Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Tidak Ada Rotan, Akar Pun Jadi


__ADS_3

Harumi berjalan santai, menyusuri area pemukiman rumahnya. Pagi ini, gadis berdarah Jepang Indonesia itu berniat untuk joging.


Rasanya selama dia terus saja mengejar cinta Arshaka, Harumi tidak pernah memperhatikan kesehatan serta hidupnya. Setelah merasa di abaikan, Harumi akan mencoba menata kembali hidupnya.


Mencoba melupakan pria yang selama ini tidak pernah menatap ke arahnya, jangankan menatap- menoleh saja Shaka tidak sudi.


"Hhaaah!" Harumi menghembuskan napasnya kasar.


Kaos putih pas body, dengan celana traning yang Harumi pakai, terlihat begitu pas di tubuh proporsional. Tinggi tubuh Harumi yang mencapai 170 centi meter, membuat penampilan gadis itu seperti seorang model.


Langkah Harumi memelan, saat melihat beberapa ibu ibu tengah mengeroyok Mamang sayur. Harumi menundukkan kepalanya sedikit, sebagai tanda dia menghormati orang yang lebih tua.


"Eh Bu Milah tau enggak, itu anaknya Pak RT Neng Salma- katanya lagi deket sama anak sulungnya Bunda Cia,"


Langkah Harumi semakin memelan bahkan terlihat berhenti, saat dia mendengar ucapan salah satu ibu ibu pemburu Mamang sayur.


"Loh, bukannya Neng Salma itu sukanya sama Mas Aska ya. Kan dari dulu gitu gosipnya, dia juga pakai hijab gara gara Mas Aska. Terus kenapa sekarang malah deket sama Kakaknya?" sahut ibu ibu lainnya.


Harumi yang sudah memejamkan kedua matanya, semakin tertanam di tempat. Tangannya terlihat mengepal erat, walaupun sudah berniat ingin melupakan Shaka- tapi rasanya dia tidak rela.

__ADS_1


"Kabarnya Mas Aska itu udah punya calon istri. Anaknya Kiyai pemilik pesantren, anaknya apa cucunya ya? pokoknya anak muridnya di pesantren. Nah mungkin gara gara itu si Salma ngedeketin Abangnya, gak dapet rotan akar pun jadi- kan Mas Aska sama Mas Shaka mukanya sama, jadi gak masalah buat si Salma. Walaupun jeroannya gak bakalan sama," celoteh wanita muda, yang memiliki rambut pirang ombre.


"Hush, gak boleh gitu!" tegur salah satu ibu ibu.


Kedua telinga Harumi semakin mengepul, karena tidak tahan- gadis berwajah oriental itu segera berlari. Kedua matanya berembun, tapi sekuat tenaga Harumi menahannya agar tidak menangis.


Bahkan saat dia melewati kediaman Syarief, Harumi tidak berani untuk menoleh. Gadis itu berjalan cepat, padahal dia tahu- kalau di dekat pagar ada seorang pria tengah mencuci motor.


Harumi tidak peduli, yang dia pikirkan saat ini adalah- cepat sampai di rumah, lalu menangis keras dibawah bantal.


Sakit?


Harumi meremas keras handuk kecil yang ada ditangannya. Kepalanya menunduk dalam, membuat pria yang tengah mencuci motor itu terlihat mengerenyitkan dahi.


"Kenapa tuh si Setan Jepang? tumben enggak bawel," gumamnya pelan.


Entah kenapa, dia merasa ada yang kurang- saat Harumi tidak merecoki hidupnya akhir akhir ini. Apa mungkin gadis itu lelah mengejarnya, mencari perhatiannya?


Bukannya itu bagus, jadi tidak akan ada lagi gadis berisik yang akan menyakiti gendang telinganya. Tapi entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Bahkan saat gadis yang dia sukai, perlahan mulai merespon dan mendekat- hatinya yang paling dalam, sama sekali tidak seeuforia dulu.

__ADS_1


Hambar,


Satu kata yang bisa dia deskripsikan saat ini. Rasa yang selama ini ada mulai pudar, rasanya sudah tidak sama lagi.


Basi, sudah kadaluarsa!


Pria itu mengusap wajahnya gelisah, saat melihat punggung Harumi semakin menjauh darinya. Bahkan wajah genit dan menggoda yang biasa Harumi tampilkan, kini sudah tidak terlihat lagi beberapa waktu ini.


"Apa kamu udah menyerah Rumi?" tanya pada diri sendiri.



TATAPAN RUMI KE IBU IBU REMPONG PEMBURU MAMANG SAYUR



C**IEEEE DI CUEKIN, RASAK NO KOE MAS


SEE YOU TOMORROW

__ADS_1


BABAYYYY MUUUAACCHH**


__ADS_2