
"Bang Rimba?" panggil Aisya lembut, saat Arion tidak kunjung berbicara padanya.
Arion tetap fokus ke depan, pria itu sama sekali tidak menoleh atau pun menyahuti panggilan istrinya. Rasa marah dan kesal yang tadi menguasai dirinya masih mendominasi.
Arion tidak suka! dia tidak suka saat ada pria lain menginginkan Aisya. Hanya dia, Arion memastikan tidak akan pernah ada siapa pun atau pria mana pun, yang bisa memiliki Aisya selain dirinya.
"Bang Ri-,"
"Abang tidak suka melihat laki laki itu menatap seperti tadi!" Arion memotong ucapan Aisya.
Bahkan kali ini Arion menatap sekilas pada istrinya, sebelum dia kembali fokus ke depan. Kedua tangannya mencengkram erat stir mobilnya, bahkan jakun Arion naik turun- karena tengah menahan sesuatu yang hampir meledak didalam dirinya.
Namun setelah beberapa saat keduanya terdiam, Arion merasakan tubuhnya di peluk seseorang dari arah samping. Pelukan sederhana namun begitu terasa hangat dan menangkan emosinya.
"Maafin Ais, Ais enggak bermaksud buat Abang marah. Demi Tuhan, Ais enggak pernah punya niat buat mengkhianati hati Bang Rimba, Ais-,".
"Memangnya kenapa dengan hati saya?"
Tubuh Aisya menegang mendengar ucapan suaminya. Bahkan dekapan tangannya perlahan mengendur, seraya dia menjauhkan tubuhnya dari Arion.
__ADS_1
Dia lupa diri?
Aisya lupa diri, dia mengira kalau Arion tidak melupakannya. Nyatanya pria yang menikahinya selama beberapa minggu ini- sama sekali belum mengingatnya.
Aisya tersenyum sendu, gadis itu menghela napas pelan sebelum benar benar menjauh dari Arion. Namun belum sempat Aisya menjauh, tangan Arion sudah mencengkram pelan pinggangnya- agar Aisya tetap di posisinya.
Bahkan Arion sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan. Namun, pria itu tetap dalam posisi mempertahankan Aisya agar tetap di dekatnya.
"Beritahu saya, bagaimana hati saya dulu. Siapa pemilik hati saya, sebelum dia menghilang dari dalam sini," Arion kembali bersuara.
Kali ini terdengar begitu dalam, dan syarat akan arti. Bahkan Arion berbicara memakai nada normal dengan Aisya, tapi entah kenapa- rasanya tidak nyaman sama sekali.
"Ai?" panggil Arion, terdengar begitu lembut dan dalam.
Tapi sepertinya Aisya masih tidak ingin membuka suara. Gadis berhijab itu tertanam di posisinya, kedua matanya menatap lurus tak berkedip pada Arion.
"Kalau kamu tidak mau memberi tahu kan nya, tidak-,"
"Coba Bang Rimba tanya sama hati sendiri, yang terdalam. Siapa pemilik hati Bang Rimba yang sebenarnya? karena aku yakin, kalau hati enggak bakalan berbohong," sela Aisya.
__ADS_1
Perlahan gadis itu melepaskan cengkraman tangan Arion di pinggangnya. Gadis itu kembali duduk dengan benar, Aisya begitu mengerutuki tindakannya tadi.
Cintanya di ragukan oleh suaminya sendiri, membuat moodnya anjlok seketika. Aisya mengalihkan pandangannya ke jendela, hamparan sawah yang mulai menguning, deretan pepohonan dan bukit kecil- menjadi pemandangan sore mereka.
Saking menikmatinya, bahkan Aisya sampai tidak sadar kalau Arion tidak membawanya pulang- melainkan menuju ke suatu tempat.
Aisya dengan pasrah memejamkan kedua matanya. Membiarkan rasa kantuk menyelimutinya, mengistirahatkan tubuh serta pikiran lelahnya. Aisya membiarkan Arion berpikir sejenak tentang hatinya, membiarkan suaminya meresapi perasaannya sendiri tanpa perlu di paksakan.
Hampir 15 menit lamanya mereka melakukan perjalanan, akhirnya Arion dan Aisya sampai di tempat tujuan. Sebuah telaga kecil, yang di kelilingi banyak hamparan sawah menghijau di sekelilingnya.
Indah! satu kata yang mampu Arion jabarkan saat ini. Pria itu memejamkan kedua matanya, terlihat berencana menyusul istrinya ke alam mimpi.
"Semoga aku akan mengingatnya, saat bangun nanti," gumam Arion, sembari menutup kedua matanya.
TANYA PADA HATIMU BANG,
**SEE YOU NEXT TOMORROW
__ADS_1
BABAYYY MUUUAACCH**