Ketulusan Hati Suamiku

Ketulusan Hati Suamiku
Bab 50


__ADS_3

“ini bang..” ucap bayu sesaat setelah dirinya sampai diruang tengah “ah iya makasih bocill sekarang tolong ambilkan piring ya lima sama sendoknya jangan lupa” ucap bang tama menyuruh bayu sang adik


Bayupun menuruti perintah abangnya itu, tak butuh waktu lama untuk mengambilkan piring dan juga sendok yang dipinta abangnya


Lalu bang tama meletakkan satu bungkus makanan di masing-masing piring, lalu ia menyuruh bayu makan dan setelah itu masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat


“ini kamu makan dulu habis itu masuk kekamar dan istirahatlah, abang mau kekamr kak annisa dulu dan mengantarkan makanan untuk ayah dan ibu” ucap bang tama “ia bang” jawab bayu singat padat dan jelas


Setelah meyuruh adiknya makan kini tama membawa empat piring berisikan makanan itu menggunakan nampan, dirinya mengantarkan makanan ke kamar kedua orang tuanya terlebih dahulu


“tokk..tokk ayah ibu bukalah pintunya tama membawakan kalian makanan, kalian harus menjaga kesehatan kalian” ucap bang tama dari arah luar lalu tak lama kemudian keluarlah sang ibu dengan raut wajah yang sedih


“makanlah bu nanti setelah selesai makan tama akan kemari lagi” ucap bang tama seraya menyerahkan dua piring yang dibawanya tadi


Setelah memberikan makanan pada kedua orang tuanya kini tama beralih kekamar annisa


“dek sudah dong nangisnya makan dulu dari siang kamu belum makan nanti kamu sakit lagi” ucap bang tama seraya menyodorkan piring pada sang adik


“gak bang nisa gak lapar lebih baik abang aja yang makan” jawab annisa menolak permintaan abangnya


Bang tama yang mendengar penolakan sang adikpun lantas meletakkan salah satu piring dimeja nakas lalu dirinya membuka bungkusan yang ada dipiring yang ia pegang,


“ayo makan abang gak mau kamu sakit biar abang suapin” ucap bang tama, dirinya tau saat ini adiknya itu butuh dukungan dan pastinya adiknya itu tak akan makan jika dalam situasi seperti ini, kecuali jika dipaksa

__ADS_1


Mau tak mau annisa membuka mulutnya untuk menerima suapan dari bang tama, annisa tak banyak makan hanya empat sendok, bang tama mencoba untuk memaksanya lagi tapi annisa menolak dan mengatakan jika dirinya sudah kenyang


Mau tak mau bang tama menghentikan aksinya itu, paling tidak annisa sudah makan meskipun sedikit pikirnya lalu ia menghabiskan makanan sisa annisa dan kemudian beranjak keluar dari kamar annisa menuju dapur untuk meletakkan piring kotor lalu barulah ia kekamar kedua orang tuanya.


“tok..tok yah bu ini tama” ucap bang tama dari arah luar kamar kedua orang tuanya “masuklah” terdengar suara sang ayah dari dalam kamar.


Perlahan bang tama memutar handle pintu kamar kedua orang tuanya lalu ia melihat kedua orang tuanya sedang duduk di pinggir ranjang dan terlihat disana masih ada bungkusan utuh yang tadi ia berikan pada sang ibu.


“yah bu makanlah tama mohon jangan seperti ini nanti kalian sakit” ucap bang tama “tidak makanpun kami sudah sakit tam” sarkas sang ayah


Bang tama melihat sorot mata kedua orang tuanya, ada kemarahan dan kekecewaan disana namun ada juga kesedihan didalamnya


“yah bu tama mohon ini jangan seperti ini, annisa itu butuh dukungan kita, kejadian yang menimpanya itu bukan kesengajaannya yah” ucap bang tama pelan-pelan


“yah bukan seperti itu keadaannya, annisa itu selalu menjaga keperacayaan kita annisa selalu mengingat dan menjalankan nasihat ayah tapi apa yang terjadi padanya itu bukan kehendaknya yah..” ucap bang tama lagi mncoba menjelaskan pada dua orang tuanya.


