Ketulusan Hati Suamiku

Ketulusan Hati Suamiku
Bab 57


__ADS_3

Hallo teman - teman maaf ya karena beberapa hari kemarin author gak bisa buat update bab terbarunya dikarenakan ada hal lain yang harus author kerjakan dengan segera.


~


Setelah menunggu kurang lebih enam menitan seorang psikolog yang tadi diucapkan oleh sang dokter pun datang.


“permisi..” ucapnya seraya membuka pintu ruang VVIP itu, lalu dirinya masuk kedalam menemui rekan dan juga tuan pemilik rumah sakit ini


“maaf tuan ada yang bisa saya bantu ?” tanya seorang psikolog itu saat tiba dihadapan rekan dan juga tuannya


“duduklah dulu mba” ucap mama seraya menujuk kearah sofa yang kosong, lalu seorang psikolog itupun duduk menuruti perintah tuannya


“jadi begini mba, saya merasa adik saya itu seperti tidak mengenali orang lain dan merasakan sangat ketakutan padahal dirinya sudah mengenal papa dan mama dan itu terlihat dari gerakannya, seperti tadi saat mama akan menyuapinya makan, adik saya itu semakin kuat memeluk saya seolah-olah ketakutan ” ucap bang tama menjelaskan hal yang sama seperti yang tadi ia utarakan pada dokter


“maaf tuan jika saya lancang, apakah tuan adalah orang terdekat dari nona annisa ?” tanyanya “iya saya kakaknya” jawab bang tama sedangkan yang lainnya hanya menyimak saja pembicaraan antara dua orang itu


“sekali lagi saya minta maaf tuan apa saya boleh tau apa yang terjadi pada nona annisa sebelumnya, saya tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga tuan saya hanya ingin memastikan jika apa yang saya katakan nanti tidak salah” ucap psikolog itu


Lalu bang tama menjelaskan semuanya yang terjadi pada keluarganya, sampai akhirnya annisa keluar dari rumah, kedua orang tua devon dibuat melongo karena cerita bang tama sekaligus tak menyangka pada kedua orang tua annisa, dan selebihnya papanya devon yang menjelaskan, bagaimana sampai annisa masuk kerumah sakit, karena setelah kepergian annisa waktu itu, bang tama tak mengetahui lagi apa yang terjadi pada annisa


Setelah mendengarkan semua penjelasan dari tuannya, psikolog itupun bisa memahami apa yang terjadi pada nona annisa itu, dirinya pun mejelaskan kepada tuannya apa yang sedang dialami oleh annisa


“jadi begini tuan, nyonya, trauma nona annisa saat ini kembali kambuh dan sejak dulu ada rasa ketakutan-ketakutan yang nona annisa pendam seorang diri, dan pada saat kejadian itu terjadi rasa takut itu semakin menjadi dalam diri nona annisa begitu pula dengan rasa traumanya,


sehingga hal itu menyelimuti nona annisa dan alam bawah sadarnya yang membuat nya seolah tak mengenali siapapun, namun tuan dan nyonya tak perlu khawatir karena setidaknya ada pihak yang bisa nona annisa kenali dan membuatnya tenang,

__ADS_1


tetaplah membuat nona annisa merasa tenang dan nyaman serta merasa dilindungi maka nona annisa akan kembali mengingat orang-orang yang ada disekitarnya dan jangan membuat nona annisa merasa terintimidasi atau hal lain yang membuat nona annisa tak nyaman, selebihnya nona annisa hanya perlu istirahat yang cukup dan buatlah nona annisa merasa gembira” tutur psikolog tersebut


setelah menjelaskan secara detail kondisi annisa psikolog dan juga dokter tersebut pamit undur diri dari ruangan itu karena tak ada lagi pekerjaan yang mereka lakukan disana.


Setelah kepergian kedua orang itu kini sang papa kembali bertanya pada bang tama, pertanyaan itu sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin tanyakan, tetapi ia urungkan niatnya karena milhat annisa tadi yang tak ingin lepas darinya.


