
Arion segera menghalangi tubuh Aisya, saat melihat Marina semakin mendekat ke arah mereka berdua. Namun, tubuh Arion berbalik secara tiba tiba menghadap Aisya- saat gadis itu menarik kemejanya yang masih terbuka.
"Bajunya kancingin dulu," ujarnya pelan.
Jari jemari lentik Aisya perlahan bergerak, memasukan satu persatu kancing kedalam lubangnya. Kedua mata indah Aisya hanya tertuju pada suaminya, gadis itu tidak memperdulikan wanita yang semakin mendekat ke arahnya.
Gadis berhijab itu memilih fokus menutupi tubuh suaminya, Aisya merasa tidak rela- kalau ada mata wanita lain yang melihatnya.
Sementara Arion, pria itu menyunggingkan senyuman tipis- saat melihat wajah tanpa ekspresi istrinya. Entah kenapa, terlihat begitu lucu dan menggemaskan di kedua matanya. Hingga tidak sadar, tangan Arion perlahan naik- menyentuh hijab yang dipakai Aisya. Memainkannya, mengaguminya, dan semakin lama- tangan Arion merambat menuju pipi tirus sang Bidadari.
Tidak ada kata yang keluar, tapi itu cukup memperlihatkan bagaimana kedekatan keduanya dimata orang lain- termasuk Marina.
"Arion!"
Bahkan panggilan Marina diabaikan oleh Arion. Pria berkucir satu itu lebih menikmati tatapan sayu dan lembut Aisya, yang tengah mengarah padanya.
Cup!
Tanpa aba aba Arion mengecup dahi Aisya cukup lama dan dalam, saat gadis itu mendongak padanya. Bahkan kedua mata Aisya mengerjab pelan, suaranya tercekat saat dia merasakan benda kenyal dan basah itu menempel di dahinya.
"Sudah selesai?"
Aisya terperanjat, lalu mengangguk kaku- saat mendengar suara Arion. Gadis berhijab itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, hingga akhirnya bersitubruk dengan tatapan wanita yang memanggil nama suaminya tadi.
"Arion!" panggil Marina lagi.
__ADS_1
Wanita berambut panjang itu melangkah cepat, mendekat pada Arion dan Aisya. Raut wajahnya terlihat tidak bersahabat sama sekali, terlihat sangat sinis dan menatap tidak suka pada gadis yang tengah dirangkul oleh Arion.
'Jadi gadis ini yang sudah merebut Arion dari ku!' desisnya dalam hati.
"Ada perlu apa kau kesini? apa Kakek yang menyuruhmu kesini?"
Arion menatap datar pada Marina, wanita yang selalu membuntutinya kemana pun. Bahkan setelah Arion terang terangan menampakan rasa tidak sukanya, Marina masih saja tidak tahu malu.
"A-aku cuma mau lihat perkebunan Papanya Milka saja," ujarnya santai.
Bahkan Marina sengaja menakan kata Papanya Milka. Kedua matanya menatap remeh pada Aisya, Marina yakin kalau saat ini gadis berhijab itu sedang bertanya tanya dalam hatinya.
"Papanya Milka? maksud mu perkebunan milik Almarhum Gibran?"
"Bukannya Gibran hanya memiliki perusahan yang bergerak di bidang kosmetik dan obat. Apa mungkin Gibran memiliki perkebunan kelapa ju-,"
"Kamu Ar! kamu Papanya Milka. Sudah beberapa hari ini dia selalu nanyain kamu, Milka kangen sama kamu Ar," Marina dengan cepat menyela ucapan Arion.
Kedua matanya menatap sendu dan memohon pada pria pujaannya. Pria yang 5 tahun yang lalu sudah dia sukai, namun keadaaan membuatnya tidak dapat melakukan apa pun.
Dan sekarang saat ada kesempatan, Marina tidak akan menyia-nyiakannya. Dia akan mendapatkan Arion, dengan cara apa pun- walaupun harus menyeret nama anak perempuan semata wayangnya. Marina juga tidak peduli dengan gadis, yang katanya sedang dekat dengan Arion.
Dia akan melakukan apa pun demi mendapatkan perhatian dan cinta Arion.
"Aku hanya Paman angkatnya Mbak Marina. Papanya Milka hanya Gibran, Almarhum suami mu. Apa kau tidak mau menghormati Gibran, sebagai suami mu? mau bagaimana pun, Gibran adalah Papa kandung Milka. Jangan membuat spekulasi yang tidak tidak," ucap Arion begitu serius.
__ADS_1
"Jangan membuat orang lain berpikiran buruk pada ku, karena ucapan mu itu. Aku memang menyukai putri mu, karena aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua- walaupun Milka lebih beruntung dari ku karena masih memiliki mu- Mamanya. Hanya sekedar sayang antar manusia, tidak lebih- jadi aku mohon kau jangan berlebihan dan salah mengartikannya," sambungnya dengan tegas.
Arion menatap Marina tanpa ekspresi, dia tidak ingin mengambil resiko. Arion tidak ingin Aisya berpikiran buruk padanya, berspekulasi kalau Milka ada hubungan dengannya.
Satu tangan Arion bahkan sudah menggenggam lengan Aisya, saat melihat gadisnya terlihat hendak menjauh- kala Marina memanggilnya dengan sebutan Papanya Milka.
Sementara Marina, wanita beranak satu itu menunduk dalam. Ucapan Arion cukup membuatnya membatu, haruskah dia menjadi wanita yang tidak tahu diri- agar semua keinginannya tercapai.
DANAU YANG BAKALAN DI JADIIN RUMAH SAMA BANG RIMBA 😘😘😘😘
**UDAH SARUNGAN AJE BANG 😂😂😂
HOLLA MET MALAM EPRIBADEH
TELAT LAGIIII, OTHOR SEHARIAN INI TEPAR NYUT NYUTAN PALA, MUAL JUGA DARI SUBUH TADI, KAYAKNYA KURANG ISTIRAHAT
USAHAIN UP BIAR KALIAN BISA SENYUM 😘😘
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA
SEE YOU BABAYYY MUUAACCHH**
__ADS_1