
Tangisan Aisya terdengar kembali, saat Shaka menceritakan semua informasi yang dia dapat. Arion yang saat ini tengah menjadi tempat sandaran sang istri, hanya bisa menenangkan Aisya seadannya.
Arion menepuk dan mengusap lembut punggung Aisya. Bahkan Arion dengan sabar menenangkan wanitanya, dengan cara membisikan kata kata lembut.
"Rumi pasti pulang kan, Bang?" pertanyaan itu kembali Aisya ucapkan.
Dia belum rela kalau harus kehilangan sang sahabat. Walaupun Harumi dan dirinya baru mengenal saat SMP, tapi Harumi dan dirinya begitu dekat. Padahal kalau dibandingkan dengan teman teman Aisya yang lain, Harumi adalah orang yang baru beberapa tahun dikenalnya.
Contohnya Salmafina,
Gadis yang berusia 20 tahun itu, sudah Aisya kenal sejak kecil- tapi kedekatan dia dan Salma tidak seperti saat bersama Harumi. Bagi Aisya, waktu bukan segalanya. Biar pun kita mengenal seseorang dalam waktu yang lama, belum tentu orang yang kita kenal itu bisa mengenal diri kita juga.
"Kita doakan, semoga teman kamu dan Pak Aslam juga istrinya- bisa selamat tidak kurang apa pun," ujar Arion menenangkan.
🌴🌴🌴
Cia terus saja mengetuk pintu kamar Arshaka, sejak kepulangannya dari bandara tadi- putra sulungnya itu sama sekali tidak ingin keluar, sampai saat ini.
__ADS_1
"Bang! buka pintunya, Ayah mau bicara sama kamu!" Cia yang memang tidak sabaran, semakin tersulut rasa kesal- saat Shaka tidak kunjung menyahut.
Sedangkan Alkan, Pak Penghulu berlesung pipi itu terlihat memijat ujung pangkal hidungnya, sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Cimut sudah, nanti suara kamu habis gara gara teriak terus. Biarin Shaka dulu, ayo kita lihat perkembangan beritanya,"
Cia menghela napas pelan, dengan tidak rela Cia mengangguk- lalu meraih lengan suaminya untuk dia gandeng.
Sedangkan di dalam kamar sana, Arshaka terlihat tengah menenggelamkan wajahnya di bantal- tubuhnya membungkuk dengan tidak nyaman. Bahu pria itu terlihat bergetar, bahkan isakan kecil mulai terdengar.
"Maafin, aku enggak bermaksud nyuruh kamu pergi Rumi. Aku bakalan tarik semua ucapanku, tapi aku mohon kamu pulang," lirih Shaka.
"Rumi, pulang Rumi- Abang cuma bercanda nyuruh kamu pergi. Kamu juga boleh peluk Abang, sampai kamu mabok juga gak apa apa," Shaka terus saja berceloteh panjang, bahkan dia mengabaikan ponselnya yang terus saja berdering.
"Harumi binti Aslam Subagiyo, pulang! Abang mau ketemu sama kamu!" sambungnya lagi.
Shaka benar benar sudah terlihat seperti orang depresi, dia berceloteh memohon hingga meminta maaf, pada orang yang sama sekali tidak ada disana. Bahkan Shaka sendiri tidak tahu, dimana orang yang dia maksud berada sekarang.
__ADS_1
"Harumi, maafin Bang Shaka. Pulang setan Jepang, kenapa kamu malah jadi setan beneran sekarang," celotehan Shaka sudah tidak dapat di kendalikan lagi.
Rasa takut, bersalah dan menyesal sudah bercampur menjadi satu. Saat Harumi mengacuhkannya dalam satu hari saja, Shaka sudah seperti orang bingung- lalu bagaimana kondisinya sekarang? Shaka lebih terlihat seperti orang tidak waras.
"Harumiiiiiii!" panggilnya lagi.
"Iya Bang?"
Shaka tersentak, demi Tuhan dia sangat sangat terkejut saat mendengar suara tanpa rupa yang tiba tiba menyahut panggilannya.
"Rumiiii, jangan kayak gini. Abang tahu kalau Abang banyak dosa sama kamu, tapi jangan kayak gini." Shaka semakin frustasi.
Pria muda itu meraup wajahnya kasar, sepertinya sekarang bukan hanya otaknya yang mulai dipenuhi oleh nama Harumi, tapi kedua telinganya juga mulai tidak sehat.
"Harumi maafin Bang Shaka, jangan jadi setan beneran Rumi, maaf. Abang gak serius nyuruh kamu pergi tadi, Abang gak rela kamu pergi gak pamit kayak gini,"
Rasa bersalah Shaka sudah di ubun ubun, semua perlakukan yang pernah dia berikan pada Harumi kembali terekam jelas, membuat pria muda itu semakin terkubur didalam rasa bersalah dan penyesalan.
__ADS_1
PLIS DEH YA LAKIK ORANG, GAK USAH BIKIN DOSA