“tama maaf papa ingin bertanya padamu, kenapa kamu membawa barang sebanyak ini kemari ?” tanya papa mendengarkan pertanyaan sang papa bang tama menundukkan kepalanya lesu


Dirinya bingung harus apa tapi juga tak enak jika tak memberitahukan soal ini pada orang tua di sampingnya itu “katakanlah jangan merasa sungkan aku ini papa mu” ucap papa


“tama keluar dari rumah pa” ucap bang tama lesu “apa kamu keluar dari rumah tapi kenapa ?” tanya sang mama kali ini


Lalu dirinya menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dari dirinya dipecat hingga ia keluar dari rumah hanya demi mencari annisa dan juga kecewa pada kedua orang tuanya


“jangan sedih tinggallah dirumah papa dan bekerjalah diperusahaan papa membantu papa dan devon” ucap sang papa


“terimakasih pa tama tak tau harus bicara apa pada papa hanya terimakasih yang bisa tama ucapkan karena papa sudah banyak membantu tama dan annisa” ucap bang tama


Sang papa terkekeh mendengar penuturan bang tama, “sudah-sudah kamu cukup jadi anak papa dan mama yang penurut, berbakti dan bersedia menjadi abangnya devon” ucap sang papa melerai pelukannya


“terimakasih pa tama juga sudah lama menganggap devon sebagai adik tama” ucap bang tama


Saat sedang berbincang-bincang kini ponselnya bordering menandakan panggilan masuk, dirogohnya saku celanya untuk mengambil ponselnya, tertera nama bayu pada layar ponselnya


Tak ingin sang adik menunggu lama jawaban darinya iapun meberima panggilan video call itu “hallo boy” ucap bang tama “abang bagaimana apa kak annisa sudah ketemu ? bagaimana kabar nya bayu rindu bang sama kak annisa” ucap bayu dari sebrang telpon

__ADS_1


“Alhamdulillah boy, kak annisa sudah bertemu dia baik-baik saja tapi sekarang sedang tidur jadi gak bisa ngobrol sama kamu” jawab bang tama


“oh iya bagaimana ayah sama ibu ?” tanya bang tama “biasalah seperti kemarin bahkan keberadaan bayu seperti tak dianggap keluarga ini sudah berubah bang” keluh bayu pada bang tama


“bang rasanya bayu ingin bersama abang sama kak nisa aja, boleh ya bang” ucap bayu lagi memelas pada abangnya itu


Setelah bertelponan dengan bayu, bang tama tak lantas mengiyakan permintaan adik laki-lakinya itu, dirinya harus menimbang-nimbang terlebih dahulu untuk mengiyakan permintaan adiknya


Dirinya bingung harus mengiyakan permintaan adiknya atau tidak, tapi jika dirinya mengiyakan permintaan adiknya tentu saja hal itu akan membuat kedua orang tuanya semakin marah, namun jika tak diiyakan dirinya juga bingung siapa yang akan memantau kedua orang tuanya dirumah jika tak ada bayu.


Percakapan nya tadi ditelpon tentu saja didengar oleh devon dan juga orang tua barunya namun sepertinya mereka juga memikirkan apa yang terbaik untuk adiknya yang satu itu.


Saat sedang melamun memikirkan permintaan bayu samar-samar mereka mendengar isakan tangis yang membuyarkan lamunan mereka,


Mereka semua kompak beranjak dari sofa dan melangkah menuju ranjang annisa, benar seperti dugaan mereka jika annisalah menangis,


Bang tama dengan sigap mendekati annisa dan memeluk tubuhnya dan juga mengusap – usap punggung annisa agar dirinya tenang, namun sepertinya annisa sangat ketakutan sampai-sampai dirinya tak kunjung tenang


“annisa ini abang sudah jangan nangis ada abang yang jagain kamu disini” ucap bang tama pelan


Semua yang ada disana dibuat iba melihat kondisi annisa yang sekarang, mereka tak menyangka jika annisa akan kembali seperti ini, sama persis pada saat kejadian itu dan dirinya tak bisa lepas dari bang tama meskipun hanya sebentar saja.


🌹Jangan lupa untuk terus dukung novel ini dengan cara like komen dan juga vote ya teman-teman


dukungan kalian begitu berarti untuk author

__ADS_1


__ADS_2