
“maaf untuk apa tam? Kamu tak ada salah apa-apa sama aku” jawab kak hasan
“maaf san saat ini annisa belum bisa menjawab lamaran mu dan juga maaf karena keadaan keluarga ku sedang tak baik-baik saja, maka dari itu aku mohon pada mu san jangan memaksa annisa untuk segera menjawab lamaran mu waktu itu” jelas bang tama
“baiklah aku tak akan memaksanya untuk menjawab hal itu sekarang, tapi apa boleh aku bertemu dengan annisa tam ?” tanya kak hasan
“maaf san annisa tak ada disini” jawab bang tama singkat “bukankah kemarin kalian bilang akan pulang kesini, lalu sekarang kau bilang annisa tak ada disini lalu dirinya dimana tam ?” tanya kak hasan
“annisa sudah pergi, kemana perginya pun aku belum tau karena aku belum menerima kabar darinya” ucap bang tama
“hah pergi kenapa pergi ? apa ada sebenarnya ?” tanya kak hasan lagi
Mau tak mau bang tama menceritakan apa yang terjadi pada kak hasan, kak hasan merasa marah sekaligus sedih mendengar penjelasan bang tama
Bang tama yang duduk berhadapan dengan kak hasan itu, melihat ekspresi kak hasan dirinya juga melihat kalau kak hasan mengepalkan tangannya.
Kak hasan juga memaksa bang tama untuk bisa menemui kedua orang tua, dirinya ingin menjelaskan semua kejadian yang menimpa annisa. Mau tak mau demi kebaikan sang adik bang tama pun mengajak kak hasan masuk kedalam rumahnya dan bertemu dengan kedua orang tuanya.
Dirumah sakit kini annisa sudah dipindahkan di ruang rawat, dokter mengatakab jika annisa harus dirawat beberapa hari disini, mau tak mau seseorang yang tadi membawa annisa kerumah sakit harus menunggu nya
Sedangkan barang-barang annisa sudah dibawa anak buahnya kerumahnya yang berada dikota ini.
saat sedang menunggu annisa dirinya teringat pada sang istri dan juga asistennya, karena tadinya dirinya pergi ke kota ini ingin mengecek perusahaannya dan setelah itu langsung kembali ke Jogya, namun siapa sangka dirinya kini tak bisa kemana-mana karena harus menjaga annisa dirumah sakit
Seseorang itupun langsung menelpon sang istri agar tak khawatir, “assalamualaikum ma” ucap orang itu “waalaikumsalam pa ada apa ? apa terjadi masalah ?” tanya sang istri
“ma maaf papa tak bisa langsung pulang hari ini karena terjadi sesuatu pada putri kita” ucap nya lagi “putri kita ? putri kita siapa ? apakah yang papa maksud itu annisa ?” tanya sang istri
__ADS_1
“iya ma annisa, annisa harus dirawat dirumah sakit beberapa hari” jawabnya lagi “hah annisa kenapa pa, apa yang terjadi padanya, mama akan segera kesana ya pa” ucap sang istri
“baiklah ma kemarilah tapi jangan sendiri ajaklah devon” ucapnya “iya pa iya yasudah mama tutup dulu mama harus siap-siap” ucap sang istri
Ya laki-laki yang tadi menabrak dan membawa annisa kerumah sakit adalah papa dari devon, orang yang sudah menganggap annisa sebagai putrinya itu,
Selain melihat annisa yang mirip dengan mendiang putrinya, ia juga mengetahui jika sang anak menyukai gadis itu maka dari itu dirinya tak segan-segan untuk menganggap ataupun menerima annisa sebagai anaknya
Dirinya juga sudah tau masalalu pahit yang pernah terjadi pada annisa, dan keluarganya itu berusaha untuk menjaga annisa, bukannya merasa annisa membuatnya malu atau apa tapi justru mereka semakin menyayangi annisa dengan tulus.
Mereka tak menyalahkan annisa karena kejadian itu, mereka menganggap itu adalah kecelakaan yang disengaja oleh orang lain bukan annisa, mereka juga melihat semua video-video mengenai annisa pada saat kejadian yang berada di ponsel devon.
