Ketulusan Hati Suamiku

Ketulusan Hati Suamiku
Bab 48


__ADS_3

🌹 Selamat membaca jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian 😉


“hmm.. jujur annisa hanya menganggap kak hasan itu kakak bagi annisa sama seperti abang karena kak hasan pernah menolong annisa, annisa bimbang yah bu harus menerima atau menolak lamaran kak hasan, jika menerima tapi annisa tidak mencintainya lebih dari seorang kakak tapi jika menolaknya annisa juga tak enak hati sebab kak hasan pernah menolong annisa” ucap annisa tanpa ada yang ditutup-tutupinya dari kedua orang tuanya itu


“kalau ayah boleh tau si hasan itu menolong mu apa dan bagaimana ? sampai-sampai memberatkan mu jika menolak lamarannya ?” tanya ayah


Deg


Inilah yang ditakutkan oleh annisa, ayah ataupun ibunya akan menanyakan perihal ini yang itu artinya dirinya harus mengingat kembali kejadian menjijikan yang menimpanya itu, dirinya tak sanggup untuk menceritakan pada sang ayah ataupun sang ibu akan hal ini


Annisa menundukkan kepalanya, tanpa permisi kini air matanya menetes membasahi pipi putih nya itu, tentu saja hal itu membuat kedua orang tuanya tersentak kaget,


mereka berpikir apakah pertanyaan nya salah sampai-sampai annisa menangis tapi jika diingat-ingat taka da yang salah dari pertanyaan yang dilontarkannya itu.


“ayah, ibu maaf kalau tama ikut angkat bicara mengenai persoalan annisa kali ini, dan tama mohon apapun yang nantinya akan ayah maupun ibu dengar jangan marah pada annisa apalagi menghukumnya karena ini bukan kesalahan annisa tetapi kesalahan ini di perbuat oleh tiga manusia br*ngs*k” ucap bang tama kala menyadari annisa tak mungkin sanggup menceritakan ini kepada kedua orang tuanya.


Kedua orang tua paru baya itupun semakin dibuat bingung oleh kedua anaknya ini dan lagi kenapa tama seolah amat sangat marah,


“tak apa bicaralah” ucap sang ayah mencoba untuk tenang menghadapi kedua anaknya yang membuat dirinya bingung ini

__ADS_1


Setelah mendapatkan ijin sang ayah, bang tama membali memandang adiknya annisa digenggamnya erat tangan annisa seolah memberikan kekuatan melalui genggaman tangannya


“tenanglah biarkan abang yang bicara sama ayah dan ibu” ucap bang tama seraya menatap annisa setelah itu barulah diriya menceritakan kejadian dimana kak hasan datang untuk menolong annisa


“hufft.. maaf yah bu ini akan menyakitkan tapi percayalah putri kalian tidak berniat melakukan hal ini sama sekali ini adalah kecelakaan dalam hidupnya, pada waktu itu saat kita semua menghungi annisa selama beberapa hari tetapi annisa tak kunjung menjawab telepon maupun membalas pesan dari kita semua apakah ayah dan ibu mengingatnya dimana kita semua khawatir pada annisa dan tama pergi keluar kota dengan dalih dikirim perusahaan untuk meninjau pekerjaan yang ada disana?” tanya bang tama pada kedua orang tuanya, ayah dan ibu hanya menanggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan sang anak karena mereka berdua masih merasa bingung apa sebenarnya yang terjadi.


“waktu itu sebenarnya tama pergi ke Jogya untuk mengunjungi annisa, tanpa sengaja tak bilang pada ayah dan ibu karena tama tak ingin membuat ayah dan juga ibu merasa khawatir, sebelum tama pergi sebenarnya tama menelpon annisa tapi yang menjawab telpon tersebut bukanlah annisa, melainkan suara itu adalah suara seorang laki-laki dan laki-laki itu adalah hasan..” ucapan bang tama kembali terjeda


“awalnya tama merasa amat sangat marah dan menganggap jika annisa tak bisa menjaga kepercayaan kita semua dan melanggar nasihat ayah dan juga ibu, namun setelah sampai disana tama melihat annisa dengan keadaannya yang seperti bukan annisa adik tama..”


