
Tepat pukul empat sore saat bang tama dan annisa duduk-duduk dihalaman depan datanglah devon, mira dan juga bagas. Mereka datang bersamaan menggunakan mobil mira.
“akhirnya kalian datang jugaa” ucap annisa pada ketiga sahabatnya, annisa langung memeluk mira sedangkan devon dan bagas hanya menggelengkan kepalanya, kemudian mereka melangkah menuju ketempat dimana bang tama duduk.
“assalamualaikum bang” ucap devon dan bagas hampir bersamaan “waalaikumsalam sini duduk” jawab bang tama “abang beneran mau balik sama annisa malam ini ? kenapa gak besok aja ?” tanya bagas pada bang tama
Bang tama menghembuskan nafasnya kasar barulah dirinya menjawab pertanyaan bagas “lebih cepat lebih baik bukan ? annisa hanya diberi waktu tiga hari oleh hasan untuk menjawab lamarannya kemarin karena annisa ragu dan abang pikir jika lebih baik annisa meminta pendapat sama ayah sama ibu yang pastinya akan tau mana baiknya, jadilah malam ini kita putuskan untuk kembali, karena bagaimanapun juga rasanya gak enak kalau bahas masalah begini hanya lewat telepon” jelas bang tama panjang lebar
Devon dan bagas menganggukkan kepalanya tanda mengerti, “bang kalau boleh tau kenapa annisa ragu bukankah kak hasan itu orang yang baik ?” tanya devon yang merasa penasaran
“annisa bilang sama abang kalau dia gak ada rasa sama hasan, annisa hanya menganggap hasan sebagai kakak, tidak lebih. Tapi mau menolak, annisa juga gak enak karena hasan pernah menolong dia saat kejadian itu, makannya dia bingung, abang sudah berulang kali bilang sama dia kalau dia gak mau jangan dipaksakan” jelas bang tama lagi
Dalam hati devon merasa sedikit menghangat karena annisa ragu untuk menerima lamaran kak hasan tetapi itu tidak menghilangkan rasa takutnya kehilangan annisa karena annisa sendiri belum menjawab lamaran kak hasan.
Bagas yang menyadari sikap devon lantas mengalihkan pembicaraan mereka agar devon tak lagi kepikiran.
Setelah aksi peluk-pelukan, annisa mengajak mira masuk kedapur untuk membuatkan minum setelah itu barulah mereka bergabung dengan ketiga laki-laki yang sedang bercengkrama dihalaman depan itu.
“seru banget kayanya kalian lagi pada bahas apa ?” tanya mira
“ada deh kepo aja” ucap bagas sambil tersenyum jahil “issh jadi sekarang kalian gini main sembunyi-sembunyian sama kita” ucap mira seraya menatap kesal pada tiga laki-laki dihadapannya
“siapa yang main sembunyi-sembunyian orang kita lagi duduk bercerita disini dari tadi” ucap devon
“healah anak bekantan, bukan itu maksud gue dodol” ucap mira seraya menepuk dahinya karena merasa kesal karena ucapan devon barusan
__ADS_1
Mereka yang ada disanapun dibuat tertawa oleh ucapan mira yang menyamakan devon dengan dodol dan raut wajahnya yang begitu kesal
“hahaha.. bener juga kata lo dev” ucap bagas lagi dan hanya diangguki kepala saja oleh devon
Lalu mereka semua meminum minuman yang tadi dibawa oleh annisa, “ahh segarnya seperti tertimbun salju dingin-dingin mengenakkan” ucap bagas
“alay banget dasar fergusso” uap devon
“suka-suka gue mulut-mulut gue juga sirik aja” ucap bagas “dih siapa juga yang sirik sama fergusso kaya lo gini” ucap devon tak mau kalah
“dilihat dari mana aja gue lebih unggul dari pada lo dodol” ucap bagas lagi “iya jika dilihat dari ujung monas” ucap devon, annisa, mira dan bang tama serempak
Bagas yang merasa diserang dengan orang-orang disekitarnya pun kembali berargumen sehingga membuat yang lainnya tertawa lepas.
Karena waktu sudah hampir magrib kini mereka semua melangkahkan kakinya masuk kedalam penginapan untuk menunaikan kewajibannya, setelah itu barulah mereka akan pergi ke bandara.
