
"Jadi seperti itulah ceritanya,"
Arion mengakhiri pembicaraannya, saat ini dia baru saja selesai menceritakan awal mula dirinya tidak mengingat apa pun di dalam hidupnya.
Arion hanya menceritakan bagian saat dirinya tersadar dari komanya. Tatapan pria berkucir kecil itu menatap kosong ke arah tembok- saat Cia kembali mengusap punggungnya.
Cia dan Bunda Marwah kembali menyendu, rasa haru sedih, dan bahagia bercampur jadi satu. Mereka bahagia, karena ternyata Arion masih hidup dan kembali- walaupun pria muda ini tidak mengingat mereka semua.
"Tidak apa apa, ingat secara perlahan. Jangan di paksakan, kami bersyukur kamu masih hidup Nak," suara bijaksana Alkan, membuat Arion mendongak.
Ada rasa malu dan tidak enak, saat dia kembali mengingat sikap arogannya- saat mereka membahas masalah lahan dan bangunan panti, yang diinginkan olehnya.
"Om, saya minta maaf soal yang kemarin. Maaf kalau sikap saya waktu itu sangat tidak sopan," ujar tulus Arion.
Kedua netranya menatap memohon pada Alkan. Arion menghela napas lega, saat melihat pria setengah baya itu mengangguk pelan.
"Tidak apa apa," sahutnya pelan.
Sementara Cia dan Bunda Marwah terlihat bingung dan saling lirik. Mereka belum mengerti apa yang tengah di bicarakan oleh Arion dan Alkan.
"Kalian udah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Cia menyelidik.
Kedua mata abu abunya menatap bergantian pada Alkan dan Arion. Disaat Arion mengangguk, Alkan malah mengedikan bahunya tak acuh.
"Mas Al kenapa enggak ngomong sama Ci-,"
"Arion adalah orang yang memaksa untuk membeli lahan dan bangunan panti,"
"APA?!" pekik Cia dan Bunda Marwah.
__ADS_1
Kedua wanita beda usia itu menatap horor pada Arion. Tatapan Cia dan Bunda Marwah membuat nyali Arion ciut, pria muda itu menaik turunkan jakunnya karena gugup. Arion harus siap dengan segala kemungkinan. Kemungkinan satu, dia akan di usir secara terhormat dari rumah ini- atau mungkin akan mendapatkan jambakan.
"Arion? dasar anak nakal!"
Cia memekik, dengan brutal wanita berhijab itu menjewer salah satu telinga Arion. Shaka yang sedari tadi terdiam, kini tertawa kencang saat melihat sahabat kecilnya merasakan bagaimana pedasnya jeweran serta cubitan Sang Bunda.
Sementara Alkan, bapak penghulu berlesung pipi itu menggelengkan kepalanya pelan. Dia sudah tidak aneh dengan kelakuan nyeleneh istrinya, walaupun begitu Alkan terlihat menipiskan senyumannya.
Dia bersyukur Arion mau kembali pada Nenek Imma. Semoga anak muda itu bisa membahagiakan wanita sepuh itu.
Sedangkan diambang pintu, Aisya menatap dalam pada Arion yang tengah dianiaya oleh Sang Bunda. Secercah senyum mengembang di kedua sudut bibirnya. Dia berdoa, semoga Arion kembali bisa mengingat mereka semua- terutama dirinya.
🌾🌾🌾
"Aku pulang dulu ya, Tan-,"
"Kamu enggak lupa ingatan kan, gara gara kejedot pintu kamar mandi tadi?" sambungnya.
Arion tersenyum kikuk, pria itu menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal. Ingatannya kembali saat dia dan Aisya tidak sengaja bertambrakan di dapur, alhasil dahi Arion menabrak pintu kamar mandi- untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan.
"Iya Bunda, Nek, Aku pulang dulu- Assalamualaikum,"
"Waalaikumsallam," sahut Cia dan Bunda Marwah.
Sementara Aisya, gadis itu menatap Arion dari balik pintu. Gara gara kejadian di dapur tadi, dia merasa malu saat berhadapan dengan Arion. Karena tadi, kalau saja Arion tidak menghindar langsung- mungkin dahi atau bibir keduanya bisa bertemu dengan tidak sengaja.
Aisya mengigit bibirnya gemas, dia memutuskan untuk pergi dari sana- dan kembali kedalam rumah.
__ADS_1
Sedangkan di area luar rumah, Arion terlihat memindai seluruh tempat yang dia lewati. Ada rasa tidak asing di hatinya, namun Arion sama sekali tidak dapat mengingatnya.
"Hei kamu?!"
Langkah Arion terhenti, saat mendengar seorang pria berseru ke padanya. Dahi Arion berkerut, kala melihat pria berjaket jeans turun dari motor besar dan terlihat mendekat kearahnya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
Arion bersikap seramah mungkin, dia warga baru di pemukiman ini- jadi menjaga atitude adalah salah satunya.
Greep!
Pria itu meraih kerah kemeja Arion dengan kasar, bahkan wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat.
"Habis ngapain kamu dari rumah calon istriku?" tanyanya sok jagoan.
Calon istri? batin Arion.
Pria berkucir itu memyunggingkan senyuman tipis, perlahan dia melepaskan cekalan sang pria asing. Bahkan dengan angkuh, Arion menepuk bagian yang di cengkram oleh sang pria, seolah tengah membesihkan noda disana.
"Maaf, itu bukan urusan anda." sahut Arion abai.
"Kalau mau lebih jelas, datangi langsung kerumah itu- lalu tanyakan apa yang saya lakukan disana. Jangan hanya beraninya membegal di tengah jalan seperti ini, jadilah pria gantle- permisi." sambungnya.
Arion tidak lagi memperdulikan, dia lebih memilih menghindar dari pada harus berurusan dengan pria yang belum pernah dia kenal sebelumnya. Namun satu hal yang Arion yakini, kalau pria itu adalah salah satu orang yang menyukai Aisya.
Salah satu tangan Arion terkepal, entah kenapa dia tidak suka saat dirinya berpikiran seperti itu tentang Aisya.
__ADS_1
AIS OTHOR MAU MANCING DI EMPANGNYA DONG HEHEHE