
Selepas mengantar Pak Nyoman pulang, dan membuat para pencegat itu mati kutu- Arion segera pulang kekediaman nya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, saat melihat kantong kresek yang ada di tangannya. Arion sengaja membeli makanan untuk Aisya dan Nenek Imma saat dijalan tadi.
Walaupun hanya jajanan pasar, Arion yakin kalau Aisya dan Nenek Imma akan menyukainya. Arion segera masuk kedalam rumah setelah mengucapkan salam, namun dahinya berkerut saat mendapati rumah dalam keadaan sepi.
Arion meletakan kresek itu di atas meja, kedua kakinya melangkah cepat menuju kamar.
"Ai!"
Arion berseru keras, namun sepertinya tidak ada balasan dari Aisya. Bahkan saat Arion membuka pintu kamar mandi, dia juga tidak menemukan Aisya disana.
"Aisya!" panggilnya lagi.
Arion terlihat kelabakan, jantungnya berdetak lebih cepat saat tidak mendapati istrinya di manapun. Apa mungkin Aisya sedang berada di rumah orang tuanya?
Otak Arion terlihat berpikir, tanpa pikir panjang lagi- pria berkaos abu abu itu segera bergegas keluar dari kamar. Namun belum sempat dia menutup pintu kamar, suara seorang wanita dari arah belakang.
"Abang udah pulang?"
Arion menghela napas lega saat mendengar suara yang sedari tadi dia cari. Pria berkucir satu itu mendekat, tanpa aba aba Arion segera memeluk tubuh Aisya dan memberikan kecupan di dahi istrinya.
"Dari mana?" tanya Arion.
Aisya menghela napas pelan, satu tangannya menepuk nepuk lengan terbuka milik suaminya. Lengan berotot yang setiap malam, siang, pagi, sore selalu merengkuhnya.
"Belakang, maaf tadi Ais sama Nenek gak dengar,"
__ADS_1
Arion mengangguk, pria itu kembali melayangkan sebuah kecupan di pucuk kepala Aisya- sebelum dia meregangkan pelukannya.
"Abang bawa sesuatu buat kamu,"
Kedua mata Aisya berbinar mendengarnya, apa lagi saat dia membuka kantong kresek yang Arion tunjukan padanya.
"Makasih, Abang tahu banget kalau Ais suka lemper," ujarnya senang.
Arion tersenyum tipis, satu tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala Aisya yang terbalut hijab instan.
"Abang mandi dulu ya,"
Cup!
"Enak, nanti mau lagi ya," kekeh jahil Arion, membuat wajah Aisya memerah hingga telinga.
"Udah sana mandi, iihh!"
Kekehan Arion semakin menjadi, saat melihat Aisya memasang wajah masam padanya.
🌴🌴🌴
"Maaf Juragan, boss perkebunan itu merobek berkasnya,"
Dengan tenang pria itu menyerahkan potongan map pada si Juragan. Dia dan rekannya sudah bisa menjamin kalau Juragan tanah yang angkuh, sombong, kikir, kisit, medit, pelit, buntut kasiran, merege hese ini- pasti akan marah besar pada mereka.
__ADS_1
"Bodoh! kalian sudah saya bayar mahal, tapi masih saja tidak becus!" murkanya.
Sekelompok preman kampung itu saling lirik, mereka sudah menduga kalau pria tua beristri tiga ini akan mengamuk saat tahu kalau rencananya gagal total.
Sepertinya si Juragan belum tahu betul siapa lawannya. Si Juragan terlalu angkuh dan tinggi hati, dia merasa kalau semua orang bisa dia tundukan.
"Sepertinya Juragan salah memilih target. Aku sarankan lebih baik Juragan mencari lahan lain saja, karena saya tidak yakin kalau Juragan akan mendapatkan apa yang Juragan mau dari pria kota itu,"
Si Juragan semakin terbakar, kedua tangannya meremas tak tersisa map coklat yang ada dimeja.
"Dan kami memutuskan untuk berhenti. Terimaksih atas job yang gagal ini, Juragan Haris- kami permisi,"
Pria berwajah sangar itu mengkode pada rekan rekannya agar segera keluar. Meninggalkan Sang Juragan yang akan mengamuk lebih dari tadi.
"Bangsat kalian semua!"
Mereka menghela napas kasar, saat mendengar umpatan dari ruangan yang baru saja mereka tinggalkan.
**KESAYANGAN RIMBA
SEE YOU TOMORROW
BABAYY MUUUAAACCHHH 😘😘**
__ADS_1