
Harumi diam diam melirik Salma yang tengah mengobrol dengan Nenek Marwah. Gadis berwajah oriental itu menghela napas kasar, tatapannya kembali beralih ke telenan yang ada dihadapannya.
Gadis itu mencincang bawang tanpa ampun, seakan tengah melampiaskan segala rasa yang ada didalam hatinya. Kenapa nasib baik tidak pernah berpihak padanya? padahal Harumi hanya ingin mencintai dan di cintai oleh pria pujaannya.
Tapi takdir begitu jahat padanya, sang pujaan hati ternyata lebih memilih untuk menempatkan rasanya ke lain hati.
"Kalau udah selesai cincang bawangnya, masak aja ayam nya ya,"
Harumi mengangguk pelan, dia terlalu malas untuk bersuara saat ini. Moodnya seketika hancur saat melihat kedekatan Salma dan calon Mama mertua idamannya.
Hiks!
Rasanya Harumi ingin sekali menangis saat ini juga, kedua matanya berembun saat mendengar tawa ketiganya.
"Assalamualaikum!"
Harumi semakin mengeratkan pegangannya di pisau, saat mendengar suara pria yang sedari tadi dia nantikan. Entah kenapa Harumi malah berharap kalau pria itu tidak pulang sekarang.
"Waalaikumsallam. loh, kamu udah pulang Kak?"
"Udah Bun, Aska udah selesai ngajar ngajinya,"
Harumi menghela napas pelan, saat menyadari kalau pria itu adalah saudara kembar pria pujaannya. Namun rasa leganya kembali hilang saat mendengar deru motor dari arah luar, sekarang Harumi yakin kalau si pengendara adalah Shaka.
"Di carai'in juga, malah udah pulang aja!"
Shaka masuk kedalam rumah dengan wajah kesal dan lelahnya. Dia bahkan lupa untuk mengucapkan salam, membuat Bunda Cia mendelik.
"Waalaikumsallam wahai anak Pak Alkan,"
__ADS_1
Sindiran Sang Bunda membuat Shaka tersenyum kikuk sembari menggaruk leher belakangnya karena salah tingkah. Apa lagi saat menyadari kalau ternyata disana ada gadis yang disukainya.
Siapa? Harumi atau Salma? jawabannya masih sama, yaitu Salmafina. Gadis berhijab, yang ternyata lebih menyukai adik kembarnya. Bahkan Salma memutuskan untuk memakai hijab demi Aska.
"Aska ke kamar dulu ya Bun, Nek," pamit Aska.
Pria itu terlebih dahulu menyalami Cia dan Bunda Marwah, sebelum dia bergegas pergi. Mengabaikan tatapan memuja Salma padanya, Aska bukan pria polos- dia tahu arti tatapan gadis itu padanya.
"Assalamualaikum Harumi," sapa Aska saat dia tidak sengaja melewati gadis berwajah oriental itu.
Kebetulan sekali bukan, jalan yang Aska ambil berdekatan dengan Harumi.
"Waalaikumsallam Mas Aska," sahut Harumi ramah.
Gadis itu kembali melakukan aktifitasnya, dia tidak memperdulikan tatapan Salma dan Shaka yang terarah padanya.
π΄π΄π΄
"Bang Rimba tau dari mana tempat ini?"
Aisya menoleh pada suaminya, gadis itu memandang lekat pada Arion- terlihat sangat tidak sabar untuk mendengar jawaban yang akan Arion berikan.
"Sudah lama, semenjak Abang membeli perkebunan ini dari Pak Ginanjar,"
Aisya mengangguk pelan, gadis itu tidak bertanya lagi. Dia baru tahu kalau orang yang membeli perkebunan mantan juragan tanah itu adalah Arion. Karena yang Aisya tahu, kata orang pemilik perkebunan kelapa yang sebelumnya yaitu Pak Ginanjar, terpaksa menjual semua asetnya pada orang kaya di kota- demi untuk melunasi seluruh hutangnya.
Karena kata pegawai perkebunan, pria paruh baya itu mengalami kerugian yang sangat besar, karena kalah saing dengan para rival bisnisnya.
"Ais baru tau ternyata Bang Rimba yang membelinya,"
__ADS_1
Arion menyunggingkan senyuman tipisnya, kedua matanya menatap dalam pada Aisya.
"Iya, mungkin Tuhan sudah mentakdirkan Abang untuk kembali ke sini,"
Aisya menoleh, tatapan keduanya saling terpaut satu sama lain. Begitu dalam dan banyak sekali mengandung arti. Aisya bahkan berusaha untuk tidak menangis, saat mengingat bagaimana rasanya dia kehilangan Arion dulu.
Aisya tidak ingin mengingatnya, karena sekarang- pria yang 9 tahun yang lalu sudah tertanam didalam hatinya itu- sudah kembali dan menjadi miliknya.
"Ais juga enggak nyangka kalau bisa ketemu sama Bang Rimba lagi. Ais kira Bang Rimba udah ninggalin Ais selamanya," air mata Aisya tidak dapat di tahan lagi, cairan bening itu meluncur tanpa izin. Membuat Arion dengan cepat menyekanya lembut.
"Sssstt, Abang sudah disini. Jangan pernah menangis lagi, oke!"
Arion segera membawa Aisya kedalam dekapannya, bahkan tanpa canggung Arion memberikan banyak kecupan di pucuk kepala Aisya yang terbalut hijab.
Keduanya saling menyalurkan rasa, walaupun ingatan Arion belum sepenuhnya kembali- tapi hati tidak mudah di bohongi.
Jujur, Arion begitu nyaman saat berada didekat Aisya. Hatinya mengatakan kalau dulu, dia pernah mencintai gadis ini dengan separuh hidupnya.
Dan kini Arion akan mencobanya lagi, mencintai Aisya dengan segenap jiwa serta raganya.
BAYANGIN AIS DAN RIMBA DISANA
**SANG BIDADARI MILIK RIMBAπππ
HOLLA MET MALAM EPRIBADEH
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YAA
SEE YOU MUUAACCHH**