Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Pemaksaan


__ADS_3

Arion mengernyitkan dahi, saat melihat beberapa motor menghalangi jalannya. Kedua matanya menatap datar pada beberapa orang pria- yang terlihat menatap remeh ke arah mobilnya.


"Sepertinya mereka ingin membegal kita Pak," Pak Nyoman yang saat ini tengah bersama Arion, angkat bicara.


Pria setengah baya itu terlihat masih tenang, sama seperti Arion. Kedua pria beda usia itu, tidak akan mudah terpancing untuk mendekat ke arah para pencegat.


"Bukan, mereka sepertinya menginginkan tanda tangan saya," sahut Arion datar.


Pak Nyoman melipat bibirnya dalam, disaat seperti ini boss nya ini masih bisa bercanda.


"KELUAR!"


Suara teriakan salah seorang dari mereka, membuat Arion mengeratkan cengkeramnya disetir mobilnya. Pria berkucir satu itu menyunggingkan senyuman tipis, Arion bisa menebak- kalau orang orang kurang kerjaan yang sedang menghadang jalannya ini, adalah preman kampung yang di bayar seseorang.


"Pak Nyoman tunggu di sini, biar saya yang turun!"


Ucapan Arion membuat Pak Nyoman menatap tak percaya pada boss nya. Pak Nyoman semakin panik saat melihat Arion bergerak keluar mobil, bukannya tadi Arion meminta padanya untuk tidak keluar dari mobil? lalu kenapa sekarang boss nya itu terpancing.


"Pak Arion! Pak anda jangan keluar itu bahaya!"

__ADS_1


Peringatan Pak Nyoman tidak di gubris oleh Arion. Pria berkaos abu dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya itu, terus saja mendekat. Bahkan dengan arogan Arion memasukan kedua tangan kedalam celana bahan yang dipakainya.


"Apa yang kalian mau?" tanyanya to the poin.


Arion menatap datar, setiap wajah songong yang ada dihadapannya saat ini. Tatapan Arion terarah pada seorang pria yang dia yakini sebagai kepala suku kelompok preman kampung ini.


"Tanda tangani kertas ini!"


Arion menaikan sebelah alisnya, mendengar ucapan konyol pria berwajah sangar yang tengah menatap tajam padanya. Apa lagi saat pria sangar itu mengeluarkan sebuah map coklat, dan memaksanya untuk tanda tangan.


"Kalian di bayar berapa?" bukannya menurut, Arion malah membalikan pertanyaan.


Surat jual beli lahan?


Arion sudah menduga, kalau pria koboi kampung yang kemarin menemuinya, akan melakukan hal sepengecut ini.


"Apa yang di janjikan pria koboi itu pada kalian? uang? jabatan?" tanya Arion santai.


SREEK!

__ADS_1


Tanpa perasaan Arion merobek map coklat itu dalam sekali tarik, membuat pria berwajah sangar mendelik pada Arion. Rahangnya terlihat mengetat, tatapannya menajam- namun itu sama sekali tidak membuat Arion gentar.


Pria yang menjadi suami sah Aisya itu, menyerahkan kembali map yang sudah terkoyak itu pada si pria bayaran.


"Katakan pada orang yang membayar kalian, kalau masih punya nyali- temui aku secara jantan. Jangan hanya berani membayar orang, demi mendapatkan tanda tanganku," tukas Arion tajam.


Bahkan satu tangan Arion sudah mencengkram erat jaket kulit yang di pakai si pria berwajah sangar. Arion mendekat ke salah satu telinga si pria, salah satu sudut bibir Arion terangkat sebelum dia bersuara.


"Aku bisa membayar mu lebih dari yang di berikan si pria koboi, dan sampaikan padanya- aku tidak akan menjual lahan persawahan atau pun perkebunan kelapa itu- karena aku sudah tidak berhak lagi," sambung Arion.


Pria itu menjauhkan wajahnya, satu tangannya menepuk bahu si pria berwajah sangar lumayan keras.


"Aku akan menunggunya untuk menemui ku kembali!" setelah mengatakan itu Arion berbalik, dengan langkah angkuh Arion kembali mendekat pada mobil Strada hitamnya.



**BEH BANG, RONTOK ATI AIS BANG


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYAAAAAAAA😘😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2