Kepingan Jingga

Kepingan Jingga
NGGA LEBIH CAKEP DARI TINKY WINKY


__ADS_3

Bukan Ganis yang membalas, gadis itu justru malah tertawa mendengar selorohan papa-nya, tapi mata mama memancarkan tatapan laser.


"Wah, pengalaman memang membuktikan kalo mama sering pake kaos tuh biar gampang toplesinnya!" ujar Gem.


"Tinggal tarik ke atas ya pa?" Ganis masih cengengesan, di usia senja ini papa nya masih saja berjiwa muda.


"Iya lah, apalagi yang kaosnya tuh kegedean, leher bajunya kedodoran! Bisa langsung kasih cap merah!" jawabnya terang-terangan tak lagi disensor, ia yakin kedua anaknya ini sudah cukup paham.


"Papa!" tegur mama mencubit lengan papa.


...----------------...


Jarum jam sudah berputar penuh untuk ke sekian kalinya, tapi Ganis masih merenung di kursi taman, nikmatin angin sore yang ngga enak-enak banget, malah semakin terasa dingin di kulitnya.


"Nis! Eh---ini anak masih disitu aja, bukannya ganti baju!" keluh mama, disini ialah yang paling sibuk diantara orang lain, ibu-ibu memang selalu heboh jika akan digelar sesuatu di rumah, terlebih lagi mama Ganis, penampilan keluarganya harus paling paripurna mungkin bawaan jiwa hedonnya dulu masih mendominasi hingga detik ini, Ganis hanya bisa menatap nanar pada sang mama.


Abang kayanya ngga bakalan dateng ma, dia lagi marah sama Ganis, sibuk pula.


"Sebentar lagi, ma! Cuma tinggal sat-set, sat-set aja cincai lah!" ucapnya enteng, se-enteng kerupuk. Gadis itu masih memperhatikan layar ponselnya, kedua alisnya terangkat penuh harap saat melihat status Wira yang online, ia menunggunya beberapa menit tapi tak ada satu pun pesan untuknya, minimal sedang mengetik gitu...hingga status itu berubah kembali jadi kosong.


Benar! Ia akan duduk di tanah dan ngamuk seperti orang kese tanan kalo sampe Wira tak datang, bila perlu akan ia acak-acak Bantar Gebang sana biar isi dunia tau seberapa besar kekuatannya, mungkin mirip-mirip Megatron. Ia akan segera meminta cerai, dan angkat kaki dari rumah Wira, tak lupa membidik kepala lelaki itu dan menembaknya sampai mati! Emang sanggup?! Sangguplah, kayanya...


"Ishhh! Bang Nat kejam lah! Kan Ganis ngga suka diginiin!" cebiknya kesal, akhirnya perang dingin ini dimenangkan oleh Wira, Ganis tak pernah bisa bertahan lama dalam diam, beda dengan Wira yang survive dengan sikap dinginnya, justru Ganis tak bisa, marahnya gadis ini meledak-ledak namun hanya untuk saat itu saja ia meletus layaknya gunung berapi yang memuntahkan lahar panas namun selanjutnya setelah kemarahannya habis maka Ganis akan kembali lagi seperti semula. Tapi gengsinya memang sebesar Kilimanjaro, jadi untuk menghubungi Wira ia emoh. Alhasil cuma bisa ngamuk-ngamuk sendiri sekarang sambil ngacak-ngacak benda sekitar, bahkan menjambak rambutnya sendiri.


"Dasar cowok br3nk sek! Udah dingin, nyebelin pula, raja tega! Pokoknya ngga suka lah, si*@laann, Ganis gantung kamu di gedung sate!" makinya pada ponsel tak berdosa dimana profil whatsapp Wira ia klik dan ter-zoom sempurna, sepaket wajah kusut, bibir manyun, dan kakinya menghentak tanah kasar.


