
Disaat sedang berpelukan tiba-tiba pintu terbuka “eh..” ucap mama devon karena melihat anaknya dan kakaknya annisa serta annisa berpelukan “ada apa ini kenapa kalian saling berpelukan ?” tanya papa devon
Annisa yang mendengar ucapan itu merubah raut wajahnya menjadi sedih entah karena takut atau apa dan hal itu disadari oleh bang tama, papa dan mama devon.
Karena melihat raut wajah annisa yang sedih dan seakan merasa takut akhirnya papa devon kembali bersuara, “kalau mau pelukan ajak mama dan papa dong, kan kita juga mau dipeluk iya gak ma ?” tanya papa devon pada sang istri meminta persetujuan
“iya bener kita kan mau dipeluk juga” ucap mama devon seraya berjalan menuju ketiga orang yang sedang berpelukan itu, annisa mendongakkan kepalanya melihat kearah mama dan papanya devon
Dirinya tak menyangka jika kedua orang tua itu juga ingin dipeluk. Akhirnya mereka berlima berpelukan.
Setelah cukup lama berpelukan akhirnya mama dari devon itu melepaskan rangkulannya
“sudah sekarang kita makan dulu ini mama bawakan makan untuk kita semua, mama juga bawakan bubur ayam kesukaan annisa” ucap mama devon
Akhirnya mereka semuapun melepaskan rangkulannya kecuali annisa dan bang tama karena annisa tak mau lepas dari bang tama
Bang tama merasa heran pada adiknya itu karena annisa bersikap aneh, apa dirinya terlampaui takut sampai-sampai tak mau lepas darinya, tetapi perasaan itu ia tepiskan begitu saja mungkin itu hanya perasaannya saja pikirnya.
Setelah menata makanan di atas meja sofa kini mama devon membawakan semangkuk bubur ayam niat hati ingin menyuapi annisa
“tam sana makan dulu bersama papa dan devon, annisa biar makan sama mama” ucapnya
Namun keadaannya tidak seperti yang ia mau, annisa semakin erat memeluk bang tama, annisa seolah ketakutan dan tak kenal siapa yang ada dihadapannya sekarang
Karena merasa tak enak pada mamanya devon bang tama mengambil mangkuk berisikan bubur ayam itu dari tangan mamanya devon
__ADS_1
“tante biar tama aja yang suapin annisa lebih baik tante makan saja” ucap bang tama sopan tak ingin membuat mamanya devon itu kecewa
Melihat pergerakan annisa tadi membuat sedih hatinya namun dirinya mengingat apa yang terjadi pada annisa akhirnya dirinya menyerahkan mangkuk itu pada bang tama kemudian kembali ke sofa.
“ini makan dulu biar kamu cepat sembuh” ucap bang tama sambil menyuapkan bubur pada annisa, annisapun memakan bubur itu tapi tidak banyak hanya lima sendok dan dirinya mengeluh jika sudah kenyang
Mau tak mau bang tama menyudahi aksinya menyuapi annisa kini dirinya meminta annisa meminum obatnya agar lekas pulih
Annisa menurut sama apa yang dikatakan oleh bang tama, dirinya pun meminum obat yang berupa sirup itu masih dengan memeluk bang tama,
setelah menyuapi annisa dan meminumkan obat kini tangan bang tama mengusap-usap punggung annisa agar annisa merasa tenang dan sesekali bang tama mencium pucuk kepala annisa penuh dengan rasa sayang.
Perlahan-lahan annisa merasakan ngantuk menyerangnya dan akhirnya dirinya tertidur dipelukan bang tama, sedangkan bang tama yang menyadari annisa sudah tertidur kini dirinya membiarkan sejenak annisa tidur didalam pelukannya setelah itu barulah dirinya memposisikan tubuh annisa agar tertidur dengan nyaman diatas ranjangnya.
