
Arion mengernyitkan dahi kala merasakan kebas di lengannya. Sebelah matanya terbuka, senyumnya perlahan terbit saat melihat pelaku yang membuat lengannya kebas.
Perlahan Arion menurunkan kepala Aisya dari lengannya, sangat pelan dan hati-hati. Pria berhidung mancung itu menatap lekat wajah tenang istrinya, bahkan dengan jahil Arion menyentuh ujung hidung Aisya.
Pria itu mengulum senyum saat melihat Bidadari-nya terusik. Aisya menggeliat pelan karena sentuhan suaminya. Kedua matanya perlahan terbuka, namun belum sepenuhnya terbuka- Arion sudah memagut lembut bibir setengah terbukanya.
Aisya kembali memejamkan matanya, bahkan kedua tangannya terlihat sibuk untuk mencari pegangan. Tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih akibat permainan semalam, kini harus di buat kembali lemas.
"I love you," Aisya mengigit bibir dalamnya, saat mendengar ungkapan cinta Arion setelah tautan bibir mereka terlepas.
Namun tidak lama Aisya mengembangkan senyumnya, kedua tangannya menangkub wajah Arion. Memberikan banyak kecupan di seluruh permukaan wajah suaminya.
"I love you too, sangat," bisik Aisya.
Entah kenapa kedua matanya malah berembun, Aisya merasa kalau ini adalah ungkapan cinta yang sangat manis- hingga dirinya ingin menangis.
"Don't cry!" cegah Arion, satu tangannya terulur untuk mengusap cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk mata istrinya.
Bukannya menurut, Aisya malah meloloskan air matanya dengan senyum yang mengembang. Wanita itu segera memeluk tubuh Arion, mendekap erat- membuat Arion semakin merapatkan pelukannya.
Kini posisi Aisya berada diatas tubuh polos suaminya, sementara wanita itu masih memakai baju tidur mini- yang Arion pasangkan padanya semalam.
"Nanti siang Abang harus ketemu sama Opa, apa kamu mau ikut?"
Aisya mendongak, wanita itu mengangguk semangat- kemudiam kembali menenggelamkan wajahnya di dada Arion. Waktu masih menunjukan pukul 03.55 pagi, membuat keduanya kembali terlelap.
🍒
__ADS_1
🍒
🍒
Aisya merangkul lengan Arion erat saat keduanya memasuki sebuah restoran Jepang. Tempat yang di janjikan oleh Opa Nagara pada Arion, disinilah mereka nanti akan membahas tentang Marina, dan kelanjutan kasusnya.
Aisya mengembangkan senyum, saat melihat Opa Nagara melambai padanya. Dengan cepat Aisya melepaskan rangkulan tangannya pada Arion, wanita bertunik peach itu segera berlari kecil menghampiri Sang Opa.
Arion yang menyaksikan itu hanya berdecak dalam hati. Kalau saja pria tua itu bukan Opa mertuanya- mungkin Arion sudah memberikan satu bogeman mentah di wajahnya.
"Kalian sudah datang? pesanlah, hari ini Opa akan membayarnya," ujar Opa Nagara, membuat senyuman Aisya semakin mengembang.
"Tapi lain kali, juragan yang akan membayar Opa makan," lajut Opa Nagara.
Aisya bahkan tergelak kecil di buatnya, jarang sekali Opanya bercanda- karena pria tua yang satu ini biasanya selalu memasang wajah datat penuh intimidasi.
Arion mengangguk pelan, satu tangannya terulur untuk mengusap pelan pipi putih susu istrinya. Tapi kedua matanya terus saja tertuju pada Sang Opa.
Disaat Aisya sibuk memilih makanan di buku menu, Arion dan Opa Nagara terlihat berbincang serius mengenai kasus penusukan yang menimpanya. Aisya yang sudah tahu hanya menyimak, tanpa ingin ikut angkat bicara. Wanita itu malah lebih menikmati teh hijau kesukaannya, kedua mata beningnya terus saja menatap kesetiap sudut restoran.
"Jadi, wanita itu sudah di amankan?" Arion masih belum percaya mendengarnya.
Wow! secepat itukan koneksi seorang Nagara Linochyl Samudera. Opa Nagara menyematkan semua nama belakang Ayah kandung serta Ayah angkatnya sebagai penghormatan. Beberapa bulan sebelum mendiang Eyang Ilham berpulang, Crishtian- Sang Padre berpulang terlebih dahulu. Membuat Opa Nagara merasa sangat kehilangan dua sosok hebat di dalam hidupnya.
"Iya, Opa membuat laporan kalau wanita itu adalah seorang buronan," sahut Opa Nagara santai.
Bahkan pria berwajah bule itu menyesap jus sayurnya dengan tenang, tidak ada keraguan di wajah tuanya- membuat Arion speechlees.
__ADS_1
Arion mengangguk paham, pria itu terus saja menjadi pendengar yang baik untuk Opa mertuanya. Hingga konsentrasinya terpecah, saat suara seseorang membuatnya menoleh.
"Arion! sedang apa kamu disini?"
Arion menoleh, dahinya berkerut kala melihat Pramono ada di restoran yang sama dengannya. Aisya bahkah terlihat merapatkan tubuhnya pada Nagara, bukan pada Arion suaminya.
"Makan," sahut Arion seadanya.
Entah mengapa moodnya turun drastis, saat melihat pria tua yang menjadi kakeknya ini mengganggu waktunya bersama Sang Istri dan Opa mertuanya.
Pramono mendengus pelan, kedua matanya menatap pada Aisya yang tengah memeluk lengan seorang pria tua yang duduk di sebelah sang wanita. Salah satu sudut bibir Pramono terangkat, menampilkan senyuman mengejek.
"Huh, kamu tidak berencana menjual istri mu pada pria tua ini kan? terlihat sangat kaya, kamu pasti sedang butuh modalkan untuk perkabunan kecilmu itu," ucap Pramono terdengar begitu merendahkan.
Arion bahkan segera menatap tajam penuh peringatan pada Kakeknya. Pria itu hendak bangkit, namun gerakannya kalah cepat dengan pria tua yang duduk berhadapan dengannya.
"Menjual? untuk apa aku membeli cucu sendiri. Kalau dia mau, aku bisa memberikan semua perusahaan ku yang ada di Spanyol pada Ais dan Arion," tukas Opa Nagara tajam.
"Tapi sayangnya Arion dan Ais tidak memiliki sikap rakus seperti kau- Pramono. Mereka lebih memilih untuk memajukan perkebunan kecilnya, dari pada mengemis sepertimu. Bahkan hasil perkebunan kecilnya itu, mampu membeli tiga perempat perkebunan sawit yang ada di seluruh Sumatera, kau tunggu saja beritanya." sambung Opa Nagara.
Ucapannya santai, namun berhasil membuat Pramono bungkam- bahkan tidak dapat berkedip sedikit pun. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan harkat dan martabat keturunannya, walaupun itu besannya sendiri.
Opa Nagara tahu Pramono adalah Kakek Arion? tentu saja, apa yang tidak di ketahui oleh Opa keren satu ini.
OPA NAGARA DALAM BAYANGAN AKU SEKARANG 😍😍😍😍
__ADS_1