Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Malu


__ADS_3

Senyuman tipis meremehkan, tercipta di bibir pria berwajah bule- yang masih tampan di usia matangnya. Dengan santai Opa Nagara mengecap jusnya untuk kesekian kali, lewat sudut matanya Opa Nagara terus saja mengintimidasi Pramono.


"Jangan tatap kedua cucu ku seperti itu, hati hati dengan mata mu!" ucap Opa Nagara santai, namun sarat akan peringatan.


Pramono yang saat ini tengah duduk berseberangan dengan Arion, terlihat mengetatkan rahang. Entah kenapa dirinya merasa terintimidasi oleh tatapan pria yang mungkin seumuran dengannya- tapi sayangnya pria yang ternyata besannya itu terlihat lebih muda dan gagah dari pada dirinya.


Sialan!


Masalah penampilan saja dia sudah kalah telak, apa lagi soal nyali. Pramono menelan saliva susah payah, dengan tergesa pria tua itu menyeruput kopinya dengan tergesa.


Sementara Arion, pria berkucir satu itu terlihat sangat menikmati wajah panik kakeknya. Ingin rasanya Arion tertawa, tapi dirinya masih mengingat apa itu durhaka. Dia tidak ingin menjadi cucu durhaka, jadi Arion membiarkan Opa Nagara yang bekerja.


Arion lebih memilih untuk menggenggam tangan istrinya, lalu mengusapnya lembut. Bahkan Aisya sampai terkesiap di buatnya, dia tidak menyangka Arion akan berbuat jahil padanya di tempat umum.


"Bang!" bisiknya, saat Aisya merasakan sentuhan suaminya semakin seduktif.


Si pelaku hanya tersenyum tak berdosa, bahkan Arion dengan sengaja mengecup punggung tangan Aisya- tak peduli dengan tatapan yang di layangkan Pramono.

__ADS_1


"Nanti di rumah ya," bisik Arion.


Bahkan tanpa sungkan pria itu mengecup singkat pelipis Aisya, membuat wanita itu memejamkan kedua matanya. Bukan karena terlena, tapi karena malu setengah mati.


Suaminya benar benar tidak tahu kondisi dan situasi saat ini, meresahkan.


"Apa Kakek sudah berhasil merebut aset milik Gibran dari tangan Marina?" Arion kembali membuka pembicaraan.


Entah kenapa Arion ingin melihat bagaimana reaksi Pramono, saat mengetahui kalau cucu menantu sialannya itu, tengah bermasalah di negara Kanguru sana.


"Sepertinya kalau Kakek bergerak sekarang, Kakek akan mudah mendapatkannya. Apa Kakek belum tahu, kalau cucu menantu kesayangan mu itu sedang bermasalah di Aussie?" sambung Arion, pria berkucir satu itu menyunggingkan senyuman tipis saat melihat wajah terkejut Pramono.


"Kau bahkan tidak mengetahui, kalau cucu menantu mu itu yang sudah membuat Arion masuk rumah sakit, karena orang suruhan wanita itu berhasil menusuk cucu mu," Opa Nagara kembali angkat bicara.


Dan itu semakin membuat Pramono terpaku tidak percaya. Matanya menatap tak berkedip pada Arion, entah kenapa ada rasa sesak di dalam hatinya- saat melihat wajah sang cucu.


Dia benar benar kakek yang buruk!

__ADS_1


"Beberapa waktu yang lalu Arion menjalani operasi," sambung Opa Nagara membuat Pramono semakin tidak dapat berkata apa pun.


Pria tua itu bangkit tanpa bersuara sedikit pun, melangkah cepat keluar dari restoran itu. Kedua tangannya terkepal erat, ada rasa yang tidak biasa tengah menyelinap kedalam hatinya.


Sementara Arion hanya menatap datar pada punggung kakeknya, pria itu menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Setelah mengetahui kejadian penusukan itu pun, Pramono terlihat abai bahkan segera pergi- tanpa ingin menanyakan bagaimana keadaan dan kondisinya sekarang.


"Sudah jangan di pikirkan, Kakek mu itu sedang malu pada dirinya sendiri," ujar Opa Nagara.


Pria berkemeja putih polos itu berdiri, merapihkan penampilannya sebelum dia mengulurkan tangannya pada Aisya.


"Ayo, bukannya kalian ingin melihat Oma dan Eyang," ajak Opa Nagara.


Aisya tersenyum tipis, dengan senang hati dia menerima uluran tangan Opanya, mengabaikan tatapan memelas suaminya.


Arion sangat berharap kalau istrinya tidak menerima uluran tangan Opa Nagara, tapi harapannya tinggal harapan- Aisya malah tersenyum manis sembari meraih tangan Opanya.


__ADS_1


**SABAR YE BANG, HOTZ OPA EMANG PALING MENGGODA


😘😘😘😘😘😘😘😘😘**


__ADS_2