“tante.. saya minta maaf soal tadi bukan bermaksud tak mengijinkan tante untuk menyuapi annisa tapi.. annisanya begitu erat memeluk saya seolah ketakutan” ucap bang tama tak enak hati
“hustt.. santai saja gak apa-apa tadi mama lihat sendiri kok bagaimana annisa” jawabnya “oh iya panggil kami mama dan papa okey” ucap mamanya devon lagi
“apa itu tak berlebihan tante om ?” tanya bang tama “annisa sudah kami anngap seperti anak kami sendiri tam jadi kamupun juga sudah kami anggap anak sendiri, maka dari itu panggilah kami papa dan mama, kami sungguh senang jika kamu dan annisa bisa menganggap kami seperti orang tua kalian, meskipun kalian tak lahir dari rahim istriku” ucap papa devon
Mendengar penuturan papanya devon membuat bang tama merasa sedih bercampur bahagia, disaat dirinya dan annisa tak lagi dianggap anak oleh kedua orang tuanya kini ada orang yang justru menganggap mereka adalah anaknya, sungguh dirinya tak tau harus berkata apa.
Bang tama langsung memeluk papanya devon disusul oleh mamanya dan juga devon, dalam pelukannya tama mengucapkan terimakasih berkali-kali karena kedua orang tua itu telah sudi menganggap mereka sebagai anaknya.
Setelah selesai berpelukan bang tama mengutarakan niatnya untuk bertemu pada dokter yang menangani annisa karena dirinya merasa ada yang berbeda pada annisa
__ADS_1
“hmm.. pa ma tama mau keluar sebentar bertemu dengan dokter yang menangani annisa ada yang ingin tama tanyakan pada dokter” ucap bang tama
“ada apa tam, apa ada yang terjadi pada annisa ?” tanya mamanya devon yang saat ini juga sudah menjadi mamanya
“hmm itu ma tama merasa annisa seperti tak mengenali mama dan papa meskipun tadi kita sempat berpelukan bersama-sama tapi tama merasakan betul jika annisa ketakutan, maaf ma pa” ucap bang tama tak enak
“kamu duduk saja disini, makanlah dulu biar papa suruh dokter kemari” ucap sang papa “hm biarkan saja tama yang mendatangi dokter pa, rasanya tak sopan jika tama yang butuh malah dokter yang kemari” ucap bang tama lagi
“sudah kamu makan saja, gak apa-apa” ucap sang papa, mau tak maupun bang tama menurut saja dengan apa yang dikatakan orang tua dihadapannya ini
Dirinya tak ingin melawan ataupun membantah karena dirinya tak enak hati sudah ditolong tapi masih saja tak tau terimakasih
Sesuai perkataan sang papa kini dokter itu datang setelah bang tama sudah makan. “permisi tuan apa terjadi sesuatu ?” tanya sang dokter saat sudah memasuki ruangan itu
“duduklah dokter, tidak ada yang terjadi hanya saja anak saya ingin bertanya pada dokter” ucap papa, mendengar perintah tuannya untuk duduk akhirnya dirinyapun mendudukkan dirinya di sofa tepat dihadapan keempat orang tuannya
Keberadaan sofa itu sedikit jauh dari ranjang annisa sehingga tak membuat annisa terganggu dalam istirahatnya, hal itu juga membuat mereka lebih tenang bercengkrama tanpa takut mengganggu istirahat pasien
“jadi begini dokter, saya merasa adik saya itu seperti tidak mengenali orang lain dan merasakan sangat ketakutan padahal dirinya sudah mengenal papa dan mama dan itu terlihat dari gerakannya, seperti tadi saat mama akan menyuapinya makan, adik saya itu semakin kuat memeluk saya seolah-olah ketakutan ” ucap bang tama mengungkapkan perasaannya
“hm.. maaf tuan untuk hal itu saya tidak berhak menjelaskannya karena bukan ranah saya tapi tuan tidak perlu khawatir karena ada rekan saya yang bisa menjelaskan hal ini pada anda, rekan saya ini adalah psikolog yang sejak awal ikut memantau perkembangan nona annisa, tunggu sebentar tuan saya akan menghubungi rekan saya itu” ucap sang dokter
🌹Haii haii haiiii para pembaca ku tersayang 😘 maaf ya malam ini up nya lambat 🙏 dikarenakan orang rumah lagi pada sakit,
semoga kalian selalu diberikan kesehatan ya 😘
__ADS_1