Ketulusan Hati Suamiku

Ketulusan Hati Suamiku
Bab 25


__ADS_3

Hari ini kami menghabiskan waktu bersama disini, didanau buatan yang terlihat sangat apik dan juga sedikit sepi namun justru itu membuat siapa saja yang datang kesini merasakan ketenang


Sudah hampir seharian kami disini tak lain dan tak bukan yaitu untuk menemani annisa sejenak agar dirinya bisa kembali merasa tenang tanpa bayang-bayang yang menyakitkan itu


“gimana nis lo suka gak kesini ?” tanya devon “iya gue suka disini tenang gak banyak orang” jawab ku


“bagus deh kalau lo suka besok-besok kita kesini lagi ya” ucap mira “yee itu sih mau nya lo mir manatau annisa ogah kesini lagi” timpal bagas


“gue sih yakin nisa bakalan mau kesini lagi, iya gak nis ?” tanya mira padaku “iya gue mau” jawab ku


“kalau gitu ayo kita pulang besok kita akan kesini lagi, udah hampir senja gak baik kalau kita terlalu larut disini" ucap devon " yahh gak asik deh padahal gue kan masih pengen disini" eluh Mira "Lo disini aja mir gak apa-apa itung-itung jagain danau nya biar gak kabur haha" ucap Bagas


kamipun pergi dari tempat ini, kami mengantarkan annisa terlebih dahulu karena tidak memungkinkan jika harus membawa annisa kembali kekampus hanya sekedar mengantarkan devon dan juga bagas.


Kurang lebih dua puluh menit kami telah sampai dikontrakan annisa “lo beneran gak mau nginep tempat gue aja nis?” tanya mira untuk memastikan jika annisa benar-benar tak ingin menginap dirumah mira


“iya beneran aku ingin di kontrakan saja” ucap ku

__ADS_1


“baiklah kalau begitu masuklah lebih dulu dan hati-hati” ucap devon, akupun menganggukkan kepala ku dan bergegas turun dari mobil dan segera masuk kedalam kontrakan tanpa menunggu mobil itu melaju meninggalkan ku dihalaman kontrakan.


Kini sore berganti malam, aku membuat secangkir coklat panas untuk menemani ku bersantai di balkon kamar, setelah selesai membuatnya aku melangkahkan kakiku menuju balkon dan duduk di kursi yang hanya ada satu-satunya disana, ku sesap sedikit coklat yang tadi ku buat


Rasa rindu pada ayah, ibu, bang tama dan juga bayu membawa ku untuk meraih ponsel dan segara melakukan panggilan pada mereka


Tak menunggu lama panggilan video call itu diangkat oleh bang tama “assalamualaikum adeknya abang yang manis kangen ya sama abang” ucap bang tama saat menerima telpon dari ku


“waalaikumsalam bang iya nisa kangen, sama ayah, ibu dan bayu juga” ucap ku “tunggu sebentar sepertinya mereka ada diluar” bang tama membawa ponselnya menuju keluar dari ruangan dimana tadi dirinya berada


“waalaikumsalam sayang, kakak” ucap ayah, ibu dan bayu bebarengan “kalian sedang apa ?” tanyaku “sedang nonton tv”


Kamipun melakukan panggilan video call hingga pukul sepuluh malam


Setelah melakukan panggilan video call itu aku kembali menyesap coklat ku yang belum habis dan melihat taburan bintang yang begitu banyak dilangit


Semuanya terlihat cantik dan bercahaya malam ini

__ADS_1


tiba-tiba saja bayangan yang menyakitkan itu kembali muncul, tetesan air mataku, ku biarkan berjatuhan


Aku merasa takut kini, takut akan masa depan ku, takut akan kekecewaan orang tua ku, yang mungkin sampai saat ini belum tau keadaan ku yang sebenarnya atau mereka menutup-nutupinya dari ku, aku tak tau, aku merasa hina dan juga rendah dihadapan semua orang rasanya begitu menyakitkan dan semenjak kejadian itu aku tak pernah lagi berjumpa dengan ando, ari dan juga leo, meskipun aku tak ingin melihatnya tetapi terbesit pertanyaan di otak ku apakah mereka semua melarikan diri atau bagaimana ? apakah mereka takut jika sewaktu-waktu aku meminta pertanggung jawaban pada mereka sehingga mereka tak menampakkan diri ya dihadapan ku


Dan aku jadi teringat pada kak hasan, entah bagaimana bisa malam itu aku menelponnya dan meminta pertolongan padanya, sungguh itu semua tak ku sengaja aku hanya asal menelpon nomor urutan paling atas tanpa melihat nama pda nomor tersebut


Sudah dua minggu ini aku tak berhubungan lagi dengannya, aku merasa tak enak padanya sebab sehabis kejadian malam itu aku tinggal dirumah nya namun aku justru merasa takut padanya seolah-olah dirinyalah yang membuat ku begini


Bahkan aku tak mengucapkan terimakasih padanya padahal dirinya sudah menolong ku, aku tak tau bagaimana jadinya aku jika waktu itu kak hasan tak menolong ku


Ingin ku telpon dirinya tapi kulihat jam sudah pukul dua belas malam tak sopan rasa-rasanya jika aku menelponnya malam-malam begini lebih baik aku mendatangi nya besok pagi pikir ku


Malam yang sudah larut memaksa ku untuk segera masuk kedalam kamar dan merehatkan sejenak tubuh dan pikiran ku agar besok kembali fresh


namun tak tau kenapa sulit sekali rasanya untuk terpejam lalu aku mengscroll akun media sosial ku hingga entah pukul berapa aku baru bisa tertidur


🌹Hallo gays Mohon dukungannya ya dengan like komen dan juga vote novel saya biar tambah semangat lagi nulisnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2