
Pria paruh baya itupun mendongakkan kepalanya tatkala merasa ada seseorang yang memanggilnya, netranya melihat keberadaan sang istri dan juga putranya disana.
“pa bagaimana keadaan anak kita kenapa sampai masuk di ICU pa ?” tanya sang istri atau mama devon itu,
“papa masih belum tau ma dokter belum keluar kita tunggu saja dokter keluar” ucap sang papa, terlihat wajahnya begitu lesu
“pa apa yang terjadi dan bagaimana bisa papa bertemu annisa ?” tanya devon pada sang papa, mendengar pertanyaan anaknya itu lantas membuat pria paruh baya itupun menceritakan awal kejadiannya.
Flashback on
Dengan langkah gontai dan kepala yang mulai pusing, terus ku langkahkan kaki ku masuk kedalam bandara mungkin ini yang terbaik pikir ku, ku tundukan kepala ku sepanjang aku melangkah, aku tak ingin orang lain melihat kearah aku dan berpikiran yang macam-macam sebab aku menangis dan mataku yang membengkak. Namun tanpa sengaja aku menabrak seorang bapak-bapak, karena kepala ku yang pusing aku tak bisa menjaga keseimbangan ku dan akhirnya badan ku limbung kebelakang dan akhirnya aku jatuh pingsan
Flashback off
“apa papa sudah menghubungi keluarganya annisa ?” tanya devon lagi “belum dev tapi sebaiknya kita jangan dulu menghubunginya papa merasa ada yang janggal” ucap sang papa “sebaiknya jangan dulu beritahu siapapun keberadaan annisa biarkan kita yang menjaganya terlebih dahulu” ucap sang papa lagi
Setelah mengucap itu barulah dirinya menenangkan sang istri yang sejak tadi menangis “ma tenang lah jangan menangis lagi kita berdoa saja semoga annisa baik-baik saja” ucapnya
“tapi pa, mama… mama takut kehilangan annisa sama seperti dulu mama kehilangan dinda pa.. mama gak mau kehilangan anak mama lagi” ucap sang istri
Disela-sela tangisan sang mama ponsel devon bergetar dilihatnya ada notifikasi masuk, dirinya membuka pesan grub dari sabahatnya itu
“lo pada dikabarin sama annisa gak ?” isi pesan dari bagas dalam grup
“gak kenapa memangnya ?” balas mira, sedangkan devon hanya menyimak pembicaraan kedua sahabatnya itu
__ADS_1
“tadi kak hasan nelpon gue tadi dia bilang annisa diusir dari rumahnya dan sampai sekarang gak tau dia kemana karena nomornya juga gak bisa dihubungi” bagas
“whattt, kok bisa kenapa bisa diusir lo seriusan” balas mira lagi “iya gue serius awalnya gue juga gak percaya terus gue nelpon bang tama buat nanyai bener gak ternyata bang tama bilang iya bener annisa diusir dari rumahnya” bagas
“duhh kemana lagi tuh anak, udah malem gini gue takut kenapa – napa sama tuh anak” balas mira
“emangnya kenapa annisa sampai diusir” kini giliran devon bertanya karena merasa penasaran kenapa annisa sampai-sampai diusir oleh kedua orang tuanya
“setahu gue nih ya, tadi kak hasan bilang karena orang tua annisa udah tau kejadian yang dia di******* sama anak-anak ********” jawab bagas
Setelah mengetahui hal itu kini devon kembali mematikan ponselnya dan memasukkannya kedalam saku jaketnya.
Benar kata papanya, jika lebih baik tidak dulu menghubungi keluarganya annisa agar annisa bisa merasa tenang begitu pula dengan keluarganya yang sedang dilingkari emosi.
Tapi seharusnya orang tua annisa tak marah dan sampai mengusir annisa begitu saja, bukankah annisa anak yang baik-baik dan juga kejadian itu bukan keinginannya,
Sudah kurang lebih dua jam mereka semua menunggu di depan ruang ICU tapi belum juga ada tanda-tanda dokter keluar,
Karena hari sudah semakin larut malam devon meminta kedua orang tuanya itu untuk kembali kekamar dimana annisa di rawat.