Annisa dan devon sudah selesai melaksanakan kewajibannya yaitu sholat magrib, kini mereka kembali duduk di sofa diruangan biasanya mereka berkumpul.
Sedangkan bang tama sholat dikamar nya sekalian mempersiapkan diri katanya, mira memilih sholat dikamar annisa agar lebih cepat dan bagas pun melaksanakan sholat diruangan yang memang dikhususkan untuk sholat itu.
Saat-saat menunggu ketiga orang itu menyelesaikan kewajibannya, tiba-tiba devon mengeluarkan sebuah benda berbentuk lingkaran yang dipenuhi dengan aksesoris bunga lalu dirinya menyerahkan itu pada annisa.
“beb ini ada kenang-kenangan dari gue anggap aja ini sebagai tanda persahabatan kita, gue berharap persahabatan kita akan tetap terjalin meskipun lo jauh” ucap devon seraya menyerahkan benda bulat itu kearah annisa.
Annisa yang melihat devon menyerahkan sesuatu padanya mengambil benda tersebut karena tak enak jika dirinya menolak pemberian sahabatnya,
__ADS_1
“kenapa lo repot banget sih dev, kemarin kan lo sudah beliin gue boneka yang super jumbo itu sampe-sampe gue bingung mau bawanya gimana” ucap annisa terkekeh, karena menurut nya devon sedikit berlebihan tapi, entahlah dirinya selalu menerima semua pemberian devon dengan senang hati.
“hhsst, boneka kemarin itu hadiah buat lo karena lo berhasil jadi mahasiswa terbaik di kampus kalau ini tanda persahabatan kita” ucap devon karena tak ingin annisa berpikir jika dirinya selalu merepotkan devon
“hmm yaa.. ya.. bapak komandan terimakasih banyak ya buat semua pemberian mu dev, maaf aku gak bisa kasih barang apapun ke lo, lo tau sendirikan gimana nasib gue” ucap annisa memandang devon lesu
“hey yang minta lo kasih kenang-kenangan siapa, santai aja lagian gue juga senang ngasih ini semua ke lo, tapi kalau lo mau bales pemberian gue boleh sih tapi jangan baranglah..” ucap devon menggantung
“dasar laki-laki tadi katanya gak minta balesan atas pemberiannya sekarang minta huh” ucap annisa seraya membuat raut wajahnya itu kesal padahal dalam hatinya dirinya hanya ingin mengerjai devon
“yaudah si kalau lo gak mau bales gue juga gak masalah yang penting lo mau pake pemberian gue itu dan gak lo lepas apapun keadaannya” ucap devon
“dihh kaya cewe aja lo gitu aja ngambek, iya gue mau balas lo tapi gimana caranya kalau lo nya aja gak minta dikasih barang” ucap annisa seraya menatap kearah devon dengan intens
“peluk gue sebelum lo pergi mumpung gak ada yang lainnya” ucap devon sambil tersenyum tipis
“dasar pedofil itusih maunya lo guenya ogah” ucap annisa seraya memalingkan pandangannya dari devon
“hahahaha… dasar cengeng serius amat, amat aja gak serius” ucap devon sambil tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai balik annisa.
“oh jadi lo ngerjain gue ya dasar pedofil” ucap annisa seraya memukul-mukul lengan devon menggunakan bantal sofa karena merasa kesal telah dikerjai oleh devon
“hahahaha….” Devon yang dipukuli lengannya itu tidak merasakan sakit sama sekali, justru hal itu semakin membuatnya tertawa karena raut wajah annisa yang begitu kesal dan bagi devon itu hal yang lucu nan menggemaskan.
“gue cuma mau minta kita foto berdua kalau lo mau bales dan gak keberatan sama keinginan gue” ucap devon setelah berhenti tertawa karena perutnya terasa kram
__ADS_1
“kalau foto gue gak keberatan ayo kita foto sebanyak yang lo mau” ucap annisa “hah lo serius mau ?” tanya devon meyakinkan ucapan annisa “seribu rius buat lo pedofil” ucap annisa yang meresa gereget dengan ekspresi devon.
🌹Jangan lupa like komen dan vote nya teman-teman