
Aisya tertidur lelap dengan posisi yang terlihat kurang nyaman. Kepalanya bertumpu pada lengan Arion, yang saat ini tengah di genggam erat olehnya.
Bahkan saking lelapnya, Aisya sampai tidak menyadari kalau Arion sudah membuka kedua matanya secara perlahan. Pandangan pria itu terlihat kosong, menatap lurus kearah langit langit ruang rawat inapnya.
Netra yang biasanya menatap tajam, terlihat sayu- dan bergulir pelan kearah sisi. Bibir Arion tersenyum tipis saat melihat Aisya tertidur di dekatnya. Bahkan wanita itu rela tidur dengan posisi yang akan membuat pinggang serta lehernya sakit, ketika dia bangun nanti.
"Ai?" panggilnya tidak jelas.
Arion berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aisya, perlahan agar dia tidak mengganggu tidur lelap istrinya. Tangan bebas Arion mengusap pucuk kepala Aisya lembut, sebelum dia kembali memejamkan kedua matanya- karena waktu masih menunjukan pukul 3 dini hari. Terlalu pagi untuk bangun, Arion kembali mengistirahatkan tubuhnya- setelah tersadar beberapa menit saja.
Suara sayup sayup kumandang Adzan Subuh membuat kesadaran Aisya kembali. Wanita yang tidur memakai jilbab itu mengernyitkan dahi, saat merasakan pegal di area pinggang dan lehernya. Kedua mata Aisya terbuka secara perlahan, menyipit sejenak untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
Aisya menegakan tubuhnya yang terasa pegal, sudut matanya melirik jam yang tergantung di atas pintu masuk. Namun, Aisya terlihat kembali mengernyit saat dia menyadari sesuatu.
Tangan?
Aisya melihat tangan Arion sudah berpindah tempat. Yang Aisya tahu kalau tadi malam tangan Arion masih dia genggam, bahkan saat tengah malam pun tangan itu masih ada didekatnya. Lalu kenapa sekarang tangan Arion sudah berada di atas perutnya sendiri? siapa yang memindahkan?
Aisya melirik ke arah sofa, disana tidak ada siapa pun. Sang Bunda sudah dipindahkan oleh Ayahnya tadi malam ke ruang sebelah. Karena Alkan tidak tega melihat Cia tidur seperti bayi dan terlihat tidak nyaman.
Sebenarnya Alkan pun ingin memindahkan Aisya, namun Aska melarangnya. Aska membiarkan Aisya menemani Arion, walaupun dengan posisi yang tidak nyaman.
"Ais mau sholat subuh dulu ya. Abang cepat sadar, Ais udah kangen," gumam Aisya tepat di telinga Arion, sebelum wanita itu melangkah menuju kamar mandi.
Tepat disaat Aisya menutup pintu, Arion membuka kedua matanya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman lebar.
__ADS_1
"Aisya Kanzhania Syarief, bukan- tapi Aisya Kanzhania Ranaspatih- Abang sudah membuktikannya sama kamu, kalau Rimba akan menikahi Aisya apa pun yang terjadi. Bahkan saat Rimba kehilangan memori otaknya, hatinya tetap tertuju sama kamu," gumamnya pelan.
Arion kembali memejamkan kedua mata, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Menampakan Aisya yang sudah terlihat segar karena air wudhu.
Hampir 5 menit berlalu, Aisya selesai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Wanita itu kembali memakai hijabnya, dan berjalan mendekat pada Arion.
Satu tangan Aisya terulur untuk menyentuh wajah suaminya. Entah kenapa, biarpun Arion terlihat pucat- wajah tampannya tidak luntur sama sekali.
"Udah puas lihatin nya, hm?"
Aisya benar benar terkejut, reflek dia menjauhkan tangannya dari wajah Arion. Tapi gerakannya tertahan, saat Arion berhasil meraih tangan istrinya, lalu membawa tangan itu ke arah bibir pucat nya untuk dia kecup.
"Kalau belum puas, lihatin aja sepuas kamu Sayang,"
Glek!
"A-Abang udah sadar?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Aisya.
Perlahan kedua sudut bibir Aisya tertarik, saat melihat Arion mengangguk lemah. Tanpa menunggu lagi, Aisya segera memeluk erat kepala Arion. Bahkan wanita itu memberikan banyak kecupan di dahi serta pucuk kepala suaminya, yang mana interaksi Aisya saat ini membuat Arion kembali membuka suaranya.
"Kenapa kepala terus, bibir nya juga dong," cebiknya kesal.
Sontak ucapan Arion itu membuat Aisya mendelik, kedua matanya menatap Arion tidak percaya. Kenapa suaminya tiba tiba saja menjadi mesum seperti ini? padahal kemarin kemarin Arion tidak agresif seperti ini. Arion bahkan selalu meminta izin saat ingin bersentuhan fisik dengannya, tapi kenapa sekarang Arion bersikap centil seperti-,
Jangan bilang kalau pria ini mengingat semuanya, hanya gara gara tertusuk pisau belati.
__ADS_1
Pikiran Aisya tertuju pada masa dimana mereka masih berseragam putih abu abu. Arion sering bersikap genit padanya, bahkan tidak segan segan menggodanya.
"Kenapa ngelamun hm? lihat ada kerutan di dahi kamu," kekeh Arion sembari mengusap lembut dahi istrinya.
Aisya semakin menatap bingung, satu tangannya terulur untuk menyentuh leher serta dahi Arion. Aisya kembali mengernyit, saat dia tidak merasakan hawa panas apa pun dari tubuh Arion.
"Abang enggak demam, tapi kenapa kayak gini sih?"
Bukannya tersinggung, Arion malah terkekeh pelan. Satu tangannya yang terbebas dari jarum infus, mengusap pelan bibir bawah istrinya yang terbuka, membuat Aisya sedikit meremang.
"Kayak gini gimana, hm?" tanya Arion seakan tidak mengerti.
"Genit," cetus Aisya tanpa ragu, dan itu membuat tawa tertahan Arion kembali hadir.
Kalau saja tidak ada luka di perutnya, mungkin saat ini Arion sudah tertawa riang, saat melihat wajah heran istrinya.
"Genit cuma sama kamu," sahut Arion santai.
Bahkan pria berjambang tipis itu mengedipkan sebelah matanya pada Aisya, membuat wanita cantik itu bergidik ngeri.
"Apa ini gara gara efek tusukan di perut, Bang Rimba," gumam Aisya ngeri, membuat Arion mengigit kuat lidah dan bibirnya agar tidak tertawa.
...**AIS LAKIK LU SURUH MUNDURRRR 😫😫😫😫...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA MUUUAAACCCHHH😘😘**