
Satu minggu sudah berlangsung kini annisa belum juga sadar, devon dan kedua orang tuanya silih berganti menjaga annisa seolah – olah annisa bagian dari keluarga mereka.
Dan itu juga yang membuat bang tama serta yang lainnya mencari keberadaan annisa namun hasilnya sama saja. Annisa bak ditelan bumi, jejak nya tak diketahui oleh siapapun, ponselnya juga tak aktif.
Di tengah-tengah kebingungannya mencari keberadaan annisa, bang tama yang baru saja ijin dari perkerjaannya dan kini kembali ijin, dirinya mau tak mau harus menerima konsekuensinya yaitu di pecat dari tempatnya bekerja karena terlalu banyak ijin. Namun dirinya sama sekali tak perduli akan hal itu.
Hari-harinya terus digunakan untuk mencari keberadaan sang adik, dirinya begitu khawatir akan kondisi adiknya itu dan disisi lain dirinya menyesal karena membiarkan annisa pergi seorang diri.
Seharusnya dirinya ikut bersama annisa menghiburnya, mensuportnya dan melindunginya, namun apalah daya penyesalan selalu datang terakhiran.
Pagi ini seperti biasa bang tama kembali mencari annisa saat baru saja keluar dari kamar, ibunya mengajak bang tama untuk sarapan bersama ayah dan juga adiknya yang sudah menunggu di meja makan.
Namun, bang tama enggan untuk bergabung dengan mereka, ucapan ibunya ia acuhkan begitu saja, tak peduli bagaimana reaksi ibunya dirinya tetap melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Karena bayu dan juga ayahnya merasa ibunya terlalu lama memanggil abangnya akhirnya bayu memutuskan untuk menyusul ibunya, namun saat baru saja keluar dari dapur bayu melihat bang tama yang melangkah melewatinya begitu saja.
Dengan sigap dirinya meraih pergelangan bang tama, bang tama yang merasa tangannya digenggam seseorang pun menghentikan langkahnya dan melihat kebelakang
“bang makanlah dulu, nanti kita cari kak annisa sama-sama, bayu juga rindu sama kak annisa” ucap bayu “kamu kan hari ini sekolah jangan bolos hanya untuk mencari kak annisa biarkan abang aja yang mencarinya dan kamu tetap sekolah” ucap bang tama setelah itu ia berlalu meninggalkan bayu.
Sejak dua hari kepergian annisa dan keadaan keluarganya yang seolah berbeda, bayu memberanikan diri untuk bertanya pada kedua orang tuanya, namun orang tuanya itu enggan menjawab pertanyaan bayu.
Akhirnya bayu menanyakan pada bang tama meskipun awalnya bang tama tak mau memberitahukan pada bayu, namun karena bayu meyakinkan bang tama dan mengatakan jika dirinya berhak tau apa yang sedang terjadi pada keluarganya, mau tak mau bang tama memberitahukan semuanya.
Belum sempat dirinya sampai dipintu kini terdengar suara ayahnya yang menggelegar “begitukah cara seorang anak menghormati orang tuanya, pergi tanpa pamit dan pulang selalu larut malam, kau pikir rumah ini tempat penampungan” ucap sang ayah
__ADS_1
Sontak saja hal itu membuat bang tama menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, tanpa rasa takut dirinya menimpali ucapan sang ayah bukan maksudnya untuk durhaka,
Namun kali ini ayahnya itu benar-benar keterlaluan dalam bersikap. “lalu mau ayah apa ? atau ayah mau mengusir tama juga seperti ayah mengusir annisa yang tak bersalah ?” tanya bang tama
Plakkk
Sebuah tamparan berhasil menyentuh pipi bang tama, tapi hal itu sama sekali tak membuat nyali bang tama menciut dan merasakan sakit. Dirinya tersenyum sinis melihat kearah kedua orang tuanya.
“Tak bisakah dirimu sopan santun sedikit pada ayah mu, orang yang sudah membuat keluarga nya malu memang seharusnya keluar dari rumah ini bukan ? jika kau juga ingin pergi dari rumah ini pergilah ayah tak akan melarang mu tapi satu yang bisa kau pastikan kau bukan lagi anak ayah sama seperti anak itu” ucap sang ayah.