"Tau ngga sih, Ganis ngga suka di diemin gini! Nanya kabar kek, udah makan belum gitu, atau basa-basi mau jajan kek, jangan diemin Ganis gini lah! Ngga tau apa, dari tadi Ganis cuma bisa liatin foto doang tanpa berani chat! Mana fotonya cuma siluet item kaya penampakan genderuwo! Ganis ngaku salah, ya ngga salah-salah amat juga sii, kamunya juga nyebelin ngga bisa ngertiin Ganis! Tapi ya udah, karena Ganis adalah gadis rendah hati Ganis minta maaf sedalam-dalamnya i'm so sorry. Kalo bisa, Ganis beli semua maaf di dunia ini buat bang Nat. Nyebelin, Ganis cekek juga nih kalo ketemu, dasar so keren, so ganteng, so cool padahal aslinya ngga lebih cakep dari si tinky winky!" omelnya tanpa henti, jeda ataupun koma.


"Siapa tinky winky?" suara yang berasal dari ponsel Ganis sontak membuat gadis ini tergelonjak kaget meski tak selebay sampai ponselnya terlempar.


Ganis kembali memastikan jika penglihatannya tak salah, atau ia tidak sedang menghalu.


"Eh iya, ko ini..." matanya semakin membola sebesar jengkol. Jadi yang tadi, pas Ganis sedang memakinya habis-habisan lelaki itu mendengarnya? Mamposss!!! Sayonara dunia!


"Nis," panggilnya lagi dari sana, tapi Ganis tak berani menjawabnya, ia lebih memilih diam lalu mendengarkan.

__ADS_1


"Hallo?" panggil Wira, Ganis menatap nyalang layar ponsel yang menampilkan profil whatsapp Wira dimana mereka sedang terhubung dalam panggilan sekarang.


"Oke, kalo kamu ngga mau ngomong. Aku juga minta maaf ngga bisa kontrol emosi tadi pagi, aku ngga ada hubungin kamu, takut kita malah jadi ribut lagi kaya tadi pagi. Jadi mending aku diem, tapi sekarang aku tau kamu udah baik-baik aja, kalo udah bisa marah-marah kaya gitu, mana jelek banget lagi, rambutnya acak-acakan!" kekeh Wira, Ganis mengernyitkan kedua alisnya sampai keduanya menempel. Lalu ia celingak-celinguk dan menemukan seseorang sedang berdiri di gawang pintu terlebih tengah memperhatikannya seraya menempelkan ponsel di telinganya.


Tes...tes....


Lelehan air bening meleleh begitu saja dari matanya melihat wajah lusuh Wira masih dengan pakaian tadi pagi. Lelaki itu mematikan panggilan dan berjalan mendekat, semakin dekat mereka, semakin tinggi intensitas lelehan air mata Ganis, gadis itu kembali terisak dengan menyeka sebagian wajahnya seraya memalingkan wajah ke samping.


Bo*do amat dengan gengsi! Ganis menghambur memeluk Wira dengan badan bergetar karena tangisan yang mengencang.


"Kamu jahat!" pukulnya di dada itu. Dada bidang yang cukup enak buat jadi pelampiasan amarah.


"Kamu tuh orang paling dingin, dan nyebelin sedunia!" pukulnya lagi di tengah-tengah isakan. Tak ada niatan untuk menghentikkan pukulan lemah Ganis, Wira hanya membiarkan Ganis melepaskan semua rasa rindu hari ini. Karena ia tau ini adalah bentuk kesalnya akibat menahan rindu, jika situasinya tidak sedang bertengkar, mungkin gadis ini sudah mengganggunya setiap menit untuk menyuruh Wira pulang.


"Aku tau, dan kamu sayang aku!" jawab Wira.


"Ngga usah kepedean, orang nyebelin kaya kamu tuh jangan banyak berharap!" dengusnya tapi lain di mulut lain di hati. Tangannya senantiasa melingkari badan Wira, ia bahkan mengelapkan air matanya ke kaos abu Wira.


"Denger ngga?!!" tanya Ganis dengan suara sesenggukan.


Wira terkekeh tanpa suara, mungkin ia akan mencatat ini dalam otaknya, si nona higienis rupanya tetap memiliki sisi jorok.