Sudah seharian penuh annisa tak kunjung memberikan kabar, hal ini membuat bang tama merasa khawatir dan harap-harap cemas pada sang adik, dirinya sudah berulang kali mencoba menghubungi nomor adiknya,
namun hasilnya nihil tak ada jawaban sama sekali, begitu pula dengan kak hasan yang terus menghubungi nomor annisa.
Sedangkan ditempat lain devon dan sang mama yang baru saja datang dari Jogya kini langsung menuju rumah sakit yang sebelumnya diberitahu oleh sang papa,
Kurang lebih dua puluh lima menit berlalu akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah sakit, sebelum turun mereka membayar taksi terlebih dahulu barulah setelah itu mereka menurunkan kaki dari taksi tersebut,
Devon dan mama nya langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar rawat annisa
“permisi sus saya mau bertanya kamar rawat annisa ada dimana ya ?” tanya mama devon pada salah satu resepsionis yang sedang berjaga itu.
“maaf ibu kalau boleh saya tau nama panjangnya siapa ya karena pasien atas nama annisa tidak hanya satu disini” ucap sang suster,
karena saking khawatirnya pada annisa mama devon sampai tak bisa mengontrol emosinya untuk bisa segera bertemu dengan perempuan yang dianggapnya sebagai anak itu.
__ADS_1
Lalu devon yang paham jika sang mama tak tahu nama panjang annisa lantas membuka suaranya “Annisa Chandni Laiba” ucap devon lalu sang suster itu kembali melihat kearah komputernya dan mencari-cari nama annisa
Tak butuh waktu lama untuk mencari nama annisa kini sang suster memberitahukan keberadaan annisa “nona annisa berada di ruang VVIP nomor 005 dilantai tiga mas, mas dan ibu bisa menggunakan lift khusus tamu VVIP sebelah sini” ucap sang suster
Setelah mengucapkan terimakasih pada sang suster kini devon dan sang mama mulai melangkahkan kakinya memasuki lift tak banyak perbincangan diantara ibu dan anak itu,
Mereka semua sama-sama merasa khawatir pada sosok annisa. Setelah sampai dilantai tiga lift pun secara otomatis terbuka devon dan sang mama langsung mencari kamar 005 seperti yang diberitahukan oleh suster tadi.
Dengan langkah gontai sang mama, kini mereka menemukan kamar itu tanpa mengucap salam ataupun permisi sang mama langsung membuka pintu kamar,
Netranya tak melihat ada annisa dan juga sang suami didalam ruangan itu, kebetulan ada seorang perawat laki-laki yang melintas didepan kamar itu dan langsung diberhentikan oleh devon
“maaf mas, pasien dikamar ini mana ya ?” tanya devon “maaf apa yang anda maksud adalah nona annisa ?” tanya perawat itu “iya betul” jawab devon
“nona annisa baru saja dilarikan ke ruang ICU karena tadi pasien mengalami kejang-kejang dan sesak napas” ucap perawat itu.
Entah mengapa hati devon dan juga sang mama semakin sedih mendengar itu, namun devon harus terlihat kuat saat ini, tak mungkin dirinya ikut menangis sama seperti mamanya.
Kini devon dan sang mama kembali turun menggunakan lift menuju lantai satu dimana ruang ICU itu berada.
Lima menit kemudian akhirnya mereka sampai diruang ICU setelah beberapa kali bertanya pada suster yang melintas,
Didepan ruangan ICU itu nampaklah sosok laki-laki paruh baya yang sedang duduk seraya menundukkan kepalanya entah karena lelah atau karena menahan kesedihan.
“pa” ucap devon setelah berada disamping papanya
🌹Jangan lupa like komen dan vote ya teman-teman
__ADS_1
🌹Maaf kalau masih banyak typo bertebaran
🌹Maaf juga nih kalau author sering lambat update karena lagi ada tugas negara yang gak bisa ditinggal 🤣🤭