Bang tama yang mendengar ucapan ayahnya sungguh tak percaya, apakah benar yang ada dihadapan nya saat ini adalah ayahnya, bahkan dirinya tak mengenali sosok ayahnya itu.
Tidak jauh beda dengan bang tama yang merasa tak mengenali ayahnya, bayupun sama hal nya seperti bang tama tak mengenali sosok ayahnya yang dikenal pemaaf, penyayang dan penuh kasih.
Bahkan dirinya juga membawa semua barang annisa yang masih tertinggal dirumah itu karena dirinya tak rela jika suatu saat ayah nya itu akan membuang barang-barang sang adik.
Kini dikamar annisa tak terdapat lagi barang-barangnya karena semua sudah dikemasi oleh bang tama, sedangkan dikamar bang tama hanya ada beberapa lembar baju yang jarang dipakainya.
Memang tak banyak barang yang dimilikinya jadi memudahkan dirinya untuk membawa barangnya pergi dari rumah itu.
Setelah semuanya rapi kini bang tama kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah. Ditengah-tengah langkahnya lagi-lagi dirinya dihentikan oleh sang ibu yang sudah menangis sejak tadi
“tama jangan pergi nak, jangan pergi jangan tinggalkan ibu” ucap sang ibu “biarkan tama pergi bu tama akan mencari annisa lagipula disini ada ayah dan bayu yang akan menemani ibu” ucap bang tama
“apa maksud mu mencari annisa bukankah annisa selalu menghubungi mu ?” tanya sang ibu karena merasa bingung kenapa annisa harus dicari sedangkan dirinya selalu memberi kabar pada tama itu yang dirinya pikirkan.
__ADS_1
“apakah ibu tidak tau sejak ayah dan ibu mengusir kak annisa dan saat itu pula kak annisa hilang kabar, apakah ayah dan ibu sebagai orang tua tak merasakan khawatir pada kak annisa, bukankah kak annisa itu perempuan sama halnya seperti ibu, bukankah ibu lebih mengetahui kak annisa karena ibu yang lebih dekat dengan kak annisa”
Itu bukanlah suara bang tama, tetapi kini bayulah yang mengucapkan pertanyaan-pertanyaan itu, ibunya serasa menyesal membiarkan anak perempuannya pergi tapi dirinya tak bisa membantah ucapan suaminya.
Setelah itu bang tama benar-benar pergi meninggalkan rumah, dirinya hanya berpesan pada bayu untuk tetap menjadi anak yang baik bagi kedua orang tuanya.
Sudah setengah hari dirinya mencari keberadaan annisa namun dirinya tak kunjung menemukan annisa.
Saat dirinya sedang meneliti jalanan ponselnya berdering dilihatnya ada panggilan dari devon tak menunggu lama dirinya langsung memencet tombol hijau dilayar ponselnya
“assalamualaikum dev, apa ada kabar tentang annisa ?” tanya bang tama
“waalaikumsalam bang, iya aku menelpon abang karena ingin memberitahu keberadaan annisa tapi sebelumnya dev minta untuk abang tidak memberitahukan kepada siapapun hal ini” ucap devon dari seberang telpon
“iya abang janji tidak memberitahukan kepada siapa pun, sekarang annisa dimana dev, bisakah abang bicara padanya ?” tanya bang tama lagi
“maaf bang annisa belum bisa bicara sama abang sebaiknya abang sekarang kerumah sakit Barraq Hospital” jawab devon
“baiklah abang segera kesana kebetulan abang tau rumah sakit itu”
Setelah mengakhiri telpon dari devon kini bang tama meminta supir untuk mengantarkan kerumah sakit yang tadi telah diberitahukan oleh devon
Disepanjang perjalanan bang tama bertanya-tanya dalam hatinya apa yang terjadi pada annisa kenapa sampai dirumah sakit, lalu kenapa annisa bersama devon bukankah devon berada di Jogya dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dibenaknya.
🌹 Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian berupa like, komen dan vote nya yaaa ❤️
__ADS_1