Ganis mendongak, "kenapa liat-liat? Ngga suka bajunya kupake buat lap air mata?" seperti biasa sikap angkuh Ganis menjadi benteng pertahanan paling depan untuk mempertahankan sikap gengsinya.


"Ngga apa-apa, aku belum mandi! Kamu juga kok, yang nantinya nyuci," sungguh menyebalkan jawaban si pangeran kegelapan ini.


...----------------...


Tangan papa dan Wira saling menjabat, kembali ia mengulang janjinya di depan papa Ganis, mama, Gemilang, ibu, Indi, penghulu dan saksi. Janji yang mengikat Ganis seumur hidupnya hingga maut memisahkan.


Kedua saksi mengangguk pelan, hingga ucapan syukur keluar dari mulut penghulu.


"Alhamdulillah,"


Ibu dan Indi sedang bersama mama di dalam, begitupun Gemilang dan papa.

__ADS_1


Ganis menatap penuh binar, bukan pada cincin yang melingkar di jari manisnya melainkan pada logam mulia dan sejumlah uang sebagai maharnya.


"Ini kalo Ganis gadein boleh ngga sih, buat beli tiket konser NCT di Jakarta?!" rupanya sejak tadi binar mata itu bukan karena memikirkan betapa sweetnya Wira.


"Gadein?" sebelah alisnya terangkat. Yang benar saja! Mahar yang susah-susah ia beli lantas mau digadein cuma buat beli tiket menonton boyband asal negri ginseng yang sedang datang ke Indonesia. Lebih baik ia kurung saja Ganis di dalam toples selai kacang kalau begitu. Jangankan mahar yang jadi jaminan, kalaupun Ganis membeli tiket dengan uangnya sendiri jangan pernah harap Wira akan mengijinkannya. Membayangkan Ganis yang bersorak-sorak liat cowok cantik sambil bernyanyi-nyanyi dan mengedip manja saja sudah membuat Wira meriang 7 hari 7 malam.


"Ga." Balasnya telak, tatapan Wira seperti melemparkan ancaman keras jika sampai Ganis melakukan itu.


"Tapi kan ini mahar dari bang Nat buat Ganis, ya terserah Ganis dong mau dipake apa, kan udah jadi milik Ganis!" debatnya mulai kembali ke mode galak, nyebelin, merengut kaya kismis yang udah kisut.


"Iya, emang punya kamu. Ya silahkan kalo kamu maksa, tapi aku pastikan mulai besoknya kamu ngga bisa liat lagi NCT-NCT itu lagi, walaupun cuma dalam bayangan kamu!" ancamnya.


"Cih, suami devil!"


"Udah biasa disebut gitu mah!" balas Wira.


"Kalo gitu Ganis mau ikut abang kerja! Ganis pengen liat konser yang digarap abang sama tim, serame apa sih konsernya, apa serame kerusuhan di Trisakti ?! Tiketnya masih ada kan?"


"Kamu mau ngapain disana, bukannya ngga suka sama konser metal, kata kamu kaya liat acara supranatural, pas mediatornya kerasukan?!" bila ingat kata-kata Ganis yang ini, Wira hanya bisa mencelos dalam hati ngga ngerti musik!


"Gabut aja! Pengen liat kaya apa konsernya, siapa tau bisa foto-foto sama artisnya!" Netra hitam itu menatap Ganis penuh selidik, mencari tau apa yang membuat Ganis mendadak ingin melihat konser aliran band yang tak ia sukai.


"Tapi disana bukan tempat kamu ay, maksudnya banyak anak-anak yang kamu tau sendiri gimana kan kalo konser band underground." Jelas Wira khawatir.


"Kan ada bang Nat," jawabnya simple. Memang tak akan ada ujungnya mengajak Ganis debat, daripada nantinya mereka kembali bertengkar, Wira mengiyakan saja.


"Tapi kamu harus nurut kata abang?!" Ganis mengangguk dengan wajah sumringah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2