
Aisya menatap gelisah kearah pintu gerbang, sudah hampir memasuki waktu magrib suaminya tidak kunjung pulang. Bahkan panggilannya tidak juga kunjung diangkat. Kemana Arion? apa suaminya itu lembur? tapi kenapa tidak memberitahu dirinya.
Aisya menghela napas pelan, wanita itu kembali mendudukkan diri dikursi. Kedua mata teduhnya tidak pernah lepas dari pintu gerbang, bahkan karena gugup dia sampai mengigit kukunya sendiri.
"Ais?"
Aisya menoleh saat Nenek Imma memanggilnya. Wanita itu menipiskan bibir, saat melihat Nenek Imma sudah menggunakan mukenanya.
"Udah mau magrib, ayo masuk! enggak baik,"
Aisya mengangguk ragu, dia tidak rela untuk meninggalkan teras- rasanya Aisya ingin terus berada di sana, hingga Arion pulang.
"Bang Rimba-,"
"Assalamualaikum!"
Aisya menoleh dan menghentikan ucapannya, saat mendengar suara seseorang yang paling dia kenal.
"Bang Rimba? Abang kenapa baru pu- Astagfirullah!" Aisya berseru kencang saat melihat tubuh Arion tersungkur.
Wanita yang memakai stelan rumah itu segera berlari, kedua tangannya bergetar hebat saat melihat kondisi suaminya.
__ADS_1
"Nenek panggilin Ayah!" serunya lagi.
Aisya meletakan kepala Arion di pangkuannya, kedua tangannya menangkub wajah suaminya- berusaha menyadarkan Arion.
"Abang!" panggilnya cemas.
"Abang jangan tidur! buka matanya, Ais bilang buka matanya!" pekiknya lagi.
Aisya berusaha menjaga Arion agar tetap mendengar suaranya, hingga Nenek Imma kembali. Aisya yakin kalau Nenek Imma pun sama shock nya. Sekarang yang paling penting adalah berusaha agar Arion tetap sadar, dan segera membawa suaminya ke rumah sakit.
Karena dari desas desus yang Aisya dengar, kematian karena pendarahan- adalah kematian yang paling nikmat. Maka dari itu Aisya tidak akan membiarkan Arion menikmatinya.
🌴🌴🌴
Saat Cia dan Alkan sampai dikediaman Arion, lebih tepatnya masih di depan pintu gerbang- tubuh keduanya mematung sejenak, saat melihat Aisya menangis sembari memeluk tubuh suaminya.
Tanpa banyak bertanya, Alkan pun segera membawa Arion ke rumah sakit. Bahkan Shaka sempat emosi saat tidak ada orang yang memberitahunya, karena tadi Shaka masih dalam perjalanan pulang dari perkebunan coklatnya.
Dan sekarang, Alkan serta Cia dan juga Shaka tengah menemani Aisya. Sementara Nenek Imma dan Nenek Mar, tidak Alkan izinkan ikut. Pak Penghulu khawatir kedua orang tuanya akan semakin khawatir, sama seperti mereka saat ini.
"Aska bakalan pulang Bun. Dia lagi menuju kesini,"
__ADS_1
Cia mengangguk pelan, wanita berhijab itu terus saja memeluk Aisya. Menggumamkan kata kata penenang untuk putrinya, Cia berusaha membuat Aisya memejamkan kedua matanya- agar tidak menangis lagi.
" Kenapa lama banget sih?!" Shaka terus saja menggerutu, bahkan Shaka sempat ingin mencari pelaku penusukan dan penganiayaan adik iparnya sendiri.
Namun Alkan menghalangi sikap Shaka yang ceroboh itu. Alkan menyarankan Shaka untuk melapor ke pihak berwajib dan pada Opanya- Nagara. Shaka sempat keras kepala, tapi saat dia melihat wajah sedih adik kembarnya- pria itu akhirnya setuju. Shaka mengenyampingkan emosinya terlebih dahulu, dia memilih untuk pergi ke kantor polisi dan menghubungi Nagara serta Galaska- Omnya.
"Abang janji, Abang bakalan nemuin manusia itu- secepatnya!" gumam Shaka.
Pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain, Shaka tidak sanggup melihat air mata Aisya. Sudah cukup sang adik menangisi Arion saat pria itu hilang bagai ditelan bumi, dan sekarang Aisya kembali menangisi Arion- saat pria itu tengah bertaruh nyawa di meja operasi.
Shaka mengepalkan kedua tangannya, emosinya sudah berada di ubun ubun.
"Tahan emosi kamu Bang! jangan gegabah!"
Shaka menghela napas pelan, saat rencana yang ada didalam otaknya sudah terbaca oleh Sang Ayah.
**TAHAN BANG TAHAN, TAHAN AMPE LEBARAN TAUN DEPAN
SEE YOU TOMORROW
__ADS_1
BABAYYY MUUUAACHH😘😘😘**