“ma pa sebaiknya mama sama papa istirahat dulu dikamar rawat biar devon yang menjaga annisa disini mama sama papa pasti lelah” ucaap devon pada kedua orang tuanya
“lebih baik kamu saja sama papa yang istirahat biarkan mama disini menunggu annisa” ucap sang mama
“ma devon gak mau mama sama papa ikutan sakit karena gak istirahat, apa mama mau nantinya annisa merasa sedih dan menyesal karena mama sama papa sakit setelah menjaganya dirumah sakit” ucap devon lagi
__ADS_1
“ma benar apa yang dikatakan dev, lebih baik kita istirahat dikamar rawat nanti kita bisa bergantian menjaganya” ucap sang papa
Mau tak mau wanita itupun menurut pada suaminya, kini dua orang paruh baya telah melangkah pergi meninggalakan devon seorang diri depan ruang ICU.
Empat jam telah berlalu kini dokter satu persatu keluar dari ruangan ICU itu “dokter bagaimana keadaan annisa sahabat saya ?” tanya devon pada para dokter itu “Alhamdulillah kondisinya sudah membaik mungkin besok pagi jika kondisinya stabil bisa dipindahkan ke ruang rawat” jawab sang dokter
“dokter maaf kalau boleh tau sebenarnya apa yang terjadi pada sahabat saya ?” tanya devon “maaf apakah keluarganya tidak ada ?” tanya dokter karena tak mau jika kondisi pasiennya didengar oleh orang yang tidak tepat.
“saat ini keluarganya tidak ada dok, jadi kalau boleh dokter jelaskan pada saya biar nanti saya sampaikan pada keluarganya” ucap devon berusaha meyakinkan dokter untuk memberitahukan kondisi annisa yang sebenarnya.
“baiklah mari ikut keruangan saya” ucap sang dokter lalu melangkah mendahului devon
Mau tak mau devon meninggalkan annisa berada diruang ICU, kini dirinya melangkah mengekori dokter hingga masuk kedalam ruangannya
“silahkan duduk tuan” ucap sang dokter seraya mengarahkan devon untuk duduk di kursi yang ada dihadapannya,
Setelah devon duduk terlihat dokter itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum menjelaskan kondisi annisa
“penyakit tifus nona annisa kambuh mungkin karena nona annisa terlalu kelelahan atau banyak pikiran serta asam lambungnya kambuh sehingga membuat nona annisa tadi pagi pingsan, namun sepertinya nona annisa mengalami trauma yang cukup hebat sehingga membuat dirinya kejang-kejang dan enggan untuk membuka matanya. Saya tidak tau apakah sebelumnya nona annisa pernah mengalami kejadian yang membuat dirinya trauma ?” ucap sang dokter
“benar dokter beberapa tahun yang lalu annisa mengalami kejadian yang membuatnya trauma bahkan kami mendatangkan seorang psikolog untuk menyembuhkannya, dan setelah itu annisa mulai membaik hanya sesekali saja dirinya kembali seperti orang yang lepas kendali ataupun pingsan” ucap devon
“mungkin saja ada yang mengingatkan kembali kejadian itu dan membuatnya kembali merasa hancur sehingga kini diri nona annisa kembali trauma dan merasa ketakutan serta kecemasan yang berlebih” jawab sang dokter
“kita tunggu saja sampai nona annisa sadar dan bagaimana kondisinya jika kondisi nona annisa tak stabil maka kita juga akan mengarahkan seorang psikolog demi kesembuhannya” ucap sang dokter.
__ADS_1
Setelah medengarkan penjelasan sang dokter dan meminta ijin untuk masuk kedalam ruang ICU menemui annisa yang belum juga sadarkan diri, kini devon melangkah meninggalkan ruangan dokter dan kembali menuju ruang ICU.
🌹Jangan lupa like dan komen nya sayang-sayang nya aku 😘