
Setelah mengakhiri panggilannya dengan bang tama kini devon kembali duduk di samping ranjang annisa,
Dirinya menggenggam tangan annisa, seraya berkata “bangunlah nis aku tak bisa melihat mu seperti ini, aku sangat menyayangimu” ucap devon lalu mencium punggung tangan annisa.
Dirinya juga membisikkan sesuatu di telinga annisa namun seperti biasa respon yang didapatkan hanya gerakan kecil dari jemarinya annisa.
Namun bagi devon itu suatu respon yang baik meskipun annisa belum sadar juga hingga saat ini.
Dan beberapa hari ini dirinya menimbang-nimbang apakah dirinya mengabari bang tama atau tidak, namun meningat kejadian dulu yang annisa merasa tenang saat ada bang tama.
Akhirnya dirinya memberitahukan bang tama setelah dirinya juga berdiskusi dengan orang tuanya. Devon berharap dengan kedatangan bang tama annisa bisa kembali sadar dan segera pulih.
Dua jam perjalanan bagi bang tama itu sangat-sangat lama seakan dirinya melakukan perjalanan empat jam. Namun demi sang adik tersayang dirinya akan melakukan apapun.
Setelah menunggu perjalanan yang lumayan lama itu akhirnya bang tama sampai dirumah sakit dimana annisa berada. Dirinya lekas turun dari taksi online setelah membayar.
Lalu ia menanyakan pada resepsionis dimana letak kamar VVIP rumah sakit tersebut. “permisi sus saya mau bertanya ruangan VVIP dimana ya ?” tanya bang tama
“ruang VVIP ada dilantai empat pak disana hanya ada satu kamar, apa perlu saya antar ?” tanya suster tersebut “tidak usah sus saya bisa kesana sendiri terimakasih” ucap bang lalu ia pergi meninggalkan meja resepsionis dan melenggang menuju lift yang akan membawanya keruangan annisa.
Yah semenjak kedatangan devon dan mama nya dan juga annisa yang sudah keluar dari ruangan ICU beberapa waktu lalu dirinya dipindahkan kerumah sakit ini agar tidak terlalu jauh jarak menuju rumahnya karena sang mama yang sering bolak-balik mengunjungi annisa.
Setelah sampai di lantai empat bang tama hanya melihat satu ruangan saja sepertihalnya yang dikatakan oleh suster dimeja resepsionis tadi.
Dirinya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki kamar itu, lalu terdengar jawaban dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.
Perlahan tapi pasti bang tama memutar handle pintu kamar itu setelag pintu terbuka dirinya masuk seraya membawa barang-barangnya.
“eh bang tama sudah sampai sini bang duduk dulu” sapa devon seraya berdiri dan menyalami bang tama. Bang tama melihat sang adik yang tertidur diatas ranjang rumah sakit semakin sedih melihatnya.
“bang duduklah dulu” ucap devon seya menepuk pundak bang tama, bang tama lalu mengikuti perintah devon.
__ADS_1
Dirinya duduk di sofa tepat disamping devon “dev apa yang terjadi pada annisa ?” tanya bang tama, tak kuasa dirinya melihat adik kesayangannya itu kembali terbaring diatas ranjang rumah sakit, tak terasa buliran bening lolos dari matanya begitu saja.
“menurut dokter annisa kondisinya baik-baik saja bang tapi..” ucap devon terjeda “tapi apa dev katakana tapi apa” ucap bang tama mendesak
“abang tenangkan dulu diri abang, traumanya annisa kambuh lagi bang tapi kali ini sepertinya ada ketakutan yang teramat sangat pada annisa maka dari itu dirinya tak kunjung membuka mata, dokter bilang kita tetap harus tenang supaya annisa bisa tenang dan rileks dengan begitu perlahan tapi pasti annisa akan membuka matanya” ucap devon panjang lebar
“sudah berapa lama annisa begini dev ?” tanya bang tama lagi, lagi-lagi devon menghembuskan nafasnya kasar sebelum menjawab pertanyaan bang tama dirinya teramat sangat takut jika bang tama salah paham padanya dan juga keluarganya.