Sang ibu yang melihat perdebatan antara suami dan anaknya hanya bisa diam dan menangis dirinya bingung harus melakukan apa disatu sisi dirinya kecewa tetapi disatu sisi lainnya dirinya menyadari jika semua itu atas kehendak tuhan.


“kamu tau apa tama!! Tau apa ? bertahun-tahun dirinya ada dikota orang tanpa ada kita apa yang kamu tau sama apa yang dilakukannya dibelakang kita” ucap sang ayah


“yah meskipun tama tidak selalu ada disampingnya tapi tama tau jika annisa tak melakukan hal itu, sahabat-sahabat annisa juga menceritakan semuanya pada tama” ucap bang tama yang masih bersikekeuh membela sang adik


“hah sahabat bisa saja dia menuyuruh sahabatnya untuk membohongi kamu, sudahlah dari pada kamu terus membelanya yang bersalah lebih baik kamu kembali kekamar mu” ucap sang ayah mengusir bang tama dari kamar nya

__ADS_1


“baiklah yah jika itu mau ayah, tapi tama yakin seartus persen jika tak ada kebohongan dengan apa yang tama dengar dan ucapkan pada ayah dan ibu, dan sebaiknya ayah dan ibu memikirkan ucapan ini” ucap bang tama seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu


Keesokan harinya pagi-pagi sekali tama mendengar suara gaduh, dirinya mendengarkan betul-betul asal suara itu, saat menyadari jika suara gaduh itu berasal dari kamar annisa yang terletak disebelah kamarnya diriny beranjak dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar annisa


Namun saat dirinya baru saja membuka pintu, dirinya dibuat terkejut dengan barang-barang annisa yang kemarin dibawanya sudah berada diluar kamar sang adik.


Lantas dirinya melangkahkan kakinya cepat menuju kamar sang adik dirinya khawatir annisa akan melakukan hal yang menyakiti dirinya sendiri, namun saat dirinya baru saja sampai di depan pintudirinya lagi-lagi dibuat terkejut oleh ucapan sang ayah


“lebih baik kamu pergi dari sini dari pada membuat kami malu akan kelakuan mu, sekarang bawa semua barang-barang mu dan tinggalkan kami dan juga rumah ini kamu bukan lagi annisa anakku, sebab anak ku tak mungkin membuat ku malu” ucap sang ayah dengan sedikit teriak


“ayah apa yang ayah katakan sudah berapa kali tama bilang ini bukanlah kesalahan annisa ini hanya kecelakaan, apa ayah sudah pikirkan hal ini baik-baik sebelum ayah mengucapkan kata-kata pedas itu pada annisa” ucap bang tama dengan sedikit berteriak karena dirinya tak menyangka ayahnya akan melakukan hal itu


Kedua orang tuanya yang amat sangat dibanggakan oleh anak-anaknya, memafkan kesalahan anak-anaknya dan menasihati anak-anaknya untuk melakukan hal-hal yang baik, lemah lembut dan penuh perhatian serta kasih sayang


Tapi kini membuat anak-anaknya kecewa hilang semua rasa bangganya pada sang ayah maupun ibunya


“berhenti membelanya tama dirinya sudah membuat ayah malu dan kehilangan muka, dan satu lagi untuk permasalahan lamaran mu itu terserah mu karena itu bukan urusan ayah lagi” ucap sang ayah


“bu kenapa ibu diam saja kenapa ibu tak membela annisa sedikit saja bukankah ibu yang lebih mengetahui annisa ? bukankah annisa anak yang lahir dari rahim ibu ? kenapa ibu diam saja” tanya bang tama pada ibunya


“berhenti menyalahkan istri ku tama, semua keputusan ada ditangan ku dan tak ada seorangpun yang berhak mencampurinya termasuk dirimu karena disini akulah kepala rumah tangganya” sarkas sang ayah


🌹Mohon dukungannya readerss like komen dan vote nya ya jangan lupa ❤️

__ADS_1


__ADS_2