Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Gombalan Halal


__ADS_3

Aisya menepuk pelan pundak suaminya, senyuman manis terpatri di bibirnya. Kedua sorot mata teduh Aisya hanya tertuju pada pria yang selama beberapa minggu ini, sudah menjadi suaminya.


"Ai?"


"Hm," sahut Aisya.


Wanita itu mengernyitkan dahi, saat melihat Arion menatap tak berkedip padanya. Entah kenapa Aisya merasa kalau tatapan itu mengandung banyak arti.


"Kamu enggak mau buat resepsi pernikahan kita?"


Gerakan tangan Aisya terhenti, kepalanya yang semula tertunduk untuk melihat penampilan suaminya- kini kembali terangkat.


"Enggak usah, Ais udah senang kok nikah sama Bang Rimba. Kita enggak perlu adain resepsi, mendingan uangnya kita tabung buat beli sesuatu yang penting- atau enggak kita sumbangin aja ke panti. Panti asuhan sama panti jompo, atau rumah belajar yang baru Ais buat sama Rumi," Aisya menjelaskan panjang lebar.


Disetiap kata yang terucap dari bibirnya, membuat hati Arion berdesir. Seluruh saraf pria itu membeku, kedua matanya tidak puas untuk menatap wajah cantik Sang Bidadari.


"Kenapa?" bahkan Arion tidak dapat berkata kata lagi.


"Apanya yang kenapa?" Aisya membalikan pertanyaan karena tidak paham.


Dahinya semakin mengernyit dalam, saat dia melihat Arion tersenyum tipis namun begitu manis dimata Aisya.


"Kenapa kamu baik banget sih, Ai? bahkan setelah Abang lupa sama kamu, kamu masih mau nunggu Abang- sabar menghadapi sikap Abang. Abang jadi merasa gak percaya diri untuk membandingkan cinta dan sayang ini, dengan sayang serta cinta yang kamu punya,"


Aisya tersenyum tipis, satu tangannya terangkat untuk menyentuh wajah berjambang tipis milik suaminya.


"Karena- karena cinta Ais buat Bang Rimba itu kayak Mad Thabi'i di dalam Al-quran," Aisya menahan senyumnya, saat melihat wajah bingung suaminya.


"Kayak Mad Thabi'i?" beo Arion.

__ADS_1


Pria berambut gondrong itu masih terlihat bingung, dan tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh istrinya.


"Iya Mad Thabi'i, banyakkkkk! cinta dan sayang Ais itu banyak banget cuma buat Bang Rimba," ujar Aisya seraya malu malu.


Dia malu karena berani menggombali pria yang dicintainya, untuk pertama kali ini. Demi Tuhan Aisya merasa malu, walaupun Arion adalah suaminya sendiri. Apa lagi saat melihat Arion perlahan mengangkat kedua sudut bibirnya, Aisya di buat tidak dapat berkutik.


🌴🌴🌴


Shaka terlihat ragu saat hendak mengetuk pintu rumah Harumi. Pria berhoodie hitam itu menghela napas kasar, semenjak kemarin Harumi tidak mau menemuinya- padahal Shaka sendiri sudah bolak balik untuk menemui gadis berdarah Jepang Indonesia itu.


Bahkan Hara- Mamanya Harumi sudah berkali kali mengetuk pintu kamar putri semata wayangnya, untuk memberitahu gadis itu kalau Shaka datang mencarinya.


Tapi hasilnya tetap nihil, Harumi sama sekali tidak mau menemuinya. Bahkan menyampaikan pesan lewat Mamanya saja tidak.


Shaka benar benar diabaikan. Padanya si sulung Syarief itu ingin memenuhi ucapan yang pernah dia lontarkan. Shaka akan mengabulkan semua keinginan Harumi, kalau gadis itu selamat.


"Kenapa jadi dag dig dug gini sih. Berasa kayak suami lagi bujuk istrinya buat rujuk," gumamnya pelan.


"Oke! harus berjuang lebih keras!" ucapnya penuh semangat.


Tok


Tok


Tok


Tiga kali ketukan dipintu yang Shaka berikan, rasanya sudah cukup membuat si pemilik rumah mendengarnya. Tapi setelah menunggu beberapa menit Shaka menunggu, pintu rumah tidak kunjung membukakan pintu.


"Assalamualaikum, spada, permisi, punteun, kulonuwun, every body home?"

__ADS_1


Shaka terus saja mengucapkan salam dalam berbagai bahasa, pria itu terlihat mulai lelah dan kesal- tapi Shaka tidak ingin menyerah.


Hingga akhirnya, saat Shaka hendak kembali mengetuk- pintu rumah Harumi terbuka, menampilkan seorang pria bertubuh tinggi, berkulit putih, dengan wajah khas Jepang, mungkin usianya sama dengan Opanya- Nagara.


Tapi pria berwajah Jepang itu terlihat lebih sangar, bahkan Shaka harus menelan salivanya susah payah saat melihat tatapan tajam pria tua itu.


"Permisi Kek, apa Harumi ada di dal-,"


"Anata wa nani ga hitsuyodesu ka?" [ ada perlu apa?]


Glek!


Shaka kembali menelan salivanya susah payah, saat pria berkimono hitam khas pendekar samurai itu berbicara dengan bahasa negara asalnya.


"Arigatto gozaimaz, Aishiteru- haik," spontan Shaka berucap itu, sembari membungkukkan tubuhnya.


Entah benar atau tidak, Shaka tidak peduli. Pokoknya hari ini dia harus berhasil menemui Harumi, walaupun harus menghadapi tentara romusa terlebih dahulu.


Ganbatte!



MELELEH ABANG DEK😘😘😘



**AMPE JUNGKIR BALIK ABANG DEK 😫😫


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


SEE YOU DI BAB BERIKUTNYA MUUAACCHH**


__ADS_2