
Arion menghela napas perlahan, sebelum dia membuka pintu garasi. Tangannya bergerak ragu, saat dia akan meraih handle pintu. Kilasan masa lalu kembali terlintas, membuat kepalanya berdenyut sakit- namun Arion sekuat tenaga menahannya.
"Bang, ini hape nya keting- Bang Rimba kenapa?"
Aisya segera berlari ke arah suaminya, saat melihat Rimba hampir limbung. Gadis berhijab itu sekuat tenaga menahan tubuh Arion agar tidak tersungkur kelantai semen.
"Ais kan udah bilang, jangan di paksa." omel Aisya.
Kedua tangannya menangkub kepala Arion, memberikan sedikit pijatan kecil- berharap kalau rasa sakit yang tengah di rasakan Arion sedikit berkurang.
"Abang mau ngapain ke garasi? kan mobilnya udah ada di depan," ocehnya lagi.
Kedua matanya menatap khawatir pada Arion. Pria berkemeja abu abu tua itu masih memejamkan kedua mata, namun Aisya dapat melihat kalau Arion tersenyum tipis padanya.
"Tidak apa apa, kamu jangan khawatir. Cuma pusing sedikit, tadi rencananya Abang mau pakai motor. Kata Nenek motor Abang ada di dalam sini,"
Arion bangkit di bantu oleh Aisya, satu tangannya berpegangan pada dinding- agar Aisya tidak terlalu berat menahan tubuhnya.
"Besok aja ya pakai motornya. Bang Rimba pakai mobil aja dulu, ayo!," Aisya memapah Arion menjauh dari garasi.
Gadis itu membawa suaminya menuju halaman rumah, membawa pria berkucir satu itu menuju mobil Strada hitam, lalu membuka pintu mobil agar Arion bisa masuk.
"Ais mau ngambil minum dulu, Abang tunggu disini!"
__ADS_1
Tanpa mau menunggu jawaban Arion, Aisya berlari kecil menuju teras rumah. Menuangkan air putih untuk suaminya, dan kembali berlari menuju mobil.
"Kalau masih pusing, jangan nyetir ya. Nanti biar Ais yang antar Bang Rimba pakai motor, Ais juga mau ke rumah panti- jalan kita satu arah kan?"
Arion yang tengah minum mendongak, dahinya masih berkerut dalam- tapi tidak urung Arion akhirnya mengangguk pelan. Saat ini kepalanya memang terasa berdenyut, kalau dipaksa kan mungkin saja bisa membuat dia menabrak sesuatu nantinya.
"Ya udah, Ais mau ambil motor dulu di rumah Ayah. Abang tunggu disini, jangan kemana mana!"
Aisya segera berlari kecil meninggalkan Arion didalam mobil menuju rumah orang tuanya. Gadis itu tidak mengetahui kalau saat dia berlari kecil, Arion tersenyum tipis melihatnya.
Entah kenapa Arion merasa senang saat melihat istrinya khawatir. Dia merasa kalau tidak sendirian di dunia ini. Tidak lagi merasa kosong dan hampa, setelah dia bertemu dengan orang orang dari masa lalunya.
🌴🌴🌴
Saat ini dia dan Arion sudah sampai di area perkebunan kelapa. Perkebunan yang menjadi mas kawin mereka berdua, tapi sepertinya Aisya belum mengetahui kebenarannya. Bahkan tanpa diketahui oleh siapa pun, Arion tengah mengubah nama kepemilikan Perkebunan Kelapa dan beberapa hektar persawahan yang menjadi hak Aisya.
"Kalau kamu repot, nanti Abang saja yang pulang. Abang bisa minta antar Pak Aslam atau pegawai disini,"
Aisya menggeleng pelan, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Dia meyakinkan Arion kalau dirinya akan baik baik saja. Tidak mempermasalahkan akan lelah atau tidak, bagi Aisya saat dia melihat Arion baik baik saja- itu menjadi kekuatan untuknya.
Dia akan senang hati mengantarkan makan siang untuk sang suami. Bahkan rasanya Aisya tidak mau cepat pulang, saat melihat pemandangan indah di depannya.
Jejeran pohon kelapa yang begitu rapi membuat gadis itu takjub. Aisya mendongak, ingin melihat buah kelapa yang masih menggantung diatas sana.
__ADS_1
"Bang?" panggilnya pelan.
Arion menaikan sebelah alisnya saat mendengar panggilan Aisya. Dahi pria muda itu berkerut saat melihat Aisya menatap ragu padanya.
"Apa?"
Kedua mata Aisya bergerak ragu, namun rasanya dia ingin sekali mengatakan keinginannya saat ini juga.
"Apa Ai?" tanya Arion lembut.
Aisya berdehem pelan, lalu menatap suaminya penuh harap.
"Nanti siang Ais mau kelapa muda, Bang Rimba ambilin ya," pintanya sederhana.
**SAWAH AIS 😂😂😂😂😂
HOLLA MET MALAM EPRIBADEH
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU BABAYY MUUUAACCHH**