“sebelumnya dev minta maaf karena dev tak memberitahukan hal ini sejak awal karena dev pikir biarkan keluarga abang dan annisa sama-sama tenang terlebih dahulu karena permasalahan ini” jawab devon
“annisa begini sudah satu minggu kak, waktu itu papa tak sengaja menabrak tubuh annisa di bandara” ucap devon “apa dibandara annisa mau kemana kenapa dia ada dibandara ?” tanya bang tama penasaran
“menurut papa waktu itu annisa akan kembali ke Jogya karena annisa memegang tiket tujuan Jogya” jawab devon
“makasih sudah jagain annisa, kalau boleh abang juga mau ketemu keluarga kamu buat ngucapin terimakasih karena kalian sudah jagain annisa” ucap bang tama seraya memeluk erat devon layaknya adik
“nanti sore pasti mereka kesini dan abang bisa bertemu dengan papa dan mama dev” ucap devon
Setelah mengatakan itu bang tama mencium kening annisa dan duduk disamping ranjang annisa.
Bang tama tak menyadari jika tangan annisa bergerak perlahan-lahan annisa mulai membuka matanya sontak saja itu membuat bang tama senang “Alhamdulillah dek akhirnya kamu sadar juga” ucap bang tama
Devon yang baru saja keluar dari kamar mendengar bang tama mengucap hamdalah langsung melangkahkan kakinya menuju ranjang annisa dan dirinya melihat annisa sudah membuka matanya.
“Alhamdulillah” ucap nya
Lalu devon memencet tombol untuk memanggil dokter dan beberapa menit kemudian beberapa orang tergopoh-gopoh masuk kedalam ruangan annisa, para dokter mengucap hamdalah bersamaan saat melihat annisa sudah sadar dari tidur panjangnya
Tadinya mereka berpikir jika terjadi sesuatu pada pasien VVIP nya itu ternyata dugaannya salah,
Salah satu dokter memeriksa keadaan annisa untuk memastikan jika kondisi annisa kini sudah benar-benar stabil.
__ADS_1
“Alhamdulillah tuan kondisi annisa sudah benar-benar stabil nona annisa hanya butuh istirahat yang cukup dan makan dengan teratur agar tubuhnya kembali vit dan juga seperti pesan saya yang kemarin tuan” ucap dokter tersebut
“baik dokter terimakasih” ucap devon “sama-sama tuan kalau begitu kami permisi dulu, jika ada apa-apa panggil saja kami” ucap dokter tersebut dan diangguki oleh devon
Bang tama mengerutkan keningnya saat mendengar dokter – dokter tadi menybut devon dengan sebutan tuan, tapi karena rasa bahagianya dirinya mengesampingkan rasa penasarannya itu,
Setelah memastikan kembali bahwa annisa baik-baik saja devon meraih ponselnya yang tadi ia letakkan diatas meja sofa, dirinya menelpon sang mama untuk memberitahukan jika annisa sudah sadar
“haus” ucap annisa seraya bang tama, bang tama yang mendengar jika diknya itu merasa haus lantas mengambil botol dan mengarahkan sedotan kearah bibir annisa agar sang adik mudah untuk minum
Setelah merasa cukup annisa melepaskan sedotan dari bibirnya, kini dirinya menatap bang tama lekat-lekat “kenapa hm kamu lapar ? tunggu abang belikan makanan dulu ya kamu disini sama devon jangan takut abang gak akan lama” ucap bang tama seraya beranjak dari duduknya
Namun belum saja dirinya melangkah tangannya dicekal oleh annisa, bang tama melihat kearah annisa, annisa yang merasa bang tama sudah memperhatikannya lalu menggelengkan kepalanya seraya berkata “takut.. peluk..”
Bang tama terkekeh medengar permintaan sang adik, karena tak ingin sang adik kecewa dirinyapun memeluk annisa dan mencium pucuk kepala annisa,
devon yang baru saja mendekat merasa terharu akan kedekatan annisa dan bang tama tak kuasa untuk tak meneteskan air matanya,
bang tama melihat kearah devon yang meneteskan air matanya pun dibuatnya bertanya-tanya “kamu kenapa apa kamu mau abang peluk juga ?” tanya bang tama pada devon
“apa boleh ?” tanya devon dengan antusias seakan-akan dirinya dibebaskan untuk membeli mainan layaknya anak kecil
“kemarilah abang akan peluk kalian berdua sepuasnya, dengan senang hati devon langsung melangkah kearah bang tama, alhasil mereka bertiga saling berpelukan dengn posisi bang tama yang berada di tengah-tengah
Saat sedang menikmati pelukan mereka dibuat tertawa oleh ucapan annisa “apa kita sudah seperti teletubis ?” tanya annisa
Sontak saja hal itu membuat bang tama dan devon tergelak “belum, tapi sebentar lagi kita akan seperti teletubis” ucap devon
“kalian memang adik-adik abang yang luar biasa, kalian harus saling menjaga” ucap bang tama
🌹Jangan lupa tinggalkan like komen dan vote nya yakk sayang sayangnya author 😘
__ADS_1