
Arion menyandarkan kepalanya di ranjang, Arion mencoba rileks- agar Aisya tidak panik atau pun gugup.
Aisya perlahan membelitkan kain perban pada perut Arion, dengan hati hati- agar tangannya tidak menyentuh area luka. Walaupun jahitan di perut Arion mulai mengering, tapi Aisya yakin kalau luka itu bisa saja berdarah kembali saat tersenggol.
"Besok pagi Abang mau mandi, apa di lap lagi kayak tadi?"
Aisya segera merapihkan kaos oblong yang di pakai suaminya. Memastikan kalau perban yang membalut tubuh Arion terpasang sempurna.
"Mandi, luka Abang udah boleh kena air, Sayang," ujar lembut Arion.
Pria berkucir itu membuka kedua matanya, menatap teduh pada wanita yang ada di depannya. Satu tangan Arion terulur untuk menyentuh wajah cantik Aisya, membelainya lembut- jari jemari panjang Arion menyusuri setiap lekuk wajah istrinya.
Cup!
Satu kecupan lembut dan cukup lama Arion berikan tepat di bibir tipis Aisya.
Cup Cup
Dua kecupan lembut kembali Arion bubuhkan di bibir istrinya. Kedua sudut bibir Arion tertarik keatas, saat melihat wajah merona dan tegang Aisya. Masih sama seperti dulu, malu malu menggemaskan- apa lagi kalau dia menggoda Sang Bidadari tepat di depan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Aisya pasti akan segera menghindarinya sebisa mungkin, bahkan sampai tidak berani untuk keluar rumah- setelah Arion menggodanya.
"Abang gak nyangka, akhirnya Abang bisa milikin kamu seutuhnya," lirih Arion.
Kedua matanya menatap dalam pada Aisya, bahkan saat Aisya masih diam membisu- senyuman Arion terus saja terpatri tanpa ingin melunturkannya.
"Abang pikir saat itu kita enggak akan ketemu lagi. Abang kira, saat mobil yang membawa paksa Abang masuk jurang- hari itu adalah hari terakhir kita bertemu. Hari terakhir Abang menggoda kamu, membuat kedua pipi cantik ini merona," Arion menjeda sejenak, pria itu terkekeh pelan sembari mencolek dagu Aisya gemas.
"Ternyata, setelah banyak waktu terlewati- kita bisa ketemu lagi. Walaupun di awal pertemuan enggak baik, bahkan Abang sampai buat kamu kesal- bahkan mungkin benci sama Abang. Abang minta maaf ya sayang," sambung Arion.
Pria itu meraih kedua tangan Aisya, menggenggamnya erat- dan memberikan banyak kecupan di punggung tangan istrinya.
Kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Arion terdengar seperti, pria itu sudah mengingat masa lalunya. Apa jangan jangan Arion mulai kembali- atau bahkan sudah kembali, tapi dirinya saja tidak tahu.
Aisya menatap dalam dan sendu pada Arion. Kini giliran Aisya yang menyentuh wajah suaminya, dengan perlahan dan begitu hati hati.
"Abang udah ingat?" tanya Aisya pelan, dan penuh harap.
Kedua netra indah itu terlihat berembun, mungkin kalau Aisya mengedipkan kedua matanya sekarang, air mata yang sedari tadi dia tahan akan jatuh.
__ADS_1
Tapi pada akhirnya Arion mengaku, kalau dirinya sudah ingat semuanya. Pria itu mengangguk, lalu membawa Aisya kedalam dekapannya- sebelum Sang Bidadari protes dan memberontak.
"Kamu masih penasaran?" gumam Arion.
Pria itu memberikan banyak kecupan di pucuk kepala Aisya. Bahkan Arion tidak membiarkan Aisya bergerak sedikit pun, dia sangat yakin kalau istrinya akan memberontak saat dekapannya mengendur- maka dari itu Arion tetap pada pendiriannya.
"Sejak kapan?" tanya Aisya serak.
Wanita itu memukul pelan dada suaminya, jujur Aisya sedikit kesal karena Arion menyembunyikan kebenaran, dan berita bahagia ini darinya. Walaupun tidak dapat di pungkiri, kalau dirinya begitu bahagia saat mengetahui kalau ingatan Arion kembali sepenuhnya.
"Waktu Abang sadar setelah operasi. Kayaknya sih gara gara kena pukulan di kepala kemarin," gumam Arion, namun Aisya masih dapat mendengarnya- bahkan saking gemashya Aisya kembali melayangkan cubitan keras di paha suaminya.
"Ais marah sama Abang, malam ini jangan peluk peluk!" finalnya tidak ingin dibantah, dan itu berhasil membuat Arion menatap memohon pada Aisya.
**KAGET YA, GAK APA APA ABANG SENENG KOK AIS KAGET, WALAUPUN UJUNGNYA HARUS BOBO SENDIRI ðŸ˜ðŸ˜
😘😘😘😘😘**
__ADS_1