja abis deh," tunjuk Rindu.
"Oh, abang kayanya mau langsung ambil bendera kita!" ucap Ganis.
"Kalo gitu, siapa cepat dia dapat. Buru Ndu!" titah Ganis.
"Yuk Nis," Ganis pun melakukan hal yang sama.
Saat pandangan mereka bertemu, Ganis dan Wira langsung bersembunyi dan bersiap menembak sementara Rindu dan Raja maju.
Wira memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian dan berpindah, begitupun Ganis keduanya melihat masing-masing dan saling membidik.
"Udah kaya mr. and mrs. Smith! Saling bunuh ha-ha-ha! Rame nih!" ujar Damar.
"Harusnya bawa sukro, Mar!" jawab Malik.
"Lain atuh, kuduna mawa arak!" timpal Luki. (Bukan atuh, harusnya bawa arak!)
Dorrr!
Wira melepaskan tembakan terakhirnya dan crattt! Sejenak Ganis terhenyak, karena cat itu mengenai dirinya, tapi senyumnya terukir saat tau tembakannya hanya mengenai sepatu, ia tertawa dan langsung keluar dari tempat persembunyian, dengan kerennya gadis itu menenteng senjata dan mengarahkannya kemana tempat Wira bersembunyi.
"Abang Nat, yuhuuuu! Ganis tau ya peluru abang abis, keluar aja!" Wira yang gentle keluar dari tempat persembunyian dan menaruh kedua tangan diatas kepala dalam jarak 5 meter Ganis meluncurkan serangan.
"Harta atau nyawa?" ucapnya menodongkan senjata di depan muka dan akhirnya menembak.
Dorr! cat pecah tepat di dada Wira, Ganis berbalik dengan cepat dan menembak Raja yang sedang berlari menuju bendera mereka.
Krekkk! Dorrr!
"Jackpot!" gumam Ganis.
"Yeeee!" Rindu mencabut bendera tim Wira dan mengibarkannya di udara menuju markas mereka, Ganis membuka helm pelindungnya, ia terlihat sangat cantik namun garang dengan kondisi sekarang, dimana rambutnya diikat tak beraturan dan keringat mengucur, senjata di tangan dan badan dilengkapi seragam.
"Yeeee menang!"
"Njirrrttt!" Raja menonjok udara.
Wira menghampiri Ganis dan membuka helmnya, menarik pinggang Ganis lalu mengecup kening gadis itu, seolah ingin memberitahu dunia jika Ganis adalah miliknya, hanya miliknya.
"Gadis garang bang Nat," ucapnya.
"Ck,! Ganis ngga garang, Ganis anak baik, anak manis," jawabnya tak terima.
"Lain kali, ngga usah ngajarin orang kaya tadi sama Luki. Abang ngga suka!" ucapnya mengutarakan isi hati yang sejak tadi mengganggu pikiran.
"Iya ah, cowok posesif!"
"Dari dulu, dan kamu tau itu..." balas Wira.
.
.
__ADS_1
.
.