“tama mencoba bertanya pada hasan apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai annisa seperti ini, annisa tak mau bertemu dengan siapapun kecuali rere dan mira, rere adalah sahabat hasan yang juga ikut menolong annisa, annisa selalu ketakutan setiap kali melihat orang lain menjumpainya terlebih jika itu adalah laki-laki, saat pertama kali tama mendekati annisa kala itu, annisa terus memberontak annisa seakan tak mengingat siapa tama sebagai seorang abang tentunya hal ini membuat tama merasa sedih sekaligus sakit melihat kondisi annisa yang begitu histeris dan ketakutan namun tama tetap berusah mendekat dan memeluk annisa agar annisa bisa merasa tenang”


Tanpa sadar mereka semua meneteskan air mata dan annisa dari tadi menangis bahkan kini tangisannya itu semakin menjadi-jadi, bang tama yang merasakan tangan adiknya itu bergetar kini genggaman tangannya beralih memeluk pundak sang adik, tama kembali merasakan sakit sekaligus sedih melihat annisa.


Tetapi meskipun terkejut tama berusaha untuk tenang pasalnya ini bukan kali pertama annisa pingsan ketika kembali mendengar maupun mengingat masa lalu yang menyakitkan itu


Tanpa menunggu waktu lagi tama segera membopong tubuh annisa dan dibawanya kedalam kamar annisa


Didalam gendongan bang tama annisa masih terus menangis dang mengigau “jangan… jangan sentuh aku… pergi kalian” racau annisa tak beberapa lama annisa kembali meracau “tolong… tolong aku”

__ADS_1


Bang tama kembali meneteskan air matanya kala mendengar adiknya kembali meracau seperti itu, traumanya kembali kambuh, ada rasa sesal menceritakan hal ini dihadapannya tapi mau bagaimanapun orang tua mereka harus tau.


Lagi-lagi kedua orang paru baya itu terkejut kala mendengar racauan sang anak saat menginggau dalam pingsannya, mereka mulai menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah meletakkan annisa diatas tempat tidurnya kini tama beralih mencari tas annisa untuk mengambil obat yang memang tama suruh untuk selalu membawanya kemana saja.


Saat melihat tas annisa tergantung dibalik pintu tama bergegas mengambil tas tersebut dan mengambil obat tersebut, lalu diambilnya satu butir obat dan dimasukkan kedalam mulut annisa secara paksa karena annis tak sadar.


Setelah dirinya berhasil memasukan obat itu kedalam mulut sang adik, barulah annisa berhenti meracau dan perlahan-lahan mulai tenang dalam tidur nya


Kedua orang paru baya itu masih setia menunggu hal apalagi yang akan dijelaskan dengan bang tama, dengan melihat bang tama yang meraih obat lalu memasukkannya kedalam mulut annisa padahal annisa sedang tak sadarkan diri


Membuat pikiran kedua orang tua itu menjadi beraneka macam dan bercabang-cabang, dengan kebingungan yang meliputi hati nurani dan logika mereka


“tam sebenarnya annisa kenapa ? dan itu kenapa kamu memasukkan obat kedalam mulut adik mu dia kan lagi pingsan tak baik memasukkan obat kedalam mulut orang tak sadar” ucap sang ibu


Bang tama hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar “ bu, yah sebaiknya kita bicara diluar biarkan annisa istirahat” ucap bang tama mengajak kedua orang tuanya untuk keluar dari kamar sang adik


Mau tak mau karena rasa penasaran dan keingintahuan kedua orangtuanya mengikuti langkah kakinya menuju ruang keluarga

__ADS_1


Saat mereka semua ssudah duduk disana dengan saling berhadap-hadapan kini bang tama kembali menjelaskan pada kedua orang tuanya


“huuft.. sebenarnya ini yang tama takutkan…” ucap bang tama


__ADS_2