
Aisya mengerang kecil, saat merasakan denyutan di kepalanya. Sudah hampir dua hari ini dia merasakan hal yang tidak biasa- tubuhnya selalu lemas dan terasa lebih cepat lelah.
Aisya sempat berpikir kalau dia tengah hamil, tapi bukankah bulan lalu dirinya datang bulan- jadi kemungkinan besar tidak mungkin.
Aisya menghela napas pelan, wanita itu menyandarkan tubuhnya dimeja dapur. Sudut matanya melirik pada jam dinding yang tergantung di atas pintu. Pukul 16.12 sore, selepas sholat asar tadi Nenek Imma meminta izin untuk menghadiri pengajian di rumah tetangga yang tidak jauh dari kediaman mereka, meninggalkan Aisya sendiri- dan terlihat kesepian karena Arion belum pulang dari perkebunan.
Aisya meneguk air di gelas hingga tandas, kedua matanya mengerjab cepat saat mendengar suara deru mobil- wanita itu menipiskan bibirnya, Aisya tahu mobil siapa itu.
Dengan cepat dia berlari menuju ruang tamu, senyuman di bibirnya semakin lebar saat melihat Arion keluar dari mobil dengan tergesa.
Bahkan belum sempat Aisya membuka pintu, Arion terlebih dahulu membukanya- membuat wanita itu terperanjat kaget.
"Assalamu'alaikum," seruan salam yang Arion ucapkan menggema di dalam rumah.
"Waalaikumsallam, Abang baru pulang?" Aisya segera meraih tangan suaminya, menciumnya takzim dan penuh rasa hormat serta sayang.
Sementara Arion, bibir tebal merah mudanya mendarat tepat di atas kepala Aisya yang tertutup hijab. Memberikan banyak kecupan di sana, bahkan saat Aisya hendak menegakan kepalanya- Arion masih sempat mengecup ujung hidungnya sekilas.
"Kita harus ke rumah sakit,"
Ucapan Arion membuat senyuman di bibir Aisya menyurut, bahkan hilang seketika. Berganti dengan tatapan penuh penasaran dan khawatir, kedua mata Aisya menatap penuh tuntutan, namun saat dirinya baru saja hendak membuka mulut- Arion kembali berbicara.
"Kakek Pramono terkena serangan jantung,"
Tubuh Aisya menegang, tanpa berkata apa pun lagi wanita itu segera berlari menuju kamar- dan tidak lama kembali sembari membawa sebuah tas kecil yang biasa Aisya bawa kemana pun.
"Ayo kita ke rumah sakit!"
🌴
__ADS_1
🌴
🌴
Shaka terus saja mengacak rambutnya kasar, laporan yang ada di laptopnya semakin membuat otaknya sakit. Padahal itu adalah laporan laba penghasilan perkebunan dan sawah yang dia pegang, bukan kerugian atau semacamnya. Tapi entah kenapa hatinya tidak senang, otak serta hatinya tengah tidak sinkron- dan itu semua gara gara gadis yang bernama Harumi Subagiyo.
"Siapa cowok sipit itu? kenapa dia manggil Om Aslam, papa?" Shaka mengacak rambutnya frustasi.
Pria itu menyenderkan tubuhnya di sofa, masih merasa tidak nyaman dan sulit untuk di pahami. Rencananya untuk meminta Harumi pada Aslam secara langsung gagal total, hanya karena rasa panas dan sesak yang tiba tiba hadir, saat melihat Harumi pulang membawa seorang pria.
"Aaaakkhh! siapa si tuh cowok? bikin orang penasaran aja!" gumamnya risau.
Shaka bangkit, pria itu menutup laptopnya dan berjalan keluar dari kamar. Rencananya, dia ingin membuat sesuatu yang bisa mendinginkan hati serta otak. Namun belum sempat sampai di tempat yang dia tuju, suara ketukan pintu membuat langkah Shaka terhenti.
Dahinya mengernyit, saat melihat suasana rumahnya sepi. Sepertinya Bunda dan Ayah serta Neneknya sudah pergi untuk menghadiri acara di rumah tetangga mereka.
Shaka menghela napas pelan, dengan malas pria muda itu melangkahkan kedua kakinya menuju pintu utama.
"Mau apa?" tanya Shaka tanpa basa basi, saat dia membuka pintu rumahnya dan hanya menampakan kepalanya saja.
Kedua matanya memicing pada gadis yang tengah mengembangkan senyum sampai terlihat gigi putih rapihnya.
"Aku cuma mau ngasih ini buat Bunda, sushi sama makanan yang langsung di bawa dari Jepang," gadis itu menyodorkan beberapa kotak makan dan sebuah paper bag besar pada Shaka.
"Tarok aja di meja,"
Shaka terlihat abai, bahkan pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat senyuman sang gadis.
"Nanti di makan kucing,"
__ADS_1
Shaka berdecak pelan mendengarnya, dengan terpaksa pria itu membuka lebar pintu rumahnya, raut wajahnya terlihat malas dan tidak bersemangat.
"Mana!" pintanya.
Gadis itu menyeringai kecil, dengan jahil dia menurunkan tangannya dan memundurkan langkahnya kebelakang.
"Ngomong dulu, Bang Shaka ngomong apa sama Papa kemarin?"
Shaka bungkam, pria itu malah berbalik hendak masuk kembali kedalam rumah. Dia seakan enggan menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Harumi. Entah karena Shaka tidak dapat menjawab, atau dia bingung harus menjawab apa.
"Tarok aja di meja!" Shaka mengalihkan pembicaraan.
Shaka melanjutkan langkahnya, namun saat dia hendak menutup pintu- gerakannya terhenti saat mendengar ucapan Harumi.
"Kalau cuma nurutin gengsi sama ego, Bang Shaka enggak bakalan dapat apa apa. Aku tarok dimeja, jangan lupa bawa masuk nanti," Harumi meletakan semua barang yang dia bawa, gadis itu kembali mundur dengan senyuman di bibirnya.
Gadis itu berbalik, memunggungi Shaka yang masih mematung di ambang pintu.
"Papa masih nunggu Bang Shaka, katanya Papa penasaran Bang Shaka mau ngomong apa sama Papa," ujar Harumi, sebelum gadis itu pergi meninggalkan kediaman Syarief dengan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
Harumi tersenyum, dia tersenyum saat melihat wajah tegang dan bingung Arshaka.
"Gengsinya terlalu gede," gumamnya pelan.
**SENYUMIN DULU AH, GENGSI DI GEDEIN HARUSNYA ISI REKENING YANG DI GEDEIN BANG
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU MUUUAAACCHH😘😘**